
"Fleur. Turunlah ... kita sudah sampai di rumahmu." Darrel menggandeng Fleur yang sedang mabuk dan membawanya berjalan mendekati pintu utama rumah. Tubuhnya sempoyongan dan gadis itu beraroma alkohol yang sangat kuat.
"Aku tidak mau pulang ke rumah! Aku ingin pulang ke apartemunmu!" Fleur memberontak dan menggoyangkan tubuhnya agar terlepas dari Darrel.
Meskipun dalam bahasa Prancis fleur berarti bunga, tetapi Fleur bukanlah bunga. Apalagi bunga yang indah, menawan, dan harum. Dia adalah bunga yang sudah gugur. Kalau saja tak memiliki keluarga kaya dan terpandang, barangkali ia hanya akan menjadi bunga yang terbuang. Namun karena orang tuanya memiliki kekayaan, kedudukan, Fleur adalah bunga yang dikeringkan lalu disemprot parfum untuk pengharum ruangan.
"Bibik, tolong bantu nona Fleur masuk ke kamarnya," ucapnya begitu seorang pembantu membuka pintu.
"Darrel! Bantu aku naik!" Pria itu mengacuhkannya dan pura-pura tak mendengar teriakan gadis yang dikenalnya selama empat tahun terakhir. Jika bukan karena dia berteman baik dengan orang tua Fleur, ia enggan menjadi penjaganya. Dia tidak terbiasa dengan gadis yang manja dan penganut hedonisme (pemikiran yang menganggap kesenangan kenikmatan materi sebagai tujuan hidup). Namun di sisi lain, Darrlel tak bisa mengacuhkannya begitu saja. Karena tak mendapat perhatian dari orang tuanya dan hanya mendapatkan uang dari ayah ibunya, dia menjadi tak terkendali.
Darrel melajukan mobilnya di jalanan kota Paris yang tak pernah mati. Bangunan-bangunan bersejarah, modern, menara Eiffel, Arc De Triomphe atau yang dalam bahasa Indonesia disebut gapura kemenangan, Versailes, dan juga gadis-gadis bermata biru, yang beberapa tahun ini telah menjadi temannya sehari-hari dalam menjalani kehidupan di ibu kota negara Prancis yang amat romantis.
Pria berusia empat puluh lima tahun itu menghentikan mobilnya di parkiran apartemen. Apartemen kaum elite yang akan disuguhi pemandangan indah di malam hari. Lampu-lampu kota selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan bagi para turis. Belum lagi ketika membuka jendela, menara besi (Eiffel) yang dibangun di Champ De Mars di tepi sungai Seine akan tersuguh di depan mata. Tentu saja uang yang dikeluarkan tak sedikit untuk bisa tinggal di bangunan ekslusif itu. Namun bagi Darrel, uang bukanlah masalah. Tapi, hatinya lah yang bermasalah. Kosong, mlompong di usia yang tak lagi muda.
Pintu lift terbuka dan Darrel melangkahkan kakinya melewati apartemen 1001. Dia berhenti sejenak di depan. Suara tawa anak-anak dan wanita yang beberapa jam lalu ia temui terdengar dari dalam. Sepertinya mereka mengalami jat lag. Kesusahan beradaptasi dengan tempat baru karena perbedan jam yang cukup jauh. Kota Paris memiliki perbedaan waktu delapan jam lebih lama dengan Indonesia bagian bagian barat. Jika di Indonesia sekarang pukul 12:00 siang, maka di Paris jam 04:00 dini hari.
Setelah berdiri beberapa menit di depan pintu, ia melanjutkan lagi langkahnya menuju apartemen miliknya yang berada di ujung koridor. Ia menekan kode kamar lalu pintu pun terbuka dengan sendirinya. Sesampainya di dalam, ia menjatuhkan dirinya di sofa. Dengan lampu yang dimatikan dan hanya mendapat penerangan dari lampu kota yang masuk melalui kaca jendela yang transaparan, ia membuka buku yang entah sudah berapa kali dibacanya.
Memaafkan adalah bagian dari kehidupan
Saat memaafkan orang lain, kita membuat orang lain hidup
Saat kita memafkan diri sendiri, kita akan terhindar dari kematian
Darrel menghembuskan napas lalu pergi untuk menyegarkan tubuhnya. Di usianya yang sekarang, fisiknya tak banyak perubahan. Bentuk tubuhnya terjaga dengan baik, kulit yang bersih, dan juga wajah yang digilai para gadis-gadis yang bahkan pantas menjadi anaknya. Uang memang sangat berdampak besar bagi pemiliknya. Bahkan, bisa melindungi diri dari bertambahnya usia.
Setelah selesai mandi, lelaki itu masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam.
"Halo, Pa?" ia memulai berbicara saat telepon yang ada di sebelahnya berbunyi.
"Apa kau sudah tidur?"
"Baru selesai mandi."
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik."
"Aku dan mamamu ingin ke sana."
"Tidak perlu. Aku akan mengunjungi kalian saat tidak sibuk."
"Kapan?"
"Saat aku ada waktu."
"Mama mu sudah sangat merindukanmu!"
"Terserah kalian saja," ucapnya untuk terakhir kali dengan nada ketidak sukaan sebelum mengakiri panggilan.
______🗼🗼🗼🗼🗼_______
Tok ... tok ... tok ...
__ADS_1
Di luar pintu apartemen Keyla terdengar seseorang sedang mengetuk pintu dengan sangat keras dan seolah-olah seperti debt collector yang hendak menagih hutang.
Keyla membuka matanya yang menempel antara kelopak atas dan kelopak bawahnya. Ia masih mengantuk akan tetapi penasaran siapa yang menggedor pintunya. Ia melirik jam dinding di kamarnya. Pukul 10: 00 pagi.
Perempuan itu berjalan dengan malas, tak sempat merapikan wajah dan juga mengganti baju. Biarlah. Pikir Keyla santai. Toh, di Paris, ia tak mengenal siapapun. Tak ada saudara apalagi teman. Jadi, mungkin yang ada di depan rumahnya adalah orang kesasar atau salah alamat.
"Hei! Buka pintunya! Apa kau tuli?!"
Suara perempuan?
Ragu-ragu Keyla membuka pintu. "Ada yang bisa aku ban ...?" Belum selesai Keyla berbicara, wanita di depannya melempar es krim padanya.
"Awww! Apa-apaan ini? Apakah kita saling kenal? Apakah aku pernah berbuat salah padamu?" tanya Keyla kaget. Ia tak merasa kenal dengan wanita muda yang ada di depannya.
"Kau orang tua anak yang kemarin mengotori sepatuku, kan?! Jangan mengelak! Aku sudah bertanya pada penjaga bahwa dia anakmu!"
"Tolong bicaralah pelan-pelan. Anakku masih tidur." Keyla berbicara setenang mungkin agar Fleur tak makin menjadi. Tapi, ternyata dugaannya salah. Fleur tak mempan terhadap sikap lemah lembut.
"Aku tidak peduli! Kau harus mengganti sepatunya!" Fleur melemparkan sepatunya ke arah Keyla. Dia mengaduh dan sepatu itu berserakan di lantai karena Fleur melemparkannya sekuat tenaga.
"Aku akan menggantinya. Tapi, tolong tenangkanlah dirimu. Aku tidak mau anak-anakku terbangun. Mereka sedang kelelahan," jawab Keyla dengan nada setengah memelas. Ia tak mau Awan terbangun. Terakhir kali ada salah seorang temannya yang berkata bahwa ibunya adalah janda perebut suami orang, dia menghajar anak itu hingga babak belur.
Tentu saja yang dikatakan temannya itu tidak murni dari pemikirannya sendiri. Melainkan dari ibunya yang cemburu buta pada Keyla yang jika dibandingkan, seperti bumi dan langit. Keyla yang setelah memiliki dua anak tetap memiliki pinggul ramping dan justru beberapa bagian tubuhnya makin padat dan terlihat menonjol, membuat beberapa ayah wali murid berbondong-bondong datang ke sekolah saat ada acara undangan orang tua. Dan yang namanya lelaki, sangat wajar jika mereka ngiler dan takjub melihat yang segar-segar. Apalagi, jika istri-istri mereka di rumah sudah layu. Layu karena pemiliknya lebih menyukai rumput tetangga yang lebih hijau. Padahal, bisa saja itu rumput palsu yang terbuat dari plastik!
"Aku tidak peduli! Aku akan menunggu di sini sampai kau mengganti sepatuku!" teriak Fleur hingga beberapa tetangga keluar dan melihat apa yang terjadi karena mereka merasa terganggu.
Pintu lift terbuka dan Darrel yang tubuhnya masih dipenuhi keringat selepas olahraga, kaget saat melihat Fleur ada di depan pintu apartemen milik Keyla. Ia juga terlihat malu saat beberapa tetangga memperhatikan dua wanita itu.
"Sayang ...." Fleur mendekati Darrel memeluk tubuhnya yang kekar.
"Maafkan Fleur karena telah mengganggumu," ucapnya pada Keyla.
"Maafkan kami karena telah mengganggu kalian! Tolong maafkan!" lanjut Darrel sambil membungkuk ke arah beberapa tetangga yang berdiri di depan pintu masing-masing. Karena tak mau memperpanjang masalah atau ribut-ribut akan sesuatu hal yang tidak penting, mereka memutuskan masuk dan berpikir bahwa apa yang terjadi itu adalah masalah keluarga.
"Sayang, kenapa kamu minta maaf pada mereka?" tanya Fleur dengan nada manja yang membuat lelaki itu terkena serangan migrain seketika.
"Ayo biar kuantar kau ke bawah. Bikin malu saja!" jawabnya dengan jengkel lalu menyeret gadis itu masuk ke dalam lift dan menuju tempat parkir. Di sana, sudah ada sopir keluarga Fleur yang nenunggu.
"David. Bawalah nonamu pulang!" Darrel memasukkan tubuh Fleur ke dalam mobil secara paksa. Lalu David pun mengikuti instruksinya. Dengan cepat pria itu kembali ke apartemen Keyla yang ternyata masih ada di depan pintu.
"Tolong maafkanlah Fleur karena sudah membuat kekacauan," ucapnya sungguh-sungguh
"Tidak perlu minta maaf. Aku akan mengganti sepatunya. Apartemenmu yang nomor berapa? Aku akan mengantarkannya padamu setelah membelinya," balas Keyla sungguh-sungguh sambil mengambil sepatu yang tegeletak di lantai. Lagipula, Keyla memang sengaja menunggu Darrel di depan pintu karena memiliki firasat bahwa lelaki itu hanya mengantar Fleur sampai tempat parkir saja.
Saat perempuan itu membungkuk untuk mengambil sepatu, tidak sengaja mata Darrel melihat sepasang permata Keyla yang terlihat bulat, besar, seperti akan terjatuh. Pria itu berpikir bahwa Keyla tak pernah mengenakan bra saat tidur. Dan seketika itu dada Darrel berdetak kencang seolah mau copot. Ingin rasanya ia menutup mata tetapi pemandangan itu terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Dia tahu itu bukan pertama kalinya melihat payudara wanita yang tidak jarang pemiliknya merombak sedemikian rupa melalui operasi atau suntik botox agar bentuknya lebih seksi dari sebelumya. Namun menurutnya, milik Keyla sangatlah berbeda. Terlihat monthok, kenyal, dan bulatan kecil yang ada ditengahnya pun lebih menonjol dan menggoda. Ditambah dengan wajahnya yang polos selepas bangun tidur namun tetap cantik dan berseri.
"Tidak usah. Aku akan membelikannya yang baru. Oh, ya. Yang mana apartemenmu?"
"Paling ujung." Jari telunjuk Darrel menunjuk apartemennya.
"Baiklah. Aku akan mengunjungimu saat sudah membeli sepatunya. Maaf sudah membuat kekasihmu marah," kata Keyla lagi sebelum menutup pintunya. Untung saja kemarin Bintang cerita kalau ia menumpahkan es krim saat menabrak seorang wanita. Jadi, meskipun sedikit kaget dengan kedatangan Fleur yang tiba-tiba, ia cukup mengerti saat gadis muda itu menyinggung soal sepatu.
_________🗼🗼🗼🗼🗼_______
__ADS_1
"Sejak kapan kita makan siang dengan roti, Ma?" gerutu Awan yang masih mengantuk. Tubuhnya terasa pegal dan rasanya ia ingin tidur lebih lama.
"Sejak kamu baru bangun jam tiga sore," balas Keyla meletakkan coklat panas di depan Awan dan coklat dingin untuk Bintang.
"Beberapa jam lagi kita akan makan malam. Mama gak mau anak Mama sakit perut karena makan berat saat baru bangun tidur."
"Semua ini salah perbedaan waktu di negara kita dan di sini yang terlalu jauh. Tubuhku sudah terbiasa bangun jam tujuh pagi. Jadi, memang seharusnya aku bangun jam tiga sore saat di Paris."
"Huffft. Kamu harus belajar menyesuaikan tubuhmu, sayang. Habiskan sarapan kalian, setelah itu mandi. Bintang mau mandi sendiri atau dimandikan?"
"Mandi sendiri. Binbin bukan anak kecil," jawabnya dengan menggigit roti tawar yang diolesi dengan selai kacang dan coklat.
Setelah menyiapkan sarapan atau lebih tepatnya camilan sore untuk anak-anaknya, Keyla membuka laptop yang diletakkan di meja. Ia lalu mengetik sebuah merek sepatu di mesin pencarian.
What? 50 juta? Keyla dibuat melongo oleh harga yang tertera. Dia sendiri bahkan tidak tahu kapan terakhir kali membeli sepatu baru. Dan itu pun Keyla tak akan membeli jika harganya di atas 500 ribu. Perempuan itu sangat ekstra hati-hati dalam mengeluarkan uang. Meskipun kedua mertuanya menanggung biaya hidup dan juga pendidikan kedua buah hatinya, Keyla tak mau berleha-leha tanpa menghasilkan uang sepeser pun.
Tapi, bagaimana pun juga ia harus mengganti sepatu yang sebenarnya tidak apa-apa. Hew ... tidak ada cacat atau pun lecet pada pada sepada Fleur. Masih mulus lus luuussss ... tanpa noda sedikit pun. Namun, mau gimana lagi? Keyla sudah berjanji akan menggantinya.
Dia pun akhirnya mengklik gambar sepatu dari website aslinya. Menulis ukuran dan warna yang sama. Setelah melakukan pembayaran, ia pun cukup lega dan agak stress karena untuk sepasang sepatu, Keyla harus mengambil tabungan pribadinya yang dikumpulkan dengan susah payah.
__________🗼🗼🗼🗼🗼_________
"Sayang, apa kau mau keluar makan malam?" tanya Fleur melalui sambungan telepon namun diacuhkan Darrel yang lebih memilih mengerjakan tugasnya di depan komputer.
"Sayang? Kenapa kau marah padaku? Apakah karena sepatu itu?"
"Hei! Jawablah aku! Jika tidak, aku akan menyusul ke apartemenmu!"
"Aku sedang sibuk hari ini. Lain kali saja kita makan. Dan berhentilah memanggilku sayang. Kau seharusnya memanggilku Om."
"Aku ingin menikah denganmu! Ayah saja tidak masalah, kok!"
"Fleur, carilah pria yang seumuran denganmu."
"Eh, kenapa kau jadi berubah, sih? Tiba-tiba membahas soal ini? Jangan-jangan ... kau tertarik dengan wanita lain?"
Darrel menghentikan jemarinya yang mengetik di atas keyboard. Ia menarik napas dalam-dalam lalu berkata pada Fleur,"Aku sedang sibuk. Kita bicara lain kali saja. Oke?!"
Pria itu pun mematikan ponselnya dan menekan-nekan alisnya yang pegal. Gadis itu, tak pernah membuat hari-harinya tenang. Dan di tempat lain, ada seseorang yang membuat hatinya tidak tenang dan diliputi kegelisahan.
_______🗼🗼🗼🗼🗼_______
Suara bel berbunyi. Sesegera mungkin Darrel berjalan ke arah pintu dan melihat ke arah monitor. Melihat siapa yang datang, pria itu jadi salah tingkah dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Masuklah," katanya dengan singkat, padat dan jelas tanpa basa-basi saat membuka pintu.
"Tidak perlu, terima kasih. Apa kamu sudah makan malam? Datanglah ke tempatku untuk makan malam bersama."
"Terima kasih untuk undangannya. Aku baru selesai makan," jawabnya dengan amat meyakinkan padahal sejak tadi ia hanya disibukkan dengan pekerjaan.
"Baiklah kalau begitu. Maaf karena telah mengganggu."
"Tidak apa-apa." Darrel lalu menutup pintu sementara Keyla bertanya-tanya pada pikirannya sendiri. Benarkah dia bukan Antonius? Lalu kenapa hatinya merasa dia adalah pria yang dikenalnya. Cara bicaranya memang dingin, tak berani melakukan kontak mata secara langsung seolah-olah dia menghindari Keyla.
__ADS_1