Happy Ending

Happy Ending
Bab 86: Maaf


__ADS_3

"Sebaiknya aku mencoba menghubungi Adeline saja," gumam Dariel setelah menghubungi ibunya dan Casey tidak datang ke sana.


"Semoga saja Casey ada di sana," ucap Dariel meskipun ia ragu jika Casey datang ke sana mengingat hubungan Casey dan keluarganya tidak baik.


Dariel menghubungi nomor Adeline dan tak lama kemudian Adeline mengangkat panggilannya.


"Halo.." ucap Adeline.


"Apa Casey ada di sana?" tanya Dariel.


"Tidak. Kenapa kamu mencari Casey? apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Adeline khawatir mengingat kejadian di rumah sakit satu hari yang lalu, saat Casey mendengar pembicaraannya dengan Matilda.


"Casey pergi.. ini semua karena kesalahan ku," ucap Dariel frustasi. Bersamaan dengan itu Casey membuka pintu rumah dengan keadaan basah kuyup.


"Ca.. Casey.." gumam Adeline pelan dan masih bisa di dengar oleh Dariel.

__ADS_1


"Halo.. Halo.. Adeline. Apa kamu masih di sana? apa Casey sedang di sana?" tanya Dariel namun Adeline tidak mendengarnya. Dariel melempar asal ponselnya dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah mengapa nalurinya mengarahkannya ke rumah Matilda, bukan ke rumah Malvin dan Adeline.


*******


"Casey.." ucap Adeline menaruh ponselnya di sofa dan berjalan mendekati Casey yang berdiri di pintu.


"Sayang... hati-hati.. kamu baru pulang dari rumah sakit," tukas Malvin bangkit dari sofa. Menahan tubuh Adeline.


Adeline kembali dari rumah sakit sore tadi dan berencana menginap di rumah Matilda.


"Mom.." ucap Adeline menatap Matilda tidak terima dengan perkataan ibunya itu.


"A.. aku hanya ingin bertemu kalian untuk terakhir kalinya," ucap Casey menghapus air matanya.


"Apa maksud mu Casey?" tanya Adeline berjalan pelan menghampiri Casey.

__ADS_1


"Aku berencana ingin pergi dan memulai kehidupan baru. Aku pikir akan lebih baik seperti itu. Aku datang ke sini hanya ingin minta maaf jika kehadiran ku di dalam kehidupan kalian hanya membawa kesialan saja," ucap Casey menahan rasa sakit di kepalanya. Keseimbangan tubuhnya mulai goyah.


"Maaf jika aku menjadi penyebab daddy meninggal. Maaf jika ibu yang melahirkan ku ternyata wanita yang sudah membuat keluarga mommy hancur. Maaf jika aku tidak bisa menjadi anak kebanggan mommy. Maaf jika kehadiran ku membuat mommy selalu dibayang-bayangi masa lalu. Aku pantas di benci dan menerima semua kesalahan yang sudah dilakukan ibuku. Sekarang aku sadar, aku tidak akan pernah menjadi anak mommy. Aku lelah mencari perhatian mommy dan berharap agar bisa dekat dengan momny. Bisakah aku memeluk mommy sekali ini saja," ucap Casey tak bisa membendung air matanya. Matilda hanya diam saja, tidak membalas perkataan Casey. Matilda berbalik dan pergi meninggalkan mereka begitu saja.


"Casey.. jangan tinggalkan kakak," ucap Adeline memeluk tubuh Casey.


"Maafkan aku kak, aku menyayangi mu. Kakak adalah orang paling baik dalam hidup ku," ucap Casey melepas pelukan Adeline. Dan pergi. Belum berapa langkah, Casey memegang dadanya yang sakit. Sangat sakit, hingga ia tidak bisa melangkahkan kakinya lagi. Casey hampir saja jatuh kalau tidak ada Dariel yang menahannya. Pria itu baru saja tiba di rumah Matilda dan melihat keseimbangan tubuh Casey oleng.


"Sayang.. Casey.." panggil Dariel cemas menatap Casey yang mengedipkan matanya beberapa kali.


"Casey.." tukas Adeline khawatir mendekati Casey.


"Casey.. ada apa? kenapa kamu bisa seperti ini," ucap Adeline ketakutan. Air matanya mulai membasahi wajahnya.


"Aku akan membawanya ke rumah sakit," ucap Dariel mengangkat tubuh Casey ala bridal style.

__ADS_1


__ADS_2