
Keyla mengerjapkan matanya, mengedarkan pandangan mencari sosok Darrel yang semalam tidur dengannya. Dia tak ada di ranjang. Tidak ada juga di kursi rotan yang menjadi singgasananya. Laptopnya masih terabai di sana.
"Sayang ... apa kamu sedang di kamar mandi?" Tak ada jawaban. Keyla memutuskan untuk bangun. Dijuntaikannya kaki ke bawah lalu mulai berjalan menjauh dari tepian ranjang menuju kamar mandi. Tak ada seorang pun di dalam. Keyla menyapu wajahnya dengan air dan mengeringkan menggunakan tisu yang tergantung di sebelah wastafel. Dia memandang dirinya sendiri di cermin, wajahnya cukup segar meski masih sedikit mengantuk. Disisirnya rambut yang tergerai itu menggunakan jari tangan dan membuang rambut-rambut rontok ke dalam tempat sampah.
Keyla menuruni tangga dan menangkap sosok Darrel yang tidur di sofa. Perlahan ia mendekat dan berjongkok. Dilihatnya wajah Darrel lekat-lekat, entah kapan terakhir kali pria itu mencukur bulu-bulu di wajahnya. Alisnya terlihat tebal seperti ulat bulu yang sedang menempel di dahinya.
Bagaimana kamu bisa setampan ini meski dalam keadaan tidur?
Perempuan yang masih mengenakan baju tidur itu mendekatkan bibirnya pada Darrel. Menyentuh bibirnya dan memasukkan ke dalam mulutnya yang basah dan hangat. Darrel mengerang dan membuka matanya perlahan. "Kau sudah bangun sayang?" Darrel melingkarkan tangan kanannya di leher Keyla.
"Hmmmm. Kenapa kamu tidur di sini? Sudah bosankah denganku?"
Darrel melepaskan tangannya dan memposisikan tubuhnya ke posisi duduk. Ia lalu mengangkat tubuh Keyla dan meletakkannya di pangkuan. Perempuan itu menggeser tubuh dan kakinya. Dilingkarkan kakinya mengapit pinggang pria yang sejak tadi menatap matanya, "Sepertinya aku tidur sambil berjalan."
"Bohong!" balas wanita merangkulkan tangannya di leher Darrel.
"Tidak takutkah kau jika tiba-tiba anak kita melihat?" tanya Darrel dan Keyla menempelkan hidungnya pada hidung Darrel yang panjang dan tinggi.
"Jam berapa sekarang?" Darrel lanjut bertanya.
"Pukul 05:00."
Darrel pun berdiri dari sofa. Sementara Keyla mengunci kakinya rapat di pinggang seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. "Kau seperti anak Kanguru, Key."
"Dan kamu induk Kanguru!"
"Berpeganglah erat atau kau akan jatuh!" Darrel mulai melangkahkan kaki, menaiki tangga untuk menuju kamar.
Tapi, alih-alih Darrel berjalan cepat. Ia justru memperlambat langkahnya agar bisa berbicara dengan Keyla saat menapaki tangga.
"Kamu tak perlu mengajariku Tn. Antonius. Aku adalah anak Kanguru yang paling pintar."
"Aku ragu." Darrel tertawa mengejek.
"Apa kamu bukti?"
"Apa yang mau kau buktikan?"
"Bahwa aku anak Kanguru yang pintar!" Keyla mencium leher Darrel dan menggigitnya dengan gigi.
"Kau memang anak Kanguru yang pintar!" Keyla tak membalas dan malah menjilati kulit leher Darrel yang kecoklatan dengan lidahnya yang basah, kasar dan hangat. Darrel mengeluarkan suara erangan dan mencengkeram bokong Keyla yang padat dan bulat.
"Apa yang sedang dilakukan induk Kanguru? Aku merasakan sesuatu makin merangkak naik."
"Mungkin sedang lapar," jawabnya sambil meletakkan tubuh Keyla di atas ranjang. "Dan inilah makanannya!"
_______🗼🗼🗼🗼🗼_______
"Key ...?" Darrel mengeratkan pelukannya pada Keyla yang terbujur lemas di sampingnya. Tubuhnya masih basah dan napasnya belum teratur.
"Hmmm?"
"Apa kau menyukainya? Yang barusan?"
"Ya. Kamu membuatku tak pernah cukup. Aku takut kamu akan menganggapku perempuan yang rakus." Napas Keyla terasa hangat di dada Darrel yang basah karena berkeringat. Jantungnya masih berdebar dengan sangat kencang.
"Aku justru takut kalau kau bosan." Suara Darrel lemah. Benar-benar merasa takut.
"Aku tak akan bosan." Keyla menggeleng.
"Dulu ... saat bersama James, aku selalu membayangkanmu. James kuat. Tapi tak sekuat dirimu."
__ADS_1
"Ssssttt. Jangan berbicara tentang lelaki lain di depanku."
"Cemburu?"
"Hmmmm."
"Antonius?"
"Hmmmm?"
"Maafkan aku membuatmu menunggu." Keyla menurunkan tangannya dari dada Darrel dan menyusuri kulit pria itu yang tertutupi oleh selimut. Semakin ke bawah ke tempat di mana ada seseuatu yang menusuk perutnya.
"Aku akan sabar," jawabnya mulah terengah saat jemari Keyla mengelus bukti kejantanannya naik turun.
"Benarkah? Aku tak percaya! Aku merasakan ada yang tak benar di sini," goda Keyla ketika mendapati ujungnya sedikit basah.
"Kau harus memarahinya. Ia tak pernah menurut padaku." Dan Kela benar-benar memarahinya. Dengan tangannya, bibirnya, mulutnya, hingga Darrel terkulai lemas sekali lagi.
______🗼🗼🗼🗼🗼______
"Bisakah kamu membantuku membangunkan Awan?" teriak Keyla dari dapur pada Darrel yang memangku laptopnya di sofa. Pukul 06:00 pagi, hari Senin, tak bisa Keyla hindari lagi. Ia akan memulai lagi kesibukannya di dapur saat bangun tidur.
Darrel menaruh laptopnya di meja dan beranjak dari sofa.
"Junior? Apa kau sudah bangun?" Darrel mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada balasan. Ia pun memutuskan untuk menerobos masuk. Rupanya Awan masih tidur. Ia tak bisa menyalahkannya. Bocah itu pasti kelelahan setelah menghabiskan waktu bersama orang tuanya.
"Junior ... bangunlah. Kau harus pergi ke sekolah," katanya lagi memencet saklar yang terletak di samping pintu.
"Hooooaaammm ...." Awan bangun setelah mendengar suara seseorang mengoceh.
"Oke. Terima kasih," jawabnya singkat dan berjalan ke kamar mandi.
_____🗼🗼🗼🗼🗼____
"Tidak akan mempan! Dia akan bangun jika ada yang membangunkannya atau Bintang tiba-tiba menangis!"
"Semacam alarm alami?"
"Bisa dikatakan begitu."
"Bagaimana dengan Bintang? Perlukah kubangunkan?"
"Tidak perlu. Dia belum sekolah! Ini kopimu!" Keyla menaruh kopi di depan Darrel. "Apa kamu lapar?"
"Belum." Darrel menyesap kopinya dan berjalan ke arah meja makan dan mendudukkan dirinya di kursi.
"Kau terlihat sibuk."
"Tidak. Sudah selesai!" Keyla berjalan ke arah meja makan sambil membawa nampan berisi semangkuk scramble egg, mayonaise, saus sambal dan juga roti yang siap dipanggang.
Keyla mengeluarkan dua potong roti dari dalam plastik dan diletakkan ke dalam pemanggang yang terbagi menjadi dua bagian. Ia lalu menaruh scramble egg di atas roti, menaruh mayonaise dan saus di atasnya lalu menumpuknya lagi dengan roti. Setelah selesai, Keyla menutup pemanggang dan menunggunya hingga matang.
"Good morning, Darling!" sapa Keyla begitu mendapati sosok Awan. "Kemarilah. Duduk di sebelah Papamu." Awan menurut. Menggeser kursi dan mendudukinya.
"Susu coklat atau putih?"
"Coklat."
Keyla berjalan ke arah kulkas. Mengambil sekotak susu coklat dan menuangkan ke dalam gelas lalu menaruh kembali kotak susu ke dalam kulkas.
"Minumlah, sayang. Pelan-pelan." Keyla menaruhnya di depan Awan dan ia segera meminumnya.
__ADS_1
Roti panggang telah siap. Lampu otomatis yang ada di pemanggang yang tadinya merah telah menjadi hijau. Ia membuka pemanggang berwarna hitam itu kemudian menjapit roti menggunakan tong dan menaruhnya di atas dua piring. Satu untuk Darrel dan satunya untuk Awan.
"Makanlah, sayang," katanya saat menaruh roti di depan anaknya. "Aku tahu kamu belum lapar. Tapi, kamu harus memakannya," katanya lagi ketika menaruh roti di depan Darrel dengan nada setengah memaksa.
"Bagaimana dengamu?" tanya Darrel saat melihat Keyla tidak kebagian roti karena dia hanya membuat dua.
"Tenanglah. Mama masih memiliki semangkuk scramble egg!" sahut Awan dengan mulut yang penuh.
"Benar kata anakmu!" Keyla menimpali.
"Apa kau suka roti?" Obrolan antara papa dan anak dimulai.
"Tidak terlalu suka."
"Kenapa kau memakannya?"
"Karena hanya ada ini."
"Apa yang kau suka?"
"Apa saja."
"Bukankah kau tak suka roti?"
"Aku suka. Tapi tidak begitu."
"Minuman apa yang kau suka?"
"Yang bisa diminum."
Keyla menarik napas dalam dalam-dalam mendengar obrolan dua lelaki di depannya. Yang tadinya tidak lapar, tiba-tiba ingin meghabiskan telur yang dicampur dengan susu, sedikit keju parmesan, garam, dan menggorengnya dengan butter lalu diorak-arik yang ada di hadapannya.
"Bagaimana dengan soda?"
"Istrimu melarangku meminumnya."
"Tapi kau suka?"
"Aku tak pernah meminumnya."
"Lalu apa minuman kesukaanmu?"
"Sesuatu yang cair, bisa diminum dan tidak dilarang oleh orang yang kupanggil mama."
Keyla dan Darrel berpandangan. Seolah-olah mereka sedang bertelepati.
"*Ngidam apa saat kau hamil?"
"Tidak ngidam apa-apa. Sudah kubilang ia menurunimu!"
"Dulu dia tidak begitu!"
"Tapi sekarang dia begitu*!
"Apa kalian sedang bertelepati? Membicaranku?" tanya Awan yang membuat Darrel dan Keyla seketika tersedak.
"Minumlah. Kalian bukan anak kecil lagi," katanya untuk terakhir kali sebelum meninggalkan meja makan dan mengambil tasnya di sofa lalu berjalan menuju pintu.
"Hati-hati, sayang! Semoga harimu menyenangkan!" teriak Keyla dan Awan pun menghilang dibalik pintu. Keyla menghela napas panjang. "Anak itu ... semakin hari semakin kaku. Apakah akan ada gadis yang tertarik padanya?"
"Kau berpikir terlalu jauh, sayang. Tapi untuk bagian 'kaku' nya, aku setuju denganmu."
__ADS_1
"Huuffft. Anak itu ... kadang-kadang membuatku ngeri. Gadis yang menjadi istrinya harus ekstra sabar." Lagi-lagi Keyla membicarakan sesuatu yang terlalu jauh. Masih lama, Key! Masih lama!
______🗼🗼🗼🗼🗼_______