
"Rik, gimana hubunganmu sama Steve?"
"Gimana apanya? Kan kita temenan."
"Bukannya kamu habis nembak dia?"
"Iya. Tapi ditolak mentah-mentah! Katanya dia sudah punya calon istri!"
What?! Anna yang sedang memakai maskara tiba-tiba kecolok. Stevan tidak pernah membicarakan gebetan apalagi pacar, kenapa tiba-tiba mention soal istri? Apakah itu cuma akal-akalannya saja agar bisa menolak cinta temannya sendiri? Lebih tepatnya, seperti yang pernah dilakukan Steve terhadap Anna yang akhirnya memutuskan untuk bersahabat saja karena cewek yang kerap memakai pakaian sexy itu ditolaknya berkali-kali.
"Terus, kamu nyerah gitu aja, Rik?"
"Iyalah. Masak ngejar-ngejar terus. Lelaki di dunia ini kan bukan hanya dia." Erika pura-pura jual mahal. Padahal dalam hatinya ia masih ingin berusaha mendapatkan Stevan yang maha sempurna. Tak hanya tampan dan kaya raya yang menjamin masa depannya cerah, tapi ia juga bukan buaya yang memanfaatkan ketenaran serta uangnya.
"Kamu sendiri gimana Ann sama si Jack?" Erika balik tanya kepada teman satu apartemennya itu. Berkat Anna lah ia bisa menikmati kamar dengan vasilitas lengkap dan serba mewah. Secara, orangtuanya memiliki keuangan yang pas-pasan. Kalau tidak karena mendapat beasiswa, mana mungkin Erika bisa kuliah ke luar negeri?
__ADS_1
Meskipun Anna adalah tipe gadis yang ingin dilayani dan anak mami, itu tak masalah selama Erika bisa makan dan tidur secara gratis!
"Ya, gitu deh. Membosankan!" keluh Anna menjatuhkan tubuhnya di sofa."
"Apanya yang membosankan? Tingkahnya di tempat tidur?"
"Entahlah, Rik. Kalau kamu mau, ambil aja," sahut Anna memalingkan wajah keluar jendela. Ia memandangi kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana. Dan bayangan sesosok pria pun muncul di benaknya. Stevan Antonius. Tak dapat ia pungkiri meskipun kini telah memiliki kekasih, wajah kokoh dan terlihat jantan itu masih sering mampir dalam mimpinya. Wajar saja Anna begitu tergila-gila, Steve itu paket lengkap nasi padang. Ada nasi, rendang, daun ubi tumbuk, teri medang goreng, ayam goreng, telur dadar, ditambah sambal hijau. Mengenyangkan dan tak pernah membosankan.
"Ogah, ah. Lagian, dia mana tertarik sama gadis cupu sepertiku? Dia itu seleranya tinggi kayak kamu. Apalagi dadaku tepos. Mana tertarik dia? Ngelirik aja enggak." Anna dan Erika tertawa bersama-sama. Apalagi ketika Erika memperagakan dada Anna yang besar dengan cara menyumpal BHnya menggunakan kaos kaki.
"Beib ... main, yuk!" Ajak Jack pada Anna yang ketika selesai mengikuti kelas.
"Kamu sakit, Beib?" Anna menggeleng.
"Terus kenapa? Laper?" Ia menggeleng lagi.
__ADS_1
"Mau diantar pulang, Beib?" Anna mengangguk. Hari ini dia memang tak ingin ke mana-mana. Ia sedang kesal setelah percakapan tadi pagi dengan Erika. Calon istri? Dia penasaran dan ingin mengkonfirmasi sendiri kebenarannya.
Tok tok tok ... Anna mengetuk pintu apartemenen yang tepat di bawah kamarnya. Hari ini Stevan tidak ada mata kuliah. Kalau tidak di kamar, di mana lagi dia? Meskipun tampan dan mapan ia sama sekali tidak gaul.
"Masuk." Steve mempersilakan dan Anna secepat kilat langsung menyambar masuk. Padahal, dia bilang ke Jack akan langsung tidur supaya pacarnya itu tidak mampir ke kamarnya. Eee malah dia kelayapan sampai rumah tetangga. Ckckck
"Ada apa Ann?" tanya Steve lalu mendudukkan bokongnya di kursi dan kembali mengetik. Sementara gadis itu sedang asik berguling-guling di tempat tidur dengan sprei warna putih.
"Seperti apa tipe cewek yang kamu suka, Steve?" Stevan diam karena dia sedang berkonsentrasi. "Ngapain sih kamu?" Anna gemas sendiri karena diabaikan, padahal Steve sedang ber kon sen tra si! Bukan mengabaikan. Laki-laki memang sudah diciptakan begitu. Kalau sedang bekonsentrasi melakukan satu hal, maka otomatis pendengarannya akan menurun. Beda dengan perempuan yang Tuhan ciptakan multi tasking alias bisa mengerjakan beberapa tugas sekaligus, tetapi tetap bisa mendengar.
Anna lalu mendekati pria itu, menepuk pundaknya. "Ada apa Ann?"
"Yaelah ... dari tadi ditanyain kagak nyambung. Lihat ke sini deh," kata Anna sambil memegang wajah Steve yang diarahkan ke dadanya yang menyembul keluar. "Tipe wanita seperti apa yang kamu suka?" lanjut Anna penuh penekanan pada setiap kata. Agar jelas dan yang diajak bicara langsung mendengarkan.
"Entahlah." Stevan menjawab dengan gelagapan. Bukan karena belahan dada Anna yang mengarah ke mukanya, tapi ia bingung apa yang merasuki gadis berusia sembilan belas tahun itu.
__ADS_1
"Kata Erika, kamu sudah punya calon istri. Siapa dia? Apa dia lebih cantik dari aku?"
"Yang pasti dia gak segila kamu." Anna manyun. Ia merasakan cemburu yang teramat sangat. Selama ini, ia tak pernah mengejar laki-laki karena kaum adam itulah yang selalu mengejarnya. Baru kali ini ada pria yang menolaknya. Dan makin hari, dia justru makin penasaran dengan Stevan. Meskipun ia telah memiliki Jack, dia tetap tak bisa dibandingkan dengan Steve. Di mata Anna, tidak ada laki-laki lain yang bisa memuaskan mata dan hasratnya selain Stevan. Ia terobsesi. Dan tak jarang, saat bercumbu dengan Jack, Steve lah yang ada dibenaknya. Dan tujuannya hanya tertuju pada satu titik. Stevan Antonius.