
"Apa kamu pernah mencoba ini sebelumya?" tanyaku pada Antonius. Kami sedang makan malam di sebuah kedai mi rebus di salah satu kopitiam sudut Singapore. Meskipun namanya mi rebus, rasa, teksture dan tampilannya sangat berbeda dengan mi rebus yang ada di Indonesia. Kuahnya kental dan kekuningan, rasanya terlalu manis di lidahku, mi nya sendiri memakai mi hokien dan ada taburan cabe hijau mentah, tahu, udang rebus, serta telur rebus dan taburan bawang goreng. Aku tidak bilang rasanya buruk, hanya saja kurang cocok di lidahku dan aku yakin rasa ini akan asing di lidah kebanyakan orang Indonesia.
Antonius menggeleng. Wajahnya terlihat enggan, kesal, dan banyak pikiran. Entah apa yang ada di kepala pria itu. "Apa kamu ingin mencoba makanan lain setelah ini?" Aku bertanya sehalus mungkin. Menekan rasa kekesalanku Dan Antonius hanya menggeleng lagi. Apakah ia sedang bisu sehingga tak bisa bicara?
Aku tahu dia tidak suka makanan yang tidak sehat. Maksudku, makanan yang mengandung karbohidrat. Ia lebih suka makan sayur atau ayam rebus. Toh di lidahnya semua makanan terasa sama dilidahnya. Hambar. Tapi, tak ada salahnya mencoba makanan lain yang belum pernah ia makan sebelumnya. Iya, kan?
Setelah selesai makan kami kembali ke hotel dan memilih naik taksi. Antonius masih anti dengan yang namanya keramaian, dan untuk mengajaknya ke sini aku memaksanya dengan berbagai cara.
"Tidurlah," Antonius yang terlihat kesal merebahkan dirinya di sofa. Aku mendengus. Apa bedanya bulan madu di luar negeri dan di rumah? Seharusnya saat ini kita berkeliling.
__ADS_1
Aku mengganti pakaianku dan memilih menyembunyikan tubuhku dibalik selimut sambil berselancar di media sosial.
"Aku harus kembali ke Indonesia," celetuk Antonius. Sontak aku bangkit dari posisi tengkurap dan melihat ke arahnya.
"Kamu tidak bercanda, kan?!"
"Ada urusan mendadak." Ia bangkit dari sofa dan mulai mengemasi barangnya. Wajahnya memang terlihat gelisah sejak tadi. Tapi, tidak bisakah bercerita padaku?
"Kau bisa tinggal jika ingin."
__ADS_1
"Bukan itu yang aku maksud. Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi! Bukan masalah aku tinggal atau tidak!"
"Anna di rumah sakit."
Anna? Sebenarnya siapa sih Anna? Sebegitu pentingnyakah dia? Apakah ada hal yang tidak aku ketahui? Ya, semua ini memang aneh sejak awal. Banyak hal yang tidak kuketahui. Banyak misteri dalam pernikahan ini.
"Apakah wanita itu lebih berharga daripada bulan madu kita?" Suaraku tiba-tiba menjadi pelan. Tak memiliki kekuatan lagi untuk berteriak.
Antonius duduk di sampingku. Ia sudah bersiap untuk keluar meninggalkan kamar hotel. "Key, ayo kita pulang." Tangannya menyentuh pundakku dan aku mundur ke belakang. Aku tak ingin disentuhnya. Tidak ingin terbujuk oleh rayunya.
__ADS_1
"Pergilah. Aku akan tetap tinggal." Aku membalasnya dengan suara gemetar. Dan memalingkan wajah. Beberapa saat kemudian Antonius meninggalkanku dan memilih pulang ke Indonesia demi seorang Anna.
Ya, jika dia mencintainya kenapa tidak menikahinya? Apakah aku ini hanya seekor lalat pengganggu bagi mereka? Antonius, apa artinya aku buatnya? Kututupi tubuhku dengan selimut kain katun yang lembut. Air mataku membanjir dan dengan hati yang terus bertanya-tanya. Apakah selama ini cinta itu hanya sebuah kebohongan? Apakah pernikahan ini hanya sebuah tipu daya yang aku tak mengerti apa maksudnya? Ma, pa, apakah hal ini juga termasuk rencana kalian?