Happy Ending

Happy Ending
Bab 92:


__ADS_3

Dua jam kemudian Casey sudah bisa bersandar di kepala ranjang, pergerakan tubuhnya sudah semakin membaik.


"Sayang.. apa kamu sudah lapar?" tanya Dariel lembut. Sebenarnya tadi ia sudah ingin memberi makan Casey tapi wanita itu menolaknya karena belum lapar. Casey menganggukkan kepalanya.


"Mom panaskan dulu makanannya," ucap Luvena mengambil makanan Casey yang sudah dingin. Di dalam ruangan itu juga dilengkapi dapur, sehingga Luvena tidak perlu pergi jauh untuk memanaskan makanan Casey.


Beberapa menit kemudian, Luvena kembali dengan makanan panas untuk Casey. Luvena lalu memberi nampan berisi makanan pada Dariel.


"Mom keluar sebentar mencari sarapan untuk kita," ucap Luvena. Dariel lalu mengangguk.


Sebelum memberi Casey makan, Dariel memberi minum terlebih dahulu. Dariel menyendok bubur jagung dan meniupnya. Ia kemudian menyuapi Casey. Dariel sangat telaten menyuapi Casey. Pria itu benar-benar memperlakukan Casey dengan sangat hati-hati. Casey mengamati setiap perlakuan lembut pria itu padanya.


"Sudah cukup.." ucap Casey menggeleng, saat Dariel hendak menyuapinya kembali.


"Sayang, kamu masih makan sedikit. Bagaimana bisa kamu kenyang hanya dengan beberapa sendok bubur jagung saja," tukas Dariel lembut.


"Beberapa suap lagi ya..." pungkas Dariel membujuk Casey. Wanita itu lalu mengangguk. Dariel lalu menyendok bubur jagung dan ikan salmon kemudian menyuapi Casey hingga akhirnya setengah makanan Casey habis.

__ADS_1


"Aku sudah kenyang Dariel.." ucap Casey tak ingin makan lagi.


"Baiklah sayang.." balas Dariel mengecup kening Casey dan menaruh nampan di atas nakas.


Ceklek...


Adeline masuk bersama suaminya yang sedang menggendong bayi mereka. Setelah mendengar kabar dari Luvena, Adeline tak sabar untuk menjenguk Casey. Tapi sebelumnya ia harus menunggu Malvin tiba di rumah setelah pergi keluar kota untuk urusan bisnisnya.


"Casey... akhirnya kamu sadar," ucap Adeline menangis bahagia kemudian memeluk adiknya.


"Kak.." gumam Casey membalas pelukan Adeline.


"Kamu tau, keponakan mu sangat tampan. Dia juga pasti merindukan auntynya," tukas Adeline.


"Aku ingin melihatnya kak," balas Casey. Adeline kemudian mengangguk dan mengambil alih Louis putranya dari gendongan Malvin.


"Apa aku bisa menggendongnya," pinta Casey.

__ADS_1


"Sayang.. apa kamu sudah bisa menggendongnya. Aku takut tenaga mu belum pulih sepenuhnya" tukas Dariel khawatir.


"Hanya sebentar saja," balas Casey. Dariel akhirnya mengangguk. Dengan pelan-pelan, Adeline membantu Casey menggendong bayinya.


"Namanya Louis Casey," ucap Adeline.


"Baby Louis sangat mirip dengan kakak ipar," tukas Casey mengusap lembut wajah bayi mungil itu. Bayi itu sedikit menggeliat karena merasa terganggu.


"Loh.. kalian sudah datang ya," timpal Luvena yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Casey. Luvena datang bersama suaminya membawa sarapan.


"Apa kalian sudah sarapan, bibi membeli makanan yang banyak," tukas Luvena menaruh makanannya di atas meja.


"Kebetulan sekali bibi, aku belum sarapan. Sepulang dari luar kota, aku dengan Adeline langsung ke sini," ucap Malvin.


"Ya sudah kemari, kita sarapan bersama," balas Luvena.


"Nak, daddy senang mendengar kamu sudah sadar," ucap Halton mengusap kepala Casey yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.

__ADS_1


"Daddy tidak tau akan seperti apa keadaan suami mu itu jika kamu tidak sadar-sadar," pungkas Halton meledek penampilan Dariel.


Beberapa menit kemudian mereka sarapan bersama. Casey dan Adeline tidak ikut sarapan karena mereka sudah sarapan sebelumnya. Kedua kakak beradik sedang berbincang-bincang. Adeline menceritakan keadaan Matilda pada Casey. Bagaimana ibu mereka menangis histeris saat Casey dinyatakan sekarat dan hampir mati.


__ADS_2