Happy Ending

Happy Ending
Bab 72: Lipstik Merah di Wajah Alferd


__ADS_3

Dariel menunggu Casey di depan sekolah tempatnya bekerja. Setelah meninggalkan Jenifer di ruang kerjanya, ia langsung menjemput Casey.


Casey yang mengenali mobil Dariel langsung menuju mobil itu dan masuk ke dalamnya.


Casey duduk dan menaruh setangkai bunga mawar di atas dashboard.


"Kamu dapat bunga dari siapa?" tanya Dariel datar. Casey menatap wajah Dariel yang terlihat murung. Pantas saja Dariel berbicara datar padanya.


"Dari murid ku. Dia melamar ku untuk menjadi ibunya. Kamu kenapa? apa ada masalah?" tanya Casey. Dariel menggeleng.


"Aku baik-baik saja. Hanya ada sedikit masalah di kantor," balas Dariel menggenggam tangan Casey.


"Aku tidak tau jika istri ku populer di kalangan anak-anak di sekolahnya. Beberapa kali mereka bahkan memberimu bunga atau makanan," tukas Dariel mengecup punggung tangan Casey.


"Ya begitulah. Maklumlah.. istri mu ini memang cantik dan baik hati," ucap Casey memuji dirinya lalu tertawa ringan.


"Dan aku beruntung menjadi suaminya," balas Dariel.


"Oh iya.. aku hampir lupa. Aku sudah mengatakan pada Henry yang sebenarnya," ucap Casey. Dariel menatap Casey serius.


"Sepertinya dia kecewa karena aku membohonginya," lanjut Casey merasa bersalah.


"Sudah lah.. kamu memang harus mengatakan yang sebenarnya. Karena aku tidak mau dia semakin dekat dengan mu. Aku tidak ingin seorang pun mengambil mu dari ku," ucap Dariel posesif.


"Ku harap dia memaafkan ku," tukas Casey menghela nafasnya.


"Alferd sedang di rumah daddy. Apa kamu ingin kita kesana?" tanya Dariel membuat wajah Casey cerah kembali.

__ADS_1


"Benarkah? astaga.. aku sudah merindukan anak itu," ucap Casey gembira. Dariel lalu menghidupkan mesin mobilnya dan mengemudikannya menuju rumah orang tuanya.


"Kenapa kita tidak membuat satu untuk kita, biar rumah kita ramai," ucap Dariel membuat Casey membulatkan matanya. Casey merasakan wajahnya mulai memanas karena perkataan Dariel. Refleks Casey memalingkan wajahnya, menatap pemandangan di luar dari kaca mobil.


"Bagaimana?" tanya Dariel meraih tangan Casey. Casey menatap Dariel dengan wajah malu-malunya.


"Tapi aku tidak akan memaksa mu sayang, aku akan menunggu sampai kamu siap," ucap Dariel mengecup tangan Casey. Semalam mereka gagal melakukannya karena Casey belum siap.


Tak lama kemudian Dariel dan Casey tiba depan rumah Halton dan Luvena. Keduanya lalu masuk ke dalam rumah.


"Aunty Casey..." ucap Alferd bangkit dari sofa, berjalan mendekati Casey di ikuti oleh Oliver kucing peliharaan Alferd.


"Hai boy.. aunty merindukan mu," ucap Casey mengusap rambut kepala Alferd yang memeluk kakinya. Casey lalu menggenggam tangan Alferd berjalan menuju ruang tengah.


"Hai kakak ipar, bagaimana kabar kalian?" tanya Casey duduk di sofa.


"Hai dad..." sapa Casey saat melihat Halton sedang berjalan ke arah mereka.


"Oh hai nak.. " balas Halton duduk di sofa.


"Dimana mommy dad?" tanya Dariel yang duduk di samping Casey.


"Mommy mu masih di toko rotinya. Sebentar lagi akan pulang karena kita akan makan siang bersama," tukas Halton.


"Casey.. apa suami dingin mu itu memperlakukan mu dengan baik?" tanya Arthur kakak Dariel.


"Tentu saja kakak ipar, Dariel adalah suami yang terbaik," ucap Casey menatap Dariel dengan senyuman terukir di bibirnya.

__ADS_1


"Bagus kalau begitu. Karena kakak tidak akan segan-segan memberinya pelajaran jika dia bersikap kasar pada mu," pungkas Arthur menatap Dariel.


"Dimana cucu grandma..." timpal Luvena yang baru saja kembali.


"I'm here grandma.." ucap Alferd mengangkat tangannya. Luvena lalu mengangkat tubuh Alferd dan mencium pipinya berkali-kali karena sangat merindukan cucunya itu.


"Grandama.. stop.." ucap Alferd menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Mom.. wajah Alferd pasti sudah penuh dengan lipstik merah grandma," adu Alferd menunjuk pipinya. Tiap kali Luvena menciumnya pasti meninggalkan bekas lipstik merah kesukaan Luvena di sana. Mereka semua lu tertawa melihat tingkah lucu Alferd.


"Tuan, nyonya.. makan siang sudah siap," ucap pelayan datang memberitahu mereka.


"Ayo kita makan dulu.." ajak Halton bangkit dari sofa. Mereka lalu berjalan menuju ruang makan.


Dariel menahan tangan Casey agar mereka berjalan belakangan.


"Ada apa?" tanya Casey.


"Cup.." Dariel mengecup singkat bibir Casey.


"Dasar aneh.. awas, aku mau ke ruang makan," ucap Casey mendorong pelan tubuh Dariel.


"Sayang.. aku belum puas.." ucap Dariel membuat Casey terpaku. Pasalnya di depannya ada Luvena. Dan pastinya Luvena mendengar perkataan Dariel.


"Tadi pagi kamu tidak memberikan ku morning kiss," ucap Dariel berjalan di samping Casey.


"Diam lah Dariel. Kamu sudah seperti anak kecil saja," ucap Casey dengan suara pelan. Entah mengapa Luvena yang mendengar itu tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2