Happy Ending

Happy Ending
Seine River


__ADS_3

Keyla tak bisa melepaskan diri dari Darrel. Pria itu sungguh ... bagaimana ya mengatakannya? Nekat dan marah yang berbaur menjadi satu. Itu sebabnya tenaganya besar sekali.


Apa kamu sanggup menahan yang ini?


Perempuan itu mengelus pundak Darrel yang lebar dan perlahan menuruni dadanya yang terlihat menonjol dibalik kaos putih ketat yang memeperlihatkan bentuk tubuhnya. Jari jemari Keyla memutar tepat di dadanya dan memelintir menggunakan jempol dan jari telunjuk. Di saat yang bersamaan, pria itu pun memekik dan melepaskan bibirnya.


"Kenapa kau suka menganiayaku di bagian ini?" protes Darrel dan Keyla mengabaikannya begitu saja.


"Kamu sendiri suka menciumku? Apa aku kekasihmu? Tunanganmu? Istrimu? Kita hanya orang asing Tn. Darrel Douglas!" Keyla mengangkat kardus dan sisa makanan dari atas meja dan membuangnya ke tempat sampah.


"Kau ibu dari anakku." Darrel menjawab santai. Mengangkat dua gelas kotor dari atas meja dan menyusul Keyla ke dapur.


"Benarkah? Aku tidak pernah ingat pernah melahirkan anakmu. Ayah dari anakku adalah Stevan Antonius dan dia sudah meninggal."


Darrel membuang napas kemudian duduk di sofa setelah meletakkan gelas ke dalam bak cuci. "Ayo kita menikah." Mendengar kata-kata Darrel, Keyla meletakkan gelas yang sedang dicucinya dan berlari ke arah pria itu.


"Apakah pernikahan adalah mainan buatmu?" tanya Keyla berkacak pinggang dengan tangan yang masih basah.


"Beri aku kesempatan, Key. Kau pasti tahu alasan kenapa mama ingin kamu tinggal di Paris."


"Jika aku tahu dari awal, aku akan menolaknya."


"Apa kau begitu membenciku?" tanya Darrel menatap lekat-lekat wajah Keyla yang tengah berdiri.


"Ya. Aku membencimu. Kamu lah yang menghancurkan pernikahan kita," jawab Keyla lirih dan air matanya hampir pecah. Buru-buru ia berpaling dan menaiki tangga menuju kamarnya. Dibukanya jendela kamar dihirupnya udara kota Paris di malam hari. Menara Eiffel tertangkap oleh netranya. Juga aliran sungai Seine yang terbentang di sepanjang kota dengan lampu yang berkelap kelip.


"Keyla!" teriak Darrel ketika berhasil menaiki tangga dan menyusul Keyla di kamarnya.


"Ada apa?" Perempuan itu menoleh ke arah pintu yang sengaja dibuka. Menatap Darrel dengan mata sendu.


"Beri aku kesempatan sekali lagi."


"Aku akan memikirkannya," jawab Keyla enteng lalu berbalik lagi memandangi gemerlapnya lampu yang ada di hadapannya.


Drrrt ... drrrttt ... ponsel Darrel bergetar.


"Halo, Margareth?"


"Darrel! Anakku sedang di rumah sakit. Bisakah kau datang kemari?"


"Hmmm. Oke. Kirimkanlah alamatnya padaku."


"Apakah dari kekasihmu?" tanya Keyla tanpa melihat pria di belakangnya dengan nada cemburu.


"Temanku sedang ada di rumah sakit. Maukah kau ke sana bersamaku?"


Karena penasaran siapa teman mantan suaminya, Keyla pun mengiyakan.


"Tunggulah aku di depan. Aku akan mengambil kunci mobil."


_______🗼🗼🗼🗼🗼_______


"Darrel!" teriak Margareth begitu melihat temannya itu dari kejauhan. Ia sedang menunggu di depan ruang rawat inap.

__ADS_1


"Ada apa dengan anakmu? Dan kenapa wajahmu?" tanya Darrel memegang pundak Margareth yang bercucuran air mata. Wajahnya biru-biru seperti habis dipukul oleh seseorang.


Jadi, inikah temannya? Ada hubungan apa diantara mereka? Sampai-sampai Darrel mau ke rumah sakit begitu ditelpon? Oh, tidak Keyla? Apa kau sedang cemburu?


Seakan tahu pikiran Keyla, lelaki itu menarik pinggang perempuan yang ada di sebelahnya dan Keyla memekik pelan karena kaget.


"Margareth, kenalkan ini Keyla," katanya dengan rasa penuh bangga dengan wajahnya bersinar. Dia tahu Keyla masih mencintainya. Hanya saja, perempuan itu ingin bermain-main.


"Maafkan aku, Darrel. Aku tidak tahu kau sedang bersamanya. Maafkan aku, Keyla." Margareth menganggamit telapak tangan Keyla. Ia sungguh-sungguh minta maaf dan tak perlu tanya lagi siapa itu Keyla. Darrel pernah menceritakannya tempo hari.


"Tidak apa-apa, Margareth." Mengetahui ketulusan wanita berkulit hitam di hadapannya, Keyla pun memeluknya. Mengusap punggung Margareth agar dia merasa lebih tenang lalu menuntunnya ke tempat duduk. Kursi panjang yang terbuat dari besi dan dicat dengan warna biru yang terlihat mengkilat.


"Kalian mengobrollah dulu. Aku akan pergi ke bagian admisnistrasi." Darrel melangkahkan kaki menuju tempat pembayaran. Sedangkan Margareth dan Keyla terlihat sedang bicara.


"Apa kamu sudah mengobati lukamu?" Keyla menyentuh pipi Margareth. Meskipun kulitnya gelap, bekas pukulan itu masih terlihat.


"Aku baik-baik saja, Keyla. Luka ini tak seberapa dibanding anakku."


"Siapa yang melakukannya?" tanya Keyla penasaran sambil menggenggam erat tangan wanita yang duduk di sebelahnya.


"Kekasihku. Darrel sudah berulang kali memperingatkanku bahwa dia bukan pria baik-baik. Berapa bodohnya aku."


"Kenapa dia sampai memukulmu dan anakmu?"


"Dia sedang mabuk. Begitu pulang, dia mengambil semua uang simpananku. Saat aku berusaha mencegahnya, dia mengambil anakku dan membanting tubuhnya ke lantai. Seketika ... anak itu tak sadarkan diri." Keyla memeluk Margareth yang kembali terisak. Dia juga seorang ibu dan tanpa sadar, Keyla pun menjatuhkan air matanya. Kesedihan seorang ibu yang paling besar adalah melihat anaknya terluka. Jangankan karena sakit, melihat anak menangis saja rasanya membuat hati teriris.


"Tenanglah Margareth ... semua pasti akan baik-baik saja."


"Tidak perlu berterima kasih. Kita sesama wanita, terlebih aku juga seorang ibu. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Apa kamu sudah makan? Kamu juga harus menjaga kesehatanmu demi anak-anakmu."


"Sejujurnya aku tak sempat makan. Anakku yang satunya sedang tidur di sofa. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Dia pasti menangis kalau saat bangun aku tidak ada si sana."


"Tunggulah di sini. Aku akan membeli makanan untukmu."


"Terima kasih banyak, Key," balas Margareth sungguh-sungguh. Ia menggenggam tangan Keyla yang terlihat kontras dengan warna kulitnya. Margareth berpikir bahwa wanita itu sangat cantik. Rambut hitamnya yang panjang, tubuhnya tak terlalu tinggi layaknya seorang model, namun bentuk tubuhnya sangat indah. Padat dan kulitnya pun halus. Pantas saja jika Darrel tak bisa melupakan mantan istrinya itu.


Keyla mulai berjalan menjauh mencari minimarket yang ada di sekitar rumah sakit. Saat di belokan koridor, ia berpapasan Dengan Darrel yang telah menyelesaikan urusannya.


"Mau ke mana?"


"Mencari makanan untuk Margareth dan anaknya."


"Biarkan aku menemanimu." Keyla tak menjawab dan membiarkan lelaki yang sedang mengenakan celana jins dengan warna yang memudar dan kaos putih ketat itu mengikutinya. Mereka berjalan beriringan menapaki lantai koridor dengan kesibukan yang ada di benak masing-masing.


_______🗼🗼🗼🗼🗼_____


"Apa kamu sudah lama mengenal Margareth?" Akhirnya Keyla memberanikan diri memulai perbincangan saat perjalanan kembali dari minimarket yang terletak tepat di samping rumah sakit. Kalimat Keyla terdengar canggung dan Darrel hanya tersenyum.


"Sudah lama."


"Oh."


"Apa kau masih cemburu?"

__ADS_1


Keyla hanya diam. Wajahnya memerah karena tak bisa menjawab pertanyaan Darrel dengan gamblang.


"Tenang saja. Margareth adalah perempuan yang baik. Dia tidak ambisius seperti Anna." Darrel mendekati Keyla dan melingkarkan tangannya di pundak Keyla. Perempuan itu tidak menghindar. Dia juga tidak marah. Sebaliknya justru dia merasa nyaman dengan dada yang berdebar-debar layaknya drum yang ditabuh saat akan berperang.


"Soal Anna ... apakah dia tahu kamu masih hidup?" Keyla bertanya ragu dan sekelebat bayangan masa lalu pun muncul di kepalanya.


"Dengarkan aku, Key. Tidak ada yang tahu soal aku selain kau, orang tuaku, dan dokter yang membantuku. Kalau pun Anna tahu, itu tidak akan mengubah apapun. Aku sudah memulai kehidupan baruku, aku tak peduli dengannya. Terlebih lagi ... aku pernah melakukan hal bodoh yang membuatku kehilanganmu. Aku sudah merasa cukup membayarnya. Tapi, aku masih berhutang banyak padamu," balas Darrel menekan pundak Keyla.


Mendengar kata-kata Darrel, Keyla menghentikan langkahnya. Kata-kata Darrel terdengar sungguh-sungguh. "Keyla, ijinkan aku melunasi hutang-hutangku padamu. Aku akan membayarnya seumur hidupku. Menikahlah denganku," lanjut Darrel yang tiba-tiba berlutut di hadapan Keyla sambil memegang tangan kirinya. "Aku tahu aku bukan pria baik-baik. Aku sudah banyak melukaimu. Tapi, percayalah. Hanya aku yang bisa mengobati lukamu. Hanya aku yang bisa membahagiakanmu."


"Berdirilah, Antonius. Meskipun rumah sakit sedang sepi, akan memalukan jika tiba-tiba ada yang melihat."


"Apakah itu artinya kau menerima lamaranku?"


"Aku harus membicarakannya pada anak-anak."


"Aku yakin anak-anak akan menerimaku."


"Hmmmphh! Kamu terlalu percaya diri, Antonius!" Keyla pura-pura marah dan berjalan meninggalkan Darrel yang masih berlutut.


Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi. Jika kamu mengecewakanku, akan kubuat perhitungan denganmu!


"Apa kau sudah melaporkan Juve pada polisi, Margareth?" Darrel bertanya dengan serius. Mereka sedang duduk di ruang rawat inap. Anak Margareth yang masih terbujur di tempat tidur. Ia baru saja sadar dan telah diperiksa oleh dokter. Sedangkan saudari kembarnya, tengah bermain-main di lantai setelah mengisi perutnya dengan beberapa potong sandwich.


"Aku sudah melaporkannya, Darrel. Polisi akan menghubungiku kalau Juve telah ditemukan."


"Aku harap kau tidak terbujuk lagi dengan rayuannya. Seorang laki-laki yang mencintaimu tak akan pernah memukulmu. Kau terlalu baik hati padanya," balas Darrel berapi-api. Ia duduk di sebelah Keyla dengan kaki yang tersilang dan memperlihatkan kakinya yang panjang. Sementara Margareth duduk di kursi plastik di samping ranjang.


"Maafkan aku, Darrel. Selama ini aku mengabaikan kata-katamu," sahut Margareth menyesal. Dan seketika itu ia merasa sangat bodoh karena mau-maunya memaafkan kekasihnya yang sudah berulang kali berbuat kasar padanya saat sedang mabuk.


Darrel menghela napas," Beritahu aku kalau kau butuh bantuan. Aku sudah membayar sebagian biaya rumah sakit, untuk kekurangannya, aku meminta mereka untuk menghubungiku begitu anakmu diperbolehkan pulang."


"Terima kasih, Darrel. Aku tidak tahu bagaimana caraku membalas budimu. Kau sudah sangat banyak membantuku dan anak-anakku."


Lelaki itu pun berdiri dari sofa. Melangkahkan kakinya mendekati Margareth yang terharu karena kebaikan temannya itu. "Sudahlah, Margareth. Anakmu akan baik-baik saja. Pakailah ini untuk kebutuhanmu," kata Darrel sambil mengulurkan beberapa lembar uang yang jumlahnya tak sedikit. Ia lalu menepuk pundak Margareth agar perempuan itu kembali bersemangat.


"Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain terima kasih, Darrel. Oh, Keyla ... kau sangat beruntung ada pria seperti ini yang mencintaimu," balas Margareth yang melihat ke arah Keyla. Seketika perempuan itu tertunduk ... benarkah dia seberuntung itu?


_______🗼🗼🗼🗼🗼_______


Mobil milik Darrel menyusuri jalanan kota Paris yang masih cukup ramai. Sejak keluar dari rumah sakit, ia dan Keyla sama sekali tidak saling berbincang. Darrel hanya sibuk di belakang kemudi mobil sport Audi A3 nya yang berwarna putih, sedangkan keyla hanya melihat ke arah jalanan. Memandangi lampu-lampu kota dan juga bangunan bergaya eropa yang berjejeran.


"Apa kau mau jalan-jalan?" Darrel menolek sesaat ke arah Keyla dan mencoba membuka perbincangan.


"Karena kau tak menjawab, itu artinya setuju." Darrel tersenyum. Ia tahu perempuan yang ada di sebelahnya belum tuli dan masih mendengarkan kata-katanya.


Darrel berputar-putar, mencari parkiran yang sepi di dekat menara Eiffel. Setelah melihat area parkir yang kosong, ia memberhentikan mobilnya dan turun membukakan pintu untuk Keyla. "Turunlah, Key," ucap Darrel lembut. Tanpa berbicara sepatah kata pun, Keyla berjalan pelan menyusuri Seine River sedangkan Darrel mengikuti dari belakang. Suasana tak begitu ramai, juga tidak sepi. Di seberang, terlihat Eiffel yang tinggi, kokoh, dan terlihat megah dengan cahaya lampu yang kekuningan. Kapal-kapal yang mengangkut para turis terlihat kosong, dan ada beberapa yang berjalan mengantarkan penumpang untuk menikmati romantisnya kota Paris di malam hari.



Saat tiba di tempat yang sepi, Keyla berhenti dan duduk di tempat yang telah disediakan. Tepat di tepi sungai Seine. Ia memejamkan mata dan menghirup napas dalam-dalam, kemudian air matanya jatuh perlahan-lahan. Darrel yang duduk di sebelahnya mendekat, menarik tubuh Keyla ke dalam pelukannya. Menyandarkan kepala perempuan itu di dadanya. Mengelus rambutnya yang tergerai. Darrel tak ingin bertanya kenapa Keyla menangis. Ia juga tak akan mengatakan agar orang yang dicintainya berhenti menangis. Dia tak ingin mengatakannya. Dia hanya ingin memeluk perempuan itu, menghirup aroma shampoo yang menguar dari rambutnya, merasakan betapa hangat tubuhnya, dan membiarkan kota Paris menjadi saksinya. Sungai Seine sebagai latar di mana ia berjanji untuk membahagiakan Keyla dan menebus semua kesalahan-kesalahannya di masa lalu.


Menangislah, Key. Biarkan Seine River yang mengalir membawa kesedihanmu ke lautan. Karena setelah itu aku hanya akan memberimu kebahagiaan yang tidak pernah kau bayangkan.

__ADS_1


__ADS_2