
"Jadi berangkat ke Afrika, James?"
Kami sedang makan malam. Nasi goreng sayur kesukaan Awan. "Iya. Aku berangkat besok." James meneruskan mengunyah makanan di mulutnya sementara Awan langsung berhenti menyendoki nasi di piringnya. "You can't go to any where, Papa!" protesnya lalu turun dari kursi dan mendekati papanya dan memasang wajah melas. Matanya berkaca-kaca dan bersiap untuk meledakkan tangisnya.
Sejak masih bayi, Awan memang sangat dekat dengan James. Meskipun ia bukan ayah biologisnya tetapi pria yang kini berusia 40 tahun itu mencintai Awan melebihi ayah kandungnya sendiri.
Saat itu, ketika usia kehamilanku memasuki empat minggu dan tetangga menemukanku pingsan di halaman rumah, barulah aku tahu kalau ada jabang bayi di rahimku. "Selamat Key. Kamu sedang hamil," ujar Erika asli orang Indonesia yang memiliki suami orang Kanada. Ia sudah lama bertetangga dengan James namun jarang bertemu karena James jarang ada di rumah.
Sebagai seorang fotografer profofesional sebuah majalah satwa yang cukup terkenal seantero jagat raya, ia sering bepergian ke luar negeri. Dan sejak aku tinggal di rumahnya, akulah yang menjaga rumah itu.
"Aku sudah memberi tahu suamimu kalau kau pingsan. Tapi dia baru bisa pulang minggu depan. Dokter bilang kau tidak boleh kelelahan."
__ADS_1
Suami? Pasti James yang dimaksud Erika. Sejak hari pertama tinggal di sini, ia memamg memperkenalkanku sebagai istrinya. Katanya, agar aku lebih nyaman tinggal di Quebec karena bagaimanapun juga aku masih orang Indonesia yang dikenal dengan adat ketimuran. Tetangga sekitar pun percaya begitu saja dan tak ada yang berusaha mencari tahu kebenarannya karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Di sini, tak ada yang suka dengan acara gosip dan saling menghormati privasi satu sama lain. Dan meskipun James memperkenalkanku sebagai istrinya, ia sangat menghormatiku. Ia tak pernah menyentuhku atau memandang dengan sorot mata negatif. Dan semua itu berlangsung hingga sekarang.
Pernah sekali Awan bertanya kenapa aku tidak tidur dengan papanya," Papa kalau tidur ngorok. Jadi mama dan papa kamarnya terpisah." Awan mengangguk mengerti dan tak pernah lagi bertanya sejak saat itu.
"Sini ... sini ... anaknya Papa. Mau dibelikan apa kalau Papa pulang?" James mengangkat Awan ke pangkuannya. Dan saat mendengar kata mainan, Awan jadi teralihkan. "Pesawat ... air plane ... air plane ... wuuuuz," jawabnya sambil memperagakan menerbangkan pesawat.
"James, aku harap kamu tidak berniat membelikannya mainan lagi. Lihatlah ...." Jari telunjukku menunjuk ke arah keranjang mainan. " ... tumpukan itu lama-lama akan sebesar gunung. Kamu terlalu memanjakan Awan." Lanjutku. Menggerutu karena James terlalu memanjakan Awan dan itu tidak baik untuknya.
"Don't listen Mama, Papa! You know what?" jawabnya terbata-bata. "Mama selalu marah if you are not at home," lanjut Awan.
"Really?" Ayahnya pura-pura tidak tahu dan kaget.
__ADS_1
"Yah. But i love Mama," lanjut Awat mengacungkan dua jempolnya.
James mencium kening pangeran kecilnya. Rasanya apapun yang ia miliki ingin diberikan pada Awan. "Papa love Mommy, too," sahut James sambil melihat ke arahku dan mata kami saling bertemu.
"Key," James memulai pembicaraan tatkala Awan mulai terlelap dan barangkali sedang bermimpi bermain dengan Bunny karena sejak tadi ia tersenyum sambil mengucapkan nama kelinci yang sudah dipeliharanya selama dua bulan. James yang membelikannya, katanya, agar Awan berlatih cara bertanggung jawab. Dan yang benar saja, Awanlah yang memberikan Bunny makan dan minum serta sesekali membantu membersihkan kandang.
" Maukah kamu menikah denganku? Ini permintaanku yang ke 151. Apakah jawabanmu tetap sama?" Seperti biasa, ia selalu berbicara terus terang dan langsung pada intinya.
James, lelaki berhati malaikat itu memang sering memintaku menjadi istrinya. Namun aku belum siap untuk menikah lagi. "James," kataku sehalus mungkin agar Awan tidak terbangun. "Bisakah kamu memberiku waktu?"
"Apakah itu artinya aku memiliki kesempatan?" Wajahnya terlihat sumringah. Apakah ia berpikir kali ini aku akan menjawab iya? Karena biasanya aku akan menjawab langsung dengan kata 'tidak'.
__ADS_1
James adalah laki-laki yang sempurna. Ia tak hanya tampan, tetapi perangainya pun sangat lembut, berwibawa, dan bertanggung jawab. Selama empat tahun ini, ia telahmenjadi sosok ayah yang baik untuk Awan. Tak hanya dihujani dengan hadiah, pangeran kecilku itu juga diberikan cinta yang tak terbatas. Dan aku mulai berpikir, apakah selama ini sikapku terlalu kejam? Bagaimanapun juga, James adalah lelaki normal dan membutuhkan seorang wanita yang menyambut dan melayani di ranjang. Sedangkan aku? Tak kupingkiri ada rasa kesepian di dalam hatiku. Dan tubuh yang minta dihangatkan saat musim dingin tiba. Aku ingin membuka hati, meskipun itu hanya sebagai balas budi.