Happy Ending

Happy Ending
Keputusanku


__ADS_3

"Apakah dia sudah tidur?"


"Ya. Dia kelelahan setelah bermain dan membantuku membersihkan rumah Bunny. Sekarang pulanglah ke rumah Erika." Aku mengusir Antonius yang telah menemani Awan bermain dan membantu mengangkatnya yang tertidur di sofa.


"Apa kau mengusirku?"


"Tidak baik seorang laki-laki berada di rumah seorang perempuan bersuami."


"Kita belum pernah bercerai."


Tak mau membangunkan Awan yang terlelap, aku mengajak Antonius untuk keluar kamar. "Pergilah. Aku tak mau Erika berpikir macam-macam," kataku sambil membuka pintu. Aku tak mau ia terlalu lama di sini. Hal itu hanya ingin membuatku marah atas apa yang terjadi di masa lalu.


"Dengarkan penjelasanku, Key."


"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, Antonius. Kamu sudah mencampakkanku demi temanmu, dan aku sudah menikah lagi sekarang. Tidak ada lagi yang perlu dibahas diantara kita."

__ADS_1


"Key ...," katanya dan mulai mendekatkan tubuhnya ke arahku.


"Tidak Antonius! Pergilah." Dengan reflek aku melangkah mundur. Aku tidak ingin berdekatan dengannya. " Apapun penjelasanmu waktu tidak akan bisa berputar kembali. Kumohon ... keluarlah," lanjutku lagi dan tanpa berkata-kata dia melangkahkan kakinya keluar dari rumahku. 


Wajah Antonius masih tetap seperti dulu, tampan dan bertubuh atletis. Hanya saja kerutan di wajahnya mulai terlihat. Aku mengunci pintu secepat kilat lalu menjatuhkan tubuhku di atas sofa. Untung James tidak ada di rumah. Dan ada hal aku khawatirkan, apakah Erika mengetahui hubungan kami di masa lalu? Aku harap tidak. Aku tak ingin Erika ataupun James mengetahui masa laluku bersama Antonius. Terlebih aku tak ingin menyakiti James.


******


Tok tok tok ....


"Hai, James? Bagaimana kabarmu? Eeh, benarkah? Tunggu ... tunggu. Aku akan segera membuka pintunya." Aku menutup teleponnya dan buru-buru membuka pintu. "Sorry, James. Membuatmu menunggu. Aku masih tidur dan baru saja bangun."


"Tidak apa-apa, Darling," balasnya sambil mengusap rambutku. Lembut. Dan seperti biasa senyumnya selalu secerah mentari. Deretan giginya yang terlihat rapi, putih dan bersih. Bulu-bulu halus di wajahnya dibiarkan tumbuh liar di sana. Dan kulitnya yang kecoklatan semakin membuatnya terlihat sebagai pria yang jantan.


"Kenapa tidak bilang kalau kamu akan pulang secepat ini?" tanyaku sambil meraih sebuah bungkusan dari tangannya. Aku bisa mencium aroma mainan dari dalamnya. Pesawat?

__ADS_1


"Kejutan," sahutnya sambil menggandengku masuk ke rumah dan menutup pintunya. Dari arah kamar, Awan bisa merasakan kedatangan papanya. " Papaaaa ...." Ia berteriak sambil berlari.


"Ohoho ... halo kapten? Apa kau sudah bangun?" Diangkatnya tinggi-tinggi tubuh Awan dan tawanya meledak-ledak sampai mengisi setiap sudut rumah. Aku bahagia melihat mereka seperti ini. Awan tidak membutuhkan ayah kandungnya. Dan ia tak perlu tahu bahwa James bukanlah papanya. Awan hanya membutuhkan James sebagai papanya. 


"Pesawat, Pa ... pesawat!"


"Kiss me." James menunjuk pipinya agar diberi ciuman oleh malaikat kecilnya. Awan menghujani pria itu dengan ciuman dan cinta. "Apa ada urusan mendadak James?" selaku ditengah keakraban mereka.


"Ya. Aku tidak tahan untuk menemuimu."


"Sejak kapan kau pandai menggoda?"


"Sejak kapan ya ...." Ia tiba-tiba menarik tanganku hingga menempel pada tubuhnya. Dan untuk pertama kalinya jantungku berdebar sangat kerasa.


"Sejak aku tahu bahwa kau akan menjawab iya," bisiknya tepat di depan telingaku dan aku merasa pipiku memerah karenanya. Tersipu.

__ADS_1


__ADS_2