
Keyla bangun dari pembaringnnya, duduk di tepi ranjang dan menjuntaikan kakinya ke bawah. Nyaris telapak kakinya menyentuh lantai yang dilapisi karpet berwarna coklat muda serasi dengan dekor kamarnya yang dominan warna keemasan.
Ia turun dari tempat tidur, berjalan pelan menuju lemari pakaian dan mengambil gaun pendek selutut berwarna merah polos. Setelahnya, Keyla memutuskan untuk mengecek ke lantai bawah untuk memastikan apakah Darrel masih di sana atau tidak.
Sosok pria itu tak ada lagi di rumahnya dan Keyla bernapas lega. Setidaknya, untuk saat ini. Ia kembali ke kamar dan duduk di depan meja rias.
"Keyla, tenangkan dirimu," katanya pada pantulan wajahnya yang ada di cermin sambil mengoleskan essense untuk melembabkan kulit. Setelah itu, disapukannya tipis-tipis bedak dan juga lipstick berwarna merah pumpkin. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai begitu saja dan Keyla menyemprotkan parfum yang beraroma manis ke leher bagian belakang. Ia merasa lebih segar sekarang.
Wanita itu menuruni tangga perlahan dan langsung menuju meja makan berlanjut ke dapur. Rupanya, Darrel sudah mencuci peralatan bekas sarapannya.
Dari luar, terdengar suara orang mengetuk pintu.
Siapakah yang datang? Fleur? Atau Antonius?
Keyla berjalan cepat ke pintu. Ia tak suka jika orang lain menunggunya. Karena ia pun tak suka menunggu. Menunggu adalah hal menjemukan yang bisa saja berubah menjadi hal menyakitkan karena orang yang ditunggu belum tentu akan datang.
"Adakah yang bisa kubantu?" tanya Keyla begitu pintu terbuka. Seorang lekaki tampan berambut kecoklatan dan agak gondrong. Tingginya kira-kira 185 cm, tubuhnya terlihat kekar, rahang kokok, hidung mancung, bibir kemerahan dan juga bulu-bulu di wajahnya dibiarkan begitu saja. Kalau dari segi usia, Keyla mengira bahwa pria itu lebih muda darinya. Kurang dari tiga puluh tahun.
"Mmm ... aku baru saja pindah ke sini," jawabnya sopan sambil menunjuk pintu di belakangnya. Apartemen yang letaknya tepat di depan apartemen milik Keyla. "Aku belum sempat membeli peralatan makan dan dapur. Bisakah kau meminjamkannya padaku?"
" Of course! Tunggulah sebentar. Aku akan mengambil yang kamu butuhkan."
"Terima kasih," balas pemuda beralis tebal itu melemparkan senyum hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Beberapa saat kemudian, Keyla membawa peralatan makan, panci, dan frying pan yang telah dimasukkan ke dalam box agar tetangga barunya itu lebih mudah membawanya.
"Ini, pakailah. Tidak perlu dikembalikan." Keyla menyerahkan box ke pada pemuda yang telah menunggunya.
"Terima kasih. Namaku Victor. Siapa namamu? Lekaki itu membawa box menggunakan tangan kirinya lalu mengulurkan tangan kanannya.
"Keyla," jawabnya singkat menyambut uluran tangan Victor.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan masuk." Victor berbalik dan tubuhnya pun menghilang di balik pintu.
________🗼🗼🗼🗼🗼_________
Keyla berjalan menuju dapur dan membuka kulkas. Banyak makanan di dalamnya. Sedangkan anak-anaknya tidak ada di rumah. Kenapa tidak memberikannya kepada pemuda yang tinggal di depan rumah? Pikir Keyla mengepak makanan ke dalam lunch box lalu membawanya ke tempat Victor. Keyla memencet bel yang ada di samping pintu dan sesaat kemudian, pintu terbuka.
"Oh ... Keyla. Apa kau mau ikut makan bersamaku?"
"Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin memberikan ini," balas Keyla mengangkat tas berisi yang penuh dengan makanan.
"Masuklah. Kau sudah banyak menolongku. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja." Victor mempersilakan dan saat melihat ke dalam, isi rumahnya benar-benar berantakan. Tembok yang belum selesai dicat, belum ada perabotan dan hanya ada kompor kecil di tengah ruangan beralaskan kertas koran. Keyla mampu mengenali panci di atasnya. Itu miliknya yang beberapa saat lalu ia berikan pada Victor.
"Duduklah." Viktor menepuk-nepuk lantai agar Keyla duduk di atasnya. Pria itu lalu kembali menyantap mi instant yang sempat ditinggalkannya sejenak.
"Biarkan aku menghabiskan makanku dulu. Setelah itu kita mengobrol. Oke?" Pemuda itu kembali menyumpal mulutnya dengan makanan. Ia pun tidak lupa membuka box makanan yang diberikan Keyla. Berisi buah, sosis, dan beberapa potong salmon segar. Dalam sekejap, makanan itu ludes seketika. Keyla yang melihat pun geleng-geleng kepala. Entah berapa hari Victor tidak makan?
"Ahhhhh. Aku sudah selesai," katanya begitu menghabiskan segelas air putih agar sisa-sisa makanan yang tersangkut di tenggorokannya turun ke perut.
__ADS_1
"Sampai di mana kita tadi?" tanya Victor menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa.
"Kita belum memulai pembicaraan."
"Ahahaha. Benar juga. Rumahku masih kosong dan aku belum selesai mengecatnya. Aku harap kau tak masalah duduk di lantai."
"Aku tidak keberatan. Duduk di lantai adalah hal biasa untuk orang Indonesia. Kami juga makan menggunakan tangan," balas Keyla dengan bangga ketika menyebutkan tanah kelahirannya.
"Kau dari Indonesia?" tanya Victor kaget namun terlihat senang. Pria berusia 28 tahun itu murah senyum dan humoris.
"Ya. Aku lahir dan besar di sana."
"Aku beberapa kali ke Indonesia. Labuan Bajo dan juga Pulau Seribu."
"Aku malah belum pernah ke sana."
"Tidak heran. Sepertinya kau adalah wanita rumahan dan tidak suka berpetualang."
"Apa kamu sedang meramalku?"
"Aku hanya menebaknya saja. Ahahaha. Aku pintar menebak. Itu sebabnya banyak gadis-gadis mengejarku."
Keyla tak menanggapinya. Namun dia percaya kata-kata Victor. Maksudnya, bagian kalimat yang mengatakan bahwa banyak gadis-gadis yang mengejarnya.
"Apa kau sudah menikah?" Victor bertanya dengan wajah serius. Ia menatap wanita di hadapannya lekat-lekat. Kulitnya putih, mata coklat yang indah, bentuk tubuh yang bagus, baik, ia merasa sangat beruntung memiliki tetangga baru seperti Keyla.
"Aku sudah memiliki dua anak."
Mendengar Victor tertawa. Keyla pun ikut tertawa meskipun hal itu tak lucu baginya. Walaupu begitu, ia tak mempermasalahkan. Setidaknya, dia mengenal salah satu tetangganya. Tentunya, selain pria yang tinggal di ujung sana ....
"Baiklah kalau begitu. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, jangan sungkan-sungkan mengetuk rumahmu," kata Keyla sebelum pulang.
"Aku tak akan pernah sungkan. Aku adalah pria yang sering merepotkan orang lain," balas Victor diakhiri dengan tawanya yang renyah.
_______🗼🗼🗼🗼🗼________
Keyla keluar dari pintu rumah Victor dan sudah ada seseorang yang menunggunya di luar sana. Pria yang mengenakan setelan jas, lengkap dengan dasinya. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu dam wajahnya terlihat gelisah karena sudah cukup lama menunggu. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kemana perginya Keyla?
"Apa kau mengenal pemilik rumah itu?" tanya Darrel begitu melihat Keyla keluar dari rumah Victor dengan sorot mata tajam dan wajah yang terlihat tidak senang.
"Ya. Ada apa?"
"Laki-laki atau perempuan?" Tanpa menjawab pertanyaan Keyla, Darrel bertanya lagi.
"Sejak kapan kalian saling kenal?" Darrel makin penasaran karena Keyla mengacuhkannya. Perempuan itu membuka pintu dan Darrel mengikutinya dari belakang.
"Apakah hanya itu tujuanmu kemari?" tanya Keyla yang mendadak sebal. Ia duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya.
"Aku hanya ingin tahu." Darrel mendudukkan dirinya sendiri dengan nyaman di sofa. Kakinya yang panjang disilangkan dan sepatunya yang hitam terlihat berkilauan diterpa cahaya lampu.
__ADS_1
"Jika kedatanganmu hanya untuk bertengkar. Pulanglah. Aku tak punya waktu untuk meladenimu." Keyla merebahkan tubuhnya. Kepadalanya mendadak pusing dan matanya berkunang-kunang. Entah kenapa pertanyaan-pertanyaan mantan suaminya itu membuat emosi. Ia lalu mengingat-ingat tanggal merah. Maksudnya, saat di mana dia harus datang bulan.
"Apa kau mengusirku? Apa temanmu yang tinggal di depan akan segera kemari? Apakah dia laki-laki?"
Oh, Tuhan ... ingin rasanya aku mencakar-cakar wajahmu. Tidak tahukah kamu ini adalah masa-masa genting yang harus kuhadapi setiap bulannya? Beberapa saat sebelum menstruasi, aku harus merasakan sakit di sekujur tubuhku?
"Kumohon pergilah jika kamu hanya ingin beradu mulut," katanya lirih namun oenuh penekanan. Gemas dan urrgggghh! Tidak bisa diungkapkan! PMS atau Premenstrual Syndrom adalah hal yang menyakitkan bagi sebagian besar kaum hawa, tak terkecuali Keyla. Itu sebabnya ada UUD mengenai cuti haid untuk karyawan perempuan. Ya ... meskipun hanya sebagian kecil perusahaan di Indonesia yang benar-benar menerapkannya.
Keyla memutar tubuhnya. Menghadap ke sofa dan berusaha memejamkan mata daripada harus mendengarkan ocehan Darrelyang terkesan mengjaknya bertengkar.
Saat masih muda, Keyla tak begitu merasa sakit ketika sedang PMS. Tapi setelah memiliki dua anak, ia mengalami tak enak badan yang luar biasa. Pusing, kadang-kadang mual, badan pegal dan nyeri, selain itu emosinya gampang terpancing oleh hal-hal kecil.
"Kau baik-baik saja, Key?" Darrel mengendorkan dasinya dan mendekati Keyla. Pria itu meletakkan tangannya di dahi perempuan yang matanya terpejam namun sebenarnya sedang menahan perih.
"Apa kau sakit? Badanmu terasa panas?"
Sontak Darrel mengangkat tubuh Keyla dan membawanya naik ke kamar. "Antonius, bukankah sudah kubilang aku tidak ingin bertengkar denganmu," guman Keyla lemas. Dia sedang enggan bicara. Satu-satunya yang Keyla inginkan adalah tidur tanpa gangguan.
"Aku tidak ingin bertengkar denganmu."
Darrel meletakkan tubuh Keyla dengan lembut di tempat tidur, menutupinya dengan selimut dan sekali lagi mengecek suhu badannya. "Beristirahatlah, aku akan memanggilkan dokter untukmu." Darrel terlihat khawatir.
"Tidak perlu. Aku hanya butuh beristirahat. Bisakah kau mengambilkan obat di laci."
Darrel beranjak dari kursi dan mengambil obat dari dalam laci dan segelas air putih. "Minumlah, Key."
Keyla bangun dari pembaringan dan meminum obat yang Darrel berikan. "Terima kasih." Ia kembali berbaring.
Darrel melepaskan dasi dan jasnya. Ditaruhnya di atas kursi dan ia pun berbaring di samping Keyla. "Mau apa kamu?" Suara Keyla masih terdengar lemah.
"Tidurlah. Aku akan menemanimu." Darrel menjawab pelan. Memeluk Keyla dan menenggelamkan wanita itu di dadanya. Keyla tak menolak. Ia juga tidak marah. Dia hanya ingin beristirahat sejenak. Menyandarkan dirinya di dada seseorang yang pernah berbagi ranjang dengannya.
_______🗼🗼🗼🗼🗼_______
Jam 07:00 malam. Keyla terbangun dan merasa jauh lebih baik setelah minum obat dan tidur untuk sesaat. Ia membuka mata dan yang di depannya adalah dada Darrel denga kancing baju yang bagian atasnya terbuka. Entah sudah berapa lama ia tidak tidur senyenyak ini.
Keyla menggeser tubuhnya dengan pelan, berusaha agar tidak membangunkan pria yang dengkurannya terdengar halus itu. Keyla menyingkap gorden dan mengintip keluar jendela. Matahari masih bersinar terang benderang dan ini bukanlah pemandangan asing saat musim panas di Paris.
Wanita itu pergi ke kamar mandi, rupanya sudah ada bercak darah yang menempel di celana dalam. Buru-buru ia menggantinya dengan yang baru dan tidak lupa menggunakan menstrual cup yang menurutnya lebih praktis dan nyaman dibanding dengan pembalut biasa.
Keyla turun ke dapur, menyiapkan makan malam dan setelah selesai dia lalu duduk di sofa sambil membuka laptop. Mengecek e-mail barangkali ada pesan penting di kotak masuknya.
Tidak ada yang penting. Huffftt ... aku merasa seperti seekor semut. Kecil, tidak diperhatikan dan tidak nampak.
"Bagaimana keadaanmu, Key?" Suara itu terdengar renyah. Keyla melihat ke arah sumber suara. Pria itu ... baru saja selesai mandi. Rambutnya masih setengah basah dan membiarkan dadanya yang bidang terekspose oleh Keyla. "Pakailah bajumu." Keyla berusaha berbicara dengan tenang.
"Rumahmu sangat panas. Apa kau tidak pernah menyalakan AC?" balas Darrel berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas. Ia mengambil sebotol air lalu meneguknya sambil berjalan ke arah Keyla tanpa ragu dan seolah-olah menganggap rumah itu adalah apartemennya sendiri. Ia duduk di dekat Keyla, nyaris kulit mereka bersentuhan.
"Aku melakukan penghematan karena yang kutahu biaya listrik di Paris sangat mahal. Kalau kamu kepanasan, menjauhlah dariku. Atau kembali saja ke rumahmu sendiri."
__ADS_1
"Kemarilah. Biar kuperiksa suhu badanmu." Darrel merangkul mantan istrinya yang sedang memangku laptop dan menempelkan punggung tangannya di kening Keyla. "Sudah tidak panas," ujarnya kemudian tersenyum. Sesaat kemudian, ia melirik ke arah layar. "Oh, apa kau penasaran dengan kehidupanku?"
Buru-buru Keyla menutup laptop dan menaruhnya di meja dan berdiri. "Jika ada hal yang ingin kau ketahui, tanyakanlah padaku langsung." Darrel menarik tangan Keyla dan membuat gadis itu duduk di pangkuannya. Pria itu melingkarkan tangannya di perut Keyla dan menyandarkan wajahnya di punggung perempuan itu. "Bagaimana aku harus memanggilmu? Stevan Antonius atau Darrel Douglas?" Keyla bertanya datar. Tentu saja dengan maksud. Dua nama itu memang orang yang sama namun berbeda. Antonius yang lebih memilih hidup di belakang layar, lebih sering berdiam diri di rumah, tidak suka bermain dengan gadis-gadis. Sedangkan Darrel? Entah berapa wanita yang pernah tidur seranjang dengannya. Meskipun apa yang ada di internet tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tak selalu salah. Dia memang masih mencintai Antonius, tapi bisakah dia menerima Darrel yang seutuhnya? Menerima setiap inci tubuhnya yang telah disentuh wanita lain selain dirinya?