Happy Ending

Happy Ending
First night


__ADS_3

Kruuuk ... kruuuk ... perutku yang berbunyi membuatku terbangun. Rupanya aku tertidur karena kelelahan menangis.


 


 


"Mmmmhhh ... kenapa sih harus kelaparan tengah malam? Hey, cacing-cacing di perut! Apa kalian tidak tahu kalau aku sangat mengantuk?!" Aku berbicara sambil menunjuk-nunjuk perutku dan baru sadar kalau aku masih memakai gaun.


 


 


Aku bangkit dari tidurku. Membuka resleting belakang dan meletakkan baju itu begitu saja di lantai. Hah"kamu tahu pertunangan ini?" Aku bertanya dengan perlahan agar orang lain tak mendengar. Selain itu, kami berdua sedang menjadi pusat perhatian.


 


 


 


 


 


 


"Tentu saja."


 


 


 


 


 


 


"Kamu menyetujuinya?"


 


 


 


 


 


 


"Tentu saja."


 


 


 


 


 


 


"Tidak adakah jawaban lain selain tentu saja?"


 


 


 


 


 


 


"Tentu saja," jawabnya singkat padat jelas.


 


 


 


 


 


 


"Bisakah kamu menyingkirkan tanganmu dari pinggangku? Aku merasa sedikit kurang nyaman."


 


 


 


 


 


 


"Tentu saja." Sekali lagi ia menjawab dengan jawaban 'tentu saja' kemudian menyingkirkan tangannya. Aku menoleh pada pria yang tiba-tiba muncul di sampingku. Aku mendongak ke atas agar bisa melihat seperti apa tampangnya.


 


 


 


 


 


 


Jadi seperti orang misterius yang sejak tadi muncul secara tiba-tiba? Lumayan juga meskipun tidak semanis Bima. Wajahnya blasteran, hidungnya tinggi seperti om Markus. Rahangnya kokoh, bibirnya tipis seperti tante Sabrina dan kulitnya kecoklatan. Sorot matanya sangat tajam sehingga aku tidak berani menatapnya secara langsung. Selain itu, rambut-rambut halus dibiarkan tumbuh dengan liar di wajahnya. Sekilas mengingatkanku pada Bima yang suka melakukan hal sama. Yaitu membiarkan jambangnya tumbuh dan tidak suka mencukurnya.


 


 


 


 


 


 


"Bagaimana menurutmu? Apa aku cukup tampan dan masuk kriteriamu?"


 


 


 


 


 


 


Seakan tahu aku sedang memberikan penilaian akan dirinya, dia berbisik kepadaku. Napasnya yang hangat membelai kulitku. Meskipun begitu, aku tidak berniat menghindarinya.


 


 


 


 


 


 


"Tidak! Aku tidak menyukaimu. Wajahmu terlihat kotor!" jawabku ketus untuk menutupi rasa gugup dan dia hanya tersenyum.


 


 


 


 


 


 


"Sudah ... sudah. Ngobrolnya nanti lagi. Cepat pakaikan cincinnya, sayang." Tante Sabrina menghampiri kami dan memberikan kotak cincin pada Antonius yang telah berganti memakai kemeja warna putih. Diam diam aku memperhatikannya, dan itu membuat jantungku berdebar.


 


 


 


 


 


 


Kemudian, tanpa permisi, tanpa sepatah katapun pria itu meraih tanganku dan menyematkan cincin bertatakan batu permata di sana.


 


 


 


 


 


 


Aku melirik ke arah mama dan papa, mereka terlihat gembira sekali. Rasa-rasanya, hal ini hasil bersekongkolan mereka yang telah direncanakan sejak lama. Begitu pula dengan om Markus dan tante Sabrina. Wajah mereka bersinar cerah sedangkan aku? Satu-satunya tak tahu apa yang sedang terjadi.


 


 


 


 


 


 


"Pakaikan cincin itu padaku." Antonius memerintah dan bodohnya aku menuruti kata-katanya tanpa bisa mengelak. Sial!


 


 


 


 


 


 


"Lauren!!! Akhirnya persahabatan kita menjadi besan!!"


 


 


 


 


 


 


"Oh, Sabrina sahabatku. Rasanya aku ingin menangis! Ini seperti mimpi buatku!!"


 


 


 


 


 


 


Dua wanita paruh baya itu berpelukan tanpa menghiraukan sekelilingnya. Mereka bersorak seakan-akan dunia milik mereka sendiri dan yang lain hanyalah numpang lewat. Dan sampai acara itu selesai, aku tetap belum mengerti apa yang sedang terjadi.


 


 


 


 


 


 


Di hari minggu ini, semuanya serba tiba-tiba. Belum genap 24 jam aku putus dengan Bima, sekarang aku sudah bertunangan dengan pria yang tidak kukenal. Jadi, ini alasannya papa mengajakku 'jalan-jalan' ke Bandung? Yang katanya ingin mengunjungi sahabatnya? Aku tidak menyangka papa akan sekejam ini pada putrinya. Aku mengecam keras! Ini namanya eksploitasi terhadap anak dan melanggar HAM!


 


 


 


 


 


 


"Mama dan Papa pamit pulang ke Jakarta dulu ya, sayang. Kamu stay di Bandung. Oke?"

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


"Lho, kok gitu sih, Ma, Pa? Jelasin dulu dong ini maksudnya apa?"


 


 


 


 


 


 


Aku protes di kamar yang telah disediakan. Kamar itu elegan, dan jauh lebih besar dari kamarku. Ketika melongok keluar, terlihat hamparan bunga mawar dan anggrek.


 


 


 


 


 


 


"Kamu harus terbiasa tinggal di sini. Sampai kamu menikah." Mama berusaha menenangkanku yang sedang emosi. Kami berdua duduk di ranjang. Sedangkan papa berdiri di samping mama. Dan pria itu ... maksudku Antonius, berdiri di dekat jendela. Ngapain juga sih dia situ? Aku tahu ini rumahnya, tapi harusnya dia memberikan kami privasi untuk bicara.


 


 


 


 


 


 


"Pa ...," rengekku pada papa yang sejak tadi tidak mau berkomentar.


 


 


 


 


 


 


"Papa tahu soal ini? Papa kok gitu, sih? Selama ini Key menganggap Papa yang lebih mengerti Keyla. Gak tahunya, Papa sama saja kayak Mama. E g o i s!"


 


 


 


 


 


 


Aku berpaling dari mereka. " Dan kamu!" Aku menunjuk ke arah Antonius yang sejak tadi mengejekku dengan senyumnya.


 


 


 


 


 


 


"Mau-maunya bersekongkol dengan mereka!" lanjutku sambil menunjuk ke arah mama dan papa.


 


 


 


 


 


 


"Hmmmm ... kalian sepertinya sudah akrab. Ayo, Pa. Kita balik ke Jakarta. Asik ... Mama akan segera dipanggil Oma, nih!"


 


 


 


 


 


 


Seakan tak menghiraukan kemarahanku, mama dan papa melenggang meninggalkan kamar. Aku tidak peduli lagi dengan mereka. Toh mereka juga tidak peduli dengan perasaanku.


 


 


 


 


 


 


Aku melepaskan sepatuku dan memilih berbaring di balik selimut. Tidak terasa pipiku basah. Aku merasa marah, kecewa dan sendirian.  ... lega. Pantas saja sejak tadi aku merasa tubuhku sulit bernapas.


 


 


Kembali kurebahkan tubuh di tempat tidur dan aku hanya mengenakan pakaian dalam. Aku berguling-guling ke kanan dan ke kiri. Memikirkan apa yang seharuskan kumakan agar tidak lagi kelaparan. Ah, ponsel. Di mana ponselku? Barangkali aku bisa memesan makanan online.


 


 


 


 


 Setelah meraba-raba tembok dengan sabar akhirnya aku bisa menemukan saklar untuk menghidupkan lampu.


 


 


"Nah, gini kan terang! Tidak gelap seperti masa depanku." Aku berbicara pada diriku sendiri, dan akhirnya aku baru sadar akan satu hal. Ini bukan kamarku. Warna temboknya berbeda. Aku berbalik arah dan telah ada sepasang mata yang mengawasiku di sana. Seorang pria yang duduk di kursi persis di samping tempat tidur. Kenapa aku baru tahu? Ya Tuhan sungguh bodohnya aku!


 


 


Sepasang mata kecoklatan dan tajam itu tidak melepaskanku dari pandangannya. Dan untuk pertama kalinya mata kami saling bertemu. Antonius?


 


 


"Apa kau terbiasa bertelanjang di depan pria?" tanya Antonius dengan menyelidik. Ia bangkit dari kursi dan berjalan ke arahku. Dan tanpa sadar akupun berjalan mundur. Semakin dia mendekat aku mencoba untuk melangkah ke belakang. Dan akhirnya dibelakangku tak ada lagi ruang untuk menjauh. Tembok itu membentang di sana. Antonius tidak berkata apa-apa lagi. Yang dia lakukan hanya mengintimidasiku dengan sorot matanya.


 


 


"Apa kau terbiasa bertelanjang di depan pria?" tanyanya untuk kedua kali. Tangan kanannya bertumpu pada tembok dan tubuhnya sangat dekat denganku. Ia menunduk agar bisa melihat wajahku.


 


 


"Apa kau terbiasa bertelanjang di depan pria?" tanya Antonius untuk ketiga kalinya. Dan nadanya terlihat sangat serius. Jantungku tidak berhenti berdegup sekaligus takut. Sorot matanya berbeda dari sebelumnya dan tangan kirinya mencengkram pundakku.


 


 


"Apapun yang terjadi, jangan pernah melepaskan pakaianmu di depan laki-laki yang bukan suamimu," lanjutnya lagi dengan nada yang lebih lembut.


 


 


Ia melepaskam cengkraman tangannya kemudian melepaskan kaos yang dipakainya. "Pakailah." Ia memberikan kaosnya padaku. Dan aku cepat-cepat memakainya. Aku tidak ingin melihat mata yang menyeramkan itu lagi. Menakutkan. Aku merasa seperti tersangka yang sedang diadili.


 


 


"Aku lapar."


 


 


Tanpa berkata apa-apa dan dengan telanjang dada, pria itu menuntunku keluar dari kamar. Menuruni tangga dan menuju lantai satu.


 


 


 Aku mengikutinya setengah berlari karena langkah kakinya begitu panjang dan aku tidak bisa mengimbanginya jika berjalan dengan biasa.


 


 


Setibanya di dapur, ia membuka kulkas dan menyuruhku melihat-lihat makanan yang aku suka.


 


 


"Pilihlah," pintanya sambil memegangi pintu kulkas.


 


 


"Aku boleh mengambil semauku?"


 


 


"Ya."


 


 


"Kau mau makan?"


 


 


"Tidak."


 


 


"Baiklah."


 


 


Setelah melihat-lihat, di sana ada banyak sekali makanan yang sudah ditaruh didalam kotak plastik berwarna putih. Ada beberapa salad, buah, dan juga ayam rebus.


 


 


"Makanan yang tadi siang masih ada?"


 


 


"Sudah dibawa pulang orang-orang yang bekerja di sini."


 


 


Setelah menimbang-nimbang dengan saksama, aku mengambil makanan yang bertuliskan salad dan juga ayam rebus.


 


 


 Antonius menutup kulkas dan menyuruhku duduk. Kemudian ia meraih sekotak ayam rebus dari tanganku.


 


 


Ia menaruh potongan dada ayam itu diatas piring dan memanaskannya di dalam microwave selama dua menit. Dibalik kediaman dan tatapan matanya yang tajam, aku melihat ada kehangatan di sana. Aku memperhatikan punggungnya dan kemudian berpikir yang tidak-tidak.

__ADS_1


 


 


"Sampai kapan mau melihatku?" Astaga! Ternyata dia sadar aku sedang mengawasinya. Aku merasa malu pada diriku sendiri dan wajahku mulai memerah.


 


 


"Makanlah." Antonius menyodorkan piring dan juga garpu padaku. Ia kemudian mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih.


 


 


"Ke mana om Markus dan tante Sabrina?" tanyaku sambil mengunyah beberapa potong timun.


 


 


"Pulang."


 


 


"Ke mana? Ini kan rumah mereka?"


 


 


"Jakarta. Rumah yang satunya."


 


 


Aku manggut-manggut. Bingung. Apalagi yang harus dibicarakan? Antonius begitu pendiam. Ia lebih suka menatapku daripada berbicara langsung.


 


 


"Kamu punya pacar?"


 


 


"Aku sudah bertunangan," jawabnya singkat sambil memperlihatkan jemarinya dan aku baru sadar. Akulah tunangannya.


 


 


Aku sungguh tidak menyukainya. Maksudku, suasana ini. Kaku dan rasanya aneh.


 


 


Setelah menghabiskan makan malamku, aku mencuci piring dan box makanan kemudian menaruhnya di rak piring untuk dikeringkan. Sementara itu Antonius terus mengawasiku yang membuatku tidak nyaman.


 


 


"Hey. Mmm ... aku ingin mandi dan menghapus makeupku. Di mana aku bisa melakukannya?"


 


 


Tanpa menjawab sepatah katapun, Antonius menggandengku berjalan menuju kamar yang tadi kupakai untuk tidur. Antonius membuka pintu kamar mandi dan wow, kamar mandinya bahkan lebih besar dari kamarku di rumah!


 


 


"Pilihlah." Antonius membuka sebuah lemari yang berisikan baju-baju wanita.


 


 


"Punya tante Sabrina?"


 


 


"Milikmu. Mama yang membelikannya."


 


 


Punyaku? Apakah memang pertunangan ini sudah direncanakan sejak lama? Aku mengambil handuk dan berjalan menuju bath tub. Aku menutup tirainya dan mulai melepaskan pakainku.


 


 


"Hey! Kau masih di sana?"


 


 


"Hmmmm."


 


 


"Jangan ke mana-mana. Tunggulah di situ." Karena tak mendengarnya berdehem, aku mengintipnya dari balik tirai. Dan sekali lagi mata kami saling bertemu. Dan entah kenapa aku merasa kalau dia bukan orang asing.


 


 


"Apa kau tahu berapa lama mama dan tante Sabrina bersahabat?"


 


 


"Ketika kau belum lahir."


 


 


"Benarkah? Kenapa aku tidak mengingatnya? Maksudku, mama tidak pernah cerita kalau punya sahabat bernama tante Sabrina."


 


 


Aku berbicara sambil memijat-mijat wajahku. Ada banyak makeup di sana. Kalau tidak dibersihkan dengan benar, saat bangun tidur pasti wajahku ditumbuhi jerawat.


 


 


"Ceritakanlah sedikit tentang dirimu. Agar aku tahu bagaimana harus bersikap. Kau sangat pendiam dan aku kebingungan."


 


 


Aku mulai membasahi rambut dan mencucinya dengan shampoo. Aroma mawar. Aku sangat menyukainya.


 


 


"Kenapa rumahmu sepi sekali? Apa kau tinggal sendiri?"


 


 


"Ada kau sekarang."


 


 


"Bukan itu maksudku. Tapi, di mana bibi yang bersih-bersih rumah dan tukang kebun?"


 


 


"Rumah sebelah."


 


 


"Ah. Aku baru tahu. Apa kau tidak kesepian tinggal di rumah sebesar ini? Oh, ya. Apa kau baru pulang dari luar negeri? Apa kau sudah sering bertemu dengan mama dan papa?"


 


 


Pria itu diam lagi. Sama sekali tidak menjawab. Padahal, dia berdiri di dekat lemari sejak tadi.


 


 


"Cepatlah. Nanti masuk angin."


 


 


Aku pun menurutinya. Melilitkan handuk ke tubuhku dan memasukkan baju kotor ke dalam keranjang yang ada di sebelah bak mandi.


 


 


Antonius memalingkan pandangannya dan pura-pura tidak melihatku. Aku membuka lemari pakaian dan memilih baju tidur berwarna merah muda yang terbuat dari kain satin. Pilihan tante Sabrina memang top markotop. Dan itu terbukti ketika ia memilihku menjadi menantunya. Meskipun tadinya aku sedikit kesal atas apa yang terjadi, sekarang aku tak keberatan jika harus menikah dengan anak dari sahabat mamaku.


 


 


"Kamu mau melihatku berganti pakaian atau menunggu di kamar?"


 


 


Tanpa menjawab Antonius keluar dari kamar mandi. Dan aku membuka seluruh lemari yang ada. Baju-bajunya bagus dan terlihat mahal. Ada juga sepatu, tas dan juga aksesoris. Kemudian aku membuka lemari yang lebih kecil. Berisi pakaian pria dan warnanya hanya hitam dan putih. Milik Antonius?


 


 


Aku keluar kamar mandi. Rambutku sudah kukeringkan dengan hair dryer. Ternyata, di dalam lemari-lemari itu ada beberapa kosmetik dan alat-alat kewanitaan yang sering kupakai.


 


 


"Kamu sudah mandi?" tanyaku pada lelaki yang duduk di kursi samping tempat tidur.


 


 


"Tidurlah," jawabnya singkat tanpa melihat ke arahku.


 


 


Aku naik ke tempat tidur dan menyembunyikan tubuhku di balik selimut.


 


 


"Hey. Kamu tidak kembali ke kamarmu?" Aku mulai berani melihat wajahnya secara terang-terangan. Dia tidak melihatku, matanya terpejam. Tapi aku yakin dia masih mendengar suaraku.


 


 


"Kamu mau tidur di sebelah ku? Tempat tidur ini cukup besar untuk kita berdua. Lagipula, sekarang kita sudah bertunangan dan akan segera menikah."


 


 


Tanpa menjawab iya atau tidak, Antonius beranjak di kursi dan siap-siap berbaring di sebelahku. Dari dekat, aku bisa melihat dengan jelas otot-otot di tubuhnya.


 


 


"Apa kau terbiasa tidur dengan pria?" tanyanya tanpa melihatku. Pandangannya tertuju pada langit-langit yang lampunya masih benderang.


 


 


"Kamu suka tidur dengan lampu menyala atau mati? Aku suka tidur dalam gelap. Jadi akan kumatikan saklarnya."


 


 


Tanpa menunggu jawabannya aku berdiri dan mematikan lampu lalu kembali merebahkan diriku di ranjang. Kali ini aku tidak perlu lagi meraba-raba tembok. Aku sudah hafal di mana letak tempat tidurnya.


 


 


"Kau sudah tidur?"


 


 


Antonius tidak menjawab. Tapi aku bisa mendengar suara napasnya yang tidak teratur. Secepat kilat ia mendekapku dalam gelap. Aku tenggelam dalam tubuhnya yang bidang. Aku bisa merasakan bulir-bulir keringatnya di wajahku. "Apa kau terbiasa tidur dengan seorang pria?" Ya Tuhan? Itukah yang hendak ia tanyakan sampai bersikap sejauh ini? "Mulai sekarang, hanya aku satu-satunya pria yang boleh tidur denganmu." Ia lalu melepaskan pelukannya. Menjaga jarak denganku. Ditaruhnya sebuah bantal di tengah-tengah kami. Katanya, aku tak boleh melewati batas itu.

__ADS_1


__ADS_2