
"Belum pergi?" tanya Keyla saat keluar dari kamar Awan dan mendapati suaminya masih berdiri di pinggir pintu dengan wajah yang ditekuk.
"Bersiap-siaplah. Temani aku menemui Ammy."
Keyla terbelalak kaget. Ia tak menyangka bahwa Darrel akan memintanya menemani suaminya untuk bertemu dengan mantan kekasihnya. "Aku lelah. Aku ingin beristirahat." Ia melangkahkan kaki. Melewati Darrel. Sebisa mungkin, ia ingin mengindari Darrel. Paling tidak, itulah satu-satunya cara agar dia tak menangis.
"Key ... please. Ikutlah denganku. Aku tak bisa memutuskan persoalan ini sendiri. Kau harus membantuku." Dia menarik tangan Keyla namun ditepis oleh Keyla. Tenangkan dirimu Key ... selesaikanlah masalah ini dengan cara yang dewasa.
"Kamu bertemu dengan Ammy sebelum kamu bertemu denganku. Aku tak akan sepenuhnya menyalahkanmu."
"Shut up! Ikut denganku atau aku akan memaksamu?"
"Antonius ... kontrol suaramu. Anak-anak di rumah. Oke?!"
__ADS_1
"Oke!" Darrel membalas dengan suara yang hampir membuat Keyla jantungan. Terdengar tegas dan sangat serius. Darrel lalu mengangkat tubuh Keyla tanpa aba-aba. "Hei! Let me down!" Keyla meronta. Memukul dada suaminya namun lelaki itu tak berkutik. Ia terus saja melangkah tanpa menghiraukan Keyla yang sedang marah.
"Never!" Darrel terus berjalan ke arah pintu apartemen Keyla dan menyusuri lorong menuju apartemen miliknya.
"Turunkan! Malu dilihat orang!" Keyla mencubit dada Darrel dengan gemas namun lelaki itu hanya diam. Dia tak ingin lagi kehilangan Keyla untuk kedua kalinya. Apapun caranya, ia harus bisa menyelamatkan rumah tangganya.
Darrel menekan nomor pada pintu apartemennya. Setelah pintu terbuka, ia menendang pintu agar tertutup. Lelaki itu masuk ke dalam dan melemparkan tubuh istrinya di atas sofa dengan kasar. Untung saja sofa itu berbahan lembut dan empuk. Kalau tidak, mungkin saat ini tulang ekornya sudah bermasalah.
"Hei! Jangan kasar!" Keyla mengaduh. Memegangi pantatnya. Memeriksa dengan teliti apakah ada yang penyok? Meskipun ia tak pernah melakukan operasi plastik, tapi bagian bokongnya adalah salah satu aset yang berharga miliknya. Lekukan tubuhnya tak akan terlihat indah jika pantatnya tepos.
"Antonius! Kamu tak lagi muda. Jaga sikapmu! Kalau kamu ingin melakukannya, kamu harus melakukannya dengan lembut dan dengan persetujuanku."
"Kau yang akan membuktikan sendiri aku masih muda atau tidak. Kau istriku yang sah. Aku tak perlu persetujuanmu jika ingin menyentuhmu." Darrel membalas lalu melemparkan kemejanya ke sembarang arah. Ia mendekati Keyla. Memegang bahunya dengan sangat erat hingga perempuan itu mengernyit kesakitan. Didaratkannya sebuah ciuman di bibir Keyla yang kemerahan. Ciuman yang kasar dan dengan perasaan marah.
__ADS_1
Keyla berusaha keras mendorong tubuh Darrel. Lelaki itu memang suaminya, tapi bukan berarti bisa berbuat kasar padanya. "Egois! Kamu selalu egois! Melakukan apapun semaumu."
"Aku memang egois. Tapi, bukankah karena keegoisanku kau mencintaiku!" teriak Darrel hampir saja memecahkan gendang telinga istrinya. Hei! Harusnya aku yang marah karena suamiku menghamili wanita lain!
"Kamu terlalu tinggi menilai dirimu sendiri!" Keyla bediri dari sofa, baru mulai melangkah Darrel menarik tangannya hingga membuat tubuhnya jatuh di pelukan Darrel. "Lepaskan, Antonius!" Keyla berusaha melepaskan diri tapi justru Darrel makin memeluknya dengan erat. "Don't move, please. Aku harus bagaimana agar kau tak lagi menghindari ku?" Suara Darrel berubah menjadi pelan dan gemetar. Jauh di dalam hatinya ia merasa ketakutan. Bukan karena Ammy. Ia takut Keyla yang saat ini adalah mimpi baginya yang bisa musnah kapan saja saat ia terbangun dari tidur lelapnya. Keyla menoleh ke belakang dan mendapati suaminya menitikkan air mata.
"Antonius ...." Belum sempat Keyla meneruskan kalimatnya, bibir itu telah dikunci oleh Darrel menggunakan bibir dan lidahnya. Perlahan ... ciuman itu merambah turun ke leher Keyla yang jenjang. "Tunggu." Keyla mengintrupsi. Memegang lalu mengangkat wajah Darrel menggunakan kedua tangannya. "Stop crying," ucapnya sambil mengecup kedua mata suaminya yang masih basah. Ditelusuri wajahnya menggunakan bibirnya yang lembut dan kemerahan. "Key ... apapun yang terjadi, tetaplah disampingku."
"Yes, I will ...."
Benar kata orang ... jika perempuan menangis, maka hal itu sudah biasa dikarenakan kelembutan hatinya. Namun jika pria menangis, ia mempertaruhkan hati dan hidupnya untuk hal yang ditangisi.
"Aku mencintaimu, Key ...." Darrel berkata lembut kemudian memeluknya. "Berjanjilah kau tak akan lari ...."
__ADS_1
"Hmmmm." Keyla mengelus punggung suaminya. Ia merasa sedikit bersalah karena tak pernah melihat lelaki itu serapuh seperti sekarang ini.