Happy Ending

Happy Ending
Pengirim Misterius


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Keyla pergi ke supermarket di dekat aprtemen miliknya. Karena supermarket itu buka 24 jam, dia tak perlu menyimpan terlalu banyak bahan makanan di dalam kulkas.


Saat memasuki pasar modern, Keyla merekatkan jaket yang dipakainya. Barangkali karena usianya yang sudah lebih dari tiga puluh tahun dan telah melahirkan dua anak, dia tak lagi tahan terhadap ruangan ber-AC.


Keyla mengambil keranjang belanjaan berwarna kuning yang terletak di pojokan, dekat pintu masuk. Etalase pertama yang dia kunjungi adalah tempat sayuran. Ia mengambil beberapa ikat bayam, jamur shitake yang masih segar, brokoli, wortel, dan juga paprika. Setelah itu Keyla pergi ke tempat daging segar. Mengambil dada ayam dan juga salmon berwarna orange kemerahan yang baru selesai dipotong oleh butcher.


Hari ini adalah hari ulang tahun Awan, ia tak berniat untuk merayakannya karena Awan sudah tak lagi merayakan hal-hal semacam itu. Dia tak suka keramaian. Pun tak suka bertemu dengan banyak orang. Anak muda yang kini mulai beranjak dewasa itu lebih suka menghabiskan waktu di kamarnya. Membaca buku, main game, atau bermain dengan Bintang, adik kesayangnnya.


Selesai berbelanja, Keyla berjalan pelan ke arah kasir dan mengantre. Setelah sabar menunggu beberapa menit, tibalah gilirannya untuk membayar.


"Tolong masukkan saja ke sini," pintanya pada kasir sambil memberikan tas belanjaannya yang bisa dilipat. Entah sudah berapa lama Keyla menggunakan tas yang berbahan dasar seperti parasut itu. Selain kuat dan muat banyak belanjaan, bentuknya pun stylish karena terdapat gambar bunga yang berwarna-warni. Dia tahu bahwa apa yang dilakukannya tidak serta merta mampu mengurangi efek climate change, namun paling tidak, hanya ini yang bisa dilakukannya untuk menekan penggunan plastik.


Setelah melakukan pembayaran, Keyla keluar dari area supermarket dan matanya tiba-tiba saja tertarik dengan kue coklat kecil berbentuk kucing yang terpajang di etalase kaca.


"Saya ingin membeli yang ini," kata Keyla kepada penjaga konter toko kue yang berada di area terbuka. Letaknya persis di depan pintu keluar supermarket.


Setelah melakukan pembayaran, Keyla hendak berjalan kembali. Tapi sayang, ketika ia berbalik seseorang menabraknya dari arah belakang dan kue yang baru saja ia beli pun terjatuh ke lantai. Meski tidak sampai hancur, tetapi bentuknya tidak lucu lagi karena butter cream nya menempel pada tutup yang terbuat dari plastik.


"Hei!" Keyla berusaha memanggil pria yang menabraknya tadi. Ia melarikan diri bahkan tidak meminta maaf. Ya sudahlah ... pikir Keyla lemas. Dia akan merapikannya sedikit kalau sudah sampai apartemen.


_______πŸ—ΌπŸ—ΌπŸ—ΌπŸ—ΌπŸ—Ό______


"Mama!" Bintang berlari ketika melihat sosok Keyla memasuki rumah.


"Hai, sayang. Kamu sudah bangun?" Keyla mengecup kening putrinya. "Tolong bawakan ini ya, sayang. Taruh di kulkas," katanya lagi sambil memberikan kantong plastik berisi kue kepada Bintang.


"Kenapa tidak membangunkanku kalau mau belanja, Ma?" Suara Awan terdengar dari kamar.


"Oh, kamu sudah bangun, sayang? Kemarilah. Biarkan aku memelukmu," pinta Keyla dengan gemas. Awan pun keluar kamar, mendekati mamanya namun saat Keyla hendak memeluknya, anak muda itu menghentikan dengan tangannya.


"Jangan kekanakan. Mama tidak seharusnya memelukku." Awan berkata sambil merebut tas belanjaan dari tangan Keyla. Dan wanita itu hanya bisa terdiam melihat tingkah anaknya yang kian hari makin jauh darinya.


"Sayang ... hatiku sangat sakit sekali tidak bisa memeluk anak Mama sendiri." Keyla pura-pura sedih seolah-olah dia sedang patah hati karena mendapat penolakan dari pria yang dicintainya.


"Sayang? Apa kamu mendengarku bicara?" kata Keyla lagi merebahkan dirinya di sofa kemudian mengecek laptop yang ada di meja.


"Sayang? Apa kamu mengacuhkanku sekarang?" tanya Keyla gemas. Sementara Awan tak mempedulikannya. Ia memasukkan sayuran dan ikan yang baru saja dibeli ke dalam kulkas.


"Kakak?"


"Hmmm?"


"Aku lapar." Bintang melihat kakaknya dengan tatapan memelas. Padahal, saat bangun tadi Awan sudah membuatkannya setangkup roti bakar dengan isian selai strawberry.


Awan meraih susu segar di pintu kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas. Ia lalu memberikannya kepada Bintang," Minumlah sambil duduk. Jangan berdiri. Oke?"


Tanpa berkata-kata Bintang berjalan ke arah Keyla yang sedang duduk. Ia tersenyum melihat Bintang membawa susu coklat di tangannya. "Binbin, Mama sangat iri padamu. Kakakmu memperlakukanmu seperti seorang putri. Tapi denganku kami seperti musuh." Keyla berbicara dengan keras agar Awan yang masih di dapur mendengarnya.


"Karena Binbin lebih cantik daripada Mama," balas Bintang dengan susu coklat yang mengotori sudut bibirnya.


"Hahaha. Benarkah?! Mama memang sudah mulai tua. Itu sebabnya kakakmu mengacuhkanku."


"Mama tenang saja. Kan ada aku."


"Berhentilah bersikap seperti anak-anak," kata Awan datar dan meletakkan segelas orange juice di depan Keyla.


"Apakah ini untukku?" godanya pada Awan yang selalu terlihat datar baik sifat maupun wajahnya. Ia jarang tersenyum, apalagi tertawa. Jika lawan bicaranya orang yang tidak mengenalnya dengan baik, mereka pasti sudah jengkel dibuatnya.

__ADS_1


"Terima kasih, sayaaaang," lanjut Keyla sambil tersenyum saat Awan berjalan masuk ke kamarnya.


"Kakak adalah kakak terbaik di dunia!" sela Bintang meletakkan gelas yang sudah kosong di meja.


"Benarkah?" kini tempat duduk Bintang bukan lagi di sofa. Melainkan di pangkuan mama. Keyla menciumi rambut Bintang yang kecoklatan. Harum. Khas shampoo bayi.


"Hmmm. Tadi Binbin ngompol dan menangis. Kakak langsung bangun dan mengganti sprei, terus mencucinya."


"Binbin memang sangat beruntung punya kakak yang baik!" Keyla memeluk erat Bintang dan tidak terasa air matanya jatuh dan ia pun buru-buru menyekanya.


Sejak Bintang mulai merangkak, Awan tak lagi seperti anak-anak lainnya. Ia belajar mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Ketika tidak belajar, Awan akan membantu nenek menyapu atau menolong kakek memotong rumput di halaman. Saat adiknya menangis di malam hari, ia pun akan menemani Keyla menyusuinya hingga Bintang terlelap kembali.


"Binbin juga beruntung karena punya Mama!"


Mendengar hal itu ingin rasanya Keyla menangis dan memeluk kedua buah hatinya. Sekarang, hanya mereka berdualah tujuan hidupnya. Pengisi hari-harinya yang kesepian dan pengobat stress saat ia merindukan tempat untuk bersandar.


_________πŸ—ΌπŸ—ΌπŸ—ΌπŸ—ΌπŸ—Ό________


Tok ... tok ... tok ....


Suara seseorang mengetuk pintu. Keyla beranjak dari kursi dan membuka pintu perlahan. Seorang kurir telah berdiri di depan pintu. Membawa buket bunga mawar dan juga sekotak kue dengan ukuran 23 cm.


"Mrs. Keyla?" tanya kurir yang berpakaian serba orange yang sekilas mengingatkan Keyla pada seragam kurir kantor pos Indonesia.


"Benar."


"Silakan tanda tangan di sini," katanya sambil menunjuk ke arah layar ponsel agar Keyla cepat menandatanginya.


"Saya tidak merasa memesan ini." Keyla berkilah. Menolak untuk menerima dan menandatangi tanda bukti.


"Maaf, Mrs. Keyla. Saya hanya bertugas mengantar."


Begitu kurir itu pergi, Keyla membawa buket dan kue itu masuk dan meletakkannya di meja. "Cantiiikk ...," ujar Bintang dan menghentikan aktifitas menggambarnya saat melihat karangan bunga mawar merah. Ia mengendus-ngendus aroma mawar yang segar dan harum itu. "Apa ini dari kekasih Mama?"


Keyla merasa tertohok dengan pertanyaan anaknya? Siapa yang mengajarinya kata-kata 'ke ka sih'?


Ia membuka kartu yang di tempelkan pada kotak kue, di sana tertulis " Selamat ulang tahun, Awan."


"Sayang, kemarilah!" perintahnya pada Awan dengan sedikit panik.


"Ada apa, Ma?" tanya Awan seraya duduk di sofa.


"Bacalah, sayang. Ini ditujukan untukmu."


Awan membukanya. Kartu itu memang ditujukan untuknya. Dan ini bukan yang pertama kalinya. Setiap hari ulang Awan dan Bintang, akan selalu ada hadiah misterius. Jika itu terjadi saat mereka tinggal di Indonesia, maka Keyla tak kebingungan. Tapi, ini di Paris! Mereka tak memiliki saudara atau relasi di negara yang penduduknya lebih dari dua juta jiwa ini.


"Buang saja kuenya!" ujar Awan dingin.


"Ini makanan, sayang. Kita tidak boleh membuangnya. Cepat ambilkan korek api di laci dan kita potong kuenya."


Awan berjalan menuju dapur. Mengambil korek apik, dua piring kecil dan juga garpu. Sementara Keyla dan Bintang semangat menata lilinnya satu demi satu.


"Ayo tiup lilinnya, sayang," pintanya pada Awan.


"Binbin, tiuplah lilinnya." Awan meminta Bintang meniup lilin itu.


Tanpa ba bi bu, Bintang meniup lilin yang berwarna-warni dan dengan seketika, apai-api yang menyala pun padam. Tak lupa juga sedikit semburan ludah dari Bintang akan membuat rasa kue nya makin lembut . Setelahnya, pelan-pelan gadis kecil yang memakai rok polkadot berwarna ungu menggamitkan doa. Doa untuk kakak, mama dan papa nya.

__ADS_1


"Sayang, makanlah kue nya." Keyla menyuapkan pada Awan. Meskipun ia enggan membuka mulut, namun tatapan Keyla seperti mengintimidasi seolah-olah tak bisa ditolak oleh anaknya.


"Selamat ulang tahun, kakak." Bintang memperlihatkan buku gambarnya. Lukisan Awan yang menggandeng Bintang di tangan kiri dan Keyla yang menggandeng tangan kanan.


"Terima kasih, adikku."


"Kakak suka?"


"Ini sangat bagus. Aku akan memajangnya di tembok kamar."


"Ayo biar kubantu." Bintang menarik tangan kakaknya ke dalam kamar dan meninggalkan mama mereka yang iri melihat kemesraan adik-kakak itu. Keyla merasa dicampakan dan dianggap tidak ada.


Keyla ... kau harus bersiap-siap menjadi wanita tua yang kesepian. Sebentar lagi anak-anakmu akan tumbuh dewasa dan meninggalkanmu.


_________🍁🍁🍁🍁🍁________


Darrel melihat cermin di depannya. Memejamkan mata dan membayangkan seseorang yang ia cintai memeluknya dengan erat. Oh, betapa hampir gila dia dibuatnya. Bertahun-tahun berlalu, wanita itu tetap saja bisa membangkitkan gairah meski hanya dengan membayangkannya.


Bel pintu apartemennya berbunyi. Dengan segera dia berjalan dan membuka pintu tanpa melihat di monitor siapa yang datang. Namun jauh di dalam hatinya, dia berharap bahwa jangan sampai yang di depan pintu rumahnya adalah Fleur.


Ketika ia membuka pintu, ternyata, Keyla. Perempuan itu berdiri dengan membawa sepiring kue lengkap dengan garpu.


"Hai, maafkan aku mengganggumu. Anakku sedang berulang tahun hari ini."


"Oh, terima kasih. Masuklah."


Ketika memasuki rumah Darrel, Verga melihat ke sekeliling. Desain apartemen itu seperti tak asing baginya. Cat tembok berwarna putih, furniture yang rata-rata terbuat dari kayu dan terlihat klasik, terutama buku-buku yang terpajang di rak. Rapi dan entah kenapa pikirannya langsung tertuju pada satu orang. Antonius. Keyla menggeleng-gelengkan kepalanya. Itu tidak mungkin! Antonius sudah meninggal dan dia melihat sendiri mayatnya saat di rumah sakit! Dan soal wajah Darrel yang sama persis, barangkali hanya kebetulan semata.


"Duduklah." Darrel mempersilakan. Ia mengelap tubuhnya yang berkeringat menggunakan handuk. Ia baru saja selesai berolahraga saat Keyla datang. Dan dia hanya mengenakan celana pendek saat ini.


"Apakah aku mengganggumu?" tanya Keyla yang diam-diam memperhatikan Darrel. Dia menaruh potongan kue di depan pria yang kulitnya sedikit kecoklatan dan terlihat ... ummm ... bagaimana ya mendeskripsikannya? sexy?!


"Kalau boleh jujur, kau sangat menggangguku."


Jleb! Kata-kata itu menusuk tepat di jantung Keyla. Dia tak menyangka tetangga barunya itu sangat berterus terang. Antara malu dan jengkel, Keyla memberanikan diri untuk bicara. " Hehehe ... sebelum aku mengganggumu lebih jauh, makan siang lah bersama kami. Aku sudah bilang pada anak-anak bahwa kamu akan datang."


"Yang ulang tahun adalah anakmu. Aku tidak memiliki kewajiban untuk merayakannya."


Aaarrggghh!!! Ingin rasanya Keyla berteriak! Melemparkan kue itu ke wajah Darrel yang terlihat mengesalkan! Cara bicaranya lembut, tidak bernada, tetapi entah kenapa setiap kalimat yang keluar dari mulutnya mengandung senjata tajam!


"Kamu benar sekali. Hehe ... kalau begitu aku akan pulang."


Keyla beranjak dari sofa dan mulutnya komat kamit seperti dukun yang sedang membaca mantra," Hhhmpph! Mentang-mentang tampan, sombong sekali! Orang yang menjadi istrimu pasti wanita yang paling sial di dunia!"


"Apa kau membicaranku?" tanya Darrel yang mengikuti Keyla dari belakang.


"Ah, tidak. Aku hanya menghafal beberapa adegan drama yang sering kutonton."


"Oh. Tidak heran jika kau bodoh seperti tokoh yang ada di drama itu."


"Apa?" Keyla berbalik. Ia mendongak agar bisa melihat wajah lelaki yang mengatainya bodoh.


"Tidak apa-apa. Aku hanya membicarakan kenyataan." Darrel menjawab dengan santai.


"Kalau aku perempuan bodoh, apa menurutmu kamu lelaki yang pintar?" Keyla membantah. Ia tak mau kalah.


Huummph! Jangan mentang-mentang tampan, aku akan mengalah padamu, ya!

__ADS_1


"Terima kasih telah memujiku," balas Darrel menyunggingkan senyum.


"Aku tidak memujimu!" balas Keyla sambil menggigit dada Darrel di bagian tengah yang berwarna kecoklatan dengan sangat keras. Pria itu teriak kesakitan dan Keyla mengeluarkan jurus seribu langkah. Cepat-cepat ia lari ke dalam rumah dan mengunci pintunya!


__ADS_2