Happy Ending

Happy Ending
Cerita Horor


__ADS_3

"Jika ada apa-apa, segera hubungi aku. Okay?" ucap James sebelum masuk kedalam mobil bersama rekan-rekannya. Aku mengangguk kemudian ia memeluk dan mengecup Awan yang ada di gendonganku. "Jaga Mama ya, jagoan!"


"Yes, Papa. Don't forget my air plane."


Mendengar jawaban Awan aku dan James tertawa bersamaan karena dari semalam yang dia ingat hanya mainan yang dijanjikan oleh papanya. "Key, aku menunggu jawabanmu," katanya sebelum tubuh besar dan kecoklatan itu berbalik.


Apa lagi yang aku tunggu? Bukankah pria itu sudah sangat baik dan dia sangat mencintai Awan. Masih kurang sempurnakah dia sebagai seorang suami sekaligus ayah?


Suara ponselku berdering. Cepat-cepat aku mengambilnya di atas meja,"Halo, Mama? Apa kabar?" 


"Mama rindu," balasnya dengan sesenggukan.


"Omaaa. Opaaaa. Omaaaaa," sahut Awan tepat didepan telingaku. Kutekan mode loudspeaker dan kutaruh ponsel di meja agar Awan leluasa berceloteh,"Awan. Oma kangen!" 


"Miss you, Oma, Opa."


"Awaaan. Ini Opa!" Terdengar suara papa ikut nimbrung. 


"Opa Opa Opa." Awan kegirangan mendengar suara oma dan opa. Meskipun belum lama bertemu, mereka sudah sangat akrab. Mungkin itulah yang dinamakan ikatan darah. Mau sejauh apapun dan sekama apapun berpisah, hubungan itu tak bisa putus begitu saja. Kata pepatah, darah lebih kental daripada air. Benarkah begitu? Tiba-tiba bayanganku tertuju pada ayah biologis Awan. Antonius. Bagaimanakah kabarnya selama ini? Apa ia mencariku? Apakah dia sudah menikah lagi? Apakah dia masih... mencintaiku?


"Mama dan Papa sehat?" Aku mencoba menepis apa yang barusan aku pikirkan. Mama dan papa pun tak pernah menyinggungnya lagi jadi untuk apa aku mengingatnya? Awan tak perlu papa yang lain. Di hanya butuh James. Sosok Ayah yang dikenalnya sejak masih di dalam perut.


"Tentu sayang. Tentu. Kami harus sehat karena ingin melihatmu lagi."


"My prince, apakah Bunny sudah diberi makan?" Karena ingat ia belum memberi makan Bunny, Awan berlari menuju kulkas dan mengambil beberapa sayuran tanpa menjawab. Aku sengaja agar ia tak mendengar percakapanku dengan omanya. Ku tak ingin Awan mempertanyakan apa yang didengarnya.

__ADS_1


"Ma, Key akan menikah dengan James." Mama terdiam beberpa saat. "Baiklah sayang jika itu keinginanmu. Tapi, bagaimana dengan surat ceraimu?"


Aku baru ingat jika statusku masih sebagai istri orang. "Aku akan membicarakan dengan James, Ma."


"Baiklah, Key. Apapun keputusanmu kali ini Mama akan mengikutinya. Mama ingin kamu dan Awan bahagia, sayang."


Setelah mengobrol cukup lama, mama mematikan sambungan telepon dan aku mencari-cari Awan yang ternyata masih bersama Bunny.


"Prince, apa itu? Apa yang ada dimulutmu?" Dari jauh Awan terlihat sedang mengunyah sesuatu. Aku tak ingat memberikan makanan padanya.


"Hai, Mama," sapanya mengacuhkanku. Ia lebih memilih mengelus-elus bulu Bunny.


"Hai, Key! Aku memberikan nungget wortel pada Awan!" teriak Erina dari dapurnya yang terbuka. Rumah kami hanya dibatasi pagar kayu setinggi lutut orang dewasa, jadi kami masih bisa saling bertegur sapa satu sama lain.


"Terima kasih, Erika. Kau terlihat sibuk sekali," sahutku tak kalah keras.


"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya. Apa kau perlu bantuan?"


"Tentu saja! Dengan senang hati." 


Aku melompat pagar menuju dapur Erika. Awan tengah sibuk dan dia tak ingin diganggu. Untunglah Bunny kelinci yang penurut. Ya, menurut pada Awan dan James. Tidak padaku. Karena sejak awal aku menentang kedatangannya. Aku tidak suka memelihara binatang di rumah karena merawatnya butuh tenaga ekstra. Belum lagi saat membersihkan kandangnya. Meskipun pada akhirnya tetap saja aku yang membersihkan. Dan karena ketidaksukaanku itulah Bunny juga tak menyukaiku. Itu satu-satunya alasan yang relevan. Refleksi. Apa yang kita beri, itu yang kita terima.


"Apakah ini perlu dipotong?" Aku menunjuk arah wortel yang telah dikupas.


"Iya, Key. Aku akan membuat acar mentimun. Suamiku sangat menyukainya jika dimakan dengan nasi goreng."

__ADS_1


"Aku jadi penasaran siapa yang akan datang. Karena tidak biasanya kau memasak sebanyak ini. Bahkan di pesta ulang tahun suamimu."


Hahaha ... Erika tertawa lepas sambil memotong timun, "Kamu membuatku malu, Key. Sebenarnya kami berteman sejak masih kuliah, lalu bekerja seatap. Aku tidak tahu apa makanan kesukaannya dan setiap kali aku menanyainya dia bilang terserah. Itu sebabnya aku menyiapkan sebanyak ini. Jadi dia punya banyak pilihan untuk dimakan." Dan yang benar saja. Nugget yang sebagian telah digoreng sudah siap untuk dikemas. Beberapa jenis sayuran salad, acar, telur balado, rendang ayam, setoples krupuk, dan entah masih ada apa lagi di box makanan yang bertumpuk di atas meja.


Aku melanjutnya memotong wortel dan kulihat Awan menerobos melalui sela-sela pagar yang bisa dilewati tubuhnya.


"Aunty, i want more ...," katanya menengadahkan tangan pada Erika. Dan Erika pun mengambil beberapa buah nugget wortel yang masih hangat.


"Prince, cucilah tanganmu dahulu." Ia lalu melihat ke sekeliling, mencari air untuk mencuci tangannya. Dan dia menemukan ember berisi air yang biasa digunakan Erika untuk menyirami tanamannya. "Sudah." Awan mengangkat kedua tangannya yang basah sebagai bukti ia telah cuci tangan meskipun tak menjamin kebersihannya. Ia lalu duduk di kursi dan menikmati potong demi potong makanan di depannya. "Apa kau menyukainya, Boy?" tanya Erika sambil mencium rambut Awan yang coklat berkilaun. Erika belum memiliki anak diusia pernikahannya yang ke sepuluh tahun, itu sebabnya ia sangat dekat dengan Awan dan selalu memberinya makanan. "Mmmmmm." Awan mengangguk. 


"Apa suamimu akan pulang malam ini?" 


"Tidak, Key. Dia sedang ada urusan kantor. Mungkin seminggu. Tapi aku sudah bilang kalau temanku akan menginap. Bagaimna dengan James?"


"Ia akan pulang minggu depan. Seperti yang kamu tahu dia jarang ada di rumah."


"Ya. Aku bersyukur James memiliki istri. Jadi ada yang menjaga rumah dan tak perlu takut lagi jika kebetulan aku sedang sendiri di rumah. Aku sering membayangkan ada hantu di rumahmu saat itu," cerita Erika diakhiri dengan tawa kengerian. 


"Erika, tidakkah kamu tahu aku di rumah sendirian malam ini? Kenapa membicarakan hantu?" Aku bergidik ngeri sekaligus penasaran bagaimanakah penampakan hantu Kanada? Apakah ada pocong, genderuwo, kuntilanak, atau tuyul? Tidak ... tidak! Cepat-cepat aku mengusir pertanyaan itu dari kepalaku.


"Apa kamu takut, Key?" goda Erika yang tak kalah takutnya denganku.


"Tentu saja! Lihatlah bulu-buluku." Kuperlihatkan tanganku pada Erika.


"Oh, tidak! Bulu kudukku merinding, Key. Tidak seharusnya kita membahas soal itu!" Erika terlihat menyesal karena memulai pembicaraan soal hantu.

__ADS_1


"Lebih baik kita selesaikan masakanmu dulu," usulku agar kami cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Udara di luar tiba-tiba menjadi beku dan terkesan ada yang memperhatikan kami. Brrrrrrrr


__ADS_2