Happy Ending

Happy Ending
Bab 81: Fakta


__ADS_3

Casey berdiri dan pergi menjauh dari Matilda. Casey berlari menuju ruangan yang bisa ia tempati untuk menumpahkan semua air matanya. Casey melihat sebuah gudang dan memilih masuk ke sana.


Casey menangis sekuat-kuatnya, menumpahkan semua kesedihannya.


"Kenapa... kenapa aku seperti ini. Apa aku memang pembawa sial. Lalu kenapa aku dilahirkan," ucap Casey menangis kuat. Menangis diantara lekuk lututnya yang di tekuk. Hinga ponselnya bergetar dan Casey memilih abai dengan suara dering ponselnya. Namun ponselnya terus bergetar. Entah sudah berapa kali panggilan masuk ke ponselnya.


Casey merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.


"Dariel.." gumam Casey. Ia kemudian mengangkat panggilan Dariel.


"Halo.." ucap Casey menahan tangisnya.


"Sayang.. kenapa dengan suaramu? apa kamu sedang menagis?" tanya Dariel lembut.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Dariel mulai khawatir.

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya menonton film dan ceritanya sangat menyedihkan sampai-sampai aku menangis," jawab Casey berbohong.


"Astaga... kamu membuatku khawatir hanya mendengar suara serak mu," ucap Dariel.


"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Dariel.


"Sudah," jawab Casey.


"Bagus. Jangan sampai kamu melupakan makan mu. Aku tidak ingin kamu sakit saat aku tidak ada di dekat mu."


"Oh ya, aku minta maaf sayang. Sepertinya aku tidak jadi pulang malam ini. Tiba-tiba ada urusan mendadak. Aku janji besok malam akan segera kembali," tukas Dariel.


"Baiklah, aku tutup panggilannya dulu sayang," ucap Dariel menutup panggilannya.


*******

__ADS_1


Casey bangun dengan mata sembabnya setelah setengah jam tertidur di dalam gudang. Kelamaan menangis dan kepalanya yang akhir-akhir ini sering sakit membuat Casey tidak sadar jika dia sampai tertidur. Casey menyadari jika ia masih berada di dalam gudang. Casey lalu ke luar dari dalam gudang dan pergi untuk melihat keadaan Adeline. Ia tidak peduli jika Matilda akan mengusirnya. Setidaknya ia tau bagaimana kondisi Adeline. Casey berjalan menuju ruangan dimana Adeline di tangani. Casey tidak melihat Matilda di sana. Kemungkinan Dokter sudah selesai memeriksa Adeline. Casey berjalan mendekati ruangan Adeline.


"Mom dimana Casey?" tanya Adeline menyadari ketidakhadiran Casey di sana.


"Mommy sudah mengusirnya."


"Mommy sudah bilang untuk tidak mendekatinya lagi Adel," ucap Matilda membuat langkah kaki Casey terhenti.


"Sudahlah mom, ini bukan salah Casey. Aku yang tidak hati-hati. Kenapa mommy mengusirnya. Casey yang menolong ku mom," ucap Adeline.


"Bisa-bisanya kamu membelanya. Jelas-jelas karena dia kamu hampir kehilangan bayi mu. Dimana akal sehat mu Adeline," tukas Matilda tak habis pikir dengan putrinya.


"Harusnya sejak awal aku tidak mau menerima anak pelacur seperti dia untuk tinggal bersama kita. Dia selalu membawa sial. Dia sama seperti ibunya. Kalau bukan karena daddy mu yang memintanya, mommy tidak akan melakukannya," ucap Matilda. Casey yang mendengarnya menutup mulutnya dengan tangannya. Sebuah fakta baru yang mengejutkannya. Ternyata dia bukan anak kandung Matilda.


"Anak itu memang tidak tau diuntung. Aku sudah membiarkannya tinggal di rumah dan membiarkan dia memanggil ku mommy," ucap Matilda.

__ADS_1


"Mom.. jangan katakan seperti itu, dia adik ku. Casey juga anak mommy," ucap Adeline marah.


"Adeline, sampai kapan pun aku tidak pernah menganggapnya anak. Dia hanya anak ayah mu dengan ibunya yang pelacur itu," tukas Matilda. Ia mulai terbayang dengan kejadian masa lalu.


__ADS_2