Happy Ending

Happy Ending
Anna, Duri Yang Meninggalkan Luka


__ADS_3

Sebelum menandatangani surat cerai, Antonius memberi beberapa persyaratan. Aku dan Awan harus tinggal di rumahnya selama satu minggu dan setelah bercerai Antonius boleh menemui Awan kapan saja. Aku mengiyakan karena aku juga tidak ingin terlalu alot saat bernegoisiasi. Aku ingin pernikahanku dengan James berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti. 


Meskipun tadinya mama tidak setuju, setelah dibujuk James akhirnya mama tak bisa menolak lagi. Entah apa yang James katakan pada mama. Karena jarang sekali ia mau menurut dengan usul orang lain. 


"Mbak, Key!" teriak bibi sambil berlari ketika melihatku turun dari mobil. Kami berpelukan sesaat sebelum air mata kami sama-sama tertumpah. 


"Mbak, Key. Selamat datang kembali." 


"Makasih, Pak." 


"Sayang, ayo turun." James menurunkan Awan dari gendongannya. Sementara Antonius membawa masuk barang-barang kami. "Kasih salam dulu sama bibi dan bapak."


"Salam bibi, bapak. Aku Awan. Umur 4." Awan memperkenalkan dirinya sambil membungkuk. 


"Pak, lihatlah. Mirip mas Steve waktu kecil." Bibi menciumi Awan dengan gemas dan bapak hanya tersenyum dari kejauhan. 


"Pak. Bi, ini James. Papanya Awan." Mendengar kata-kataku bapak dan bibi bengong. Mereka bingung tak bisa mencerna kalimatku. Meskipun begitu, mereka tetap memberikan senyum tulus.


"Ayo masuk mbak Key," pinta bibi yang menuntun Awan. Pangeran kecilku memang mudah akrab dengan siapa saja. Termasuk orang yang baru ia temui. 


Dari kejauhan rumah itu tak berubah. Aroma mawar masih tetap menjadi ciri khas dan hal yang paling kusukai dari kastil mewah ini. Tapi semakin dekat dengan pintu masuk aku merasakan dadaku tertusuk ribuan jarum. Langkah kakiku terhenti. 


"Ada apa, Key?" tanya James. Ia mengusap punggungku.


"Tidak apa-apa, James." Aku menggandengnya dan terus maju ke depan. Antonius dan seorang wanita yang kukenal ada sedang berdiri di samping pintu. Anna.


"Hai, Keyla. Aku baru tahu kalau kau selama ini bertetangga dengan Erika," sapa wanita itu. Suaranya nyaring dan tak bersahabat bagi telingaku. "Ayo James." Aku mengajaknya masuk tanpa menghiraukan Anna sedangkan Awan entah pergi ke mana. Barangkali sudah bermain dengan bibi dan bapak. 


Tak seperti dulu, rumah ini tak kosong lagi. Ada sofa di ruang tengah dan juga banyak sekali mainan. Aku tak heran, bagi orang kaya seperti Antonius menyiapkan semua ini tak perlu menunggu waktu lama. 


"Key, kemarilah. Aku menaruh barangmu di atas." 

__ADS_1


"Kau mau ikut, James?" Ia menggeleng. Dan lebih memilih duduk di sofa. 


"Tidurlah di sini." Kata Antonius membuka pintu kamar yang dulu pernah kami pakai bersama. "Barang-barangmu yang lain masih di tempat yang sama."


"Apa yang dilakukan wanita itu di sini?"


"Anna?"


"Siapa lagi. Apa kamu benar-benar tak tahu salahmu, Antonius?" 


"Key. Tenanglah."


"Apa dia tinggal di sini?" 


Antonius tidak menjawab. "Lalu kenapa kau memintaku tinggal di sini, Antonius?" Aku melemparkan tasku padanya. Sekuat tenaga aku memukuli tubuh itu. Tapi tak ada gunanya. Pada akhirnya aku yang menangis. Aku yang tersakiti. Dan aku yang jatuh.


"Key ... tenanglah Key."


"Bagaimana aku bisa tenang?" Aku menyingkirkan kedua tangan itu yang berusaha menyentuhku. 


"Dan teman itu adalah kamu?!" Aku mendorong tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya. "Keluarlah Antonius ... aku sedang tidak ingin melihatmu."


"Are you alright, Darling?" Suara James membuatku membuka mata. "Apa aku tertidur? Di mana Awan?"


"Tenanglah. Awan bersama bibi. Dia baik-baik saja. Apa kau merasa lebih baik sekarang?"


"Mmm ... aku merasa mengantuk sekali."


"Kau pasti kelelahan."


"James ...." Aku membalikkan tubuhku ke kanan. Menghadap James.

__ADS_1


"Apa wanita itu masih di sini?"


"Aku rasa begitu."


"Ayo kita kembali ke Kanada, James. Aku tidak bisa tinggal dengan wanita itu. Aku takut Antonius akan mengambil Awan."


"Tidak, Key. Kamu harus tinggal di Indonesia. Di sinilah rumahmu. Tempat orangtuamu berada." 


"Mama!" teriak Awan dari pintu yang mulai terbuka. Antonius tengah menggendongnya. Aku bangun dari tempat tidur dan memeluk Awan. "Apa kau senang bermain dengan bibi?"


"Mmmmhhh!" Awan mengangguk. "Papa punya banyak kelinci. Tapi aku belum kasih nama," lanjutnya lagi. "Benarkah itu Antonius?" Dia hanya berdiri sambil tersenyum. Sebelum pulang ke Indonesia, Awan memang sempat menangis karena tidak bisa membawa Bunny. Kemudian, Antonius berjanji akan membelikannya banyak kelinci putih. Dan ia menepatinya. "Papa ayo lihat kelinci. Kita beri nama satu-satu," ajaknya pada James. James menurut dan menggendongnya. Kami belum berani melepas Awan sendirian berjalan di tangga. "Steve, jagalah Keyla." James menepuk pundak Antonius lalu keluar dari kamar. 


"Duduklah." Aku menepuk-nepuk selimut.


"Ayo kita bicara, James," tukasku dengan tubuh yang lemas.


"Apa kau baik-baik saja, Key?" tanya pria itu dengan tubuh condong ke arahku. Reflek aku menutup hidung. Lalu kami tertawa secara bersamaan. "Aku tidak mengira membersihkan kandang kelinci begitu merepotkan. Apalagi jumlahnya lima ekor." Aku tertawa kecil. "Bukan kandang, Antonius. Tetapi rumah. Meskipun aku tidak suka memelihara binatang, aku ingin Awan memperlakukan peliharaannya seperti manusia. Mengajaknya bicara, bermain, memberi makan dan menyayanginya."


"Baiklah. Terima kasih karena telah membesarkan anak kita dengan baik." Hatiku tiba-tiba terenyuh mendengarnya. Antonius benar, bagaimanapun dia adalah anaknya. Darah dagingnya.


"Berterima kasihlah pada James. Selama ini dia telah mengurus kami berdua."


"Aku akan berterima kasih padanya karena telah menyayangi anak dan istriku. Tapi tidak untuk kejadian di pesawat." Mendengar itu aku tertunduk malu dan disusupi sedikit rasa bersalah. Apakah aku menyesal? Melakukannya dengan James? Tapi sebentar lagi kan kami akan menikah.


"Tentang Anna. Sakit apa dia?" Aku memberanikan diri untuk mulai bertanya.


"Dia selalu mencoba untuk bunuh diri. Dan pertama kali dia melakukannya, saat kita berbulan madu. Aku tidak bisa mengabaikannya, Key. Dia tidak memiliki keluarga." 


Tapi kau bisa mengabaikanku. Kata-kata itu hanya muncul di hati saja. "Apa sekarang dia baik-baik saja?" Antonius menggeleng. "Ia baru beberapa hari tinggal di sini setelah keluar dari rumah sakit sejak bunuh dirinya yang terakhir. Dokter bilang mentalnya sedang tidak sehat dan dia membutuhkan orang lain untuk menjaganya."


"Dan orang itu adalah kamu?"

__ADS_1


"Key. Kumohon. Mengertilah."


Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Tak penting lagi buatku. Orang itu Antonius atau bukan, tak masalah buatku. Benarkah tak masalah?


__ADS_2