Happy Ending

Happy Ending
Age, Depression and Desire


__ADS_3

"Kau sudah lama mengenalnya?" Victor bertanya sambil menyesap red wine di tangan kanannya. Ia sedang bersama Bima, seorang teman sekaligus model yang belakangan terkenal karena ketampanan dan bentuk tubuhnya yang bagus.


Tak hanya menjadi model majalah, serta brand-brand fashion pria ternama. Ia juga kerap berjalan di atas catwalk dan tak jarang ia juga akan memamerkan otot-otot punggung yang terlihat kuat, serta bagian perut, dada yang akan mampu menyihir wanita-wanita dan tentunya kaum gay. Itu pun jika mereka sedang melihat acara fashion show itu.


Sejak Keyla menikah, mereka sama sekali tak pernah bertemu. Pun tak bertukar kabar melalui telepon maupun SMS. Keyla sibuk dengan pernikahannya yang sempat gagal. Bima yang mulai memikirkan masa depan. Ia tak pintar, pun tak memiliki skill, oleh karena itu Bima memutuskan mengikuti ajang pemilihan model sampul di sebuah majalah.


Berkat ketampanan dan tubuhnya yang lebih dari ideal, ia nemenangkan perlombaan. Dan sejak saat itu, namanya melejit. Ia terus berusaha selama bertahun-tahun hingga akhirnya namanya sampai ke kancah Asia Tenggara, dan setelah beberapa tahun kemudian setelah ia jungkir balik, Bima sampai juga ke Paris. Di dunia permodelan, namanya tak diragukan lagi. Baik kemampuan dan kerupawanan.


"Ya. Kami pernah pacaran."


"Serius? Apakah kau pernah mencoba memegangnya?" tanya Victor memperagakan kedua tangannya mempentuk bulatan-bulatan tepat di dadanya.


" ... itu ... kau lihat, kan?! Payudaranya terlihat bulat dan menggemaskan. Dia bukan artis. Bukan juga dari kalangan entertainment. Tapi, lihatlah Keyla! Tubuhnya sangat bagus dan wajahnya cantik! Terlebih dia telah memiliki anak. Bukankah dia sangat sempurna?!"


"Uruslah urusanmu sendiri,Victor. Apakah kau kekurangan wanita sampai-sampai membicarakan istri orang lain?"


"Ini bukan masalah kekurangan wanita. Banyak gadis-gadis yang antre di belakangku. Tapi, tak ada yang seperti dia!"


"Berhentilah membicarakan istri orang lain!" Bima menggebrak meja bar yang terbuat dari marmer berwarna gelap. Ia kesal dengan ucapan Victor yang seolah-olah menganggap Keyla adalah wanita murahan dan mempertontonkah tubuhnya hanya untuk menarik perhatian pria. Keyla bukan perempuan seperti itu. Dia adalah wanita terbaik yang pernah ia kenal seumur hidupnya! Bahkan, jika mencari sampai ke kutub utara pun tak ada yang seperti dia.


"Buatku tak masalah! Lagipula tak ada undang-undang yang melarangnya. Tidak ada juga di dalam kitab-kitab bahwa membicarakan istri orang lain adalah dosa besar dan pantas dimasukkan ke neraka." Victor berkilah.


"Kau kaya, pebisnis, tapi otakmu sering kacau!"


"Hahaha. Kacau-kacau begini kan sahabatmu!" Victor menepuk pundak Bima. Pria yang lebih tua darinya beberapa tahun. Persahabatan mereka terjalin cukup lama. Dan mereka bertemu saat berada di Bangkok. Bima sebagai seorang model dan Victor pemilik sebuah brand pakaian ternama.


Mendengar Victor membicarakan soal mantan kekasihnya, Bima pun teringat kejadian tadi siang. Ia tak pernah menyangka bahwa akan bertemu Keyla kembali setelah sekian lama. Dia memang semakin menawan dan makin berisi. Tak dipungkiri, bibit-bibit cinta yang dulu pernah ada mulai bertunas kembali. Bima mendengus. Seandainya dulu ia memiliki uang, dia pasti segera melamar Keyla. Tapi sungguh nasib tak berpihak padanya. Jangankan punya uang untuk melamar, Keyla lah yang menopang kehidupannya sehari-hari.


Jika aku membalas kebaikanmu sekarang, apakah kau akan menerimanya, Key?


_________🗼🗼🗼🗼🗼________


Keyla sedang menidurkan Bintang di kamarnya. Anak itu kelelahan setelah berlibur. Biasanya, Bintang lebih suka tidur sendirian. Tapi, kali ini ia minta ditemani setelah berhari-hari tak bertemu Keyla.


Sementara itu, di kamar yang lain dua lelaki sedang berbicara cukup serius. Awan dan Darrel.


"Junior, kau tak masalah kan aku menikahi mama mu?" Darrel yang duduk di tepi ranjang memulai pembicaraan. Sedangkan Awan tengah sibuk mempersiapkan keperluan sekolahnya.


"Tidak. Grandma sudah mengatakan semuanya padaku. Lakukan yang kalian inginkan."


Oh, Tuhan! Darrel dibuat mengerutkan dahi dengan jawaban anaknya. Terdengar santai, dingin, dan juga mengandung makna yang dalam.


" Dengan syarat ... jangan menyakitinya lagi," lanjut Awan menatap ke arah mata papa nya. Tajam dan mengintimidasi. Pria itu heran, entah dari mana anaknya mendapatkan kata-kata seperti itu? Anak usia sembilan tahun!


"Apa kau butuh sopir untuk mengantarkanmu ke sekolah?"


"Tidak." Awan menjawab singkat jelas dan padat. Ia duduk di depan meja belajarnya dan membaca buku pelajaran bahasa Prancis.


"Jika tidak ada urusan lain, pergilah. Jika kau mau masuk, ketuklah pintu dan tunggu aku mempersilakan."


Kepala Darrel rasanya seperti dipukul menggunakan godam besar. Awan memang anakku ... benar-benar sepertiku saat muda dulu.


"Baiklah. Aku tak ingin mengganggumu. Selamat malam. Papa mencintaimu!" ucapnya sambil mencium kepala Awan lalu keluar dari kamar dan menutup pintunya perlahan.

__ADS_1


Aku juga mencintaimu ... dan merindukanmu. Awan bergumam saat Darrel sudah tak ada di ruangan itu bersamanya.


______🗼🗼🗼🗼🗼______


"Bagaimana dengan Bintang? Apa dia sudah tidur?" tanya Darrel menghampiri Keyla di kamar Bintang yang berada di sebelah kamar Awan.


"Ssstttt! Dia sudah nyenyak." Keyla memberi syarat agar Darrel memelankan suaranya. Pria itu berjalan mendekat dan mengelus rambut Bintang yang halus. "Dia cantik. Mirip sepertimu saat masih kecil."


"Benarkah?"


"Ya! Apa kau mau naik?"


Tanpa menjawab Keyla beringsut dari tempat tidur dan menggandeng Darrel berjalan keluar kamar.


"Apakah Bintang tak masalah tidur sendiri?" Darrel bertanya pelan. Sambil menaiki tangga.


"Tidak. Dia gadis pemberani. Katanya ingin jadi dokter hewan. Dokter hewan tak boleh jadi penakut! Kamu jangan meremehkan mereka. Anak-anak kita adalah anak yang hebat dan mandiri!"


"Kau juga ibu yang hebat! Bisa membesarkan mereka dengan baik!" bisik Darrel dan langsung mencopot kaosnya saat tiba di kamar. Ia menyandarkan dirinya pada tumpukan bantal dan keyla mematikan lampu, lalu membuka gorden. Membiarkan cahaya dari lampu kota meremangi kamarnya yang gelap.


"Bagaimana obrolanmu dengan Awan?" tanya Keyla penasaran. Bersandar di sebelah Darrel.


"Lancar. Tapi ... aku tak menyangka jika dia sangat ...."


"Sangat dingin?" Keyla menimpali diikuti tawanya.


"Awan menurunimu. Bahkan dua kali lipatnya. Tapi dia adalah kakak yang baik!" Keyla menarik ujung baju tidurnya yang berenda dan terbuat dari sutra mitasi. Menaikkannya hingga ke bagian perut lalu memegang tangan Darrel dan diarahkan ke kulitnya. "Apa kamu bisa merasakannya? Bekas sesar saat melahirkan Bintang. Dia lahir prematur dan saat itu aku terbaring lemah. Setelah kehilanganmu, aku kehilangan James saat hamil tua. Setiap malam, saat Bintang menangis, Awan akan selalu terbangun dan menemani neneknya merawat adiknya. Dia sangat dewasa setelah kehilangan kedua papanya!"


"Aku telah menyebabkan banyak penderitaan untuk kalian." Darrel mengecup lembut perut Keyla. Mengelusnya punuh kasih karena dari sanalah anak-anaknya berasal. Pria itu pun menggeser tubuhnya dan memutuskan untuk tidur sebentar di pangkuan Keyla.


"Kamu harus mencobanya. Anak-anak memiliki hati yang bersih. Mereka akan tahu maksud hatimu yang sesungguhnya. Sebenarnya, aku juga sering berpikir. Apakah aku bisa menjadi ibu yang baik untuk mereka? Tapi, setelah dipikir-pikir, tak ada yang sempurna di dunia ini. Termasuk orang tua. Bukankah kita juga sering bertengkar dengan orang tua kita dan sering berbeda pandangan?" jawab Keyla diselingi tawa di akhir kalimatnya.


"Kau benar," sahut Darrel yang pelan-pelan matanya terpejam namun masih sepenuhnya sadar.


"Tidurlah di tempat yang benar Tn. Antonius!" Keyla menggeser tubuh pria itu dan menaruh bantal di kepalanya. "Badanmu sangat berat!"


"Key, menurutmu aku masih tampan seperti sepuluh tahun lalu?"


"Pertanyaan konyol!" Keyla mulai merebahkan dirinya dan menutupi tubuhnya menggunakan selimut yang hangat.


"Siapa yang lebih tampan? Aku atau dua bocah kurangajar tadi siang?"


"Sejak kapan rasa percaya dirimu mulai menurun?"


Darrel memiringkan tubuhnya ke arah Keyla kemudian menarik tubuh perempuan itu agar mendekat padanya.


"Entahlah. Tiba-tiba aku menjadi seorang pengecut."


"Buatku kamu yang paling tampan dan terbaik!" sahutnya mengecup otot-otot keras pria di hadapannya. Darrel tahu kata-kata itu bukanlah sebuah kebohongan. Buka juga sekadar penghibur. Tapi ia tidak bisa lega begitu saja. Usia empat puluh lima. Sedangkan Keyla masih muda, cantik dan enerjik. Ia mengelus ramput Keyla, mencium rambutnya, sambil membayangkan saat dia berusia lima puluh nanti, apakah dia masih bisa melayani istrinya? Darrel berusaha menyingkirkan jauh-jauh pikiran itu! Dia bahkan sering menonton berita kakek-kakek memperkosa cucu atau bahkan tetangganya. Dia masih memiliki harapan. Suami yang tampan dan bisa memuaskan!


________🗼🗼🗼🗼🗼______


Meskipun berusaha keras agar bisa tidur dengan baik, tetap saja nihil! Pikiran Darrel kacau dan bayangan yang buruk selalu menghantui.

__ADS_1


Damn! Ini semua gara-gara dua bocah itu. Meski aku benci mengakuinya, mereka memang tampan, muda, dan terlihat memiliki ketertarikan pada wanitaku!


Darrel menyingkirkan tangan Keyla dari atas perutnya, ini masih terlalu dini untuk bangun tapi dia tak akan bisa tidur. Darrel memutuskan untuk memakai kaosnya yang ditaruhnya di kursi, menyahut ponselnya, lalu turun ke bawah.


Ia membuka kamar Bintang, dilihatnya gadis yang tengah memeluk boneka kelincinya. Dia sangat cantik. Persis seperti Keyla saat masih kecil. Pikirnya. Setelah itu, dia pergi ke kamar Awan. Anak lelakinya tidur dengan memegang buku yang dihadiahkan oleh Darrel saat ulang tahunnya. Darrel menyunggingkan senyum, matanya basah dan buru-buru ia menyekanya. Dia tidak tahu, apakah perasaan ini wajar dan dirasakan oleh semua pria di usianya, yang jelas, perasaan takut setiap saat menggerogoti pikirannya.


Lelaki itu memutuskan untuk membuat kopi di dapur kemudian duduk di sofa dan tanpa pikir panjang ia memencet sebuah nomor di layar di layar ponselnya. Ardi.


"Hai, Steve? Apakah kau perlu bantuanku?" sahut Ardi dari ujung telepon. Darrel berpikir, apakah sahabatnya itu bisa membaca pikirannya?


"Begitulah." Darrel menjawab tanpa basa-basi. "Maafkan aku tidak bisa mengantarmu ke bandara saat kau pulang."


"Tak masalah. Urusanmu lebih penting. Sampaikan salamku pada Keyla. Terakhir kali kami bertemu saat dia menengokmu di rumah sakit."


"Tentu. Akan kusampaikan nanti."


"Apa yang mengganjal pikiranmu?"


"Menurutmu aku masih bisa punya anak?"


"Hahaha. Sejak kapan kau jadi bodoh? Suaramu ... terdengar kau sedang depresi."


"Jawablah. Aku sedang tidak bercanda."


"Kamu lelaki normal! Jantan! Kau bisa memiliki sepuluh anak. Itu pun kalau Keyla sanggup melahirkan anak sebanyak itu. Kau pikir, kenapa para gadis-gadis mengejarmu dan ingin tidur dengamu? Sudahlah , Steve. Kau hanya sedikit lelah. Itu sebabnya kau berpikir aneh-aneh. Di usia kita, hormon Testosteron memang mulai berkurang. Tapi, gejala yang ditimbulkan setiap individu juga berbeda. Apa kau mengalami kesusahan 'berdiri'? Tidak, kan?!"


Darrel diam sejenak. Dia memang tak mengalami itu dan justru sebaliknya. Setiap melihat Keyla sesuatu di dalam dirinya selalu ingin mendesak keluar.


"Aku tidak memiliki masalah untuk soal itu."


"Nah, berarti tak ada masalah dengan membuat anak. Yang jadi masalah ada pikiranmu. Psikologismu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau pikirkan. Tapi, kau harus percaya pada dirimu sendiri bahwa hanya kaulah lelaki terbaik untuk Keyla."


"Oke. Maaf telah mengganggumu tengah malam."


"Tak masalah. Di Jakarta sedang ada pertunjukan luar biasa!"


"Apa?"


"Kota apung! Jakarta sekarang menjadi kota apung yang dikelilingi banyak air! Hahaha."


"Nikmati saja! Sedia alat pancing dan perahu kecil! Kau bisa menghabiskan waktu luangmu memancing di depan rumah!"


"Kurangajar! Hahahaha."


Darrel mengakhiri panggilannya. Setelah berbicara dengan Ardi, pikirannya sedikit tenang. Dia benar. Darrel hanya terlalu banyak berpikir. Dia dan Keyla akan baik-baik saja. Darrel harus meyakini itu!


______🗼🗼🗼🗼🗼______


***Catatan : Selain mengalami puber kedua, usia pria seperti Stevan Antonius kadang-kadang bisa bertingkah konyol dikarenakan pengaruh hormon. By the wat busway ... ada yang ingat gak? Artis yang baru meninggal beberapa saat lalu? Suaminya BCL. Tahu gak umurnya berapa?


A. 45


B. 40

__ADS_1


C. 35***


__ADS_2