
Dariel akhirnya mengalah, "berjanjilah pada ku untuk tetap hidup sayang. Karena jika kamu meninggalkan ku saat itu juga aku akan menyusul mu. Karena aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu," ucap Dariel menangis mengecup kening Casey hingga akhirnya dokter membawa Casey masuk ke ruangan ICU.
Seiring pintu tertutup, tubuh Dariel merosot dan bersandar di dinding. Dariel menggosokkan wajahnya dengan kedua tangannya frustasi.
"Dariel apa yang terjadi dengan Casey?" tanya Adeline khawatir.
"Apa Casey sebelumnya pernah mengalami cedera di kepalanya?" tanya Dariel menatap Adeline.
"Aku tidak tau Dariel. Casey tidak pernah mengatakan jika dia sedang sakit," jawab Adeline.
"Kalian kemana selama ini. Hingga kalian tidak tau jika Casey pernah mengalami cedera dibagian kepalanya dan membuat darahnya membeku di otaknya," ucap Dariel marah.
"Jangan membentak istriku Dariel," tukas Malvin geram.
"Casey harus di operasi dan tingkat keberhasilannya hanya 20 persen saja," ucap Dariel bangkit dan di sofa.
"Ti.. tidak mungkin. Casey tidak mungkin pergi meninggalkan ku kan.." gumam Adeline hampir jatuh kalau saja Malvin tidak sigap menahannya.
__ADS_1
"Ba.. bawa aku menemui mommy hubby," ucap Adeline menangis. Malvin kemudian mengangguk.
"Dariel, kami akan segera kembali. Semuanya pasti akan baik-baik saja," ucap Malvin menepuk pelan lengan Dariel yang duduk tidak berdaya melihat orang yang di cintainya sedang berjuang di ruang operasi.
"Aku akan menghubungi paman dan bibi agar segera datang," ucap Malvin lalu pergi bersama Adeline.
******
Adeline turun dengan tergesa-gesa dari dalam mobil. Berjalan cepat memasuki rumah ibunya.
"Mom.." panggil Adeline membuka pintu kamar Matilda, refleks membuat wanita itu memutar tubuhnya dan melihat Adeline berjalan mendekatinya. Matilda menyembunyikan album foto di tangannya ke dalam laci nakas.
"Sayang.. apa yang terjadi, kenapa kamu menangis," tukas Matilda mendekati putrinya, refleks Adeline menjauhkan dirinya membuat Matilda mengerutkan kedua alisnya.
"Apa sekarang mommy puas.." ucap Adeline dengan suaranya yang meninggi.
"Apa maksud mu sayang.." Matilda dibuat bingung dengan perkataan Adeline.
__ADS_1
"Casey masuk rumah sakit mom," kata Adeline.
"Ck.. anak itu selalu menyusahkan saja," decak Matilda.
"Apa mommy tidak bisa melunakkan hati mommy yang keras itu kali ini saja, aku benci mommy," bentak Adeline marah memutar tubuhnya lalu pergi.
Adeline menghentikan langkahnya sejenak.
"Casey sedang sekarat mom, sekarat. Bukan sakit biasa," tukas Adeline menangis.
"Casey mengalami pembekuan darah di otaknya. Dan itu sudah lama terjadi. Dokter bilang keberhasilan operasinya hanya 20 persen saja mom," setelah mengatakan itu Adeline lalu pergi. Ia harus kembali ke rumah sakit untuk melihat adiknya.
"A.. aku hanya salah dengar bukan?" gumam Matilda duduk di tepi ranjangnya.
"Tidak.. anak itu tidak mungkin mati dengan cepat bukan?" ucap Matilda menyangkal perasaannya yang mulai gundah.
"Tidak... Casey tidak akan pergi begitu cepat. Dia masih ingin mencari perhatian dari ku bukan?" ucapnya tanpa ia sadari matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Casey tidak akan pergi untuk selama-lamanya," pekik Matilda tidak sanggup membendung air matanya lagi hingga ia menangis. Rasa takut kehilangan Casey mulai menghantui dirinya. Matilda sekarang menyesal jika dulu ia selalu mengabaikan Casey. Casey yang selalu menyayanginya walau dirinya secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya pada anak itu. Melampiaskan kemarahannya pada Casey yang tidak tau apa-apa.
"Putri ku tidak akan pergi meninggalkan ku," gumam Matilda berlari keluar dari kamarnya. Dengan tergesa-gesa menuruni tangga rumah dan memanggul supirnya untuk mengantarnya ke rumah sakit.