
Dalam hidup, terkadang ada hal yang tak perlu dikatakan. Cukup dilihat, didengarkan, dan dinikmati. Seperti suara angin yang menyapa aliran sungai Seine serta dihiasi pantulan lampu-lampu dan pucuk menara Eiffel yang seolah bercermin di sungai yang sedang membelah kota Paris menjadi dua bagian.
Darrel mengeratkan pelukannya, sementara Keyla menghirup lekat-lekat aroma tubuh pria yang sedang memeluknya. Entah berapa lama dan berapa ribu kali ia merindukan aroma itu. Dekapannya hangat layaknya pelukan seorang ibu yang sedang menimang-nimang anaknya yang menangis karena sedang mengantuk. Hangat, menenangkan, dan merasa aman seperti sedang dilindungi seorang ayah dengan cinta yang sepenuh hati.
"Apa kau mau pulang sekarang? Kita sudah terlalu lama di sini." Darrel mengawali pembicaraan tanpa melepaskan pelukannya. Rasanya, ia ingin selamanya di posisi sekarang. Parfum Keyla yang manis membaui penciumannya dan mengisi paru-parunya dengan kehangatan.
"Masukanlah tanganmu kedalam kaosku. Bodohnya aku mengajakmu ke sini tanpa membawa sebuah mantel." Pria itu mengutuk dirinya sendiri. Meski angin tak begitu kencang, kalau semalam suntuk berada di pinggir sungai tanpa baju hangat, bisa dipastikan akan masuk angin! Akan sangat merepotkan jika masuk angin di Prancis, karena di sini tak ada tukang kerok apalagi dukun bayi.
Keyla menuruti kata-kata pria itu. Memasukkan kedua tangannya ke dalam kaos Darrel dan mengelus-ngelus punggungnya. Hangat dan terasa sangat nyaman.
"Apa kau menyukai punggungku?"
"Hmmmm."
"Kau harus sering-sering melakukannya,"
"Hmmmm," balas Keyla yang enggan membuka mulutnya. Ia menari-narikan jari telunjuknya di punggung Darrel. Membentuk lingkaran-lingkaran kecil kemudian membentuk huruf dan sebuah simbol I โค๏ธ U. Darrel tersenyum, makin merapatkan tubuhnya dan mengelus rambut kemudian turun ke punggung Keyla yang sedikit terbuka.
"Antonius?"
"Hmmmm?"
"Kenapa jantungmu berdetak sangat cepat dan keras?"
"Karena ada kau di sisiku." Keyla melebarkan ujung bibirnya ke kanan dan ke kiri kemudian mencubit punggung Darrel.
"Tidakkah kau takut aku akan membalasnya?"
"Kamu tidak mungkin melakukannya."
"Hmmmphh! Kau sangat percaya diri."
"Antonius?"
"Hhhhmmm?"
"Sepertinya kita harus pulang sekarang. Kalau tidak, kita akan membeku."
"Aku rela mati jika itu di sampingmu."
"Aku yang tidak rela! Siapa yang akan mengurus anak-anakku?" Keyla mencubit lagi punggung Darrel. Kali ini cubitannya lebih keras dan terasa panas di kulit. Pria itu mengaduh dan makin mengeratkan pelukannya karena gemas hingga Keyla berteiak.
"Apa kamu pikir aku sebuah guling?" Keyla pura-pura marah. Ia mengangkat sedikit kepalanya kemudian menggigit dada Darrel.
"Rupanya kau senang bermain-main denganku!" balas Darrel menggelitiki pinggang dan ketiak Keyla secara bergantian. Perempuan itu tertawa, berusaha melepaskan diri dari calon suaminya, belahan jiwanya, wajah Keyla diterangi temaram lampu terlihat cantik dan memukau. Darrel dibuatnya terperangah dan jantungnya berdetak semakin cepat.
"Key ...?" Keyla diam sejenak dan melihat wajah Darrel ....
"Hmmm?"
"Aku mencintaimu," katanya pelan. Mendekatkan bibirnya dengan bibir Keyla yang kemerahan, mengecupnya dengan lembut, bijaksana dan tanpa tergesa-gesa.
_____________๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ_________
Keyla terbangun namun masih enggan membuka matanya karena masih mengantuk, ia mengulurkan tangan, meraba-raba ke atas, ke bawah, mencari-cari sesuatu di sampingnya.
Tidak ada? Semalam dia tidur sini.
"Apa kau sedang mencariku?" celetuk Darrel memamerkan senyumnya yang mengembang. Pria itu tengah bersandar di kursi yang terbuat dari rotan, ia mengambilnya dari balkon. Dengan badan yang setengah telanjang, dan juga laptop di pangkuannya.
"Hmmm?" Keyla mengerang. Menarik tangan dan kakinya yang terasa sedikit pegal. Meskipun tak melihat jelas karena keadaan kamar gelap, ia mampu melihat sesosok Darrel yang samar-samar diterangi cahaya dari laptop. Hal itu mengingatkannya pada masa sepuluh tahun lalu. Saat mereka bertunangan dan saat mereka menikah.
"Jam berapa sekarang?" tanya Keyla dengan malas.
"Pukul 05:00. Apa kau lapar?" Darrel menghentikan jemarinya yang menekan-nekan keyboard.
"Tidak. Aku hanya harus bangun karena hari ini anak-anak pulang. Aku ingin membersihkan rumah."
"Tidurlah, Key. Masih terlalu pagi untuk bekerja. Kau pasti lelah."
Keyla memiringkan tubuhnya ke arah Darrel," Aku tidak memiliki asisten, jadi aku harus membersihkan rumah sendiri."
"Apa kau mau aku mencarikan satu asisten untukmu?"
"Tidak perlu. Aku senang mengerjakan semuanya sendiri."
Darrel beranjak dari kursi, mendekati Keyla," Kau tidak boleh terlalu lelah karena kau harus melahirkan anakku."
"Kita sudah punya dua. Bukankah sudah cukup?"
"Dua lagi."
"Kamu sangat rakus!" Keyla mencubit pundak Darrel yang ada di atasnya. Pria itu bertumpu pada dua tangannya agar tak menindih Keyla secara langsung.
"Kau yang selalu membuatku tak pernah cukup."
"Bagaimana kalau kembar?"
"Apa kau tak keberatan?" Darrel berbicara tepat di telinga Keyla. Napasnya terasa hangat dan sentuhan kulitnya seperti aliran listrik dengan daya rendah yang menyengat.
"Hmmmm. Aku masih muda. Masih bisa memberimu anak."
"Apakah menurutmu aku sudah tua?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi kau membatinnya?"
"Tidak." Keyla menggoyangkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku akan menunjukkan padamu bahwa aku belum terlalu tua untuk memiliki anak," ucapnya pelan sebelum tangannya berjalan-jalan di perut perempuan yang mengenakan baju tidur berenda berbahan satin dan lembut.
"Bagaimana caramu menunjukkannya padaku Tn. Tetangga?"
Darrel mendekatkan bibirnya ke bibir Keyla lalu diam sejenak. Wajah Keyla panas oleh hembusan napas Darrel begitupun sebaliknya. "Aku akan menjadi pelayanmu hari ini."
___________๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ____________
"Jangan lupa kataku ... tidak boleh memindahkan barang-barang Awan atau dia akan marah."
Keyla berteriak dari atas sofa sambil sesekali memasukkan kacang mete pedas ke dalam mulutnya. Ia memberi instruksi pada Darrel yang sedang membersikan kamar anak lelakinya. Mula-mula pria itu mengelap meja dan barang-barang Awan dengan ekstra hati-hati menggunakan kain yang bisa membuat debu-debu menempel tanpa takut partikel-partikel itu kabur jika tersapu angin dari pendingin ruangan. Setelahnya, ia memakai vacum cleaner untuk membersihkan karpet.
Setelah mengelesaikan kamar Awan, Bintang, dan ruang tengah, ia membersihkan dapur dan juga kulkas. Mengecek stok makanan sambil sesekali mengelap keringat di dahinya. "Sayang, apa kau mau minum?" tanyanya pada Keyla yang tengah mengecat kuku-kuku pada kakinya dengan warna hijau.
Indahnya hari ini ... entah sudah berapa lama aku tak mengecat kuku dan bersantai tanpa harus mengerjakan pekerjakan rumah.
"Tolong bawakan aku jus apel." Keyla menjawab dengan meniup jemari tangannya agar cat kuku yang telah dipoleskan cepat kering.
"Silakan, Ibu Ratu." Darrel meletakkan segelas jus apel di meja. Wajah pria itu memerah karena berkeringat. Rambutnya juga terlihat basah. Dan lagi ... Keyla melihat bibir Darrel. Basah, terlihat menggoda.
"Terima kasih." Keyla mengambil gelasnya dan mulai meneguk jus apel yang terasa segar, sedikit manis dan juga memiliki rasa asam. "Segar sekali. Apa kau sudah selesai bersih-bersih?" Keyla menyandarkan tubuhnya di pinggiran sofa, tubuhnya bergerak-gerak, mencari posisi yang paling nyaman.
"Kakiku sangat pegal sekali. Bisakah kamu memijitnya?" Tanpa menunggu lama, pria itu berlutut di samping Keyla dan mulai memijit kakinya dengan perlahan.
"Antonius?"
"Hmmmm?"
"Aku tak sabar melihat anak-anak kita tumbuh dewasa." Keyla menutup matanya, menikmati tangan lelaki yang menekan-nekan kakinya dengan serius.
"Apa kau ingin cepat tua?" Darrel menimpali. Ia menikmati pemandangan di depannya. Kaki yang ramping, putih dan mulus. Terasa kencang dan berkilauan.
"Iya. Aku ingin tua bersamamu. Menghitung ubanmu. Dan sesekali kita kita akan bertengkar lalu pisah ranjang. Setiap sore datang, kita duduk di balkon sambil meminum teh melati ditemani sepotong biskuit kemudian kita akan bercerita tentang masa muda dan juga merindukan anak-anak kita yang telah dewasa. Apa kamu tahu apa yang aku pikirkan saat kamu dan James meninggal?"
"Tidak." Darrel mendengarkan dengan serius dan menatap wajah perempuan itu.
"Aku berpikir akan menjadi orang tua yang sendiri dan kesepian." Keyla tersenyum getir lalu disusul dengan senyuman kebahagian.
"Oh, ya. Bagaimana dengan Margareth?" Keyla mengulurkan tangan kanannya. Sebagai pertanda, bahwa ia minta dipijit di bagian tangan. Darrel bergeser tepat di sisi Keyla. Mulai memijit jari-jarinya yang lentik dan merambat ke telapak tangan serta lengan. Sesekali Keyla mengaduh ketika pijitan Darrel terasa sakit.
"Anaknya sudah membaik. Untungnya tidak ada yang serius di bagian kepalanya."
"Dari mana kamu mengenalnya?"
"Di pinggir jalan. Saat itu dia hamil tua dan tidak memiliki siapa-siapa. Dia mengingatkanku saat kamu mengandung Awan."
"Itukah sebabnya kamu membantunya?"
"Hmmm."
"Lalu bagaimana dengan Fleur? Bukankah dia terlihat sering ke apartemenmu?" Darrel bisa mencium aroma kecemburuan dari pertanyaan wanita yang matanya merem melek karena keenakan. Bibirnya yang tebal, terlihat agak dimonyongkan.
"Apa kamu ingin mengalihkan perhatianku?" Keyla melingkarkan tangannya di leher Darrel. Ia bisa merasakan napas hangat pria itu di kulitnya. Mata mereka saling berpandangan selama beberapa saat sebelum terdengar suara orang mengetuk pintu menggunakan lempengan besi yang tertempel di pintu apartemen.
"Mengundang seseorang ke rumah?" tanya Darrel menyipitkan matanya. Keyla menggeleng. "Tetanggamu depan rumah?" Keyla menggeleng lagi. Masih tetap mengalungkan tangannya di leher Darrel.
Pria itu menyipitkan matanya, "Biarkan aku membuka pintu, Nyonya" Keyla melepaskan tangannya.
"Mrs. Keyla?" tanya seorang pria yang mengenakan baju serba merah sambil membawa sebuah kotak di tangan kirinya.
"Ya."
Kurir itu pun memberikan bingkisan itu pada Darrel dan memintanya untuk tanda tangan sebagai bukti barangnya telah dikirim dengan selamat dan tanpa cacat.
"Siapa?" Keyla memiringkan tubuhnya ke kanan. Sedikit meringkuk dan matanya tertutup.
"Kurir. Sepatu?" jawab Darrel memperhatikan alamat si pengirim.
"Aku memesannya untuk Fleur. Aku sudah berjanji akan mengganti sepatu miliknya."
"Oh, Tuhan!!" terdengar suara penyesalan sekaligus jengkel dari suara Darrel. Pria itu berjongkok di hadapan Keyla.
"Maafkan aku, sayang. Aku lupa memberitahumu. Aku sudah menelepon toko sepatu langganan Fleur dan meminta mereka untuk langsung mengirimkannya."
Mendengar kalimat Darrel, Keyla membuka matanya dan langsung ke posisi duduk. "Berapa pasang sepatu yang kamu berikan?"
"Empat atau lima? Aku tak begitu ingat."
"Ha? Apa kamu semudah itu membuang-buang uang? Apakah Fleur begitu berharga buatmu? Apa kamu pernah berpikir bahwa uang sebanyak itu bisa untuk membuat sebuah rumah di Indonesia?!" sahut Keyla yang memegang erat bahu Darrel dan mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Apa kau marah?" tanya Darrel polos.
"Hmmmphh! Aku tidak marah! Lagipula itu uangmu!" Keyla kembali ke posisinya semula. Telentang serta menyandarkan kepalanya di ujung sofa dan memejamkan mata.
Dengan uang segitu, aku bisa memperbesar bisnisku! Keyla menangis dalam hati dan mengumpat entah kepada siapa.
"Aku tidak mau Fleur mendatangimu dengan marah-marah. Aku tidak suka kau diperlakukan kasar." Darrel berusaha menjelaskan. Ia meraih tangan Keyla dan mengecupnya perlahan. Berharap Keyla memaafkannya.
"Aku sudah menghabiskan tabunganku untuk membeli sepatu itu," jawab Keyla memonyongkan bibirnya. Meskipun bisa saja dia memakainya karena ukuran sepatu mereka sama. Tapi, tetap saja memakai barang semahal itu hanya untuk diinjak bukanlah tipe Keyla. Ia terlalu sayang dengan uang yang dihasilkan dengan susah payah!
"Maafkan aku, sayang." Darrel kembali mengecup tangan Keyla. Kali ini lebih lembut hingga mampu membuat Keyla seperti ikan yang diambil dari kolamnya lalu dibiarkan begitu saja di tanah. Menggelepar.
"Berhentilah mencium tanganku!"
"Kau ingin aku mencium di bagian yang lain?" goda Darrel begitu melihat sepasang permata yang tegak di hadapannya kemudian menaiki sofa dan duduk diantara tubuh Keyla. Beruntung sofa itu cukup luas.
"Ingin dicium di sini?" Darrel berkata lirih. Ia memutarkan jari telunjuk dan sesekali memilinnya tepat di atas mutiara yang menyembul dari balik short dress berwarna hijau yang Keyla kenakan.
"Antonius ...." Keyla membuka mata. Melihat ke arah pria yang menatapnya dengan hangat dan bermaksud merayu.
__ADS_1
"Tolong hentikan."
"Sudah terlambat."
"Sssshhhh ...." Keyla mendesis ketika lidah dan bibir Darrel bergantian menyentuh bagian dari dirinya. "Antonius ...." Keyla melengkungkan punggungnya ke atas. "Masih marah?" Pria itu menggigit dengan lembut dan satu tangannya tak berhenti bekerja menyusuri gunung yang lain. Ia menyentuhnya setiap jengkal, sesekali mencubit gemas dan menangkupkannya di telapak tangan sekaligus.
"Tidak." Keyla mengerang dan menggeleng pelan. Matanya menatap sayu. Bibir bagian bawahnya tergigit tanpa sadar. Wajahnya memerah dan tubuhnya terasa panas. Darrel menyukai pemandangan itu. Hal menakjubkan dalam hidupnya yang pernah ia sia-siakan.
"Mau jalan-jalan, istriku?" Darrel menghentikan bibir dan juga tangannya. Kedua anggota tubuhnya itu ingin menyimpan tenaganya untuk nanti. Entah nanti malam atau nanti setelah mereka menandatangani surat registrasi pernikahan.
"Ke mana?" tanya Keyla menerawang. Napasnya belum teratur dan entah kemana perginya kekuatan tubuhnya.
"Memilih cincin pernikahan."
"Antonius?" Keyla menyentuh wajah Darrel yang ada di atasnya. Dia bertumpu pada satu tangan. Pria itu merasa saat ini ... Keyla lah perempuan tercantik di jagat raya. Bibirnya basah menggoda, wajahnya putih kemerahan, matanya indah dan aroma tubuhnya menggairahkan.
"Hmmm?"
"Sebenarnya aku masih menyimpan cincin pernikahan kita. Tidak bisakah kita memakai itu saja?"
"Tidak. Cincin itu adalah bagian dari masa lalu. Mari kita mulai sesuatu yang baru. Aku tak ingin melakukan kesalahan yang membuatku kehilangan dirimu lagi."
"Jam berapa anak-anak pulang?"
"Sembilan malam," balas Darrel menyingkirkan helaian rambut yang menutupi dahi Keyla.
"Setelah itu kita kemana?"
"Bagaimana kalau nonton?"
"Tidak mau."
"Apa yang kau inginkan?"
"Cintamu, hatimu dan dirimu."
"Kau sudah memilikinya sejak lama, sayang," balas Darrel kemudian menelakup bibir Keyla yang berada tepat di bawah wajahnya. "Gantilah bajumu. Aku akan kemari lagi setelah berganti pakaian."
_______๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ_______
Darrel menghentikan mobilnya di depan sebuah toko perhiasan tak jauh dari apartemen. Dari luar, perhiasan-perhiasaan yang terpajang terlihat memukau dan mampu menyilaukan mata.
"Turunlah, sayang." Darrel berkata lembut sembari membuka pintu. Keyla pun menjejakkan kakinya di aspal. Sepatu warna merah maroon dengan hak lancip setinggi lima senti, dan juga gaun warna senada yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja dan gaunnya yang panjang, memiliki belahan di samping. Kalau sedang berjalan, maka kaki Keyla yang ramping akan terekspose.
Darrel menggandeng Keyla. Tepat di pinggangnya yang ramping dan menuntunnya masuk. "Apa kamu sering ke sini?" tanya Keyla setengah berbisik.
"Tidak. Tapi toko ini terbaik di Paris."
"Ada yang bisa saya bantu?" seorang penjaga menghampiri Darrel dan Keyla. Dilihat dari penampilannya, ia masih berusia dua puluhan. Rambut pirang yang dicepol dan bola mata yang kehijauan dan terlihat berkilauan.
"Kami mencari cincin pernikahan. Berikan yang terbaik."
"Mmm ... anu ... apakah Anda Darrel Douglas?" tanya gadis itu ragu. Ia tak mampu menahan rasa penasarannya. Pria itu terlihat tampan dan berwibawa. Tubuh tinggi, dada bidang yang dibalut kemeja hitam ketat dan mampu menonjolkan otot-ototnya. Meskipun tidak muda, tapi dia lelaki yang matang. Lagipula, gadis-gadis jaman sekarang tak peduli menyoal usia. Umur hanyalah angka. Selebihnya, penampilan dan materi lah yang utama.
"Ya."
"Bolehkah saya minta tanda tangan?" Gadis itu menyahut dengan wajah yang ceria.
"Tentu. Nanti kami selesai memilih cincin."
"Terima kasih. Maaf atas ketidak sopanan saya. Silakan kemari," tunjuk pramuniaga toko.
Cincin-cincin yang terpajang di etalase tidak ada yang murah. Semua modelnya bagus namun mata Keyla tertuju pada sepasang cincin tepat di hadapannya. Cincin yang terbuat dari emas putih. Untuk mempelai lelaki yang polos. Dan untuk mempelai perempuan cincinnya bertatakan berlian warna putih. Terlihat mengkilat.
"Apa kau menyukainya?"
"Ya. Bolehkah aku mencobanya?"
Darrel memberi isyarat agar pramuniaga toko mengeluarkan sepasang cincin yang dimaksud. Keyla mencoba di jari manisnya. Terlihat cantik, anggun, dan serasi dengan warna kulit serta jemarinya yang lentik.
"Apakah harganya mahal?" Keyla berbisik tepat di telinga Darrel.
"Tidak ada yang semahal dirimu." Darrel membalas kemudian mencoba cincinnya. Pas.
"Kami memilih ini. Dan tolong berikan kalung yang terpajang di sana." Darrel menunjuk kotak kaca yang terpampang di belakang.
"Pilihan yang bagus! Kalung berlian briolette!" Pramuniaga itu berdecak kagum! Ternyata, Darrel Douglas tak hanya seorang penulis kaya dan tampan. Tetapi juga loyal terhadap pasangannya.
Gadis berambut pirang itu pun mengambil kalungnya di kotak kaca lalu memberikannya pada Darrel. Pria itu langsung membukanya dan memakaikannya di leher Keyla. "Sangat cantik!" bisik Darrel. Seketika wajah Keyla merona. Begitu pun pramuniaganya. Ia menjadi malu sendiri menyaksikan keromantisan itu di musim panas yang sangat menyengat.
Selesai melakukan pembayaran mereka masuk ke dalam mobil. Namun wajah Keyla tiba-tiba mendung setelah tahu berapa banyak calon suaminya mengeluarkan uang untuknya hari ini. Uang itu bisa untuk membeli dua rumah mewah di kawasan perumahan elite di Indonesia! Ia baru tahu bahwa kalung yang saat ini dia kenakan adalah replika dari kalung ratu Elizabeth ll. Rasanya, Keyla ingin berlari ke dalam toko dan mengembalikan kalung itu!
"Antonius?" Keyla menatap Darrel dengan memelas. Pria itu baru selesai memasang sabuk pengamannya.
"Kalung ini ... aku merasa tidak pantas menggunakannya. Lihatlah tasku." Perempuan itu mengangkat tas tangannya yang biasa-biasa saja. Tanpa merek apalagi bahan dari kulit buaya atau harimau. Ia memproduksi tas itu sendiri dan beberapa karyawannya membantunya menjual secara online.
"Tasku sungguh murahan. Kalung ini terlalu mahal buatku."
"Sayang ... kalung itu telihat mahal karena kau yang memakainya." Pria itu mengelus pipi Keyla. Berusaha menenangkannya. Karena menurutnya, kalung itu tak sebanding dengan diri Keyla. Ia bisa menghasilkan banyak uang. Tapi hanya Keyla yang mampu memberikan kebahagiaan di hatinya.
"Tetap saja ...."
"Sssst." Jari telunjuk Darrel menempel di bibir calon istrinya sebagai tanda agar dia berhenti bicara.
"Ayo kita makan." Darrel melajukan mobilnya di jalanan kota Paris yang ramai dan matahari terasa ingin membakar manusia yang ada di bawahnya.
_________๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ_______
Terima kasih sudah membaca my lovely reader๐น.
__ADS_1