
Dariel dan Casey kembali ke rumah mereka setelah dua hari di tempat Halton dan Luvena. Casey tidur tengkurap di atas ranjang, membuka ponselnya dan membalas pesan masuk dari temannya. Dariel dan Casey tidur bersama sejak seminggu yang lalu.
Ceklek.. pintu terbuka. Dariel keluar dari ruang ganti hanya memakai celana boxer hitam saja. Ia lebih suka tidur tanpa atasan.
Dariel menatap tubuh Casey yang hanya mengenakan gaun tidur pendek. Sebenarnya ia selalu tidak tahan saat melihat tubuh sexy Casey. Hanya saja ia harus berusaha menahannya. Ia tidak ingin memaksa Casey dan membuat traumanya muncul kembali.
Dariel naik ke atas tempat tidur membuat perhatian Casey beralih kepada pria itu sejenak sebelum ia kembali fokus ke layar ponselnya.
"Apa ponselnya lebih menarik untuk kamu lihat daripada melihat ku?" ucap Dariel jengkel memeluk tubuh Casey.
"Aku sedang membalas pesan dari teman-teman ku," ucap Casey melirik wajah masam Dariel.
"Wajahmu tidak cocok seperti itu Dariel," ucap Casey tertawa. Mengubah posisi tidurnya menghadap Dariel.
"Benarkah? tapi suamimu ini tetap tampan kan," balas Dariel mengedipkan satu matanya. Casey menaruh ponselnya di atas nakas.
"Ya.. suamiku memang pria paling tampan," balas Casey menaruh kepalanya di dada bidang Dariel.
__ADS_1
"Apa aku baik?" tanya Dariel mengecup kepala Casey.
"Hmmm... tidak," ucap Casey mendongak menatap wajah Dariel dengan kedua mata yang membulat.
"Maksud ku dulu. Tapi sekarang kamu baik pada ku," kata Casey tersenyum membuat Dariel merasa lega.
"Kalau begitu jangan pernah tinggalkan aku," tukas Dariel memeluk pinggang Casey.
Casey bangkit dan melepaskan ikatan rambutnya karena dia ingin tidur.
"Kamu belum menjawabnya," ucap Dariel menegakkan badannya memeluk tubuh Casey dari belakang dan mengecup lembut bahu Casey.
"Bagus.." ucap Dariel mengecup leher Casey lama meninggalkan jejak di sana.
"Dariel.. harus berapa kali aku mengatakan jangan membuat jejak di sana," tukas Casey kesal dan marah.
"Maaf sayang, aku tidak bisa. Sepertinya itu menjadi kebiasaan baru untuk ku," kata Dariel dengan lembut mengusap paha Casey. Menggoda wanita itu.
__ADS_1
"Hentikan Dariel, aku ingin tidur," ucap Casey menjauhkan tangan Dariel dari pahanya. Dariel mengangkat tubuh Casey ke atas pangkuannya, ia tidak akan puas sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Kamu___" Dariel menutup mulut Casey dengan bibirnya sebelum Casey menyelesaikan perkataannya. Casey yang terbuai dengan ciuman Dariel mulai membalasnya dan melingkarkan kedua tangannya di leher Dariel. Semakin lama ciuman keduanya semakin intens dan saling menuntut. Tak tinggal diam, tangan Dariel bergerak menyentuh bagian tubuh Casey yang lainnya.
Dariel merebahkan tubuh Casey tanpa melepaskan tautan mereka. Casey me.remas rambut kepala Dariel saat pria itu menyentuh bagian sensitifnya. Kini bibir Dariel turun semakin ke bawah, tepat di leher jenjang Casey. Casey merasakan desiran aneh di dalam tubuhnya.
"Aku menginginkan mu Casey.." ucap Dariel serak menatap wajah Casey dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kabut gairah. Entah sejak kapan tubuh keduanya sudah sama-sama polos.
"Tapi, aku tidak ingin memaksa mu," ucap Dariel mencium kembali bibir Casey.
Casey tau jika Dariel sedang mati-matian menahan gairahnya. Sama halnya dengan dirinya. Mungkinkah ia menyetujui permintaan Dariel? tapi ia sangat takut. Tapi ia juga tidak tega melihat Dariel yang sudah beberapa kali menahannya karena ia belum siap.
"Lakukan..." ucap Casey membuat Dariel terbelalak. Seolah tidak salah dengar.
"Lakukan Dariel, aku siap. Tapi ku mohon lakukan dengan lembut," tukas Casey menatap wajah Dariel.
"Sayang, kamu serius? aku masih memberimu kesempatan untuk menolaknya," ucap Dariel. Ia tidak ingin melakukannya jika Casey terpaksa melakukannya.
__ADS_1
"Aku siap Dariel," jawab Casey mantap.
"Aku akan melakukannya dengan lembut. Katakan jika aku menyakitimu," ucap Dariel lembut dan mulai menjalankan aksinya.