Happy Ending

Happy Ending
New Life, New World


__ADS_3

"Darling? Apa kamu sudah selesai menata kamarmu?" teriak seorang wanita yang tengah memasak untuk makan malam keluarganya. Meskipun hari ini dia baru saja pindah ke Paris, Keyla memutuskan untuk menyiapkan makanan sendiri. Selain itu, dua buah hatinya tidak terbiasa makan-makanan junk food. Bukan hanya tidak sehat karena terlalu mengandung banyak protein serta gula, tetapi sejak kecil Keyla memang membiasakan mereka memakan makanan rumahan yang diolah sendiri.


"Sebentar lagi, Ma," jawab Awan dari dalam kamarnya sambil membereskan buku-buku di meja.


"Kalau sudah selesai, tolong bantu Mama mengangkat beberapa barang yang ada di luar pintu, ya. Gak berat, kok. Beberapa boneka milik adikmu."


"Baiklah."


Sementara Keyla sibuk memasak, ia lupa bahwa pintu apartemennya masih terbuka. Ia juga lupa bahwa Bintang adalah anak yang tidak bisa diam dan selalu ingin mencari tahu apa yang ada di sekitarnya.


Brukk!! Bintang menabrak seseorang dan tidak sengaja menumpahkan es krim di atas sepatunya yang berwarna biru tua.


"Hei, hati-hati, dong! Dimana sih orang tuamu?" kata gadis berambut pirang itu dengan bersungut-sungut.


"Maaf, aku tidak sengaja." Bintang membungkuk saat meminta maaf.


"Enak saja minta maaf. Sepatu mahal tauk?!"


Melihat gadis cilik itu sedikit ketakutan, Darrel pun ikut bicara. "Sudahlah, dia kan hanya anak-anak. Tidak perlu dibesar-besarkan."


"Hummmph! Kamu lebih membela anak itu daripada aku!" Fleur tak bisa menyembunyikan kekesalannya karena sepatu itu baru dibeli minggu lalu. Gadis itu pun pergi lebih dulu dan cepat-cepat masuk ke dalam lift.


Darrel hanya bisa membuang napas. Gadis itu memang masih berusia duapuluhan. Jadi wajar saja jika sifatnya kekanakan.


"Maafkan aku." Sekali lagi Bintang meminta maaf padahal Fleur sudah tak ada lagi di koridor apartemen.


"Tidak apa-apa. Siapa namamu?" Darrel berjongkok agar gadis itu tak perlu mendongak saat bicara.

__ADS_1


"Namaku Bintang," jawabya dengan ramah.


Bintang? Nama yang cantik. Pikir Darrel. Wajahnya pun sangat cantik dan matanya bersinar. Ia seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya.


"Yang mana rumahmu? Biar Om antar."


"1001." Bintang menunjuk apartemen yang paling ujung. Berdekatan dengan lift.


"Ayo om antar." Darrel mengangkat tubuh Bintang dan gadis berusia empat tahun itu pun tak menolaknya. Dia tak merasa takut atau curiga. Padahal, mamanya sering berpesan jangan pernah bicara dengan orang asing. Jangan mau diajak orang asing. Dan tolak jika diberi makanan atau mainan.


Tok ... tok ... tok ...


Darrel mengetuk pintu apartemen Keyla yang terbuka. Mendengar ada tamu, Keyla mematikan kompor dan berlari ke arah pintu.


Antonius? Keyla melihat pria yang berdiri di depan pintu dengan mulut ternganga. Wajahnya tegang dan kakinya seperti sedikit bergetar. Sekilas ia merasa telah melihat mayat hidup.


"Hei, sayang ... dari mana saja kamu?" tanya Keyla sedikit bingung.


"Jalan-jalan!" jawabnya lalu gadis itu berlari ke arah kamar Awan yang belum selesai membereskan kamar. Ia masih menata baju-bajunya di dalam lemari.


"Maaf mengganggu. Tadi pintunya terbuka. Mungkin itu sebabnya Bintang berjalan-jalan diluar." Suara Darrel membangunkan Keyla dari lamunan.


Suara itu, wajah itu, matanya, tubuhnya, ia persis seperti Antonius. Apakah aku telah bermimpi? Tapi, itu tidak mungkin Antonius. Dia telah meninggal.


"Mmm ... terima kasih banyak karena telah mengantar Bintang. Aku sedang memasak untuk makan malam. Maukah kamu bergabung bersama kami?" kata Keyla sedikit canggung karena ia merasa berhadapan dengan orang yang dicintainya sekaligus mantan suaminya.


"Tidak, terima kasih. Aku masih ada acara," balas Darrel lalu dalam sekejap mata, ia pun menghilang dari pandangan perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu.

__ADS_1


"Siapa Ma yang datang?" Awan bertanya karena penasaran. Ia baru selesai menata lemari pakaiannya.


"Em? Hanya tetangga. Tadi adikmu jalan-jalan sendirian karena pintu terbuka."


"Apakah dia laki-laki?" tanya Awan menyelidik dengan wajah khawatir. Setelah papanya meninggal, dialah satu-satunya lelaki di keluarganya. Meski baru sembilan tahun, Awan memiliki pola pikir yang lebih dawasa dari anak seumurannya.


Awan mengangkat mainan adiknya yang ada diluar apartemen, lalu menutup pintu tanpa harus menguncinya karena sudah terkunci secara otomatis. "Lain kali jangan biarkan pria asing masuk ke dalam rumah. Kita tidak tahu apakah dia memiliki niat buruk atau tidak. Ingatlah bahwa Mama adalah perempuan."


Keyla hanya mengiyakan saja. Dia tidak tahu persis sejak kapan anak lelakinya itu menjadi sangat kritis. Ia ingat saat Awan masih seusia Bintang, dia sangat lucu, polos, dan tingkahnya selalu menggemaskan. Tapi, semain hari anak itu semakin menyebalkan. Tak banyak bicara namun sekalinya bicara langsung bikin greget.


"Setelah makan, kalian langsung telpon kakek, ya," perintah Keyla pada Awan dan Bintang yang sedang mengunyak buncis dan salmon di mulut mereka. Untunglah apartemennya sangat dekat dengan supermarket, tinggal turun lalu menyeberang jalan.


"Kakek yang mana, Ma?" tanya Bintang dengan polosnya.


"Ketiga-tiganya, sayang. Mama sudah bilang kalau setelah makan malam kalian akan menghubungi mereka."


_________🗼🗼🗼🗼🗼________


"Pergi ke mana saja kamu? Kenapa lama sekali?" protes Fleur yang telah cukup lama menunggu Darrel, kekasihnya.


"Mengantar anak tadi pulang." Darrel masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju ke sebuah hotel tempat acara berlangsung.


"Tidak perlu berbaik hati pada anak kecil seperti itu. Lihatlah apa yang telah dilakukannya pada sepatuku!"


"Aku bisa membelikanmu seratus pasang lagi jika kau menginginkannya. Sekarang berhentilah bicara."


Darrel terlihat dingin sekali. Tak seperti biasa yang selalu mengalah pada Fleur.

__ADS_1


Hmpphh!! Awas kau anak kecil. Kalau aku bertemu lagi akan kucubit pantatmu! Gara-gara kamu Darrel bersikap dingin padaku!


__ADS_2