
"Apa Awan sudah tidur, Key?" bisik Erika agar tak membangunkan Awan yang sedang terlelap. "Iya. Dengarlah napasnya. Sangat tenang," balasku tak kalah pelan. Pangeran kecilku berada di tengah, sedangkan Erika di sebelah kiri dan aku sendiri di sebelah kanan dipan. Gara-gara cerita hantu kami tidak berani tidur sendiri di rumah. Itu sebabnya kami memutuskan untuk tidur bersama.
"Key, saat besok temanku datang, menginaplah di sini. Setidaknya sampai James pulang."
"Baiklah. Ini semua salahmu, Erika."
"Ya. Dan aku minta maaf. Kukira kamu pemberani."
"Itu hanya pikiranmu saja. Sebenarnya aku sangat penakut pada hal-hal seperti itu. Aku berharap James cepat-cepat pulang jadi aku tidak akan menyusahkanmu."
"Apakah pintu depan dan belakang sudah kukunci, Key?" Erika mulai terlihat panik.
__ADS_1
"Aku juga tidak ingat. Apakah kau mau mengeceknya?"
Dengan aba-aba, kami berdua bangkit dari tempat tidur. Kamar itu remang-remang karena hanya lampu tidur yang menyala. "Apa kau sudah mengunci rumahmu, Key?" tanya Erika menyalakan lampu ruang tengah. "Ya, aku sudah menguncinya." Kami berjalan beriringan menuju pintu belakang yang ternyata sudah dikunci. Kemudian kami menuju pintu depan dan sudah dikunci juga. Aku menarik dan menghembuskan napas untuk menghilangkan ketegangan.
"Kenapa kamu tiba-tiba pikun, Erika?" Aku menggerutu.
"Sorry, Key. Aku benar-benar tidak ingat. Apa kau mau kopi?"
"Jam berapa temanmu sampai?"
"Entahlah. Sekararang sudah pukul sebelas dan kita hanya perlu menunggunya."
__ADS_1
"Aku sampai lupa bertanya. Apakah temanmu laki-laki atau perempuan."
"Dia seorang pria yang tampan! Bahkan terlalu tampan untuk ukuran orang Indonesia. Aku pernah naksir saat kuliah dulu, tapi ia selalu menolak ajakanku berkencan. Ceritanya itu kami bersahabat, empat orang. Dua laki-laki dan dua perempuan. Dua sahabatku yang lain mereka saling menyukai dan akhirnya mereka menikah. Saat itu kupikir tak ada salahnya jika aku dan dia berpacaran. Tapi gak tahunya dia sudah memiliki wanita lain. Ha ha ha ha." Erika bercerita diakhiri tawa yang garing dan aku pun ikut tertawa. Bukan karena ceritanya tapi karena tawa Erika. Ia memiliki tawa yang khas mirip seperti artis perempuan bernama Soimah saat sedang manggung.
"Bagaimana kedua sahabatmu yang lain itu? Apakah mereka tidak ikut ke sini?" Mendengar pertanyaanku Erika menjadi lesu. Wajahnya redup. Seperti sedang mengingat sesuatu hal yang buruk.
"Kisah mereka sangat tragis, Key. Tadinya, mereka adalah keluarga bahagia yang memiliki satu anak. Hingga suatu saat kedua sahabat priaku ini dan anaknya ingin bermain golf bersama dan entah bagaimana ceritanya mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Ayah dan anak itu mati di tempat. Sedangkan temanku yang satunya, yang akan datang kemari, satu-satunya yang selamat meskipun mengalami luka yang serius. Sejak kejadian itu dia menyalahkan diri sendiri atas kematian sahabat serta anaknya. Ia trauma dan depresi hingga ia mengurung diri di rumah, tak mau lagi menyetir mobil ataupun berada keramaian. Ia menjadi sangat pendiam dan tertutup. Brangkali, rasa bersalahnya lah yang membuatnya seperti itu."
"Apakah sahabat perempuanmu menyalahkan dia atas kematian suami dan anaknya?"
"Tidak. Sama sekali tidak. Ia memang sedih tapi akan lebih sedih lagi jika sahabatku yang satunya itu ikut mati juga. Dia perempuan yang cukup bijaksana dalam bersikap. Ia yakin, kematian suami dan anaknya adalah bagian dari kehidupan yang harus diterima dan dijalani. Kupikir itulah yang namanya takdir. Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana akan mati. Sama halnya aku yang tak tahu apakah aku akan menjadi wanita yang sempurna atau tidak," jawab Erika sambil mengelus perutnya. Aku kemudian memeluknya, mengusap-ngusap punggungnya agar air mata yang ditahannya sejak tadi bisa mengurai. Dan beberapa saat kemudian, perempuan dalam pelukanku seperti gelas yang sangat rapuh. Tangisnya membanjiri punggungku. Ternyata, dibalik keceriannya selama ini tersimpan luka yang teramat dalam. Luka atas kematian sahabatnya. Terlebih luka hati karena Tuhan tak kunjung memberinya momongan. Ia ingin menjadi perempuan yang seutuhnya. Yang mengandung, melahirkan, dan menyusui. Ya, kupikir semua wanita memiliki keinginan yang sama seperti Erika. Menjadi perempuan yang sempurna.
__ADS_1