Happy Ending

Happy Ending
Flash Back


__ADS_3

"Apa kau sudah lama menjadi seorang penulis, Steve?"


"Ya. Saat aku masih remaja menurutku seorang penulis itu keren dan banyak digilai para gadis."


"Hahaha ... Jadi itukah alasanmu menjadi seorang penulis?" 


"Tentu saja, James. Apalagi?" Kedua pria itu tengah asik mengobrol sambil mengawasi Awan yang sedang mandi bola. Meskipun sejak tadi banyak mata yang mengawasi dan menggunjing ganteng-ganteng kok gay, sepertinya mereka tak peduli. Tidak penting mendengarkan omongan orang lain yang tak mengenal kita. Kalau didengarkan hanya akan timbul sakit hati. Lagipula mereka laki-laki yang diciptakan Tuhan dengan akalnya, jadi tak mudah baper alis terbawa perasaan seperti kaum perempuan.


"Gadis-gadis berpikir kalau penulis itu romantis. Padahal tidak sama sekali. Mereka hanya berani mencumbu melalui kata-kata yang puitis." Kedua pria itu tertawa lagi sambil sesekali melambaikan tangan ke arah Awan. Sedangkan aku memperhatikan mereka dari jauh sambil menikmati segelas es kopi dan juga kue pie mini.


Sesampainya di rumah aku lansung duduk di sofa. Sebelah Anna. "Kata Anotonius kau menyukainya. Kami membelikan beberapa untukmu." Aku membuka kotak kue berisi fruits pie mini. 


"Jadi kapan kalian akan bercerai?" Anna mengawali pembicaraan dengan pie didalam mulutnya. 


"Secepatnya. Kenapa? Sepertinya kau ingin cepat-cepat kami bercerai."


"Tentu saja. Rumah ini sekarang terlihat hidup. Ada suara tawa dan anak-anak. Aku tak begitu menyukainya."

__ADS_1


"Apa kau merasa terganggu Ann?"


"Tentu saja. Karena waktu Steve jadi habis untuk tertawa dan bermain."


"Apa kau menyukai Antonius?" Anna terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Sedang menyelam ke masa silamkah ia? Atau berusaha menggali kenangan almarhum suami dan anaknya?


******


"Ke mana Erika dan Jack, Steve?"


"Mereka terlalu rajin. Hahaha ... bisa-bisa ntar dosennya kalah pinter."


Stevan tertawa mendengar lelucon Anna. Sejak pertama kali masuk kuliah entah kenapa mereka tiba-tiba menjadi sahabat. Barangkali, karena sama-sama berdarah Indonesia.


"Setelah lulus mau ke mana, Steve?" tanya Anna sembari meminum kopi yang baru saja ia pesan di cafetaria. Sementara Stevan, seperti biasa, si herbivora satu ini hobi ngemil sayuran rebus saat sedang lapar. 


"Balik ke Indonesia. Ngapain lagi?"

__ADS_1


"Ya, kali aja kamu tetap tinggal di LA."


"Kamu sendiri?" Giliran Stevan bertanya pada gadis berambut blonde dengan dada yang monthok itu. Meskipun ia orang Indonesia, warna rambut dan kulitnya tetap matching. Secara, dia satu-satunya pewaris perusahaan percetakan yang terkenal di Indonesia. Orang kaya! Mau rambutnya warna warni seperti pelangi juga pantas dan sah-sah saja.


"Samalah kita. Balik ke Indonesia juga."


"Nikah sama Jack?" Anna berpikir keras untuk menjawab pertanyaan itu. Lagipula, meskipun ia berpacaran dengan Jack, Anna tak pernah berpikir akan mengakhiri hubungan mereka di pelaminan. 


"Liat ntar, deh! Kamu gimana? Sampe sekarang gak punya gandengan."


"Emangnya truk pake acara gandengan segala?"


"Kamu pakai acara jual mahal, sih! Ganteng-ganteng kagak laku. Ahahaha." 


Steve membiarkan tawa gadis itu mengisi kekosongan kantin kampus agar tidak sepi lagi seperti kuburan. Sementara jemari tangannya fokus pada notepad di depannya. 


Menunggu kelahirannya seperti menanti matahari terbit dari barat. Menakutkan sekaligus menyenangkan karena yang diharapkan akhirnya datang juga. Rinjani ... apakah ia sedang berlarian di bawah hujan ketika pulang sekolah? 

__ADS_1


__ADS_2