Happy Ending

Happy Ending
Arti Sahabat


__ADS_3

"Steve, ayo dong naik. Anna gak mau makan, tuh!"


"Aku lagi sibuk, Ka. Kenapa lagi sih itu bocah?"


"Gara-gara kamu lah. Siapa lagi? Cepetan sana! Anak orang mati baru tahu rasa!"


Stevan enggan meninggalkan meja kerjanya dan tidak ingin diganggu. Apalagi oleh Anna yang sering berulah. "Iya ... iya ... jangan merengek terus! Sebagai gantinya, rebusin ayam sama sayur yang ada di kulkas. Deal?" Steve berusaha bernegosiasi. Tak ada yang gratis di dunia ini meskipun itu di dalam dunia persahabatan. 


"Deal!" balas Erika bersemangat. Selama ada Stevan, masalah Anna pasti kelar!


Steve menaiki tangga, menuju kamar milik Anna. Tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk begitu saja. "Kenapa lagi, Ann?" Ia bertanya pada gadis yang tengah bersembunyi dibalik selimut. 


"Kamu tidak kasihan dengan Erika yang selalu mengurusmu saat sedang marah?" Stevan sebenarnya malas terlalu banyak bicara. Tapi tak bisa membiarkan Anna terus-terusan seperti ini. Ia tahu bagaimana kisah keluarga Anna, tapi bukan berarti apapun tindakannya bisa dibenarkan. 


"Steve?" Anna merengek dan bangkit dari tidurnya. 


"Apa kamu benar-benar sudah punya calon istri?" Astaga! Kepala Stevan tiba-tiba seperti dipukul bogam. Apakah hanya karena hal itu Anna mengubah kamarnya seperti kapal pecah?  


"Tidak, Ann. Calon dari mana? Cuma asal ngejeplak waktu ditanya Erika." Sebisa mungkin Stevan berbohong agar Anna tidak semakin parah. Gadis itu memang sulit mengendalikan emosinya ketika sedang marah.


"Syukurlah, Steve!" Anna memeluk Stevan yang duduk di tepi ranjang. Pria itu tak tahu harus bereaksi bagaimana, jadi diam adalah jalan terbaik. Tetapi, sebagai pria normal ia tak bisa diam begitu saja. Anna hanya mengenakan celana super mini dan kaos tanpa lengan. Ia juga tak memakai bra, jadi ada yang menonjol dan mendarat empuk ditubuh Steve. Ia bisa merasakannya dan jauh di dalam dirinya ada sesuatu yang ingin ia lepaskan. Sebuah hasrat seorang laki-laki dewasa. 

__ADS_1


"Steve?" Anna mulai meracau, ketika terlalu bahagia, gadis itu juga tak mampu mengendalikan dirinya. Terlebih saat berdekatan dengan sahabat prianya itu. Pesonanya tak bisa terbantahkan. Anna ingin sekali bercumbu dengannya. Didorongnya tubuh berdada bidang itu hingga telentang, Anna menaiki tubuhnya dan ia mampu merasakan ada yang mengganjal diantara kedua pangkal kakinya. 


"Anna. Hentikan!" Anna tak mau mendengar dan sudah terlanjur menggerakkan bokongnya. Tak tahan dengan sikap Anna, laki-laki itu membanting tubuh Anna ke ranjang dan ditinggalkan begitu saja. Padahal, kalau boleh jujur Stevan juga sempat menikmati sensasi itu. Di mana seorang gadis duduk di atas kejantanannya dan minta untuk digoda. Menyadari bahwa Stevan sama sekali tidak tertarik padanya, gadis itu berteriak sekencang-kencangnya. Jika tak aku tak bisa memilikimu, orang lain juga tak boleh mendapatkanmu.


*****


"Ann?" 


"Iya." Anna menjawab singkat. Mereka sedang mengerjakan tugas di perpustakaan bersama Erika dan Jack.


"Apa kau mau melakukan sebuah tes?" lanjut Stevan sementara kedua teman lainnya pura-pura membaca buku sambil mendengarkan. Erika, Jack dan Stevan sudah membahas persoalan Anna. Psikologisnya tidak baik-baik saja dan dia butuh pertolongan secepatnya. 


Mereka semua tahu bagaimana sikap Anna. Emosinya tidak stabil. Saat sedang senang, ia akan mengumbar tawanya. Ia juga kerap tertawa untuk sesuatu hal yang tidak lucu. Ketiga sahabatnya itu tahu bagaimana didikan orangtua Anna merusak anak semata wayang mereka. 


"Ke psikiater. Kau ingat Dev, kan? Temanku yang tahun lalu lulus? Sekarang sudah membuka praktek."


"Ogah. Itu kan cuma untuk orang gila aja. Aku masih waras tauk!"


"Kami bertiga sudah pergi tes. Ya, itung-itung mengetahui minat bakat dan juga kepribadian." Anna tercengang. "Kamu juga, Rik?" tanyanya pada Erika yang duduk di sebelah kirinya. Ia mengangguk. Terpaksa berbohong agar Anna mau melakukan tes psikologis. "Kamu juga, Beib?" Anna lanjut bertanya pada Jack, kekasihnya. "Iya, Beib."


"Ihhh ... kalian kok jahat, sih. Gak" bilang-bilang. Ngajak dong biar kita barengan! Uhhh ...!" Anna manyun. Pura-pura marah tapi jauh di dalam hatinya ia gembira. Ia senang diperhatikan oleh teman-temannya. 

__ADS_1


****


"Gimana hasilnya, Dev?" Jack bertanya pada Devdas. Pemuda berkewarganegaraan Amerika sekaligus keturunan India. Jack dan kedua sahabatnya pergi bersama ke klinik bersama, sedangkan Anna sedang ada kelas. 


"Dia perlu terapi, Jack. Lebih cepat lebih baik. Hasil dari tes Anna, ia mengalami gangguan psikotik." Mendengar jawaban Dev, Jack mengusap wajahnya. Ia tak heran karena selama ini Anna memang kerap berubah suasana hatinya. Saat ia merasa sangat senang, beberapa saat kemudian ia terlihat terpuruk jika itu berhubungan tentang Steve dan orangtuanya. Beruntung Jack adalah pria baik, ia cukup bisa mengerti kekasihnya dan tak ingin banyak menuntut.


"Dia memiliki kecenderungan ingin bunuh diri, Jack. Dan sebelumnya, dia hampir membunuh seorang anak kecil. Dan yang memprihatinkan adalah Anna tidak merasa bersalah pada gadis itu. Padahal jelas-jelas anak itu hampir meregang nyawa. Karena benturan di kepalanya, korban hilang ingatan permanen. Dia kehilangan ingatan masa kecilnya." Keyla? Steve mengusap wajahnya. Ia menarik napas perlahan dan tiba-tiba menjadi gelisah. Apakah gadis yang menabrak Keyla adalah Anna?


"Kami harus bagaimana, Dev?" 


"Beritahu orangtuanya, Jack. Bagaimanapun juga mereka harus tahu. Pola didik mereka lah yang merusak putrinya sendiri. Kalian tahu apa yang dikatakan orangtua Anna setelah kecelakaan mobil itu?" Mereka bertiga menggeleng secara bersamaan. 


"Apa yang terjadi bukan salah Anna. Tetapi salah supirnya yang pada hari itu tidak mengantarkan Anna ke sekolah. Juga karena gadis cilik itu bermain di jalanan. Dan Anna meyakini apa yang dikatakan orangtuanya. Apapun yang ia lakukan tak pernah salah. Terlebih, orangtuanya selalu sibuk dan tidak memberikan Anna cukup kasih sayang."


Sepulang dari klinik Jack, Steve dan Erika berdiskusi bagaimana langkah selanjutnya. Karena menurut Dev, hanya mereka bertiga lah yang bisa menolongnya. Bagi Anna, ketiga sahabatnya itu sangat berharga melebihi orangtuanya sendiri. Terutama Jack. Meskipun Anna tak begitu mencintainya, di dalam hati gadis itu tahu bahwa Jack adalah pemuda yang baik. Ia selalu mengalah, perhatian, dan tidak pernah mengeraskan suara padanya. Hal itulah yang sebenarnya ia butuhkan. Sosok yang penyayang dan bisa melindungi.


"Aku akan pulang ke Jakarta dan menemui orangtua Anna," tukas Jack pada Erika dan Steve. 


"Ide bagus!" Erika dan Steve menjawab bersamaan. "Kamu memang pria yang tepat untuk Anna!" Steve menepuk bahu temannya itu. "Menantu idaman!" ledek Erika diiringi tawa yang bercampur kesedihan dan mulai sekarang, gadis yang tinggal sekamar dengan Anna itu berjanji akan memperlakukan Anna lebih baik. Ia akan meluangkan lebih banyak waktu untuk mengobrol dengannya. Karena bagaimanapun, Anna adalah gadis yang baik sekaligus sahabat terbaiknya yang selalu bersedia membantu masalah ekonominya.


Pernah suatu ketika saat orangtua Erika menelpon bahwa adiknya kecelakaan dan tak bisa mengirimkan uang padanya sama sekali. Anna dengan senang hati berbagi uang jajan pada Erika. Dan sejak saat itulah, Anna meminta Sahabatnya itu tinggal di apartemennya. Selain tak perlu lagi membayar uang sewa kamar, dia juga bisa makan sepuasnya tanpa takut kelaparan. Dan tanpa disadari Erika mendedikasikan seluruh tenaga dan pikirannya untuk Anna.

__ADS_1


Hidup ini memang lucu. Orang yang kita pikir hidupnya sangat sempurna, tapi pada kenyataannya tidak. Mereka memiliki banyak kekurangan yang disembunyikan rapat-rapat. Mereka memiliki luka yang perlahan-lahan menggerogoti hati dan jiwa mereka. Menelan dalam kegelapan yang bernama kesepian.


__ADS_2