Happy Ending

Happy Ending
Gloomy Monday


__ADS_3

Entah oleh sebab apa tubuhku tiba-tiba mulai menggigil. Brrrrr! Aku menaikkan selimutku tanpa membuka mata. Aku belum ingin terbangun dari tidurku. Aku masih lelah, masih ingin bermalas-malasan, dan masih ... ingin menikmati semerbaknya aroma mawar di pagi hari? Wait wait wait ...


 


 


Tiba-tiba aku mencium aroma mawar bercampur dengan hawa dingin menyusupi selimutku.


 


 


Aku membuka mata. Berat. Terasa ada yang menempel di sana. Rupanya, jendela sudah terbuka lebar dan diluar langit masih gelap. Dan aku melihat Antonius yang sedang duduk memangku laptopnya. Jam berapa dia bangun? Dan apa yang ingin dia lakukannya dini hari begini? Aku yakin, ayam pun masih tidur dan belum ingin berkokok.


 


 


"Bangunlah. Udara pagi baik untukmu."


 


 


Suara Antonius membuatku bangun meskipun aku tak ingin. Tempat tidur ini, selimut ini, bantal ini, terlalu nyaman untuk ditinggalkan.


 


 


Aku menggeser tubuhku ke pinggir agar lebih dekat dengan pria yang telah mencukur rambut halus di wajahnya.


 


 


Rambutnya yang kecoklatan sudah licin dan sisir ke belakang. Ia mengenakan celana warna hitam dan kaos warna putih yang ketat hingga memberlihatkan bentuk tubuhnya. Aku merasa tak perlu lagi mentari di pagi hari, rasanya dia saja sudah bisa menyinari pagi hariku.


 


 


"Jam berapa ini?" tanyaku sambil mengelap pipiku. Ada sesuatu yang telah mengering. Kugaruk perlahan agar kulitku tidak lecet. Iler? Kuharap Antonius tidak illfeel melihat kejorokanku di pagi hari.


 


 


"Lima. Aku sudah meminta Bibi membawa gaunmu ke binatu." Ia menjawab tanpa menatapku. Ia sedang berkonsentrasi mengetik sesuatu.


 


 


"Terima kasih. Tapi, bolehkah aku kembali tidur?"


 


 


"Tidak." Dia sangat kaku sekali. Pasti dia tidak pernah memiliki seorang kekasih. Mana ada perempuan yang mau dengan pria yang pendikte seperti dia? Hmmmpphh!!!


 


 


"Hey. Aku ingin bertanya sesuatu. Bolehkah?"


 


 


"Hmmmmm."


 


 


"Berapa usiamu?"


 


 


"35."


 


 


Pantas saja dia begitu. Usianya hampir kepala empat. Jadi wajar kalau sikapnya membosankan dan tidak bisa romantis seperti anak muda.


 


 


Aku mengeluarkan kakiku dari selimut dan berjalan menuju sofa yang terletak di bawah jendela.


 


 


"Huwaaaaa! Lihatlah ke sana!" Aku menunjuk ke taman yang dihiasi lampu berwarna warni. Indah. Persis seperti taman hiburan di malam hari.


 


 


"Aku sudah melihatnya setiap hari." Antonius menjawab datar.


 


 


Aku membuka tas warna hitam di depanku. Ada ponselku di sana. Kuabaikn pria menjengkelkan itu dan aku mulai memotret taman berkali-kali. Karena tidak puas dengan foto yang dihasilkan, aku memutuskan untuk ke taman.


 


 


Aku mencari sandal bulu-bulu yang semalam kupakai. Ternyata ada di bawah ranjang. Aku berlari ke kamar mandi, membuka lemari dan mencari-cari sweeter. Dan, ya... aku menemukannya. Mantel rajut berwarna ungu muda yang sangat lembut dan hangat.


 


 


Secepat kilat aku keluar kamar. Menuruni tangga dan ada bibi di yang sedang membersihkan lantai dengan mesin penyedot debu.


 


 


"Pagi, Bi?"


 


 


"Pagi, Mbak Key. Kok sudah bangun?"


 


 


"Dia memaksaku bangun!" Aku menjawab dengan berbisik sambil menunjuk ke arah atas. Aku tidak ingin laki-laki kaku itu mendengarnya.


 


 


"Mas Steve memang bangunnya subuh."


 


 


Steve? Mungkin maksudnya adalah Antonius.


 


 


"Bi. Key mau ke taman belakang dulu, ya."


 


 


Tanpa mendengar jawabannya, aku berlari menuju pintu yang menghubungkan langsung dengan taman. Kalau lari-lari begini tiap hari, aku tidak harus diet agar bisa langsing. Karena rumahnya besar, jadi cukup jauh antara kamar dan taman. Merepotkan sekali punya suami kaya. Aku jadi penasaran apa pekerjaannya. Tidak mungkin kan di usia tiga lima ia seorang pengangguran?


 


 


Setelah sampai di taman, cepat-cepat aku mengambil foto dan video. Aku mengambilnya sebanyak mungkin. Aku merasa seperti dapat lotre. Hal yang aku impi-impikan datang secara tiba-tiba. Aku menyukai taman ini. Meskipun tidak begitu suka rumahnya karena terlalu besar.


 


 


"Pagi Mbak Key," sapa seorang lelaki tua yang menenteng dua ember ditangannya. Berisi pupuk untuk bunga-bunga itu.


 


 


"Pagi, Pak. Mau dikasih pupuk? Key bantu, ya?" Aku menawarkan diri dengan riang. Di rumahku, meskipun tidak banyak, aku juga menanam beberapa jenis mawar dan menaruhnya basecamp tempat di mana aku bekerja.


 


 


"Gak usah. Biasanya Mas Steve yang mengerjakan. Tapi sekarang kan ada Mbak Key di rumah, jadi Bapak yang ngerjain."


 


 


"Bapak tinggal di sebelah mana? Key boleh main?"


 


 


"Itu yang sebelah sana. Paviliun belakang. Sama Bibi yang di dalam."


 


 


"Si Bibi istrinya ya, Pak?"


 


 


"Hehehe ... iya, Mbak. Tapi sayang belum punya anak."


 


 


Aku manggut-manggut.


 


 


"Pak, Mas Steve kerjanya apa sih, Pak?"

__ADS_1


 


 


"Oh, Mas Steve kerjanya di depan komputer." Jawab bapak menyeringai.


 


 


"Itu Mas Steve," lanjutnya lagi.


 


 


He? Antonius? Aku menoleh ke belakang dan dia sudah berdiri di sana dengan melipatkan tangannya.


 


 


"Sejak kapan punya hobi bergosip di pagi hari?" tanyanya sambil mendekat ke arahku. Sedangkan si bapak, berjalan menjauhiku. Kabur.


 


 


"Mmmmm ... sejak aku tidak tahu nama panjangmu, apa pekerjaanmu, dan apa yang kamu lakukan selama ini."


 


 


"Kebiasaanmu sangat buruk."


 


 


Laki-laki itu menyambar tanganku. Seperti biasa, ia melakukannya tiba-tiba. Aku ditarik ke dalam rumah dan menuju ke arah dapur.


 


 


"Bibi ke mana?" tanyaku menyelidik. Rumah kembali sepi tanpa mesin penyedot debu.


 


 


"Pulang."


 


 


"Hey! Tidak bisakah kamu menjawab dengan jawaban lebih panjang?" Tanyaku sambil memukul meja makan. Kesal.


 


 


"Kamu itu misterius sekali. Jangan-jangan kamu gay, ya? Makanya mau dijodohkan denganku?" Antonius yang sedang mengaduk kopi tiba-tiba berhenti.


 


 


"Iya, Kan?! Pasti kamu gay! Sudah kaya, tampan, meskipun tidak setampan Bima, usiamu bahkan sudah terlalu matang, dan belum menikah. Bukankah itu aneh?"


 


 


Antonius tidak bereaksi sama sekali. Ia hanya mendengarkan ocehanku. Persis seperti papa yang setiap hari mendengarkan keluh kesah mama tanpa menyela. Dan setelah mama selesai, barulah giliran papa bicara.


 


 


"Selai coklat atau kacang?" tanyanya padaku tanpa berbalik.


 


 


"Keduanya."


 


 


Aroma roti bakar dan juga kopi susu mulai say hello padaku. Bermanja-manja di sana dan menggodaku untuk memakannya.


 


 


Beberapa saat kemudian Antonius memberiku segelas kopi susu dan roti bakar bersikan selai kacang dan coklat. Aku langsung melahapnya. Dan aku tidak ingin menawari pria yang hanya berdiri di depanku dan hanya menatapku tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Lagipula di rumah ini banyak makanan, jika dia lapar pasti dia makan.


 


 


Setelah selesai sarapan, aku meninggalkan gelas dan piringnya di meja. Aku sengaja tidak mau memcucinya. Tanpa menghiraukan tatapan Antonius aku berjalan menuju kamar. Aku ingin menggosok gigi, mencuci wajah, kemudian tidur kembali. Ini masih pagi dan aku tidak ingin membuang kesempatan untuk mengumpulkan energi.


 


 


*****


 


 


 


 


"Ngelamunin apa Mbak, Key?"


 


 


Mataku langsung bersinar ketika mendengar suara itu. Bibi. Dia masuk membawa keranjang berisi sayuran. Aku pun langsung berlari menghampirinya. Membantunya membawakan keranjang. Aku tidak tega melihat tubuh tuanya terlalu banyak bekerja. Bukankah pekerjaan sulit membersihkan seluruh rumah ini sendirian?


 


 


"Mau masak apa, Bi?"


 


 


"Mbak, Key mau apa? Kalau Mas Steve, setiap hari makannya selalu sama. Bibi tinggal nyiapin saja di kulkas."


 


 


Aku mengangguk. Bersiap melayangkan pertanyaan lain. Kesempatan bagus karena Antonius sepertinya tidak ada di rumah.


 


 


"Apa, ya? Makanan kesukaan Bibi apa? Biar Key yang masak." Semangatku mulai terpercik kalau soal sudah membicarakan soal masak-masak.


 


 


"Beneran Mbak Key yang masak?"


 


 


"Beneran dong, Bi. Masak bohong?" Aku mencoba meyakinkan Bibi. Atau mungkin dia tidak percaya bahwa aku bisa masak?


 


 


"Itu lho Mbak Key. Masakan orang bule yang sering Mbak Key buat. Lasa-lasa apa gitu."


 


 


Eh? Kok Bibi tahu aku suka masak?


 


 


"Yang mana, Bi? Masakan Itali?"


 


 


"Nah itu. Yang ada di film kucing Garfil."


 


 


Wah. Bibi pintar sekali. Yang dia maksud pasti lasagna kesukaan Garfield.


 


 


"Eh, Bibi kok tahu, sih? Semua penghuni rumah ini mencurigakan termasuk Bibi." Aku bertanya. Siapa tahu bisa mendapatkan informasi dari bibi. Aku juga berkeliling dapur, membuka lemari dan rak-rak agar aku tahu apa isinya. Dapurnya terbuka dan tidak terlalu besar. Siapapun langsung bisa melihat orang yang ada di dapur dari ruang tengah yang sebesar aula.


 


 


Ya, lantai bawah memang seperti aula dan ada dapur yang tak terlalu besar di pinggir. Sedangkan lantai dua terdiri dari kamar-kamar. Aku tidak tahu apa isi dari setiap ruangan itu. Aku belum berani mencari tahu.


 


 


"Mas Steve sering nonton Mbak Key masak. Jadi Bibi ngintip-ngintip saat bersihin ruang kerja Mas Steve."


 


 


"Beneran, Bi?" tanyaku meyakinkan. Aku makin penasaran sekaligus ada perasaan senang menyusup ke dalam dada.


 


 


"Mas Stevenya ada Bi?"


 


 

__ADS_1


"Ada. Di ruang kerja. Ituh ruangannya di samping kamar Mbak Key." Bibi menunjuk ke arah kamar di sebelah kamarku. Oh, jadi dia di sana.


 


 


"Bibi punya bahannya? Untuk membuat lasagna?"


 


 


"Ada ... ada. Mas Steve sering masak itu," jawab Bibi bersemangat dan membuka lemari berisi stok makanan.


 


 


"Biar Key aja, Bi. Bibi istirahat saja."


 


 


"Wah. Kebetulan kalau gitu. Bibi mau bersihin ruang gymnya Mas Steve."


 


 


"Yang mana Bi ruangannya?"


 


 


"Yang nomor tiga. Samping ruang kerja." Bibi pun berlalu. Berjalan dan naik menuju ruangan yang dimaksud.


 


 


Sepertinya di rumah ini memiliki banyak rahasia dan cerita. Terutama Antonius. Pakaiannya hanya berwarna hitam dan putih, setiap hari selalu makan makanan yang sama, ia tahu banyak tentangku, bahkan sering menonton Channel Youtubeku, dan dia juga pendiam. Aku tidak pernah melihatnya tertawa. Dan dia hanya sesekali tersenyum.


 


 


Aku mencari-cari celemek di laci. Setelah menemukannya, aku memakainya dengan perasaan gembira. Kemudian mencari talenan, pisau, dan beberapa mangkok.


 


 


Setelah semuanya siap di meja, aku mulai mencincang daging yang kutemukan di kulkas. Setelah selesai, kucincang halus satu buah bawang bombay. Aku membuka satu kaleng tomato puree dan menaruhnya dalam mangkok. Butter, susu, keju, dan garam pun telah siap di meja. Dan tidak lupa sebungkus lasagna dan tepung.


 


 


Setelah semua bahan siap di meja, aku mulai memanaskan panci. Kumasukkan salt butter dan menunggunya hingga leleh.


 


 


 Kumasukkan bawang bombay dan menumisnya hingga matang. Setelah itu masukkan daging cincang hingga setengah matang. Kemudian masukkan tomato puree dan kububuhi dengan lada garam dan tidak lupa keju parmesan yang sudah diparut. Aku sengaja tidak menambahkan red wine. Karena kupikir Bibi tidak diijinkan untuk makan makanan beralkohol.


 


 


Setelah saos merah matang. Aku mengambil frying pan dari dalam laci. Memanaskannya, kemudian menambahkam salt butter. Aku mengecilkan api. Kemudian memasukkan tepung terigu dan mengaduk-aduknya hingga rata dan berbentuk pasir. Kumasukkkan susu setelahnya dan mengaduknya hingga rata dan tidak ada lagi gumpalan tepung.


 


 


Aku memanaskan oven. 165 derajat. Sambil menunggu oven panas hingga temperatur yang diinginkan, aku mulai menata lasagna, saos merah, dan putih secara bergantian di dalam wadah tahan panas. Setelah semuanya selesai, aku memasukkan lasagna ke dalam oven dan memanggangnya hingga matang.


 


 


Hmmmm perfecto!


 


 


Aku mematikan oven dan mengangkat lasagna kemudian menaruhnya di meja. Dari aromanya, aku memastikan rasanya pasti enak. Buru-buru aku berjalan menuju lantai dua. Ruang gym tempat bibi bersih-bersih. Aku ingin dia memakannya selagi hangat.


 


 


"Biii?" Aku mengetuk pintu kemudian masuk. Ruangan itu seperti gym betulan. Maksudku, seperti di tempat fitness.


 


 


Peralatannya banyak dan aku tidak tahu persis apa namanya. Jujur, aku tidak pernah pergi ke tempat fitness. Aku lebih suka berolahraga di rumah daripada harus berbaur dengan orang banyak.


 


 


"Ayo Bi turun." Aku mengajak bibi untuk ke dapur. Pelan. Takut Antonius tertanggu.


 


 


"Ayo ayo ... Bibi juga sudah lapar."


 


 


"Mau Key bantu lap-lap,Bi?"


 


 


Aku menggandeng bibi. Tubuhnya gempal dan pendek. Rambutnya yang hampir semua berwarna putih selalu digelung. Aku menebak mungkin usianya memasuki kepala enam.


 


 


"Gak usah. Bersihin ini hanya sebulan sekali. Soalnya Mas Steve kalau habis makai pasti langsung dibersihkan."


 


 


Begitu melangkah dari pintu, aku jadi teringat Antonius. Apakah aku harus menyapanya?


 


 


"Bibi makan duluan aja, ya. Ada di meja. Ambilin juga buat Bapak. Oke?"


 


 


Bibi berjalan menuruni tangga tanpaku. Dan aku mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Karena tidak ada jawaban, aku langsung masuk ke dalam. Antonius yang sedang duduk di sofa warna hitam sambil membaca buku melihatku ketika masuk. Seperti biasa, tatapannya seakan akan ingin mencabikku.


 


 


"Aku membuat lasagna. Kau ingin mecobanya?"


 


 


Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung duduk di sebelahnya. Dan baginya, seolah-olah aku tak pernah ada di ruangan itu.


 


 


"Aku tahu kamu sering menonton chanelku. Bibi yang bilang. Jadi kamu tidak perlu lagi bersikap pura-pura dingin padaku."


 


 


"Baiklah kalau tidak mau menjawab!" kataku bernada mengancam. Aku membaringkan kepalaku di pangkuannya. Dengan tiba-tiba dan dia pun terlihat kaget.


 


 


"Aku akan seperti ini sampai malam jika kamu belum menjawabku."


 


 


Dan yang benar saja. Semenit, dua menit, hingga sepuluh menit aku mengamati wajahnya dari pangkuannya, tidak ada tanda-tanda Antonius ingin menjawab.


 


 


"Hey!" Aku menggoyang-goyangkan kepalaku. Mencari-cari perhatian.


 


 


"Buku apa favoritmu? Kalau aku, menyukai novel romantis. Aku suka buku-bukunya Stevan A. Sayangnya, aku tidak tahu seperti apa wajahnya. Informasinya di internet juga tidak ada. Anonim! Dan kabar terakhir yang kudengar setelah buku terbarunya terbit, ada yang melihat bahwa Stevan A sebenarnya cacat. Itu sebabnya ia menyembunyikan jati dirinya karena malu." Aku menggeserkan tubuhku. Kemudian berganti posisi. Miring. Menghadap ke perut Antonusius."


 


 


 "Hey! Apa kamu pernah membaca buku-buku Stevan A?"


 


 


"Tidak."


 


 


"Pantas saja. Kamu harus membacanya agar tahu bagaimana cara memperlakukan wanita. Apalagi wanita itu adalah calon istrimu," balasku jengkel sambil menusuk-nusuk perutnya dengan jari telunjuk. Perutnya begitu keras, dipenuhi otot dan terlihat bentuknya yang six pack meskipun ia sedang duduk.


 


 


"Apa kamu pernah jatuh cinta?" tanyaku sambil menggambarkan bentuk hati di perutnya.


 


 


"Apa kau tahu bagaimana rasanya tidak diperhatikan? Merasa tidak dihargai dan diabaikan?" Mataku semakin berat untuk membuka. Aku seperti dinina bobokan dan ... aku tak ingin berkata apa-apa lagi selain memejamkan mataku. Pangkuannya begitu nyaman, hangat, dan membangkitkan sedikit bagian dari kewanitaanku.

__ADS_1


__ADS_2