Happy Ending

Happy Ending
Never Getting Old For Love.


__ADS_3


"Mama sudah berhasil?" tanya Awan di ujung telepon. Ia baru saja selesai makan malam bersama kakek, nenek, dan adiknya di hotel tempat mereka menginap.


"Bagaimana menurutmu, sayang?" Keyla mendengus kecewa dan kehilangan nafsu makan padahal cacing-cacing di perutnya sedang bergelimpangan kehabisan tenaga.


"Dari suara Mama, pasti gagal," balas Awan sudah menduganya bahwa rencana yang disusun Keyla akan gagal.


"Apa yang harus Mama lakukan sekarang? Apakah kakek nenekmu membicarakan soal papamu?"


"Tidak. Mama tahu kan mereka orang yang tidak banyak bicara?"


"Yayaya ... persis sepertimu dan papamu."


"Whatever. Ingat, di pinggul sebelah kanan. Tatoo dengan huruf KA. Aku melihatnya saat kami mandi bersama."


"Iya ... iya. Tidurlah, sayang. Sampaikan salamku pada adikmu."


"Hmmmmm."


Keyla menjatuhkan tubuhnya di kasur setelah Awan mematikan teleponnya. Ia tak berani bertanya langsung pada orang tua Antonius tentang kemiripan Darrel dengan mantan suaminya. Selain karena canggung, ia takut akan menyinggung perasaan mereka. Jadi, mau tidak mau, hidup atau mati, dia harus mencari tahu kebenarannya. Firasat seorang istri ... eh, salah. Firasat seorang mantan istri yang masih mencintai tak pernah salah!


_______🗼🗼🗼🗼🗼______


"Kenapa kau tersenyum sendiri, Darrel?" tanya Margareth. Seorang barista di cafe tempat Darrel sedang menunggu seorang teman lama.


"Aku hanya sedang senang," jawabnya sambil meneguk anggur merah yang sudah berusia lebih dari sepuluh tahun.


"Penggemarmu mana lagi yang berhasil kau tipu?" tanya Margareth penasaran.


"Hahahaha. Apa kau pikir aku seorang penipu?"

__ADS_1


"Tidak ada yang tidak kenal siapa dirimu, Darrel. Penulis terkenal yang doyan perempuan. Bahkan artis-artis ibu kota terbujuk oleh rayuan manismu."


"Aku sangat terharu sekali dengan pujianmu. Sayangnya, ada satu wanita yang selalu menolak rayuanku," balas Darrel yang sudah setengah mabuk namun pikirannya justru melayang ke mana-mana sambil mendekatkan wajahnya pada Margareth, wanita keturunan Afrika berambut keriting dan selalu mengenakan pakaian sexy saat bekerja.


"Wanita itu pasti tidak suka dengan jenis pria sepertimu. Kalau tidak, mungkin dia seorang lesbian."


"Hahaha. Kau pandai bercanda Margareth. Apa kau seorang lesbian? Kau tak pernah menanggapi rayuanku."


"Oh ... maafkan aku, sayang! Aku adalah wanita yang setia pada pasangannya."


"Apa yang dikatakan Margareth benar. Tidak sepertimu, pria tua hidung belang!" Seseorang menyahut dan menepuk pundak Darrel. Sahabat lama yang sejak tadi ditunggunya. Ardi. Pemilik rumah sakit sekaligus kepala dokter tempat di mana Stevan Antonius memalsukan kematiannya. Pria itu memang mengalami kecelakaan mobil, namun ia masih hidup meskipun jiwanya telah lama mati.


Setelah Keyla menikahi James, hidupnya menjadi kosong dan tidak ada artinya lagi. Ia merasa bersalah karena tidak mampu menjaga cintanya, dan mempertahankan anak mereka untuk tinggal di sisinya. Dia telah mengecewakan Keyla, satu-satunya wanita yang mengisi hati dan hidupnya. Tidak ada Keyla, sama saja dengan kematian.


"Hei! Aku sudah lama menunggumu!" Darrel menyambut Ardi dengan pelukan . Pria itu menutup hidungnya karena tak tahan dengan tubuh Darrel yang bau alkohol.


"Kau tahu berapa umurmu sekarang, Steve?" tanya Ardi menaruh bokongnya di kursi dan menenggak air putih yang telah disipkan Margareth. Ini bukan pertama kalinya Ardi datang ke tempat kerja Margareth, jadi ia tahu kebiasaan setiap orang yang datang, termasuk Ardi, teman dekat Darrel.


"Benarkah, Darrel? Aku harap kau tidak encok," goda Margareth yang kadang-kadang merasa kasihan pada pelanggan setianya itu. Dia sering berganti-ganti wanita. Tapi, jauh di dalam matanya dia merasa kesepian yang teramat sangat.


Di mata wanita berusia tiga puluhan itu, Darrel bukanlah lelaki yang buruk. Bahkan, beberapa kali Margareth mendapatkan bantuan berupa uang saat ia tertimpa masalah. Ada pepatah lama mengatakan, siapa sahabat dan siapa musuhmu akan terlihat dengan jelas jika sudah berurusan uang. Dan Margareth membenarkannya.


Darrel adalah temannya, dewa penolongnya pada saat-saat dia terpuruk dan bahkan ditinggalkan kekasihnya saat hamil tua. Dia ingat betul bagaimana keadaannya tiga tahun lalu saat terlunta di jalanan dengan perut yang diisi anak kembarnya. Beruntung Tuhan mengirimkan Darrel untuknya. Jika tidak, ia dan anak kembarnya mungkin sudah mati.


Pria itu yang membiayai kehidupan Margareth. Dan dia juga yang memperkenalkan dengan pemilik cafe agar bisa bekerja. Saat Margareth bertanya pada lelaki itu kenapa dia menolongnya, katanya ia teringat mantan istrinya yang hamil dan melahirkan anak sendirian tanpa suami di sampingnya.


Margareth bisa tahu kesedihan yang dirasakan Darrel. Cinta dan penyesalan menjadi satu dan mungkin untuk menghilangkan rasa bersalahnya itu, dia sering bermain dengan gadis-gadis. Meskipun pada kenyataannya, rasa bersalahnya di masa lalu malah makin menjadi. Keyla tak bisa hilang dari ingatan dan juga hatinya. Namun ia juga enggan untuk kembali karena takut akan menyakiti perempuan itu lagi. Cinta sungguh rumit. Lebih rumit daripada tersesat di labirin dan harus menemukan jalan keluar sendiri.


"Hahaha. Kau benar, Margareth! Aku juga berpikiran sama denganmu!" Ardi tak mau kalah menggoda temannya yang sudah teler dan menyandarkan kepalanya di meja.


"Sepertinya dia sudah tak bisa lagi mendengarmu lagi, Di. Lihatlah berapa botol yang dia habiskan."

__ADS_1


"Oh, crap!! Come on, man! Kau yang menyuruhku ke sini dan kau meninggalkanku sendirian."


"Hmmm. Aku masih bisa mendengarmu," sahut Darrel beranjak dari kursi dan berjalan sempoyongan.


"Hah ... kita melihat pemandangan ini lagi. Antarkanlah dia, Di." Margareth mendengus dan merapikan botol-botol anggur yang dihabiskan oleh Darrel.


________🗼🗼🗼🗼🗼_______


"Turunkan aku di sini, Di."


"Serius bisa jalan sendiri?"


"Aku belum mabuk dan belum tua. Aku masih bisa memuaskan banyak wanita."


"Oke ... Oke ...." Ardi meminggirkan mobilnya di depan apartemen dan Darrel pun keluar dari mobil.


Ia berjalan sempoyongan ke dalam lift dan sesekali jatuh atau menabrak tembok. Ardi yang melihat dari jauh pun hanya bisa menghela napas. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Darrel seperti itu. Semakin ia mabuk, semakin ia sadar akan rasa sakit di hatinya.


Begitu keluar dari lift, bukannya berjalan lurus ke rumahnya, Darrel justru menggedor pintu rumah Keyla. Perempuan yang masih bekerja di ruang tamu itu pun membuka pintu karena seseorang di depan pintu terlihat tak sabaran.


"Apa yang kamu lakukan tengah malam begini?" Keyla menutup hidungnya karena bau alkohol yang sangat menyengat.


"Aku merindukanmu, Key!" Tanpa menghiraukan pertanyaan Keyla, Darrel memeluk wanita di depannya.


"Apa kamu sedang mabuk?" Keyla menutup pintu dan memapah Darrel menuju sofa lalu menidurkannya.


"Lihatlah dirimu! Seperti anak muda dan tak ingat berapa umurmu!" omel Keyla sambil melepaskan sepatu Darrel. Untung saja anak-anaknya tidak di rumah. Jika tidak, Keyla tak tahu harus bagaimana menjelaskan situasi ini.


"Apa kau juga berpikiran kalau aku sudah tua?" Darrel menarik tangan wanita itu hingga tubuhnya terjatuh di atas Darrel.


"Aku masih bisa membuatmu melahirkan anak kita lagi," ucapnya seraya memagut bibir Keyla yang tak bisa menolak atau menghindar. Perasaannya tak pernah salah. Dia adalah lelaki yang dicintainya. Stevan Antonius.

__ADS_1


__ADS_2