Happy Ending

Happy Ending
Gadis Misterius.


__ADS_3

"Hai, sayang! Cuci tanganmu dan kemarilah," kata Keyla begitu melihat Awan masuk melewati pintu. Ia baru saja pulang dari sekolah. "Siapa gadis di belakangmu? Teman sekolah?" sambungnya lagi ketika melihat seorang anak perempuan perambut emas dan bola matanya kehijauan. Sangat cantik.


Keyla dan Darrel tengah menikmati makan siang. Pizza dan ayam goreng tergeletak di meja sedangkan Bintang, sedang berputar putar di ruangan dengan menaiki sepedanya.


"Kakak!" teriak Bintang begitu melihat Awan.


"Sepeda baru?" tanya Awan datar.


"Yeup!"


"Kau senang?"


"Sangat!"


"Baguslah. Hati-hati saat menaikinya."


"Tentu!"


Awan pun masuk ke kamarnya, sedangkan gadis asing yang tadi bersama Awan, mendekati Keyla yang sedang duduk di karpet berdekatan dengan suaminya. "Halo, Mrs....?" gadis itu berhenti berucap sambil memandang wanita di depannya lekat-lekat. Bibir berminyak, dan tangan yang masih memegang ayam goreng.


"Douglas," balas Keyla singkat.


"Oooh. Halo, Mr and Mrs. Douglas. Namaku Missy. Usiaku 10 tahun. Rumahku ada di bawah kalian."


"Hai, Missy," sahut suami istri berbarengan.


"Apa kau sudah makan?" tanya Darrel. Ia mengelap mulut dan tangannya menggunakan tissue.


"Sudah. Tapi aku tak akan menolak jika kalian menawariku untuk bergabung bersama kalian. Ayam goreng itu terlihat sangat lezat."


Hahaha. Darrel dan Keyla tak bisa berhenti tertawa. Anak itu cantik dan sangat berterus terang. "Kalau begitu cucilah tanganmu di dapur dan bergabunglah bersama kami Nn. Missy," ajak Darrel dengan bibir yang masih tersenyum.


"Terima kasih." Anak itu berjalan ke dapur dan saat berpapasan dengan Bintang, ia tersenyum dan nyeletuk, " Kau suka BTS?"


"Ya."


"Aku juga suka," katanya lagi. Padahal Bintang tak bertanya. Missy melangkahkan kaki ke dapur, mencuci tangannya dengan sabun cair aroma anggur dan mengeringkannya dengan lap yang tergantung di tembok.


Saat melewati Bintang yang berada di atas sepeda, Missy bertanya lagi," Siapa yang paling kau suka?"


"Jungkook"


"Aku sudah tahu. Aku bisa melihatnya di dahimu," katanya lagi sambil lalu. Bintang hanya menyipitkan matanya. Otak kecilnya berpikir bahwa teman kakaknya itu gadis aneh. Saat berbicara, matanya tidak berkedip. Wajahnya datar tanpa ekspresi.


"Ini enak sekali. Excelent Chic & Pi?" Missy mengamati ayam goreng yang telah digigitnya. Membaca tulisan yang ada di karton pizza. "Aku belum pernah membeli di restoran ini. Pilihanmu sangat pintar Mrs. Douglas."


"Aku sangat tersanjung." Keyla dan Darrel pun berpandangan. Mereka sudah selesai makan. Dan Awan ... dia baru saja duduk di sofa setelah mengganti pakaian dan mencuci tangannya.


"Boy, aku membelikanmu cola. Selamat mencoba." Darrel yang bersandar pada sofa sambil membuka pembicaraan. "Aku boleh meminumnya?" Awan melihat ke arah Keyla.


"Ya. Sesekali tak masalah. Kurasa ...."


"Oke."


"Sayang, malam ini Mama dan Papa akan pergi ke sebuah acara. Pesanlah makanan untuk makan malam dan jaga adikmu. Oke?"


"Hmmmm," balas Awan dengan mulut yang penuh kulit ayam goreng yang super duper crispy.


"Mrs. Douglas? Apakah aku boleh tinggal untuk makan malam?"

__ADS_1


Keyla melirik ke arah Awan. "Aku tak masalah. Missy terus mengikutiku dari pagi. Dia tak akan pergi meski kuusir."


Darrel dan istrinya mengerutkan kening. Mereka saling berpandangan. "Baiklah kalau begitu. Nn. Missy, maukah kamu menjaga Bintang untukku?" tanya Keyla menatap lekat mata Missy yang indah, kehijauan, dan mampu menenggelamkan layaknya lautan lepas.


"Yeup. Bintang, kemarilah!" Gadis itu melambaikan tangan dan Bintang menurutinya. Dia turun dari sepeda kemudian menghampiri Missy. "Apa?"


Missy mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Pin dan clutch bergambar Jungkok. "Mau main denganku?" tanya Missy sambil memberikan kedua benda itu pada Bintang.


"Tentu!" Diraihnya clutch dan pin itu lalu Bintang lari ke kamarnya. Menyembunyikan barang berharganya di dalam laci meja.


"Oke, baiklah kalau begitu. Kalau selesai makan, tinggalkan saja semuanya di meja. Aku akan membersihkannya saat aku pulang nanti."


"Baik. Mrs. Douglas, apakah aku boleh memesan makanan yang kusuka?"


"Pasti. Mintalah bantuan Awan. Berteman baiklah kalian."


"Ya. Aku akan sering-sering ke sini untuk meminta makanan darimu."


Darrel dan Keyla berusaha menahan tawanya. Sesaat kemudian, mereka naik ke atas. Membiarkan Missy dan Awan makan, sedangkan Bintang? Sedang mengisi dompet barunya dengan koin-koin pemberian Keyla.


_____🗼🗼🗼🗼🗼_____


"Sayang, apa kamu pernah melihat anak itu sebelumnya?"


Darrel menggeleng. Ia sedang menyandarkan tubuhnya pada bantal yang ditumpuk.


"Tidak. Kenapa?"


Keyla menatap pria yang ada di sebelahnya. "Biasanya, Awan tak begitu dekat dengan teman-temannya. Apalagi perempuan. Bukankah itu aneh?"


"Mau ke rumahnya? Dia bilang dia tinggal di lantai bawah."


"Kita akan ke sana nanti. Sekarang tidurlah," ucap Darrel merangkul bahu Keyla.


"Sayang?"


"Hmmm?"


"Maafkan aku sudah marah padamu." Keyla berkata sambil memeluk tubuh suaminya. Ia bisa mencium aroma deodorant Darrel dan juga hangatnya tubuh itu.


"It's fine, darling. Tidurlah sebentar ... kau harus istirahat."


______🗼🗼🗼🗼🗼_____


"Apa kau yakin akan makan malam di sini?" tanya Awan sedang membola-balikkan komik yang entah sudah berapa kali ia baca. Bintang sedang mewarnai gambar di lantai, dan Missy menemaninya.


"Ya. Apa kau mengusirku?"


"Aku lelah mengusirmu. Dari pagi tadi di lift kau terus mengikutiku."


"Aku tidak mengikutimu. Kita tinggal dan sekolah di tempat yang sama. Dan kebetulan aku bosan di rumah. Jadi aku ingin bermain dengamu."


"Oke. Apa yang ingin kau makan?"


"Sushi!" Missy membalas dengan semangat. Matanya terus mengawasi tangan bintang yang memegang crayon.


"Binbin, mau makan apa?"


"Beef teriyaki."

__ADS_1


"Akan kupesankan keinginan kalian."


"Thanks," timpal Missy tak sabar menanti makanannya datang.


"Ehmm. Aw, apa kau percaya pada hantu?"


Awan menoleh ke arah Missy yang wajahnya datar sejak pertama kali mereka bertemu. "Tidak."


"Bagaimana kalau hantu muncul di rumahmu? Kau akan percaya?"


"Tidak."


"Aku percaya!" Celetuk Bintang menghentikan aktifitasnya mewarnai.


"Kau takut hantu?" Missy melihat ke arah Bintang yang menatapnya.


"Tidak."


"Anak yang pemberani!" Missy mengusap rambut Bintang.


"Mungkin hantu itu butuh teman. Atau sedang kelaparan dan meminta makan."


"He? Menyindirku?"


"Tidak."


______🗼🗼🗼🗼🗼______


"Sudah siap, sayang?" Darrel tak jemu memandangi tubuh istrinya dari belakang. Keyla sedang bercermin, memandang bayangannya dan menilai dirinya sendiri demi memastikan penampilannya tak akan membuat malu suaminya. Selain itu ... agar tak ada perempuan lain yang memandang dirinya sebelah mata.


"Bagaimana penampilanku?" Keyla membalikkan tubuhnya. Darrel memerhatikan dengan saksama.


"Ada yang kurang. Penampilanmu agak aneh."


"He? Apakah aku terlihat jelek? Apakah karena bun ku yang aneh? Apakah aku terlihat tua? Apakah makeup'ku yang terlalu tebal? Apakah kita masih punya waktu? Aku akan berdandan lagi. Aku ... aku ... seharusnya aku pergi ke salon!"


Darrel hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Dia tak menyangka bahwa ucapannya membuat Keyla makin tak percaya diri. "Kemarilah." Darrel menepuk pinggiran tempat tidur. Meminta Keyla duduk di depannya.


"Aku merasa sangat buruk," keluh Keyla begitu bokongnya mendarat di ranjang. Darrel meraih tangan istrinya, memakaikan sesuatu yang telah disiapkan. "Cincin pernikahan ini akan membuatmu sempurna!"


Mata wanita itu berkaca-kaca melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya. "Sekarang, pakaikan milikku." Darrel memberikan cinvin itu pada Keyla.


"Jangan pernah melepasnya atau aku akan mengulitimu!" ucap Keyla melingkarkan cincin di tangan suaminya.


"Tidak akan!" jawab Darrel memberi ciuman kecil di punggung tangan Keyla dengan sangat tenang dan lembut.


"Ini pernikahan yang aneh! Tidak ada teman, saudara, orang tua yang menjadi saksinya." Keyla memprotes. Tentu saja hanya pura-pura. Wajahnya dibuat-buat agar terlihat kecewa.


"Jangan khawatir. Tuhan lah saksinya."


"Manis sekali bibirmu."


"Baru menyadarinya?"


"Seharusnya kita menunggu pengacaramu datang."


"Terlalu lama. Dengan cincin itu, tak akan berani ada yang melirikmu malam ini."


"Itu mata mereka Tn. Antonius! Kamu tak berhak protes! Kecuali istrimu sangat jelek, tentu tak akan ada yang mau melirik!"

__ADS_1


"Sayangnya istriku sangat cantik. Dan aku harus berhati-hati!"


__ADS_2