Happy Ending

Happy Ending
My Ex My Friend


__ADS_3

Kubanting tubuhku ke tempat tidur. Masih kurasakan napas Antonius yang memburu tepat di depan telingaku. Rasanya campur aduk dan yang jelas aku marah.


 


 


Ponselku berbunyi. Ada pesan masuk. Kuambil dari dalam tas dan ada seorang nama yang kukenal tertulis di layar. Bima.


 


 


"Beib? Lagi dmn? Aku datang ke rumah katanya kamu gk ada?"


 


 


Aku membalas pesan Bima dengan buru-buru karena aku tak suka orang lain menunggu balasan pesan dariku. Dan aku juga tidak suka menunggu balasan pesan dari orang lain. Kalau kita membenci sesuatu hal itu terjadi pada kita, kenapa kita melakukannya pada orang lain. Iya, kan?


 


 


Setelah menuliskan alamat rumah Antonius , Bima berkata dia datang besok pagi.


 


 


"Siap, Beib! Mau dibawakan nasi uduk?" balasnya lagi. Aku menjawab dengan singkat. Oke!


 


 


Selama lima tahun pacaran, kami memang sering putus nyambung putus nyambung. Jadi, tidak heran jika Bima menghubungiku lebih dulu. Mula-mula ia akan bilang bahwa dia kesepian tanpaku, seanjutnya, Bima akan berkata kalau tidak bisa hidup tanpaku. Setelah merasa iba, biasanya aku tak tega untuk menolak. Dan setelah itu kami akan ribut kembali dengan topik yang selalu sama. Pernikahan.


 


 


Ya, di usiaku sekarang aku ingin menikah meskipun sering bilang tidak kepada mama dan papa. Terkadang, di acara reuni aku merasa berbeda sendiri karena yang lain membawa momongan dan pasangannya. Sementara, Bima masih ingin bermain-main.


 


 


Kelebihan Bima yang kusukai dalah meskipun dia bukan tipe romantis, dan dompetnya tipis, tapi dia bukan play boy.


 


 


Bima juga selalu meladeni pertanyaan-pertanyaanku bahkan yang tidak penting sekalipun. Secara garis besar, kami tidak seperti orang pacaran. Kami hanya terbiasa bersama dan akan merasa ada yang kurang jika terpisah.


 


 


Tok tok tok ....


 


 


Bunyi pintu diketuk. Tiga kali. Pelan dan terdengar hati-hati. Sosok Antonius melewati pintu dengan enggan. Buat apa mengetuk pintu? Ini kan rumahnya?! Dia bisa masuk sesuka hati. Lagipula ketika mencumbuku tadi ia tak permisi lebih dulu. Gerutuku dalam hati yang masih merasa jengkel.


 


 


Aku berpaling dengan kasar. Lebih memilih menghadap tembok daripada melihat wajahnya. Meskipun aku sempat menangkap sekilas matanya sayu bercampur penyesalan, aku tak peduli. Masa bodo!


 


 


Kami saling diam untuk beberapa saat sebelum Antonius mulai berbaring di sebelahku. Kugeser tubuhku hingga ke tepi ranjang. Aku tidak ingin bersentuhan dengannya. Dengan wanita lain saja dia bisa lembut dan tertawa seperti orang kerasukan, tapi denganku kasar dan acuh.


 


 


Kutarik selimut berwarna pink muda itu ke arahku. Aku tak ingin tidur satu selimut dengannya.


 


 


"I'm sorry." Dia menyentuh pundakku dan mengecupnya dengan lembut. Aku pura-pura tertidur dan tak mendengarnya. Tapi sayangnya aku tak bisa berpura-pura bahwa dadaku berdesir karenanya. Sial! Marahku mereda.


 


 


"Maukah kau memaafkanku?" bisiknya lembut. Dan aku tetap diam. Bukan karena marah tapi aku takut tak bisa menahan diri.


 


 


 


 


*****


 


 


Seperti biasa Antonius selalu bangun ketika aku masih terlelap. Dan tempat favoritnya adalah sofa di samping tidur. Tak lupa laptop ada di pangkuannya, dan kali ini ditemani secangkir kopi. Aku bisa mencium aromanya yang kuat. Kopi yang baru digiling kemudian diseduh dengan air panas. Dan tanpa sadar aku berbalik ke arahnya.


 


 


Kami berpandangan. Sekilas namun membuat jantungku berdebar. Baru kali ini merasakan hal yang tak biasa. Saat berpacaran dengan Bima, aku tak merasakan apa-apa saat menatap matanya atau ketika kami berciuman. Maksudku, ketika dengan Antonius ada perasaan yang sedikit berbeda dan sulit dijelaskan.


 

__ADS_1


 


Aku bangkit dari tempat tidur. Tanpa menyapanya aku menuju kamar mandi. Setelah menyegarkan tubuhk dan berganti pakaian, aku mengoleskan pelembab di wajah. Sedikit lip balm dan tidak lupa menyemprotkan parfum.


 


 


"Temanku akan datang kemari. Aku menyuruhnya," kataku ketika keluar dari kamar mandi.


 


 


"Apakah laki-laki?" Antonius bertanya. Pelan. Dan seperti menyiratkan kecemburuan.


 


 


"Iya. Mantan kekasihku. Kami putus beberapa hari lalu."


 


 


Antonius kemudian berdiri. Pria yang hari ini mengenakan celana jins warna putih dan kemeja putih itu menarikku ke kamar mandi. Ia membuka lemari, melihat-lihat baju dan memberikannya padaku.


 


 


"Pakailah. Celana panjang lebih cocok untukmu."


 


 


"Aku ingin memakai rok mini ini. Terlihat seksi. Aku tidak peduli jika kamu tidak menyukainya."


 


 


Antonius mendekatiku. Mengambil celana model kulot dari tanganku dan tanpa aba-aba dia melingkarkan tangannya di pinggangku. Ia menurunkan resleting dan menurunkan rok berwarna hitam tersebut.


 


 


Dia kemudian berjongkok di depanku. Tepat di depan belahan antara kedua kaki.


 


 


"Masukkan kakimu," katanya sambil memegangi kakiku dan memasukkan ke lubang celana. Setelah selesai ia menaikkan celana sampai pinggang. Aku mengutuk diriku sendiri karena tidak bisa menolak. Terlebih lagi tidak bisa mengendalikan dadaku yang bergejolak.


 


 


Aku mematung, berusaha menata perasaan dan pikiranku. Sementara dia mengambil rok mini yang ada di lantai, melipatnya, dan menaruhnya kembali ke dalam lemari. Tanpa berkata apa-apa dia melangkah ke kamar. Aku mencegahnya. Memegangi ujung bajunya. Dan butuh beberapa detik untuk mengumpulkan kesadaranku kembali.


 


 


 


 


"Aku menyukainya." Ia menjawab singkat dan kembali duduk di singgasananya. Sementara aku? Sedang menekan perasaanku agar aki tak lari ke arahnya dan memeluknya kemudian bertanya, apakah kamu mencintaiku?


 


 


Ada panggilan masuk. Ringtone lagu Suran feat Dean 1+1 = 0 terdengar di seluruh kamar. Buru-buru aku mengambil ponselku di atas ranjang dan mengangkat panggilan.


 


 


"Hai, Bim? Sudah sampai mana? Di depan? Bener kok bener. Dari luar memang bukan seperti rumah yang dihuni manusia." Upssss! Antonius melirikku.


 


 


"Bentar-bentar. Aku jalan ke sana, ya."


 


 


Kumatikan teleponnya dan aku merapikan rambut serta makeupku. Baru sedikit melangkah suara pria yang sejak tadi mengawasiku membuatku berhenti. "Aku ikut," katanya seraya berdiri.


 


 


Ia berjalan di depanku. Meskipun ketampanannya tidak terbantahkan, sifatnya yang menjengkelkan pun tidak kalah menonjol.


 


 


Antonius membuka pintu gerbang dan Bima sudah menunggu. "Hai, Beib!" Bima menyapa tanpa basa basi langsung memelukku dan cipika cipiki.


 


 


"Dari luar kayak rumah hantu. Ternyata dalamnya istana!"


 


 


Mendengar Bima bilang begitu, tanpa sadar aku pun mengiyakan dan kami tertawa bersama. Aku dan Bima berjalan beriringan di depan.

__ADS_1


 


 


Sementara Antonius di belakangdan diam-diam mengawasi kami. Meskipun wajahnya datar, tapi tidak dengan sorot matanya. Aku tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui gelagat seseorang yang sedang dilanda cemburu. Wuuu ... rasain! Emang enak?!


 


 


Kami berdua menuju dapur karena hanya di sana ada kursi dan juga meja. Tentunya selain di gazebo taman.


 


 


"Minum apa, Bim?"


 


 


"Air es aja deh! Gimana ceritanya bisa sampai sini, Beib?"


 


 


"Dijadikan sandra."


 


 


"Sandra? Sama siapa?"


 


 


"Mama dan papa."


 


 


"Terus itu siapa?" Bima menoleh ke Antonius yang sedang bersandar di tembok sambil memperhatikan kami.


 


 


"Yang punya rumah."


 


 


Sepanjang pagi aku mengobrol dengan Bima. Aku mengajaknya berkeliling taman dan memperkenalkannya pada bibi dan bapak. Sementara Antonius terus membuntuti kami. Seolah-olah dia takut kalau kami berbuat yang tidak-tidak.


 


 


"Beib! Aku kesepian gak ada kamu." Bima mengawali pembicaraan saat kami duduk di gazebo. Angin sepoi-sepoi wajah kami. Lembut dan menenangkan. Aku sangat menikmati. Udara yang segar, pemandangan yang alami, membuatku betah tinggal di rumah ini. Meskipun baru beberapa hari aku merasa bahwa aku sudah pernah tinggal di rumah ini dalam kurun waktu yang lama.


 


 


"Aku kira aku bisa hidup tanpamu. Ternyata hanya kamu yang selama ini ada di sisiku," Bima melanjutkan. Matanya sayu, dan wajah mulusnya yang habis dicukur membuatnya seperti anak remaja. Baby face.


 


 


Sikapnya yang masih kekanakan yang dulu aku pernah menyukainya dan selalu ingin kembali padanya saat berpisah. Tapi sekarang, perasaan yang kumiliki tidak lebih dari seorang teman. Benar kata orang, jatuh cinta itu mudah setelah kamu menemukan orang yang tepat. Orang yang mampu membuat jantungmu berdebar dan merasakan kecemburuan.


 


 


"Bim?"


 


 


"Iya."


 


 


"Ingat gak saat pertama kali kita tidur bersama? Saat itu kamu bilang bahwa **** adalah bentuk dari cinta. Ketika kita bercinta dengan seseorang, kita akan semakin tahu bahwa kita memang mencintai orang itu. Kamu salah, Bim. Berhubungan **** bukan bentuk dari cinta. Keduanya hal yang berbeda. **** diluar pernikahan ibarat kita memakan buah orang lain yang kita belum membelinya. Dan **** setelah menikah adalah menikmati buah yang telah kita beli dan kita bisa memakannya dengan tenang tanpa ada ketakutan."


 


 


"Apa maksud kamu, Beib? Aku gak ngerti."


 


 


"Maksudnya adalah apa yang kita rasakan bukan cinta. Namun sebuah hubungan yang dipaksakan karena sudah terbiasa bersama. Sekarang aku bisa membedakan, mana cinta dan mana yang hanya kebutuhan."


 


 


Kami berpelukan beberapa saat dan saling mengusap punggung. "Suatu saat, aku yakin pasti kamu akan jatuh cinta dengan gadis yang mampu membuat jantungmu berdebar-debar."


 


 


"Baiklah ... baru dua hari kita putus, kamu sudah bertambah dewasa lima tahun."


 

__ADS_1


 


"Tua, dong!" Kami tertawa bersamaan dan kulihat punggung Antonius semakin menjauh dari pandangan.


__ADS_2