Happy Ending

Happy Ending
Bab 90: Kabar Baik


__ADS_3

4 Bulan Kemudian


Dariel tetap setia menemani Casey di rumah sakit. Ia bahkan membawa barang-barangnya ke rumah sakit dan berkas-berkas kantornya. Dariel hanya akan ke kantor jika ada urusan penting yang tidak bisa digantikan oleh Chris. Ruangan tempat Casey dirawat sangat luas dan ranjang di sana sengaja diganti dengan yang lebih besar, agar Dariel bisa tidur di samping Casey.


Selama empat bulan ini, Casey belum mengalami perkembangan, tidak ada tanda-tanda wanita itu akan sadar dari komanya. Selama empat bulan ini banyak yang terjadi. Adeline sudah melahirkan bayinya. Anak mereka berjenis kelamin laki-laki. Mereka memberinya nama Louis. Matilda menjadi pendiam dan mengurung dirinya di kamar. Hidupnya serasa hampa. Dariel juga sudah memberi pelajaran pada Jenifer dengan mengakuisisi semua saham perusahaan orang tuanya.


"Sayang.. kapan kamu akan sadar..." ucap Dariel mengecup punggung tangan Casey. Pria itu duduk di kursi di samping brankar.


"Aku minta maaf untuk semua yang pernah ku lakukan pada mu. Aku memang pria brengsek," ucap Dariel meneteskan air matanya.


"Apa kamu sedang menghukum ku dengan seperti ini? jika iya, kamu berhasil sayang. Kamu berhasil memberiku hukuman terberat dalam hidup ku. Tolong jangan hukum aku seperti ini," tukas Dariel mengusap lembut rambut kepala Casey.


"Aku tidak ingin kehilangan mu, aku sangat mencintaimu sayang," ucap Dariel mengecup lembut bibir pucat Casey.

__ADS_1


"Aku berjanji, saat kamu bangun aku siap menerima jika pada akhirnya kamu ingin berpisah dari ku. Aku siap kamu membenci ku selamanya. Asalkan kamu tetap hidup. Aku akan memberikan semua apa yang kamu inginkan. Ayo bangun sayang..." kata Dariel.


Ceklek..


Pintu ruang rawat Casey terbuka. Luvena muncul menenteng kotak makanan.


"Dariel, ayo kamu makan siang dulu," ucap Luvena menaruh makanan yang dibawanya di atas meja sofa.


"Aku belum lapar mom," balas Dariel menghapus air matanya. Luvena berjalan mendekati Dariel.


"Sudah sana cepat makan, biar mommy yang melihat Casey di sini," ucap Luvena. Dariel akhirnya menuruti perkataan ibunya untuk makan siang.


Malam harinya Dariel menjaga Casey bersama Luvena di rumah sakit. Dariel tidur di ranjang menemani Casey. Sedangkan Luvena tidur di sofa besar yang ada di sana. Hampir tiap malam Dariel tidak tidur. Tiap kali Dariel menutup matanya, ia beberapa kali bermimpi jika Casey meninggalkannya. Maka dari itu Dariel selalu dihantui ketakutan.

__ADS_1


Dariel selalu mengajak Casey mengobrol untuk merangsang otaknya agar cepat bangun dari komanya. Dariel menceritakan bagaimana hampanya dirinya tanpa kehadiran Casey. Menceritakan hari-hari yang pernah mereka lewati sebelumnya.


Dariel terkejut saat merasakan tangan Casey bergerak digenggamnya. Dariel melihat kelopak mata Casey yang bergerak.


"Mom... mom.." panggil Dariel. Tangganya bergerak memencet tombol di atas ranjang untuk memanggil dokter.


Luvena yang mendengar suara kuat Dariel terbangun.


"Ada apa Dariel?" tanya Luvena.


"Mom.. baru saja tangan Casey bergerak mom," ucap Dariel senang. Ada kemungkinan Casey akan sadar. Kontan Luvena berlari mendekati Dariel.


"Lihat mom.. " ucap Dariel menunjuk tangan Casey. Luvena ikut senang melihatnya. Tak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan Casey.

__ADS_1


"Ini kabar baik Mr Garfield, istri anda sudah melewati masa komanya. Kita tinggal menunggu kapan istri anda sadar. Kemungkinan dalam waktu dekat ini," ucap Dokter. Dariel dan Luvena yang mendengar kabar baik itu sangat senang.


"Terima kasih dok," ucap Luvena, dokter tersebut lalu pamit.


__ADS_2