
Casey berencana ingin pergi ke kantor Dariel dan membawa makanan buatannya ke sana. Casey membuat Churros dan Pot Roast. Tadi siang, Dariel tidak bisa menjemputnya karena ada meeting penting dan menyuruh Barney menjemputnya. Setelah mengganti pakaiannya, Casey mencari Barney, supir di rumah Dariel. Casey mengenakan dress bermotif bunga di bawah lutut dan flat shoes berwarna hitam.
"Barney... antarkan aku ke kantor Dariel ya. Aku tidak tau dimana kantornya karena belum pernah kesana," ucap Casey. Barney lalu mengangguk.
"Tunggu di sini nyonya, saya ambil mobil dulu," ucap Barney lalu pergi.
Tak lama kemudian Barney datang dengan membawa mobil, Casey lalu naik dan keduanya pergi menuju kantor Dariel.
Setibanya di depan perusahaan Dariel, Casey turun dari mobil dan menyuruh Barney pulang, karena dia akan pulang bersama Dariel.
"Ya ampun, perusahaannya besar sekali," gumam Casey takjub melihat gedung besar di depannya. Casey berjalan menuju lobby dengan tatapan kagumnya. Casey berjalan menuju meja resepsionis untuk menanyakan orang yang di carinya.
"Permisi, apa Darielnya ada?" tanya Casey menatap resepsionis wanita di depannya.
"Apa anda sudah membuat janji dengan Mr Garfield sebelumnya?" tanya resepsionis menatap Casey remeh. Mungkin karena penampilan Casey yang biasa saja. Casey menggeleng.
__ADS_1
"Maaf nona, bos kami tidak bisa bertemu dengan orang sembarangan. Apalagi belum membuat janji sebelumnya," tukas resepsionis wanita itu datar.
"Tapi saya istrinya, kenapa saya harus membuat janji terlebih dahulu," balas Casey tidak suka melihat cara pelayanan wanita itu.
"Maaf nona, Mr Garfield belum menikah. Anda tidak bisa membohongi saya. Sudah banyak wanita yang datang ke sini mengaku-ngaku sebagai istri atau kekasih Mr Garfield. Lagi pula melihat penampilan anda, saya pikir anda tidak cocok menjadi istri beliau," ucap wanita itu menatap remeh penampilan Casey. Casey menghela nafasnya. Ia tidak ingin membuat keributan di kantor Dariel. Lagi pula resepsionis itu tidak salah sepenuhnya. Karena Casey tau jika orang-orang di kantor Dariel tidak tau menahu soal pernikahan mereka.
"Sebaiknya anda pulang nona, jangan terlalu berharap untuk bisa bertemu dengan Mr Garfield. Beliau tidak sembarangan menemui orang lain. Kami saja jarang bertemu dengannya," ucap resepsionis wanita itu mengusir halus Casey.
"Tapi aku tidak berbohong," ucap Casey.
Casey mengambil ponselnya dan menghubungi Dariel. Sementara itu Dariel masih rapat di ruang meeting bersama dewan komisaris dan direksi. Ponsel Dariel berdering, ia tidak ingin mengangkat panggilannya karena sedang sibuk. Namun ponselnya berdering untuk kedua kalinya hingga ketiga kalinya. Dan sekarang Dariel tau siapa yang menghubunginya. Hanya ada satu wanita yang berani menghubungi nomornya berkali-kali dalam waktu yang berdekatan. Yaitu Casey, istrinya.
"Baiklah.. rapat kita selesai sampai di sini. Saya puas dengan kinerja kalian. Saya harap kita selalu bekerja sama untuk membangun perusahaan ini," ucap Dariel menutup rapat lalu keluar dari ruang meeting untuk mengangkat panggilan dari Casey.
"Halo.."
__ADS_1
"Baiklah.. aku akan ke sana," ucap Dariel berjalan menuju lift pribadinya.
Setibanya di lobby, Dariel melihat Casey sedang duduk di sofa menunggunya.
"Sayang.. kenapa tidak langsung ke ruangan ku saja," ucap Dariel membuat Casey berdiri dan memeluk Dariel.
"Sebenarnya aku sudah menemui resepsionis untuk bertemu dengan mu. Hanya saja dia tidak memberiku izin karena mereka tidak mengenal ku," ucap Casey.
"Aku tidak suka cara dia menatap ku. Dia bahkan mengatakan jika aku tidak mungkin istrimu karena penampilan ku yang polos seperti ini," kata Casey mengadu pada Dariel. Dariel yang mendengar itu menjadi marah.
"Resepsionis yang mana sudah berani memandang remeh istriku, ayo katakan. Aku akan memecatnya sekarang juga," tukas Dariel mengecup bibir Casey. Beberapa pegawai yang ada di sana terkejut saat melihat Dariel mencium Casey. Mereka tampak bertanya-tanya. Resepsionis wanita yang menolak Casey juga menatapnya. Ia mulai takut karena setelah ini Dariel mungkin akan memecatnya. Melihat dari sikap Dariel pada Casey, ia yakin jika Casey punya hubungan spesial dengan Dariel. Ia pikir Casey berbohong padanya.
"Tidak... jangan memecatnya. Hanya beri peringatan saja. Kita tidak tau, mungkin saat ini dia sedang banyak tanggungan Dariel," balas Casey tidak setuju dengan Dariel. Meskipun Casey jengkel dengan resepsionis wanita itu, tapi ia tidak tega jika harus memecatnya.
"Baik lah.. ini hanya karena kamu yang meminta," kata Dariel.
__ADS_1