
"Jadi, kamu kabur dari rumah suamimu? Ckckck ... gadis jaman sekarang, kalau lagi ribut sama suaminya langsung deh pergi dari rumah. Gak dibicarakan dulu."
"Belum resmi jadi suami, Ma. Masih tunangan. Itu aja terpaksa."
"Ih, memang ada yang maksa kamu tunangan sama Antonius? Kamu bisa saja nolak, lari, atau kabur. Tapi nyatanya kamu mau-mau aja. Iya kan, Pa?"
Papa menganggukkan kepala meskipun bukan berarti setuju. Kami sedang makan malam dan ya ... seperti biasa aku harus menyiapkan telinga dan batinku agar kuat menghadapi ocehan mama. Aku sering bertanya pada diriku sendiri, apakah mama-mama di luar sana sama seperti mamaku?
"Key kan gak mau jadi anak durhaka, Ma."
"Kalau kamu durhaka tinggal Mama coret dari kartu keluarga. Habis itu Mama kutuk kamu jadi batu."
"Sudah ... sudah ... biarin Keyla makan dulu, Ma. Ini kan rumahnya juga. Dia bisa pulang kapan saja." Papa menyela untuk menengahi pembicaraan kami.
"Makanlah, Key. Habis itu tidur," lanjut papa dan aku mengangguk. Aku memang lelah dan ingin sekali tidur dengan nyaman di kamarku sendiri.
"Antonis tahu kamu ke sini, Key?" Mama bertanya sambil menyendok saus kacang untuk gado-gado di piringnya.
"Tahu. Aku sudah bilang bibi, kok."
"Mama jadi ingat waktu dulu masih SMP janjian sama Sabrina kalau kami punya anak akan kita jodohkan. Akhirnya janji itu terealisasikan dengan mulus tanpa hambatan!" Mama bicara sambil tertawa. Heran deh. Bisa-bisanya membuat janji yang kekanakan.
"Untungnya lagi, Antonusius suka sama Keyla saat waktu masih di kandungan. Papa ingat, gak? Dulu waktu dia kecil dan nginep di sini karena pengen lihat Keyla lahir?"
"Ingat ... ingat. Saat Sabrina akan pergi ke UK dan Antonius menangis karena tidak mau diajak, kan?"
"Betul, Pah. Ya ampun ... Antonius tiap ada kesempatan pasti ngelus-ngelus perut Mama sambil bilang my princes. Uhhh so sweet!"
Grrrrrhhh!! Mama kumat lagi lebaynya.
"Key ke kamar dulu, Mah. Pah," kataku datar setelah menghabiskan makan malamku dan mencuci piringnya.
"Ngobrol dulu sini dong, Key," cegah Mama.
"Besok lagi ya, Ma. Keyla capek!"
Aku menjatuhkan tubuhku di tempat tidur meregangkan otot-ototku agar lebih rileks. Aku sangat mengantuk dan perlahan-lahan mataku terpejam.
__ADS_1
******
Aku mengerjapkan mata dan sekilas aku melihat sosok laki-laki tidur di sampingku. Pasti ini hanya mimpi. Dan aku memejamkan mata kembali. Terlalu dini untuk bangun dan beraktifitas karena tubuhku terasa sangat lelah.
"Bangunlah." Aku mendengar suara yang tidak asing lagi disertai sebuah kecupan kecil yang melekat di pipi.
Aku pasti bermimpi. Aku tidak ingin membuka kelopak mataku. Dan saat ingin kugerakkan tubuhku tiba-tiba susah sekali. Berat. Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Mungkin ini yang dibilang orang-orang. Tindihan.
Aku membuka mataku. Perlahan. Dan ada dada terpampang di depan mataku. It's just a dream, Key. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri. Tapi tubuhku makin sulit digerakkan. Seperti seseorang telah mendekapku dan tak akan dilepaskan.
Dada itu terlihat menonjol dan sangat keras. Hmmm ... aroma seorang lelaki. Aku yakin pernah mencium bau ini sebelumnya. Antonius?
"Bangunlah. Aku ingin berbicara denganmu," lanjutnya lagi sambil mengelus kepalaku.
"Antonius?" tanyaku dengan nada malas. Khas seseorang yang baru bangun tidur.
"Hmmmmm,"
"Aku sulit bernapas. Tidak sadarkah kalau tubuhmu sangat besar?"
"Kenapa kamu ada di sini?" tanyaku sambil membuat lingkaran-lingkaran kecil di dadanya dengan jari telunjukku.
"Menyusulmu," balasnya sambil mencium kepalaku.
"Apa kau cemburu pada Anna? Atau ada hal lain?" Aku bisa mendengar detak jantung Antonius. Dan kugigit bagian dadanya yang menonjol. "Keduanya!"
Ahh! Antonius memekik karena aku menggigitnya sangat keras. Tapi dia bergeming dan tetap memelukku.
"Apa kau puas sekarang?"
"Belum."
"Ada lagi yang ingin kau lakukan?"
"Siapa penyihir genit itu?"
Dia tertawa kecil mendengar pertanyaanku. "Anna datang untuk mengambil naskah. Dia teman sekaligus pemilik sebuah penerbit,"
__ADS_1
"Stevan A?"
"Hmmmm."
Sudah kuduga. Stevan A adalah Stevan Antonius. Penulis buku yang selalu best seller dan misterius. Romance-Misteri selalu menjadi andalan di dalam cerita. Dan kecurigaanku muncul ketika aku tidak sengaja membaca tulisan di laptop meja kerjanya. Jadi, ini alasannya kenapa setiap pagi buta ia memangku laptop dan mengetik ketika ada kesempatan? Aku langsung tahu bahwa Antonius adalah Stevan A dari gayanya bercerita. Ya, aku hafal betul karena sudah sejak lama aku menggemari novel-novelnya.
"Apa dia menyukaimu?"
"Entahlah. Aku tidak pernah memikirkannya."
"Tapi kenapa kalian terlihat begitu mesra?"
"Perasaanmu saja."
"I don't think so. Sikapmu berbeda jika denganku."
Antonius diam sejenak dan melepaskan tubuhku. "Aku menjaga jarak denganmu karena aku takut tidak bisa mengontrol tubuhku," balas Antonius dengan lumatan bibirnya yang tipis. "Tahukah kau betapa tersiksanya aku selama ini?" lanjutnya lagi sambil menatap mataku tajam dan degub jantungnya terdengar seperti genderang yang ditabuh dan aku merasakan hal yang sama.
"Lalu apa itu Augesia?" tanyaku ragu sembari memegang dadanya yang ada di atasku. Lengannya menopang tubuhnya sendiri agar tidak jatuh menimpaku.
"Aku kehilangn indra perasa."
"Sejak kapan?"
"Mama menyadarinya ketika aku umur 5 tahun."
Itukah sebabnya ia selalu makan-makanan yang sama? Karena ia tahu lidahnya tidak merasakan apapun? Dan makan sehat lebih baik karena bagaimanapun rasanya yang ia tahu hanya rasa kenyang.
"Ada lagi?" Ia bertanya sambil menepikan helai-helai rambut yang menutupi wajahku.
"Bangunlah," katanya lagi sambil tersenyum.
Kutarik tubuhnya agar aku bisa memeluknya dengan leluasa. Dan aku merasakan ada sesuatu mengganjal diantara kedua kakiku. Aku menggigit pundak Antonius. Kali ini sebuah gigitan kecil dan ia mengerang. "Key, hentikan," pintanya dengan lembut. Tapi aku merasakan sesuatu yang lain makin mendesak dari balik celananya.
"Kenapa kau sangat tidak penurut?" Antonius melepaskan tanganku yang melingkar dilehernya kemudian berdiri dan memakai kemejanya yang ditaruh di sofa dekat jendela. Aku memperhatikannya dan dia terlihat malu.
"Cepat turun. Aku menunggu di bawah."
__ADS_1