Happy Ending

Happy Ending
Bab 91: Sadar


__ADS_3

Casey menggerakkan tangan dan matanya, perlahan kelopak mata itu terbuka. Bola matanya bergerak memutar melihat sekeliling ruang tempatnya berbaring. Rasanya semua bagian tubuhnya kaku akibat terbaring selama 4 bulan di atas ranjang rumah sakit.Ingatan Casey kembali pada saat ia dibawa ke rumah sakit dan akan menjalani operasi. Samar-samar Casey masih bisa mendengar jika tingkat keberhasilannya hanya 20 persen saja. Saat itu Casey sudah pasrah jika pada akhirnya ia akan pergi untuk selamanya. Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain. Ia masih diberi kesempatan untuk hidup.


Casey menyadari saat ini tangannya sedang di genggam oleh seseorang, genggaman tangan itu terasa erat seolah orang yang menggenggamnya tidak ingin melepaskannya. Casey memiringkan kepalanya dengan hati-hati dan melihat Dariel tidur meringkuk disampingnya. Penampilan pria itu terlihat acak-acakan. Rambutnya yang sudah panjang karena tidak dipotong seperti biasanya. Jambang halus sudah mulai tumbuh di wajahnya. Biasanya dia yang akan mencukurnya. Lingkar hitam dimatanya menandakan pria itu tidak tidur dengan baik.


Selama Casey koma, ia bisa mendengar orang di sekelilingnya berbicara padanya, tapi ia tidak bisa membalasnya. Merasakan sentuhan-sentuhan halus ditubuhnya. Namun lagi-lagi ia tidak bisa membalasnya. Dan selama itu juga, suara Dariel mendominasi pendengarannya. Bagaimana nada suara sedih pria itu bercerita, menyentuhnya dengan lembut dan menangis di sampingnya.


Casey berusaha keras mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Dariel. Casey mengusap lembut wajah pria itu. Dariel yang merasakan wajahnya seperti di sentuh membuka kedua matanya dan terkejut saat menyadari Casey menatapnya.


"Sa.. sayang.. ka.. kamu sudah sadar," ucap Dariel refleks bangkit dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Casey.. sayang.. ini buka mimpi kan," tukas Dariel senang menampar wajahnya untuk memastikannya. Sakit. Ternyata ia tidak sedang bermimpi.

__ADS_1


"Mom... mom.. lihat ini. Casey sudah sadar," panggil Dariel membuat Luvena yang tidur di sofa bangun.


"Mom.. ayo kemari.." tukas Dariel tak henti-hentinya mengecup tangan Casey. Dariel mengeluarkan air mata bahagianya saat mendapati Casey sudah sadar. Luvena lalu bergegas mendekati ranjang Casey.


"Sayang.. kamu sudah bangun... " ucap Luvena senang kemudian meraih tangan Casey.


"Dariel, panggilkan dokter!"


"Syukurlah nak.. kamu sudah bangun. Kami sangat sedih melihat mu terbaring lama di sini," tukas Luvena mengusap lembut rambut kepala Casey.


"Da... Dariel..." gumam Casey pelan.

__ADS_1


"Ya sayang.. aku di sini," balas Dariel mengecup kening Casey dengan lembut.


"Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa mu," lanjutnya tanpa melepaskan tatapannya dari Casey.


"Mommy akan mengabari yang lain dulu," ucap Luvena senang berjalan menuju sofa untuk mengambil ponselnya.


"Terima kasih sayang.. terima kasih karena sudah tetap berjuang," ucap Dariel menangis. Sejak Casey dibawa ke rumah sakit, Dariel menjadi sangat sensitif jika itu berhubungan dengan Casey.


Tak lama kemudian dokter bersama perawat datang untuk memeriksa keadaan Casey. Dariel turun dari atas ranjang dan berdiri di samping ranjang melihat dokter memeriksa Casey.


Lima belas menit pemeriksaan, Casey dinyatakan baik-baik saja. Mengenai ingatannya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Casey mengingat semuanya. Hanya perlu pemeriksaan berkala saja dalam satu bulan ini sebelum pasien bisa dibawa pulang.

__ADS_1


"Untuk sementara pasien belum bisa bergerak bebas dan berbicara seperti biasanya karena efek baru bangun dari koma. Kalau begitu kami pamit dulu Mr. Garfield," ucap Dokter.


__ADS_2