Happy Ending

Happy Ending
Jealouse


__ADS_3

Aku mengerjapkan mata. Belum sadar sepenuhnya. Tubuhku yang terbaring di sofa rasanya enggan diajak kompromi meskipun hanya untuk bergerak.


 


 


Belakangan ini aku memang tidak bisa mengontrol rasa kantuk. Terutama di siang hari. Meskipun tidak melakukan banyak kegiatan, kaki dan tubuhku tiba-tiba lemas dan mataku terasa ingin terpejam. Beruntung aku sering di rumah dan jarang melakukan kegiatan di luar. Jadi tidak ada kejadian yang aku sampai tidur di bawah pohon.


 


 


Mataku mencari-cari Antonius. Melihat ke sekeliling dengan mata setengah mengantuk. Tidak ada. Ia pasti menghilang saat aku memejamkan mata barusan.


 


 


Ruangan yang penuh buku itu ditinggal tuannya begitu saja. Aku berkeliling menyusuri rak-rak warna coklat yang terisi buku-buku. Penataannya sangat rapi dan koleksinya juga cukup lengkap.


 


 


Buku kesehatan, ekonomi, bisnis, dan juga novel. Semua buku ditempatkan di rak yang berbeda agar lebih mudah untuk mencarinya. Pun disesuaikan dengan urutan abjad.


 


 


Aku melihat rak novel yang berada di pojokan. Koleksinya lebih sedikit daripada jenis buku yang lain. Remember Desember? Inikan novel favoritku? Karya pertama yang ditulis oleh Stevan A. Dasar Antonius, katanya tidak tahu Stevan A? Aku menggerutu dalam hati.


 


 


Aku melangkah keluar dari ruang kerja Antonius yang bergaya eropa klasik tersebut. Menurutku, usianya tidak setua itu. Tapi selera rumah, perabotan, serta penataan taman tidak mencerminkah usianya yang tergolong baru setengah tua.


 


 


Secara garis besar, kami adalah dua sisi yang berbeda. Aku yang sangat senang berbicara sedangkan dia sebaliknya. Aku tidak yakin apakah keputusan mama dan papa menjodohkanku dengannya adalah hal tepat dan akan happy ending?


 


 


Ketika sedang menuruni tangga, aku mendengar gelak tawa seorang wanita yang membuatku merasa tak nyaman. Suara itu asing dan aku yakin belum pernah melihat dia sebelumnya di rumah ini.


 


 


Aku menuruni setiap anak tangga dengan rasa keingin tahuan. Penasaran. Aku mengikuti darimana suara yang mengganggu itu datang. Dan ternyata ... Antonius sedang duduk di gazebo taman. Dia dan wanita itu duduk bersebelahan. Terlihat sangat akrab. Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar gelak tawa Antonius.


 


 


Aku tidak tahu kalau pria yang selalu judes jika bersamaku bisa tertawa serenyah itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku melihat Antonius berbisik di telinga wanita yang berambut hitam bergelombang itu.


 


 


Apakah dia sedang menggodanya? Membisikkan kata mesra? Kenapa dia terlihat senang sekali? Dia marah padaku ketika tidak sengaja setengah telanjang di depannya, tapi dia bermesraan dengan wanita lain? Dasar play boy cap kapak!


 


 


Rasanya aku ingin berjalan ke arah mereka berdua dan menyiramkan air cucian beras agar tawa mereka yang merusak pemandangan berhenti.


 


 


Aku tidak tahu apakah wajah penyihir itu cantik atau tidak karena aku hanya melihatnya dari kejauhan. Yang aku tahu aku membenci tawanya yang melengking dan terdengar mencemooh. Dan aku juga tidak peduli jika ternyata dia lebih cantik dariku.


 


 


Tawa itu tidak berhenti, dan justru semakin menjadi. Entah lelucon apa yang dibuat dibuat Antonius? Aku muak mendengarnya. Aku muak melihat dari kejauhan pria itu tertawa dengan seorang wanita. Dan yang lebih memuakkan lagi wanita itu bukan aku!


 


 


Aku melenggang menaiki tangga menuju ke kamar. Mengambil tas dan secepatnya pergi dari rumah itu agar aku tak bisa lagi mendengar tawa mereka membuatku risih.


 


 


 


 


*****


 


 


 


 


"Sudah sampai, Mbak," ujar tukang ojek online ketika kami baru sampai di supermarket. Rumah Antonius memang bukan di kawasan perkotaan dan jarang dilalui oleh taksi. Beruntung ada aplikasi ojek online. Jadi aku bisa melarikan diri dari rumah yang kalau dari luar terlihat menyeramkan itu.


 

__ADS_1


 


"Makasih ya, Pak," balasku sambil mengembalikan helm warna hijau tersebut.


 


 


"Sama-sama, Mbak. Saya kira rumah tadi gak ada orangnya lho, Mbak. Saya kalau lewat situ hawanya merinding. Hiii."


 


 


Aku tertawa geli. Yang punya rumah memang seperti makhluk halus. Balasku dalam hati. Lagian, pagar rumah kok setinggi rumah. Mana ada yang tahu kalau manusia yang tinggal di dalam. Dan bukan hantu? Selain itu dari luar, rumah Antonius hanya terlihat kubahnya saja. Jadi wajar jika orang yang lewat menganggap rumah itu menyeramkan.


 


 


Baru dua hari aku tidak merasakan udara bebas dan rasanya itu seperti setahun. Supermarket memang surga dunia. Ya, setidaknya itu menurutku. Apapun yang dibutuhkan untuk urusan di dunia perdapuran ada di sini. Warna hijau dan merah dari sayuran yang dipajang, mampu mendinginkan mataku setelah terbakar melihat tawa dua roh halus!


 


 


"Susunya Mbak silakan dicoba." SPG dari merk susu kesehatan yang ternama menawariku sample yang ditaruh di gelas plastik kecil. Katanya, kalsiumnya tinggi dan baik untuk kesehatan tulang. Sebenarnya yang kubutuhkan sekarang adalah susu untuk kesehatan hati. Ya, meskipun udara di supermarket terasa dingin, tapi tidak dengan hatiku.


 


 


" Ada yang rasa coklat gak, Mbak?" tanyaku menawar. Padahal dikasih gratis kok nawar.


 


 


"Ada Mbak. Ini."


 


 


Aku meminum susu sample yang kira-kira sebanyak 20 ml. Menurutku lumayan enak. Dan tanpa pikir panjang aku membelinya. Meskipum susu ini tidak akan membuat hati sehat, paling tidak agar tulangku kuat agar bisa menghadapi kenyataan bahwa pria yang sebentar lagi akan menikah denganku berduaan dengan wanita lain di depan mataku sendiri. Beh! Aku tidak mau mengingat hal itu lagi. Rasanya kepalaku seperti mendidih.


 


 


Aku berjalan menuju tempat sayuran. Ingin tahu apa saja herbs yang ada di sana. Ketika hendak mengambil basil, ponselku berbunyi. "Iya, Mah? Ada apa? Key kira Mama sudah lupa sama anak sendiri."


 


 


Sambil mendengarkan ocehan mama, aku mengambil dua ikat basil dan memasukannya ke keranjang.


 


 


 


 


" Sudah belum, Ma ngomongnya? Key mau belanja, nih."


 


 


Aku meninggalkan keranjang di depan etalase keju. Dan mengambil tomat cerry di seberang. Untung ini hari senin. Jadi supermarket tidak begitu ramai. Karena sering berbelanja, aku cukup hafal kapan pusat perbelanjaan akan ramai atau sepi. Biasanya, mall atau swalayan akan mulai rame hari Jumat, Sabtu, Minggu dan tanggal merah.


 


 


"Key lagi belanja, Ma. Kalau memang Antonius khawatir, ngapain gak telepon langsung? Sudah dulu ya, Ma? Key lagi sibuk!" Aku menutup teleponnya. Mama dan calon mantu sama saja. Diktaktor.


 


 


Urusan dengan bahan-bahan segar selesai. Aku mendorong troley ke arah makanan kering. Aku membutuhkan virgin olive oil dan juga roasted cashew nuts.


 


 


Ketika membuat Pesto, aku tidak mau repot-repot memanggang kacang mete terlebih dahulu sebelum digunakan. Itu sebanya membeli yang sudah dipanggang adalah solusi terbaik untuk orang-orang malas sepertiku.


 


 


Setelah membeli semua yang kubutuhkan, aku mendorong troley ke arah kasir. Tidak ada antrean di sana. Sepi. Yang ada hanya suara lagu korea yang sedang hits. Blackpink.


 


 


"Mau pakai kardus atau plastik, Mbak?" tanya kasir dengan sopan sambil men-scan barang-barang yang aku keluarkan dari keranjang besi yang memiliki empat roda tersebut.


 


 


"Gak usah, Mbak. Pakai ini aja." Aku mengeluarkan tas belanjaan yang bisa dilipat dari dalam tasku.


 


 

__ADS_1


Aku sudah terbiasa membawa tas belanjaan kemanapun aku pergi. Well, aku tahu cara ini tidak akan membantu mengurangi pemanasan global, tapi setidaknya aku tidak menambah panasnya bumi ini. Lagipula membawa belanjaan dengan plastik sangat riskan jika barangnya berat. Tas belanjaan yang bisa dipakai berkali-kali serta memiliki motif yang kekinian is the best way.


 


 


****


 


 


Taksi berhenti di depan rumah Antonius. Aku melihat bibi dan bapak berdiri di depan gerbang. Aku penasaran apa yang mereka lakukan di sana.


 


 


"Mbak tinggal di sini?" tanya sopir taksi ketika aku memberikan uang pembayaran.


 


 


"Iya, Pak. Memangnya kenapa?" Aku balik bertanya karena penasaran. Rumah ini letaknya memang di pinggir jalan besar. Tapi tidak ada tetangga di sampingnya. Sepi. Dan dari luar, tidak terlihat jika rumah itu mewah.


 


 


"Dulu saya sering dengar kalau pemilik rumah ini tidak pernah keluar rumah seumur hidupnya. Tapi tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi kayaknya hanya cerita angin saja, Mbak."


 


 


Setelah mendengar ceritanya, aku turunn dari taksi. Buru-buru bibi dan bapak menghampiri.


 


 


"Haduh Mbak Key ... kemana aja kok gak bilang-bilang?" tanya bibi terlihat khawatir. Bapak secepat kilat mengambil belanjaan dari tanganku. Kami sama-sama memasuki gerbang.


 


 


"Mas Steve nyariin Mbak Key dari tadi. Haduh ... gimana ini, Mbak? Mas Steve pasti marah," tanya bibi dengan gelisah.


 


 


"Supermarket, Bi." Aku menjawab dengan tenang dan singkat.


 


 


"Pak ... gimana ini, Pak?" Bibi bertanya pada Bapak dan tidak bereaksi.


 


 


Jarak pintu gerbang ke rumah memang cukup jauh. Dan semakin dekat jarak kami dengan rumah, bapak dan bibi terlihat makin gelisah. Gelagat mereka tidak seperti biasanya. Terlihat Antonius bersandar di pintu dan mentapku tajam. Kemudian melihat ke arah bapak dan bibi seolah-olah menyuruh mereka untuk masuk. Dan yang benar saja, bibi dan bapak masuk ke dalam rumah. Sedang Antonius rasanya ingin meremahku dan memasukkan ke dalam mulutnya.


 


 


"Dari mana?" tanyanya dengan menekan suara. Aku diam. Aku sedang tidak ingin berbicara padanya.


 


 


"Dari mana?" Ia mendekatiku. Tatapan matanya sangat dingin. Aku bergeming dan sama sekali tak ingin melihat wajahnya. Aku berpaling. Melihat ke arah lain.


 


 


"Kenapa kau suka aku mengulangi pertanyaan yang sama berulang kali?"


 


 


Aku mengacuhkannya dan berjalan menuju pintu. Belum sempat aku membuka pintu Antonius menarik tanganku dan tiba-tiba bibirnya menciumi bibirku. Ganas dan bercampur rasa marah.


 


 


Aku berusaha melepaskan diri dan mendorongnya. Tapi tangan Antonius yang besar mencengkram tubuhku dengan begitu kuat.


 


 


Ciumannya mulai merambah ke telinga, "Kenapa kau suka menguji kesabaranku?!" bisiknya sambil mengerang sementara tangan kanannya meremas rambutku. Aku bisa mendengar detak jantungnya. Iramanya tak beraturan sama seperti napasnya.


 


 


Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, yang jelas aku tidak menikmati keintiman itu. Aku berusaha menggigit lengannya agar dia melepaskanku.


 


 

__ADS_1


Setelah dia melepaskanku, aku berlari ke kamar dan perasaan benci mulai muncul. Ya, aku benci orang lain bertindak sesuatu pada tubuhku sementara aku tak menginginkannya. Aku bukan penjaja **** yang bisa diperlakukan kasar dan seenaknya. Meskipun tak kupungkiri aku jatuh cinta padanya, tapi aku tidak bisa memaafkan perbuatannya.


__ADS_2