
Darrel mengerjapkan matanya. Kepalanya masih terasa pusing dan dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Ia mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangan dan menyadari bahwa dia sedang tidak di rumahnya sendiri. Darrel pun akhirnya sadar jika semalam ia mendatangi rumah Keyla dan memeluk perempuan itu dengan sangat erat. Setelah itu ... ia tak tahu lagi apa yang terjadi padanya
Ouhhh, shit! Darrel mengumpat pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia mabuk serta membuatnya terlihat menjadi pria tua yang bodoh dan ***** di depan Keyla.
"Mandilah, aku sedang membuatkan sarapan untukmu." Keyla berkata datar saat menyadari lelaki yang semalam meracau tak jelas itu bangun. Suara itu ... seperti kicauan burung yang hinggap di pohon saat pagi datang. Merdu, dan manis di telinga Darrel yang sesekali menguap karena karena kantuknya masih enggan pergi.
"Aku mengganti bajumu dan mencucinya. Akan kuberikan padamu kalau sudah kering."
Darrel melihat kaos dan celananya memang sudah berganti. Tapi itu adalah pakaiannya sendiri. "Aku mengambil pakaian itu dari apartemenmu. Aku tidak menyangka bahwa pasword rumahmu adalah ulang tahun anakmu," lanjut Keyla dengan nada sinis.
"Berhentilah main kucing-kucingan. Kita bukan anak muda lagi. Aku bahkan bisa melihat rambutmu mulai memutih."
Darrel membuang napas. Pagi ini adalah pagi yang merepotkan karena belum apa-apa, sudah ada yang mengomelinya. Namun juga pagi yang indah. Pagi yang ia rindukan selama lima tahun terakhir. Di mana pria itu bisa mendengar suara perempuan yang dicintainya ketika bangun tidur.
"Di mana kamar mandinya?" tanya Darrel pada Keyla yang sedang berada di dapur.
"Pakailah kamar mandiku. Aku sudah menyiapkan pakaianmu di atas tempat tidur," jawabnya ketus. Keyla sedang sibuk di dapur. Memotong wortel, brokoli, dan merebus ayam. Pagi-pagi sekali ia pergi ke supermarket dan selagi Darrel mendengkur di ruang tamu. Tidurnya terlihat pulas dan wajahnya seperti tanpa beban meski kerutan di bawah matanya terlihat sangat jelas.
Keyla tidak tahu apa alasan Antonius memalsukan kematiannya dan mengganti namanya menjadi Darrel. Akan tetapi, apapun alasannya dia tidak akan bertanya sampai pria itu menjelaskannya sendiri. Keyla juga sudah mengirim pesan pada anaknya, Awan. Sebua foto tatoo dengan inisial KA. Yang berarti Keyla dan Awan.
Awan tidak mempersalahkan apa yang terjadi. Pun tidak memiliki kebencian terhadap papanya. Dia hanya ingin orang yang melahirkannya bahagia. Terlebih, Bintang membutuhkan sosok seorang papa. Sejak lahir anak yang malang itu tak pernah tahu bagaima asiknya bermain dengan papanya. Berbeda dengan Awan yang mendapatkan kasih sayang dari Antonius dan James.
Darrel menuruni tangga. Rambutnya terlihat masih basah dan aroma sabun lavender yang sering dipakai Keyla menguar di udara. Segar dan seketika suasana di dapur menjadi lebih sejuk seperti di hutan jati yang kini entah di mana lagi bisa dijumpai.
"Duduklah. Makananmu sudah siap."
Keyla membawa sepiring ayam rebus dan juga sayuran yang ditaruh di sampingnya lalu menaruhnya di depan Darrel yang mengenakan jins warna hitam dan t-shirt putih ketat dan membalut dadanya yang bidang.
"Terima kasih." Darrel mulai memasukkan potongan wortel ke dalam mulut. Disusul dengan brokoli dan juga ayam rebus. Keyla menuangkan air putih dan menaruhnya di depan Darrel," Kalau masih lapar, aku akan mengambilkannya lagi."
"Tidak perlu."
Keyla kembali ke dapur dan rumah itu hening untuk sesaat. Tidak ada obrolan. Tidak ada suara anak kecil bermain sambil berlarian. Tidak ada rayuan apalagi pertengkaran suami istri yang diakhiri dengan suara basah saat dua bibir saling bersentuhan dan memagut satu sama lain. Sunyi. Hanya denting garpu dan piring yang betabrakan. Serta suara pisau Keyla yang tak henti-hentinya memotong sesuatu di atas talenan dengan sangat telaten.
"Kapan Awan mulai sekolah, Key?" Darrel mengawali pembicaraan serta merasa tak ada lagi yang perlu ditutupi.
Darrel berusaha mencari topik pembicaraan. Di benaknya, ia lebih menyukai Keyla yang merayunya dengan manja, mengomel, marah, atau mengumpat sekalipun. Ia akan menerimanya. Bahkan, jika peralatan dapur melayang ke arahnya pria itu tak akan menolak. Asal jangan diam. Diamnya wanita seperti lautan tenang yang menghanyutkan dan bersiap-siap menenggelamkan.
"Min ... minggu depan," jawabnya dengan sura yang terdengar seperti orang sedang menangis. Menyadari akan hal itu, Darrel meletakkan garpu dan pisau yang ada di tangannya.
"Kau baik-baik saja, Key?" Darrel menoleh ke arah dapur dan melihat sosok Keyla yang mengenakan apron warna merah muda dengan hiasan burung camar.
"Aku baik-baik saja. Teruskanlah sarapanmu." Keyla menyahut dan mengelap pipinya menggunakan tisu.
Darrel merasa sangat bersalah. Mungkinkah wanita menangis karena merasa dikecewakan? Merasa ditipu oleh mantan suaminya untuk waktu yang sangat lama?
Keyla mengelap ingusnya. Air mata tak berhenti mengalir dan matanya terasa pedas. Darrel berjalan ke arah Keyla dan memeluknya. "Are you okay? What are you crying for? You can blame me. You can hit me. But, please don't cry any more, Keyla." Darrel mengelus punggung Keyla lembut.
"Apa kamu masih mabuk?" tanya Keyla melepaskan pelukan Darrel. "Tidak lihatkah kalau aku sedang memotong bawang?" lanjut Keyla dengan mata yang basah antara geli dan juga kesal.
__ADS_1
"Hmmm." Darrel jadi salah tingkah dan ia pun kembali menuju meja makan dan melanjutkan sarapan.
"Ahem! Apa kau membutuhkan sopir untuk mengantar Awan sekolah?"
"Tidak perlu. Dia lebih memilih naik bus jemputan," jawab Keyla mencuci tangannya setelah menyimpan chop onion ke dalam kulkas. "Oh, ya. Jika sarapanmu sudah selesai, tinggalkan saja piringnya di atas meja. Aku akan mencucinya nanti," kata Keyla sambil berjalan menuju lantai atas agar tak perlu lagi berbasa-basi dengan mantan suaminya.
Apa kau membenciku, Key?
________🗼🗼🗼🗼🗼_______
Selesai mandi, Keyla melilitkan handuk di tubuhnya yang masih ramping namun ada cacat di bagian perutnya. Sayatan pisau yang memanjang yang tak ingin dia hilangkan.
Keyla berdiri di depan kaca dan membiarkan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya terjatuh begitu saja di lantai. Ia mengelus bekas luka di perutnya. Awan, Bintang, mereka terlahir dari sini. Jika demi kebahagiaan mereka Keyla harus mengiris setiap jengkal daging di tubuhnya, maka dia akan melakukannya.
"Hai, sayang?" jawab Keyla begitu ponsel di hadapannya berbunyi. Suara Bintang yang cempreng ada di ujung telepon. Ia duduk di kursi tanpa berpakaian.
"Mama! Aku sedang di taman bermain!"
"Oh, benarkah? Mama sangat iri padamu. Di mana kakakmu, sayang?"
"Dia sedang membeli es krim bersama Granpa."
"Apakah Grandma ada di sampingmu?"
"Ya. Mama mau bicara?"
"Huum. Tolong berikan teleponnya pada Grandma ya, sayang."
"Halo, sayang?"
"Mama dan Papamu minta maaf, sayang," kata Sabrina pelan. Namun entah mengapa, mendengar mantan mertuanya meminta maaf bulir-bulir air bening justru mengalir deras dari matanya. Tubuhnya gemetar dan dadanya terasa sesak.
"Apakah karena itu Mama dan Papa ingin sekali menyekolahkan Awan di Paris?"
"Mama pikir kalian masih saling mencintai dan membutuhkan. Tadinya papamu tidak setuju karena ia malu padamu dan merasa Stevan tidak pantas untukmu. Mama yang mendesaknya, sayang. Paling tidak, jika Mama meninggal, Mama bisa melihat kalian bahagia."
"Mama akan panjang umur hingga seratus tahun. Sampaikan salamku pada papa."
"Hmmm. Istirahatlah, sayang. Aku akan menjaga anak-anakmu."
"Terima kasih, Ma."
Keyla menutup sambungan telepon dan beranjak dari kursi. Ia membaringkan tubuhnya dan menutupnya dengan selimut.
"Key? Apa aku boleh masuk?" Darrel yang sedari tadi berdiri di depan pintu menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Keyla.
"Masuklah. Kukira kamu sudah pulang."
Darrel berjalan masuk. Menyeret sebuah kursi agar berdekatan dengan ranjang Keyla. "Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Keyla membalikkan tubuhnya dan memunggungi Darrel.
"Jika kau ingin marah, marahlah padaku."
"Marah padamu tidak akan mengubah masa lalu." Keyla menjawab ketus meskipun sebenarnya tak ingin. Kata-kata itu meluncur begitu saja.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kau akan pindah ke Paris. Mama dan papa tidak memberitahukannya."
"Jika kamu tahu, akankah kamu menghindar?" Keyla bertanya ragu. Berharap jika jawaban mantan suaminya adalah 'tidak'. Jauh di dalam lubuk hatinya, Keyla kerap berandai-andai. Seandainya Antonius tidak meninggal, barangkali ia bisa kembali padanya saat James tiada. Ya, mungkin itu pikiran yang picik. Tapi, tak ada kata licik dalam cinta. Ia mengira bahwa menikahi James akan membuatnya bisa benar-benar lupa akan mantan suaminya. Tapi, dia salah. Selain itu, James juga jarang menyentuhnya setelah tahu ia sedang mengandung. Keyla tak menyalahkan James, barangkali, pria itu bosan atau enggan atau bahkan merasa risih karena istrinya memikirkan pria lain.
"Iya. Aku akan menghindarimu sejauh yang kubisa."
Jawaban Darrel seperti petir di siang hari. Kilat yang menyambar-nyambar padahal langit sedang cerah.
"Apa kamu begitu membenciku?" Tubuh Keyla bergetar. Ia menggigit bibir bagian bawah. Menahan tangis agar tidak tertumpah. Sementara itu Darrel hanya mematung seperti orang bodoh. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Jika tidak ada lagi yang kamu bicarakan. Keluarlah. Aku lelah dan ingin beristirahat."
Aku mencintaimu, Key.
________🗼🗼🗼🗼🗼________
Hari ini adalah peluncuran buku terbaru Darrel Douglas di salah satu book store ternama yang terletak di Paris department store, Boulevard Haussmann. Para penggemarnya yang rata-rata perempuan telah mengisi antrean sejak pagi agar bisa mendapatkan tanda tangan dan berfoto langsung dengan Darrel.
Buku-buku roman-misteri yang ia tulis selalu menyihir para pembaca. Jalan cerita yang sedikit rumit serta membutuhkan ketelitian pembaca dan juga bukan percintaan remaja yang indah dipenuhi bunga-bunga. Kisahnya selalu penuh intrik dan pantas untuk dikulik setiap latar belakang tokoh-tokohnya.
Seperti bukunya yang melejit hingga menjadi trending dan penjualannya masuk ke dalam best seller versi New York Times 'De Laila'. Buku itu berkisah tentang seorang gadis yang sejak kecil mengalami kekerasan baik secara fisik maupun mental oleh keluarganya, akhirnya menikah dengan sahabat di masa kecil. Hingga suatu ketika, suami dan anak-anaknya dibunuh oleh orang yang tidak dikenal. Penelusuran demi penelusuran dicari oleh polisi. Tak ada tanda-tanda perampokan, apalagi musuh yang menyimpan dendam terhadap suaminya. Hingga suatu ketika, seorang detektif melakukan penyeledikan. Detektif itu mencurigai Laila sebagai pembunuhnya. Detektif itu juga mencari daftar riwayat kesehatan Laila dan dia sempat beberapa bulan dirawat di rumah sakit jiwa di kota asalnya. Laila ditangkap polisi. Diintrogasi. Namun perempuan itu mengelak karena tak merasa membunuh suami dan kedua anaknya. Dan pada akhirnya, detektif itu menemukan titik terang. Laila tidak bersalah. Dia tak pernah membunuh siapapun meskipun pada awalnya, ia berencana membunuh suaminya yang telah berselingkuh dengan kawan baik Laila.
Setelah sesi foto dan tanda tangan selesai, Darrel pergi ke pusat perbelanjaan. Membeli beberapa roti dan juga buah-buahan. Setelah berbelanja, ia menyetir mobilnya menuju sebuah apartemen di mana Margareth dan anak-anaknya tinggal.
"Hai, Darrel. Sudah lama kau tak ke sini." Suara renyah Margareth menyapa Darrel begitu pintu terbuka. Lelaki yang mengenakan setelan jas casual dengan rambut klimisnya tersenyum lembut. Margareth hampir tak bisa membedakan. Dia tersenyum atau hanya melebarkan bibirnya agar terlihat sopan?
"Duduklah." Margareth mempersilakan Darrel duduk di sofa yang tak begitu bersih. Banyak noda bekas susu, es krim, dan entah cairan apa lagi.
"Anak-anakmu di rumah?" tanya Darrel meletakkan dua kantong plastik di atas meja.
"Ya. Mereka sedang tidur. Apakah ada hal yang ingin kau bicarakan?" selidik Margareth.
"Tidak ada. Aku hanya mengantarkan ini. Kalau begitu aku pulang."
"Terima kasih. Hati-hatilah saat menyetir."
"Hmmmmm."
_____🗼🗼🗼🗼🗼_____
Darrel membelokkan mobilnya di sebuah cafe tak jauh dari apartemennya. Ia memilih duduk di pojokan dan jauh dari pengunjung lainnya. Darrel yang sejak tadi terlihat gelisah, melakukan panggilan telepon ke nomor Markus, papanya.
"Ada apa?" tanya Markus ketus. Padahal Darrel belum mengucapkan kata sepatah pun.
"Jika tidak ada hal penting, tidak usah mengubungiku."
"Bukankah tempo hari Papa bilang ingin menemuiku?"
"Mamamu. Kalau bukan karena dia, aku tak sudi menganggapmu sebagai anak."
"Apakah Papa yang menyuruh Keyla dan anak-anak tinggal di sini?"
"Apa kau tidak tahu keinginan Mama mu yang sebenarnya, Steve? Lupa kah kau bahwa makin hari kesehatannya makin memburuk? Aku menyesal telah membesarkanmu! Jika dari awal aku tahu idemu untuk memalsukan kematianmu sendiri, aku yang akan membunuhmu dengan tanganku secara langsung. Apa kau pernah berpikir akibat ulahmu? Sudahlah. Aku tak ingin berbicara denganmu. Jika kau memang ingin mama mu hidup sedikit lebih lama, turuti saja keinginannya. Minta maaflah pada Keyla. Kalau perlu kau bersujud di kakinya. Dia lah orang yang paling banyak kau kecewakan!"
__ADS_1
Markus menutup teleponnya dengan kasar. Sementara Darrel, tengah bergelut dengan pikirannya sendiri dan mulai mempertanyakan keputusan-keputusan yang telah ia ambil.
Aku yang mengabaikan Keyla, aku juga yang tak percaya padanya. Aku yang menceraikannya, dan aku juga yang menyesalinya. Kukira aku akan bahagia jika dia bahagia dengan orang lain. Ternyata, aku salah besar. Hatiku terluka saat melihatnya tertawa bersama suami barunya. Hatiku seperti dicabik-cabik ketika membayangkannya tidur dengan pria lain. Jika saja mesin waktu itu ada ... aku akan kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua kesalahanku dan menjadikannya hanya milikku seorang.