
Casey berusaha tegar menerima semua kenyataan. Namun seakan belum usai Casey mendapatkan kenyataan baru lagi. Casey meremas ponselnya setelah melihat foto yang di kirim Jenifer padanya. Foto Jenifer dan Dariel yang sedang pergi ke bioskop. Casey yang baru pulang dari tempat kerjanya langsung menaiki undakan tangga menuju kamarnya.
"Nyonya apa kamu belum makan?" tanya Lily. Sejak hubungan Casey dengan Dariel membaik. Dariel memerintahkan Lily untuk memanggil Casey nyonya.
"Nanti saja Lily, aku ingin istirahat dulu," ucap Casey yang awalnya sudah lapar namun karena foto yang dikirimkan Jenifer, rasa laparnya menjadi hilang begitu saja.
Setibanya di dalam kamar Casey melempar ponselnya ke atas ranjang.
"Sialan.. kamu Dariel. Pantas saja kamu bilang akan kembali besok. Ternyata kamu sedang bersenang-senang dengan Jenifer," ucap Casey marah.
"Apa jangan-jangan mereka diam-diam berhubungan selama ini di belakangku," batin Casey mengambil kembali ponselnya.
"Dasar pembohong," ucap Casey merasa dirinya sedang di permainkan.
__ADS_1
Drrrrttt....dddrrrtttt.., ponsel Casey berdering. Ada panggilan masuk dari Jenifer. Kontan ia menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Bagaimana? kamu sudah lihat bukan. Dariel akan kembali pada ku. Sudah ku katakan jika Dariel hanya mencintai ku," tukas Jenifer tertawa. Casey mengepalkan kedua tangannya.
"Oh ya.. tapi sayangnya aku tidak peduli. Terserah jika kalian masih berhubungan. Tapi jangan besar kepala dulu, kamu hanya kekasih saja. Bukan istrinya," ucap Casey dengan tenang. Seolah ingin menunjukkan pada Jenifer jika dirinya baik-baik saja. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Jenifer.
"Ck.. sebentar lagi kamu juga akan diceraikan oleh Dariel. Sepertinya kamu terlalu menikmati peran mu sebagai istri," balas Jenifer tak ingin kalah.
"Casey.... Casey... kamu itu bodoh atau apa sih. Dariel itu tidak mencintaimu. Apa kamu tidak curiga kenapa Dariel tiba-tiba baik pada mu? apa pernah kamu menanyakan itu padanya," tukas Jenifer membuat Casey terdiam. Membenarkan perkataan Jenifer. Casey memang tidak pernah bertanya pada Dariel. Meskipun awalnya ia ragu dengan Dariel yang berubah.
"Ka.. kamu berbohong kan.." gumam Casey menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sayangnya itu kenyataannya Casey," ucap Jenifer tiba-tiba mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Ja.. jadi selama ini Dariel membohongi ku. Dia sebenarnya tau siapa pelakunya. Pantas saja sampai sekarang dia selalu mengatakan jika dirinya belum menemukan pelakunya," ucap Casey marah dan membanting ponselnya di lantai.
"Kamu pembohong Dariel... kamu pembohong..." teriak Casey menghancurkan tempat tidur. Casey membuang semua barang-barang yang di lihatnya ke lantai.
"Kenapa.. kenapa harus kamu Dariel," Casey merosot, menjadikan ia tertunduk di lantai.
"Bagaimana bisa aku mencintai pria brengsek sepertinya," ucap Casey menangis.
"Pantas.. pantas saja dia tidak pernah sekalipun mengatakan cintanya untuk ku. Dia hanya ingin menebus kesalahannya. Ternyata dia tidak memiliki rasa untuk ku."
"Aku membenci mu Dariel," teriak Casey.
"Kamu bodoh Casey.. kamu bodoh. Begitu mudahnya percaya pada pria itu, memberikan seluruh hatimu untuknya," gumam Casey merutuki dirinya.
__ADS_1
Casey bangkit dan berlari menuju lemari mencari cincin permata biru itu. Casey membuka semua laci dan membuang semua isi laci di lantai dengan asal. Ia belum menemukan cincin itu.