
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, James? Tidak seharusnya kamu memberitahukan hal yang sebenarnya kepada Awan." Sebisa mungkin aku menekan suaraku. Kami bertiga sedang duduk bersama. Aku, James dan Antonius. Sementara Awan aku meminta Erika menjaganya. Aku tak ingin dia mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Itu tak baik bagi psikologisnya. Ia juga tak akan mengerti dan belum bisa mencerna masalah dengan baik.
"Apa kalian tidak memikirkan bagaimana Awan? Punya dua papa? Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu, James? Bagaimana jika suatu saat dia ditanya tentang papanya dan dia menjawab memiliki dua papa? Bagaimana anak seumurannya akan menjelaskan tentang situasi ini? Dan kau Antonius? Apa alasanmu datang kemari setelah bertahun-tahun?"
"Key." Kedua pria yang duduk bersebelahan itu menjawab bersamaan.
"Aku ingin kita pulang ke Indonesia, Key."
"Aku ingin menikah denganmu, tapi setelah kamu bercerai dengan suamimu dan menjelaskan bahwa Awan memiliki papa yang lain."
"Aku tidak mengerti maksud kalian."
"Aku adalah Papa Awan."
"Aku juga Papanya," timpal James.
"Arrrrrghhh! Ini semua salah kamu Antonius! Harusnya kamu tak perlu kemari. Lupakan kalau kita menikah dan nikahi saja sahabatmu. Dan ini juga salah kamu James. Tidak seharusnya kamu memberitahu Awan!"
"Sorry," ujar mereka bersamaan. Aku merasa ada bintang-bintang di atas kepalaku. Pusing dan lelah. Kemudian Awan tiba-tiba muncul dari pintu," Papa!" Kedua pria itu menoleh bersamaan. "Awan ingin duduk di tengah," katanya lagi. "Papa," sambung Awan menoleh ke James. "Papa." Ia menoleh ke Antonius yang terharu dan langsung memeluk tubuh mungil itu.
Aku menarik napas sepanjang yang aku bisa kemudian menghembuskannya perlahan mungkin. Aku berharap semoga tidak kebablasan. Mata Awan begitu bersinar, ia menggoyang-goyangkan kakinya sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong. Dia terlihat gembira mengetahui punya dua papa.
"Awan mau pulang?" tanya Antonius begitu meyakinkan.
"Ke mana?"
"Ke rumah Papa."
"Ketemu Oma Opa?" Awan terlihat exited membayankan bertemu oma opa.
__ADS_1
"Tentu saja," jawabnya.
"Mama, ayo kita ketemu oma opa!" Ajaknya dengan wajah seperti habis menang lotre.
"Papa boleh ikut gak, Boy?" tanya James yang terlihat memelas.
"Hmmm. Papa juga harus ikut!"
Aku menatap tajam seperti ingin mencabik dua pria itu! Entah apa yang ada di pikiran mereka. Usia makin bertambah justru sifat kekanakannya mulai muncul.
****
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan kemarin, James?" tanyaku ketika kami di dalam pesawat. Aku duduk bersebelahan dengan James dan Awan bersama Antonius.
"Tidak ada. Aku hanya bilang padanya akan berbagi."
"Awan."
"Awan bukan makanan yang bisa dibagi-bagi!"
"Aku tahu. Tapi aku ingin kau dan Awan pulang ke rumah keluargamu. Dan ini satu-satunya cara agar kau mau kembali ke Indonesia."
"Harusnya kau bilang jika ingin mengusirku!"
"Aku tidak mengusir. Aku ingin kau bahagia bersama keluargamu."
"Aku sudah bahagia. Denganmu dan Awan!"
Awan menggenggam tanganku. "Aku senang mendengarnya," lanjutnya lagi. Dari tadi kami mengobrol dengan cara berbisik karena para penumpang pesawat sedang tidur dan tidak ada lagi lampu menyala. Di luar pun sama. Gelap dan hanya suara mesin yang terdengar begitu bergemuruh.
__ADS_1
"Key. Apa kau mencintaiku?" Cinta? Tentu saja ada cinta buatnya. Meskipun sedikit aku tak bisa memungkirinya. Belum sempat aku menjawab bibirnya telah meraup bibirku. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku merasakan sebuah ciuman. "Maafkan aku Key. Aku sudah tak bisa menahannya lagi." Ia melanjutkan ciumannya. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat dan tangannya yang mulai meraba bagian dalam pahaku. "James." Aku menghentikan pergerakan bibirnya. "Suasana ini sangat romantis, Key." Ia menjawab tepat di depan telingaku dan aku seperti tersengat listrik. Ia kembali melancarkan serangannya.
"Kau tahu berapa lama aku ingin melakukan ini, Key?" Napas James mulai memburu. Tangan kanannya mulai menyusup diantara kedua pahaku dan reflek aku melebarkannya. Ada jari jemari yang menari dengan gemulai di sana. "James," bisikku sambil memeluk tubuhnya yang kekar. "Apa kau menyukainya?" Aku hanya bisa menggigit bibirku agar tidak ada suara pekikan. "Kenapa kau melakukan ini?"
"Karena kita akan segera menikah." Aku tidak bisa menolaknya. Tidak pula menghindar. Sebagai perempuan biasa aku juga merindukan saat-saat seperti ini.
***
Taksi online yang kami pesan berhenti di depan rumahku. Tepatnya rumah orangtuaku. Sudah lama aku tak melihatnya, dan rumah itu masih sama. Terlihat papa dan mama duduk di teras menunggu kedatangan kami.
"Omaaaa ... opaaa ... awan berlari masuk ke halaman rumah yang memang tidak memiliki pagar. Mama dan papa langsung berlari ketika mendengar suara cucunya yang melengking.
"Awan ... Oma kangen!" Mama memeluk Awan begitu juga Papa. Diangkatnya tinggi-tinggi tubuh mungil itu hingga kegirangan. Tapi wajah mama itu langsung hilang ketika melihatku dan kedua orang pria di samping kiri dan kananku.
"Duduklah!" Mama memberi aba-aba pada kami bertiga ketika kami di ruang tamu. Sementara Awan sedang bermain dengan Opa di belakang rumah.
"Steve, Mama sangat kecewa sekali. Mama pikir kamu akan membahagiakan Keyla. Kalau tahu akan begini jadinya Mama tidak akan menjodohkan kalian dari awal. Mama tahu selama ini kamu mencari Key, tapi Mama tidak yakin apakah bisa memberimu kesempatan untuk kedua kalinya. Perbuatanmu sebagai suami dan sebagai seorang pria sangat tidak bertanggung jawab. Bagaimana bisa kamu meninggalkan Keyla begitu saja demi sahabatmu? Karena Mama sama kecewanya dengan Keyla, makanya selama ini Mama menolak bertemu denganmu. Dan tahu-tahu, ternyata selama ini kamu menyewa orang untuk mengawasi Mama. Mama tidak tahu harus bersikap bagaimana. Untung Papa tahu. Ia curiga karena selalu merasa diikuti. Memata-matai mertua sendiri itu tidak baik." Antonius seketika langsung berlutut. Memohon maaf karena apa yang ia perbuat salah. Hanya dengan cara itulah Antonius akan tahu di mana aku. Dan ketika orang suruhan itu kepergok, mama langsung memberi tahu James yang ketika itu baru sampai di Afrika. Aku manggut-manggut mendengar Antonius memberi penjelasan.
"Karena Key dan James akan menikah, Mama harap kamu segera menceraikannya."
Mendengar kata-kata itu, Antonius terlihat lesu. Tidak ada lagikah jalan kembali untuknya? Atau ... sesempit itukah hatiku hanya untuk memaafkan? Bukan ... ini bukan hanya tentang memaafkan. Tapi tentang kepentingan. Prioritas. Aku merasa aku tidak penting dibanding sahabatnya. Itu yang tidak bisa kuterima.
"Ma, kami sudah terlanjur bilang pada Awan kalau Antonius adalah papanya yang lain."
Mama mendengus mendengarkan apa yang baru saja kuucapkan.
"Awan boleh saja memiliki dua papa, tapi suamimu harus satu, Key. Ini Indonesia, dengan siapa kamu tinggal itu akan jadi masalah. Di sini, James bukanlah suamimu. Kau tidak bisa tinggal bersama. Dan Antonius, kalian juga tidak bisa tinggal bersama. Sebentar lagi kalian akan bercerai." Mama mendikte. Ia tak lagi pendiam seperti beberapa bulan lalu saat kami bertemu. Energinya telah kembali meski penuaan di wajahnya tak bisa dielakkan lagi.
"Key ... apa kau benar-benar menginginkan perceraian itu?" Antonius menatapku. Tajam. Seolah-olah ada banyak hal yang ingin ia katakan. Aku menangkap ada cinta di matanya, tapi hatiku ... terlalu takut untuk memulainya kembali. Dan di sisi lain ada seseorang yang cintanya baru saja bersemi setelah disirami ....
__ADS_1