Happy Ending

Happy Ending
bab 80: Anak Pembawa Sial


__ADS_3

Keesokan harunya Casey sudah kembali ke rumah tempatnya tinggal bersama Dariel. Karena malam ini Dariel akan kembali. Siang hari setelah pulang dari sekolah tempatnya mengajar, Casey singgah di sebuah Cafe untuk makan siang. Casey baru saja keluar dari Cafe dan tidak sengaja berpapasan dengan Adeline.


"Casey..." ucap Adeline menatap Casey dengan tatapan rindunya. Casey terpaku di tempatnya. Ia sudah berusaha untuk menjauh dari kakak dan ibunya. Tapi lagi-lagi mereka dipertemukan. Casey sebenarnya merasa malu pada kakaknya karena dirinyalah awal penyebab retaknya hubungan Dariel dengan kakaknya. Casey bahkan tidak apakah pernikahan Adeline bahagia atau tidak. Apakah Adeline mencintai suaminya dan apakah dia diperlakukan baik. Casey tidak mengenal Malvin cukup dalam hingga ia tidak bisa memastikan apakah kakaknya diperlakukan dengan baik. Pandangan Casey turun ke bawah, menatap perut besar Adeline yang akan melahirkan dua bulan lagi.


"Maaf.. aku harus segera pergi," ucap Casey berjalan menjauhi Adeline.


"Casey... tunggu.." panggil Adeline mengikuti Casey dari belakang. Casey berusaha menahan keinginannya untuk berbalik melihat kakaknya.


"Casey.. kenapa kamu selalu menghindar. Aku minta maaf, jika aku membuat kesalahan pada mu," kata Adeline memegang perut besarnya mengejar Casey melewati kerumunan hingga ia tidak sengaja tersenggol dan terjatuh.


"Akh..." pekik Adeline jatuh di jalan. Adeline memegang perutnya yang mengenai batu bulat besar. Beberapa orang yang melihatnya kontan mendekati Adeline dan membantunya.


"Tolong.. perutku sakit sekali," ucap Adeline meringis.

__ADS_1


Casey yang sudah berjalan cukup jauh menoleh ke belakang dan tidak melihat Adeline lagi. Pandangannya lalu tertuju pada tiga orang yang sedang membelakanginya, tak sengaja Casey melihat wajah Adeline.


"Kakak.." gumam Casey berlari menghampiri Adeline yang sedang kesakitan. Adeline melihat Casey datang menghampirinya. Ia lalu memegang tangan Casey.


"Casey.. perutku sakit sekali..." ringis Adeline memegang perutnya. Casey semakin khawatir. Ini semua salahnya. Anda saja ia tidak pergi tadi, mungkin kakaknya tidak akan seperti ini.


"Kak, maafkan aku.." ucap Casey menangis.


"Kak, dimana mobil mu?" tanya Casey. Adeline lalu menunjuk mobilnya yang terparkir di depan Cafe.


Setelah masuk ke dalam mobil, Casey mengemudikan mobil Adeline dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Casey tidak akan memaafkan dirinya jika sampai terjadi sesuatu dengan keponakan dan kakaknya.


"Kak.. kumohon, bertahanlah.." gumam Casey mengusap tangan Adeline sembari fokus ke jalan. Setibanya di rumah sakit, Adeline langsung dibawa oleh perawat ke dalam ruang IGD.

__ADS_1


Setengah jam sudah Casey menunggu Adeline ditangani oleh dokter. ia tak henti-henti menangis di tempat duduknya.


"Dimana Adeline.." ucap Matilda membuat Casey tersentak. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Matilda berjalan dengan langkah kaki yang cepat menghampiri Casey.


"Mom.. kakak seda__"


"Plak..." satu tamparan keras berhasil mendarat di wajah Casey. Casey tidak menjerit, meski ia akui pipinya berdenyut nyeri.


"Semua ini pasti gara-gara kamu. Kamu memang pembawa sial. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan anak dan cucu ku, aku tak segan-segan menyeret mu ke ranah hukum," bentak Matilda mengepal kedua tangannya.


"A.. aku minta maaf mom," ucap Casey memegang wajahnya yang memerah bekas tamparan dari Matilda.


"Pergi dari sini, sebelum aku mengusir mu secara kasar. Kami tidak membutuhkan anak pembawa sial seperti kamu di sini," tukas Matilda mendorong kuat tubuh Casey hingga terjatuh di lantai.

__ADS_1


__ADS_2