
Keyla menekan bell yang ada di dekat pintu. Apartemen nomor 901 dan beberapa saat kemudian perempuan usia tiga puluhan dengan rambut blonde dan mata hijau pun membukakan pintu.
"Benarkah ini rumah Nn. Missy?" Darrel membuka pembicaraan dan perempuan itu tidak nampak kaget.
"Mr ad Mrs. Douglas?"
"Ya." Keyla menimpali.
"Silakan masuk." Perempuan itu mempersilakan. Darrel menggandeng istrinya memasuki rumah itu. Rumah nuansa biru dan toska.
"Missy sudah mengirim pesan bahwa ia ada di rumah kalian. Aku minta maaf karena telah banyak merepotkan."
"Tidak masalah, Mrs ...?" jawab Keyla dengan senyum yang ramah.
"Smith. Angela Smith. Panggil saja Angel."
"Baiklah. Kami tidak bisa berlama-lama di sini. Kami hanya ingin memastikan bahwa kamu tahu Missy ada di rumah kami."
"Maafkan aku telah merepotkan kalian. Baru kali ini gadis itu punya teman. Aku senang sekali anak kalian mau bermain dengannya."
"Justru aku sangat senang dia mau bermain dengan Awan. Awan anak kami, satu sekolah dengannya. Dia tak pernah membawa teman ke rumah. Dia juga sulit berteman."
"Benarkah?" Angela nampak terkejut dengan perkataan Keyla.
"Ya."
__ADS_1
"Missy memiliki kelainan sejak lahir. Moebius syndrome. Ia tak bisa mengekspresikan perasaannya. Wajahnya datar. Tak bisa tertawa seperti anak lainnya. Teman-temannya menganggap dia hantu. Ada juga yang bilang dia monster. Aku tak bisa berbuat banyak sebagai ibunya."
"Jangan bersedih, Angel." Keyla bergeser mendekat ke arah wanita itu. Wajahnya nampak murung dan merasa bersalah.
"Missy anak yang cantik dan pintar. Anak-anakku menyukai. Dia boleh datang kapan saja." Keyla berusaha menghibur. Memeluk perempuan itu meskipun tahu tak akan berefek banyak. Keyla sadar betul betapa sakit hatinya seorang ibu jika ada anak lain yang memanggil anaknya dengan sebutan monster atau kata-kata lain yang tak pantas. Tak akan ada ibu yang benar-benar rela!
"Terima kasih banyak." Angel memegangi tangan Keyla yang terasa hangat.
"Sama-sama. Dia terlihat betah di rumah kami. Jadi, jangan khawatir. Kalau begitu kami harus segera pergi."
"Baiklah. Terima kasih banyak sudah mampir."
"Tak masalah Mrs. Smith. Lain kali kau harus datang ke rumah kami," balas Darrel seraya berdiri dari sofa.
"Pasti!"
"Kenapa, sayang?" Darrel menoleh ke arah istrinya yang tengah temenung. Entah apa yang sedang ada di pikirannya. Dipanggil sekali, tidak nyahut. Dua kali, diam. Dan untuk ketiga kalinya, Darrel memegang pundaknya. Keyla tersentak.
"Mmm? Mengatakan sesuatu?"
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Darrel sambil memegang kemudi menuju La Grand Rex, sebuah gedung pertunjukan yang ada di Boulevard Poissonnière, Paris, Prancis.
"Tidak." Keyla menggeleng pelan.
"Missy? Apa kau memikirkannya?"
__ADS_1
Keyla menoleh ke arah suaminya. "Ya. Bukankah Moebius syndrome terlalu berat untuknya? Aku tak bisa membayangkan bagaiman perasaanku jika anakku mengalaminya. Monster? Oh ... tidak sayang! Hatiku pasti hancur jika mendengar anakku disebut sebagai monster!" Keyla mulai menitikkan air mata. Kaum hawa memang begitu. Begitu sensitif dan kelenjar lakrimalis mudah memproduksi air mata. Tak hayal, perempuan sering disebut makhluk baperan!
"Kau salah, Key. Missy tidak seperti yang kau bayangkan. Dan Angel, lebih kuat dari yang kau kira."
"Benarkah?" Keyla melihat ke arah Darrel. Seperti biasa, pembawaannya begitu tenang dan cara bicara pelan.
"Ya. Tidakkah kau lihat Missy? Anak itu begitu percaya diri dan tidak nampak lemah sedikitpun. Dia juga baik. Lihat apa yang diberikannya pada Bintang?"
Keyla mengangguk. Mengiyakan.
"Benda itu pasti pasti berharga baginya karena selalu membawanya di dalam tas. Tapi, dia memberikannya pada Bintang begitu saja. Anak yang tidak baik, tak mungkin melakukan itu."
"Benar katamu. Aku hanya tak habis pikir. Bagaimana bisa teman-temannya berkata kasar?"
"Lingkungan, Key. Didikan orang tua juga mempengaruhi. Anak-anak adalah peniru ulung! Orang dewasalah panutannya. Mereka menganggap orang dewasa bisa melakukannya, kenapa mereka tidak?!"
"Tetap saja itu bukan hal yang benar untuk dilakukan. Kita, orang dewasa, harusnya mengajarkan betapa indahnya sebuah perbedaan."
Hahaha. Darrel tertawa karena tak bisa menahannya setelah mendengar kata-kata Keyla.
"Kau begitu naif, sayang. Menurutmu, kenapa di negeri di mana kita lahir sering terjadi konflik antar suku dan agama? Kenapa ada perang dunia berjilid-jilid yang menelan banyak korban? Perbedaan! Tidak semua, kita, orang dewasa bisa menerima perbedaan. Perbedaan berpendapat, beragama, sudut pandang, berpikir, bahkan dalam rumah tangga. Perbedaan menjadi alasan utama terjadinya perpecahan."
"Tapi mereka masih anak-anak, Antonius!"
"Jangan anggap remeh anak-anak. Mereka adalah makhluk yang berbahaya jika tidak diarahkan dengan baik. Kau tahu ISIS? Mereka bahkan mengajari anak-anak untuk memegang senjata api, pisau, untuk membunuh. Kau pikir anak-anak melakukan atas kemauan mereka sendiri? Tidak, sayang. Orang dewasa lah yang mengarahkannya. Gadis usia 13 tahun, Lady Medicine Hat membunuh kedua orang tuanya dan adiknya yang berusia delapan tahun. Joshua Smith, empat belas tahun membunuh ibunya lantaran menerapkan jam malam dan melarangnya berkumpul dengan anak-anak nakal. Dan lagi, di negara kita pun banyak anak-anak dibully oleh temannya sendiri. Ada yang meninggal, terluka, dan banyak juga yang hanya diam dan memendam lukanya sendiri di dalam hati. Anak-anak tak sepolos yang kau pikirkan. Mereka bisa menjadi makhluk yang tak pernah kau duga."
__ADS_1
Keyla bergidik ngeri. Apa yang dikatakan suaminya tidak salah. Namun juga tak sepenuhnya benar. Bagi Keyla, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka masih suci, tak berdosa dan harus benar-benar dibimbing. Keyla berhenti berpikir sejenak. Dan mulai meragukan pikirannya sendiri. Benarkah anak-anak makhluk yang masih putih? Suci? Jika itu bayi, mungkin iya. Tetapi saat dia mulai bisa berpikir, ia akan mudah dikendalikan oleh apa yang ada di sekitarnya.