
Ammy sedang menunggu Darrel dengan perasaan gembira di sebuah restoran elit di pinggiran kota Paris. Keputusannya untuk go public tempo hari adalah keputusan yang tepat. Pria itu akhirnya berinisiatif menghubunginya. Ammy berharap hubungan Darrel dan istrinya berakhir setelah tahu bahwa suaminya menghamili wanita lain.
Gadis itu memainkan rambutnya. Memelintir menggunakan jari telunjuk kanan kirinya lalu mengambil kaca dari dalam tas yang terbuat dari kulit macan asli dan mengarahkannya ke wajah. Makeup tebal, bulu mata palsu, dan pulasan lipstik keunguan telah tersapu sempurna. Ditambah semprotan channel 05. Ammy merasa sangat percaya diri hari ini. Sama seperti beberapa waktu lalu saat membuat konferensi pers mengenai kehamilannya dengan Darrel.
Well, siapa di kota ini yang tak kenal dengannya. Darrel. Penulis terkenal sekaligus penulis skenaro film. Koneksinya luas dan memiliki banyak properti di Perancis. Apapun caranya, aku akan mendapatkanmu kembali. Tidak peduli jika kau sudah menikah bahkan punya anak sekalipun.
Ia terus memandangi ponsel yang ditaruh di atas meja. Menunggu pesan atau telepon dari Darrel. Dia paling jengah menunggu, tapi untuk hal satu ini dia bisa mentoleransi.
Darrel adalah pria mumpuni, orang tuanya pun bepisnis, jika mereka bisa menikah tentulah Ammy tak perlu lagi memusingkan kiprahnya di jagad hiburan yang kian hari makin meredup karena tergeser oleh artis-artis yang lebih muda.
"Hai, Am." Suara itu terdengar familiar di balik punggungnya. Darrel. Pria yang pernah tidur dengannya.
"Darrel! Aku sudah menunggumu sejak tadi!" Wanita itu kemudian bangkit dari kursi dan membalikkan tubuh. Namun saat mendapati sosok Keyla di samping Darrel, darahnya langsung panas. Kenapa perempuan sia*lan itu ada di sini?!
"Aku merindukanmu!" kata Ammy yang menghamburkan dirinya ke pelukan Darrel. Pria itu tak berekspresi. Kalau bukan karena ingin meluruskan persoalan ini, ia enggan bertemu dengan Ammy. Gadis itu makin agresif semenjak kencan mereka yang pertama kali. "Apa kau merindukanku juga?" Tangan Ammy pindah tempat. Tadinya di pinggang Darrel sekarang beralih ke leher. Ia tak peduli dengan wanita di sebelahnya. Masa bodo. Keyla sudah dianggapnya sebagai batu yang sama sekali tak berharga.
"Jaga sikapmu Ammy." Darrel melepaskan tangan Ammy yang berwarna putih kemerahan. Secara keseluruhan gadis itu memang cantik. Khas perempuan Eropa. Namun secara kepribadian, Darrel hanya menganggapnya selingan. Sama seperti perempuan-perempuan lain yang datang ke kehidupannya selama lima tahun terakhir. Datang silih berganti dan tak ada yang menetap. Lebih tepatnya, Darrel tak ingin mereka menetap. Tak pernah ada yang bisa menggantikan cinta pertama sekaligus istrinya.
__ADS_1
Ammy menekuk wajahnya dan kembali duduk. Sesaat, ia melihat ke arah Keyla yang wajahnya sangat tenang. Dan hal itu justru menyulut emosinya. Tujuan Ammy membuat konferensi pers itu adalah agar mereka bercerai. Kalau Keyla setenang ini, persentase mereka untuk berpisah akan sangat kecil.
"Ini adalah urusan kita berdua. Tidak ada sangkut pautnya dengan wanita itu!" sentak Ammy. Sengaja tak ingin menyebut nama Keyla.
"Keyla adalah istriku. Dan urusanku adalah urusannya. Juga sebaliknya." Darrel berkata tegas dan tak ingin mengukur waktu lama-lama bersama Ammy. Ia tahu Keyla tak nyaman dan butuh usaha keras agar wanita itu mau ikut dengannya.
Lelaki itu menarik kursi dan mempersilakan istrinya duduk, sementara Ammy memperhatikannya dengan sorot mata cemburu. "Kapan kita menikah?" Tanpa basi-basi Ammy langsung menuju ke pokok permasalahan.
"Aku tidak memiliki niat untuk menikahimu, Am," jawab Darrel santai kemudian duduk di sebelah istrinya. "Tidak seharusnya kau melibatkan media. Tidak kau pikir imbasnya untuk keluargaku?"
"Aku tidak peduli. Jika ingin menyalahkan, salahkanlah dirimu sendiri. Kau sulit sekali dihubungi. Aku tak pernah tahu di mana kau tinggal. Apakah itu adil buatku?" Ammy menjawab dengan tubuh yang dicondongkan ke ke depan. "Aku hanya ingin kau tanggung jawab," lanjut Ammy kemudian. Ia merasa marah sekaligus cemburu saat melihat Darrel menggenggam tangan Keyla. Pemandangan yang benar-benar mengesalkan.
"Darrel!" Ammy menggebrak meja. Tidak terima dengan keputusan yang baru saja didengarnya.
"Sorry, Am. Pembicaraan kita sampai di sini. Pengacaraku akan menghubungimu. Aku harap tidak melihatmu melakukan kebodohan lagi dengan melibatkan media. Jika sampai kau melakukannya lagi, kau akan tahu akibatnya." Darrel memegang pundak Keyla kemudian mengajaknya pergi. Baru berjalan beberapa langkah, Ammy menghentikan langkah mereka.
"Darrel! Ini adalah anakmu!" teriak Ammy dan beberapa pasang mata menuju ke arah mereka.
__ADS_1
"Apa kau yakin kau hanya tidur denganku Am? Aku tak hanya tidur denganmu. Tapi, hanya kau yang hamil. Bukankah itu aneh? Oh, ya. Orangku sedang memeriksa rumah sakit tempatmu memeriksakan diri. Aku harap tak ada yang salah dengan hasil laporannya. Jika tidak, aku tak akan berbaik hati padamu."
🗼
"Kau baik-baik saja, Key?" tanya Darrel di belakang kemudi. Ia menjalankan mobil dengan kecepatan pelan dan sesekali mengawasi Keyla yang selalu menatap ke arah luar jendela. Sejak memutuskan untuk ikut suaminya menemui Ammy, ia tak banyak bicara.
Darrel mendengus menunggu jawaban Keyla yang tak kunjung tiba. Namun, ia juga tak mau memaksa perempuan itu untuk bicara. Karena bagaimana pun juga, situasi ini bukanlah yang mudah baginya.
"Mau nonton film? Kita bisa langsung ke bioskop."
"Hmmph! Apa kamu masih bisa bersenang-senang?"
"Aku hanya ingin menghiburmu, Key."
"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Kamu sudah tahu apa yang akan kamu lakukan pada Ammy tapi pura-pura bodoh di depanku."
"Aku memang bisa menjadi pria ***** saat berhadapan dengan istriku saat marah," jawab Darrel nyengir.
__ADS_1
"Berhentilah berbicara manis. Oke? Aku sedang tak ingin mendengar rayuanmu."