Happy Ending

Happy Ending
Bab 85: Tidak Butuh Penjelasan


__ADS_3

"Casey__"


Casey mengangkat satu tangannya, menginstruksi agar Dariel diam.


"Aku tidak butuh penjelasan mu Dariel," kata Casey menghapus air matanya lalu berlari menjauh dari kamar.


"Aku bisa menjelaskan semuanya Casey," ucap Dariel mengejar Casey.


"Sayang.. tolong. Dengarkan aku," ucap Dariel menahan tangan Casey.


"Lepaskan aku Dariel. Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi. Semuanya sudah jelas," tukas Casey mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Dariel.


"Saat itu aku memang meminta Chris untuk memesan wanita panggilan dan aku juga dalam pengaruh obat bius saat itu. Aku pikir kamu adalah wanita yang di pesan oleh Chris," ucap Dariel menahan Casey yang memberontak. Sekuat tenaga Casey akhirnya bisa melepaskan diri dari Dariel dan berlari menuruni tangga. Dariel tak tinggal diam, ia lalu mengejar Casey.


"Casey tunggu.." panggil Dariel.

__ADS_1


"Berhenti Dariel," ucap Casey mengambil pisau dari dapur. Dariel refleks berhenti. Pelayang yang ada di sana terkejut mendengar suara kuat dari Casey dan ketakutan saat Casey mengambil pisau.


"Sayang.. letakkan pisaunya. Jangan bermain-main dengan benda itu," ucap Dariel lembut mendekati Casey.


"Aku bilang berhenti Dariel.." ucap Casey kuat mengarahkan pisau ke lehernya.


"Tidak.. jangan melukai dirimu sayang," kata Dariel memperingati Casey. Jantungnya berdetak tak karuan. Rasa takut dan cemas menguasai dirinya.


"Kalau begitu, biarkan aku pergi atau kamu melihat nyawaku melayang di depan mu sekarang," ancam Casey berjalan menjauh membawa pisau di tangannya.


"Diam..." bentak Casey. Dariel memilih tidak mengikuti Casey karena tidak ingin Casey melukai dirinya sendiri.


Casey keluar dari gerbang rumah Dariel dan menghentikan taxi yang baru saja lewat. Untung saja ada taxi yang lewat. Sementara itu, Dariel menaiki mobilnya mengejar Casey.


Satu jam berlalu Casey sejak tadi hanya memutar-mutar di sekitar LA saja. Ia tidak tau harus kemana. Di luar juga sedang hujan deras mengguyur kota LA di malam hari. Ditambah perutnya yang sudah kelaparan.

__ADS_1


"Nona, sebenarnya anda mau kemana. Kita sudah satu jam memutar-mutar di tempat yang sama," tukas supir taxi. Casey kemudian tersadar dari lamunannya.


"Turunkan saya di sini saja," ucap Casey membayar taxinya.


Casey turun dari dalam taxi dan membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Tidak ada tempat untuk berlindung di sana. Casey berjalan sembari memeluk tubuhnya yang basah. Ia tidak punya tujuan saat ini. Seolah takdir sedang mempermainkan hidupnya. Dilahirkan dari seorang wanita yang merusak rumah tangga orang dan mencintai pria yang sudah merusak hidupnya. Casey lelah dengan hidupnya sendiri.


"Tuhan... aku sudah lelah dengan semua ini," ucap Casey berteriak menumpahkan semua amarahnya.


"Apa aku dilahirkan untuk menderita. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan dalam diriku seperti orang lain," Casey menangis melangkahkan kakinya menyusuri jalan. Memesan taxi saja uang tidak ada lagi. Casey tidak memiliki apa-apa sekarang.


"Aku harus mengakhiri semua ini. Aku ingin pergi sejauh mungkin dari orang-orang yang aku kenal. Aku ingin sendiri dan memulai kehidupan baru," gumam Casey terus berjalan hingga tak sadar jika dia sekarang berdiri di depan rumah Matilda.


Casey menatap rumah yang pernah ditinggalinya sebelum ia di usir karena ulahnya sendiri. Casey menghapus air matanya berjalan memasuki halaman rumah. Ia ingin melihat Matilda untuk terakhir kalinya dan meminta maaf pada wanita itu.


Sementara di lain tempat, Dariel sedang mencari keberadaan Casey. Berkali-kali ia memukul setir mobilnya karena tidak menemukan Casey. Dariel sangat takut jika terjadi sesuatu dengan Casey. Dan ia tidak akan pernah memaafkan dirinya jika sampai Casey terluka.

__ADS_1


"Sayang.. kamu dimana.." gumam Dariel sembari mengemudi dan melihat ke samping kanan dan kirinya mencari keberadaan Casey.


__ADS_2