
Sudah seminggu James berada di Singapore. Ia pergi ke Singapore zoo untuk memotret satwa-satwa yang ada di sana. Dia juga menyusuri setiap sudut negara yang dahulunya bagian dari Malaya tersebut. Ia tak pernah berpikir sebelumnya, jika di negara kecil seperti Singapura memiliki banyak satwa yang cantik.
James menjelajah pulau-pula demi mendapatkan foto yang bagus. Pulau Sudong, Semakau, Sister Island dan Subar Darat pun tak luput dari penjelajahannya. Ia menyukai pekerjaan yang saat ini ditekuni. Fotografer majalah satwa. Mendengar suara burung, tingkah laku hewan di alam bebas, membuat hati dan pikirannya tenang.
Di hari terakhirnya di Singapura James pergi memotret ke China Town. Di sana tak hanya menyajikan kota tua khas bangunan cina, tetapi juga street food dan juga oleh-oleh khas Singapura. Bagi pecinta Tin-tin, di deretan sebelah kiri dari pintu keluar mrt ada toko yang menjual pernak-perniknya.
James mengambil gambar apapun yang menurutnya menarik. Termasuk, seorang perempuan yang duduk sendiri sambil menikmati makan siangnya. Lama ia berdiri sambil mengambil fotonya dalam berbagai pose, satu kata yang keluar dari bibir James. Cantik. Untuk pertama kalinya dadanya berdesir dan merasa takut hanya untuk mengajaknya berkenalan. Tubuh James panas dingin ketika ia mulai mendekat dan mengajaknya bicara. "Keyla." Ketiga gadis itu menyebutkan nama Pemuda itu tersipu malu tapi tak terlihat karena dia memiliki wajah yang sangar. Terlebih saat gadis itu menceritakan kisahnya. James merasa iba, padahal ketika menabrak seekor kucing ia tak merasa bersalah. Pun ketika dia sedang sakau, di hatinya tak merasakan apapun. Tetapi dengan Keyla, ia bahkan bisa memberikan hidupnya untuk wanita yang telah bersuami itu.
****
Musim dingin di Kanada begitu menyiksa. Terlebih untuk dua orang yang kesepian. Meskipun tinggal satu atap James dan Keyla tak pernah bersentuhan. Di mata James, gadis itu seperti berlian yang tak ingin disentuhnya sembarangan. Dan untuk pertama kalinya ada wanita yang menyayangi James dengan tulus selain ibunya sendiri.
"Apa kau menyukainya, James?" tanya ibunya melalui sambungan telepon saat James bilang ia menemukan Keyla di Singapura dan membawanya pulang ke Kanada.
"Aku hanya ingin melindunginya, Ma. Tidak lebih."
"Sungguh? Apa kau merindukannya saat berjauhan?"
"Ya. Aku memikirkannya. Karena aku jarang sekali ada di rumah."
"Apa kau mengkhawatirkannya?"
"Tentu saja. Dia wanita yang rapuh dan mudah menangis."
"Itu artinya kau mencintainya, sayang." Cinta? James malu dibuatnya. Ibunya lebih menyadari perasaannya daripada dia sendiri.
"Apa Mama mau melihat fotonya?"
"Dengan senang hati, James." Suara Rossi terdengar bahagia mendapati anaknya jatuh cinta. Ia ingin James hidup normal seperti orang lain. Memiliki cinta dan juga keluarga.
"Dia cantik sekali, James," ucap Rossi ketika melihat gambar yang dikirimkan anaknya.
"Mama ingin sekali bertemu dengannya. Dia pasti gadis yang baik."
"Ya. Dan suaminya meninggalkan dia begitu saja."
"Oh! Apakah dia istri pria lain?"
"Ya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan James?"
"Aku akan tetap bersamanya. Sampai dia siap pulang ke Indonesia dan meminta cerai dari suaminya."
"Bersabarlah James. Lindungi dia. Kasihi. Jika di hatimu ada ketulusan, Tuhan akan merestui cintamu. Percayalah."
James menutup sambungan telepon. Tuhan? Apakah dia benar-benar ada? Entahlah. Ada atau tidak, James ingin Keyla bahagia. Dengannya atau tanpanya.
Kelahiran Awan membawa lembaran baru bagi kehidupannya. "Laki-laki, Key," ucap James saat wanita itu telah siuman. Keyla menitikkan air mata ketika melihat bayi yang ada ditangannya. "Terima kasih, James. Terima kasih. Tanpamu anak ini tidak akan lahir. Maukah kau memberikan nama untuknya?"
James diam sesaat. "Memberi nama? Apakah tidak apa-apa, Key?"
"Tentu saja. Selama ini kau yang merawat bayi ini ketika masih di dalam perutku. Aku tahu kau jarang di rumah, tapi kau sering meminta Erika untuk menjagaku. Kaulah yang berhak memberinya nama James."
__ADS_1
Lelaki itu memalingkan wajahnya dari Keyla. Dihapusnya pipi yang basah oleh air mata keharuan. Entah kenapa ada kehangatan di hatinya. Meskipun anak itu bukan darah dagingnya sendiri, tetapi ia ingin melindungi dan merawatnya seperti yang selama ini ia lakukan pada Keyla.
"Awan. Awan, Key. Bagaimana menurutmu?"
"Hmmm. Awan? Nama yang bagus. Aku menyukainya, James. Awan ... mulai sekarang namamu adalah Awan. Lihatlah James, dia tersenyum. Awan menyukai namanya." Hati James dipenuhi kebahagiaan. Melihat Keyla dan Awan membuatnya merasa menjadi manusia paling sempurna.
"Owww ... cup ... cup ... sayang. Jangan menangis. Apa kau mau ikut papamu? Iya? Baiklah ... biaklah ... berhentilah menangis. James, gendonglah. Sepertinya dia lebih menyukaimu." James mengambil Awan dari tangan Keyla. Dan Awan langsung berhenti menangis.
"Apa kau lebih menyukai Papamu? Aku yang melahirkanmu. Kau tahu itu kan?" Keyla menciumi putranya yang baru lahir. James yang duduk di sebelahnya hanya diam karena tak percaya dengan apa yang dia dengar. Papa? Apakah James telah menjadi seorang ayah sekarang? Bagaimana orang yang pernah direhabilitasi sepertinya bisa menjadi ayah? Apakah sebutan itu pantas untuknya? Kalimat-kalimat itu terus berseliweran di kepalanya. Ia takut tak bisa menjadi ayah yang baik bagi Awan. Namun ia juga gembira dengan status barunya. Papa.
******
Saat-saat yang James tunggu akhirnya tiba. Bertemu dengan suami Keyla.
"Apa kau dan Keyla sudah menikah?" tanya Stevan ketika mereka mengobrol di belakang rumah sambil menemani Awan yang sedang bermain kejar-kejaran bersama Bunny.
"Bagaimana bisa kami menikah jika Keyla masih memiliki suami?" James menjawab sinis.
"Hahaha. Aku lupa kalau kalian tinggal di luar negeri yang bisa tinggal serumah tanpa harus menikah. Kalian juga bisa memiliki anak sebanyak yang kalian mau." Stevan tertawa garing. Padahal di dalam hatinya ingin memukul wajah pria yang duduk di sampingnya.
"Hahaha. Aku juga lupa bahwa kau pria yang tidak bertanggung jawab dan meninggalkan istrimu begitu saja di jalanan dalam keadaan hamil. Itu sangat lucu sekali." James bertepuk tangan sambil tertawa. Jika tidak ada Keyla dan Awan di rumah ini, ia sudah melempar lelaki di sampingnya ke dasar jurang.
"Apakah Awan benar-benar anakku?"
"Kau boleh mengetesnya kalau tidak tidak percaya."
"Apakah itu artinya aku boleh membawanya pulang?"
"Tentu saja. Tapi bunuhlah aku terlebih dahulu. Kau tahu kan orangtua Keyla tak lagi menyukaimu? Kau menelantarkan Keyla begitu saja."
"Dan itu artinya kau kehilangan Awan dan Keyla untuk selama-lamanya."
Stevan berpikir keras. Ia juga tak akan bisa memaksa Keyla untuk pulang ke Indonesia.
"Apa rencanamu?" tanya Steve.
"Aku akan membawa Keyla pulang ke Indonesia. Orangtuanya memintaku agar Keyla mau tinggal di sana."
"Lalu?"
"Kami akan tinggal di tempatmu selama seminggu. Biarkan Keyla memilih. Jika dia memilihku, kau harus menceraikannya. Jika dia memilihmu, aku akan melepaskannya."
"Baiklah. Aku setuju."
*****
Ketika mendekati rumah Stevan James merasa tak asing dengan perempuan yang ada di sebelahnya. Anna? Semakin dekat James semakin yakin itu adalah Anna. Ia tak percaya selama ini yang dimaksud Keyla adalah Anna yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Dunia ini memang sempit!
Ia menggandeng Keyla yang terlihat tak senang dengan keberadaan Anna. Pria itu tahu berapa banyak Anna telah menusukkan sebuah pisau yang tajam ke dalam dadanya. Lelaki itu tak yakin Anna mengenalinya atau tidak, yang pasti perasaan James mulai tak enak melihat sorot mata itu. Penuh kebencian dan seolah-olah ingin menghilangkan Keyla dari bumi ini.
"Apa kau gila Steve? Ada wanita lain di rumah ini tapi kau tidak memberitahu. Kau tahu kan Keyla tak menyukai wanita itu?" Dua orang pria tengah mengobrol di gazebo di hari yang larut. Sementara penghuni rumah lainnya sudah berada di alam mimpinya.
"Aku harus menjaganya, James. Aku tidak bisa mengabaikannya."
__ADS_1
"Ya. Itulah dirimu. Selalu mencampur adukkan perasaanmu? Apa kau tidak mengerti juga sampai sekarang? Karena wanita itulah kau dan Keyla berpisah. Aku menyesal membawa Keyla kemari." James mendengus kesal. Ia berusaha menahan amarahnya karena tak ingin ada yang mendengar. James tak mau Keyla khawatir. Sementara pria di sebelahnya hanya hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Kalau sesuatu sampai terjadi pada Keyla dan Awan aku tidak akan menagampunimu, Steve," kata James lalu ia berdiri meninggalkan patung bernyawa itu.
Steve berjalan menaiki tangga, membuka pintu kamar Keyla. Ia sudah tidur nyenyak begitu pun Awan. Karena belum bisa tidur, James berkeliling rumah. Ia membuka satu persatu pintu di lantai dua dan memeriksa apa isinya. Ia terkesan dengan Steve, seleranya tinggi dan kaya raya.
Ketika menemukan ruang gym, tanpa permisi James langsung melepaskan kaosnya dan melatih otot-ototnya. Di rumahnya tak ada yang seperti ini dan hanya sesekali pergi ke pusat kebugaran. Itupun jarang sekali karena tugasnya setelah pulang ke rumah adalah bermain dengan kapten kecilnya dan membersihkan rumah Bunny. Sejak menjadi ayah, ia memang sangat sibuk. James menjadi lebih giat bekerja karena tidak lagi menerima sokongan dari ayahnya. Katanya, ia ingin mandiri dan menghidupi keluarganya dengan jerih payahnya sendiri. Meskipun begitu ia senang karena Keyla tak pernah menuntut. Apapun yang diberikan James, ia selalu menerimanya dengan gembira.
"Setelah kau marah padaku, kau juga menggunakan peralatan olahragaku? Cih," sindir Stevan ketika masuk ke ruang gym.
"Aku suka yang gratisan. Kau tahu kan aku tidak kaya sepertimu." James tak mau kalah dan masih lari diatas treadmil.
"Kulihat semua kamarmu kedap suara? Apa kau suka karaoke?" Giliran James menyindir pria yang sedang mengangkat burble di tangan kanannya.
"Apa kau mau mencuri sesuatu sampai membuka setiap ruangan di rumahku?"
"Ya. Siapa tahu ada bongkahan emas di dalamnya."
"Jika aku sekaya itu aku tak perlu bekerja."
"Bukankah kau pengangguran?!"
"Sialan!"
"Buat apa kau membangun rumah ini? Apa kau mau menampung setiap orang gila di rumahmu?"
"Keyla. Keyla bilang ingin sebuah kastil yang dikelilingi bunga mawar." James diam. Ia merasa kalah telak. Orang kaya sepertinya memang sulit dibantah.
"Apa kau sudah selesai?" tanya James ketika Stevan menyudahi olahraganya.
"Aku bosan berdua denganmu. Aku ingin mandi dan bekerja."
"Alright. Aku harap kau tidak diam-diam masuk ke kamar Keyla." Stevan hanya tersenyum lalu masuk ke ruang kerjanya. Sementara James masih sibuk mencoba satu persatu alat olahraga di ruangan itu. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Jarang-jarang dia berolahraga dengan tenang.
Pukul dua dini hari James baru selesai berolahraga. Ketika membuka pintu ia melihat sekelebat bayangan wanita memakai daster warna putih dari dapur. Dia terlihat memegang sebuah kotak berwarna merah lalu diletakkan di dalam lemari. Apakah ia sesosok hantu? Entahlah. Percuma badan James besar jika ternyata ia takut dengan yang namanya makhluk halus. Yang jelas ia penasaran apa yang dilakukannya. Ia bersembunyi dibalik tiang, menunggu wanita itu pergi. Dan setelah diamati bayangan itu naik ke atas tangga, menuju kamar paling ujung. Bersebrangan dengan kamar Keyla. Kamar Anna?
Setelah perempuan itu masuk, buru-buru James turun ke dapur. Ia memeriksa sesuatu yang tadi disentuh Anna. Kotak susu Awan? Cepat-cepet ia mengambil susu itu kemudian menyeduhnya dan menaruhnya di botol lalu keluar rumah mencari kucing. Biasanya di tempat seperti ini banyak kucing berkeliaran.
James menyusuri jalanan dengan pencahayaan remang-remang. Mencari kucing atau apapun yang bisa dijadikan kelinci percobaan.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya James menemukan seekor anak kucing. Tanpa tunggu lama lagi ia menangkap kucing itu dan meminumkan susu yang ia bawa. James lalu membawa kucing itu pulang dan saat diperjalanan kucing itu muntah-muntah. James kemudian lari secepatnya ke rumah dan memberikan air pada kucing itu lalu mencari pelayanan dokter hewan yang buka 24 jam.
"Sangat beruntung kucingnya cepat-cepat dibawa ke sini. Kalau tidak, bisa mati," kata dokter hewan yang kliniknya tak jauh dari rumah Stevan. "Kucing memang sering memakan jebakan racun tikus. Kalau sudah muntah dan dikasih air, biasanya bisa tertolong."
"Terima kasih, Dok. Bisakah aku titipkan kucing ini di sini? Kalau sudah sembuuh, tolong lepaskan." Setelah membayar tagihan, James naik taksi menuju ke rumah Stevan. Buru-buru ia mengambil kotak susu itu dan membuangnya ke tempat sampah. Geram, James naik ke kamar Anna.
Wanita itu meronta ketika James membekap mulutnya. "Anna, apa kau mengingatku? Patek!" Anna terus berusaha melepaskan diri. Tapi tenaga James bukanlah tandingannya. "Ingatlah ... aku selalu memperhatikanmu. Kalau sampai terjadi sesuatu pada anakku dan Keyla, kau akan membayarnya. Mengerti?" Pria itu lalu meninggalkan Anna di tempat tidur.
Keesokan harinya, Keyla terlihat bingung. Ia membuka seluruh lemari di dapur. "Sedang mencari apa, Darling?" tanya James yang baru saja sampai rumah. Tubuhnya yang berkeringat berkilauan oleh pantulan cahaya lampu. "Kotak susu Awan. Aku yakin kemarin menaruhnya di sini, James."
"Mungkin hanya perasaanmu, Key. Pasti sudah habis. Akhir-akhir ini kan kau pikun," balasnya sambil menenggak air dari dalam kulkas.
"Aku ingat sekali, James. Baiklah. Aku akan pergi ke minimarket sebelum Awan bangun." Keyla melangkahkan kaki dan menyahut dompetnya yang ada di laci. "Apa kau minimarket menggunakan celemek?"
__ADS_1
"Ya Tuhan!" Keyla buru-buru melepaskan celemek dan melipatnya. "Terima kasih, James." Keyla memberikan kecupan kecil di pipinya. Seandainya Keyla melakukan itu setiap pagi, James pasti senang bukan kepalang. Karena sampai detik ini, ia tahu kalau Keyla masih menyimpan cintanya hanya untuk Stevan. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak keberatan.