Happy Ending

Happy Ending
Istri Yang Perhitungan.


__ADS_3

Darrel menghentikan mobilnya di depan sebuah toko dengan bangunan art deco yang terletak di Avenue Georges V, Paris, Prancis. Tadinya Keyla tak menyadari tempat apa itu. Tapi, setelah melongok keluar kaca mobil ada tulisa LY, mendadak kepalanya pusing dan semua darah stuck di kepalanya.


"Akan kubukakan pintu untukmu." Darrel berkata lembut. Melangkah keluar dari mobil sementara Keyla mengeratkan pelukannya pada Bintang yang duduk di pangkuannya.


"Aku tidak mau turun. Pokoknya tidak! Ini toko pakaian yang sangat mengerikan dan sangat mahal. Bahkan lebih mengerikan dibanding ketemu mantan secara tiba-tiba saat makan siang." Keyla berucap pada dirinya sendiri. Tepat di telinga Bintang.


Tok ... tok ... tok ... pria itu mengetuk pintu kaca tiga kali. Saat hendak ditarik, Keyla menguncinya dari dalam. "Keyla." Darrel melongok melalui kaca pintu mobil yang berwarna gelap. "Kemarilah!" Keyla mengayunkan tangannya. Meminta agar Darrel kembali masuk ke dalam mobil.


"Kenapa, sayang? Kenapa kau tidak mau turun?" tanya Darrel heran saat kembali duduk di belakang kemudi.


"Bisakah kita cari tempat lain? Di mall, misalnya."


"Di sini pakaiannya bagu-bagus. Berkelas. Bukankah kau sendiri yang bilang kau tak punya pakain layak dan takut akan mempermalukanku? Ini salah satu tempat terbaik di Paris."


"Aku tak menginginkannya lagi. Masksudku, baju baru. Aku bisa memakai seadanya."


"Oh, tidak. Ayolah, Key. Apa yang salah dengan tempat ini?'


"Tidak ada. Aku hanya ingin ke mall." Keyla menjawab gelagapan.


"Binbin? Apa kau tahu kenapa dengan Mama?"


Bintang melihat ke arah Darrel. Mengulurkan kedua tangannya dengan maksud agar pria itu menggendongnya. "Mama bilang harganya mahal," bisik Bintang di telinga papanya.


Darrel kembali membuka pintu. "Keluarlah, sayang. Jika tidak aku akan memaksamu." Pria itu berbicara dengan nada tenang namun penuh penekanan. Ia tak suka Keyla bersikap seperi itu. Terlalu memperhitungkan uang yang akan suaminya keluarkan untuknya.


Keyla pun keluar mobil, tanpa menunggu suaminya membukakan pintu. "Sepertinya Mama marah." Darrel tersenyum saat Bintang berkata seperti itu padanya. "Mama semakin cantik saat marah. Biarkan saja," balas Darrel yang sedang menggendong putrinya dengan tangan kiri.


Tak butuh waktu lama bagi Keyla untuk memilih baju. Begitu dia memasuki ruangan ber-AC itu, ia langsung menghampiri seorang pramuniaga yang telah bersiaga. "Tolong tunjukan padaku koleksi terbaik kalian!"


Keyla dibawa berkeliling, melihat dan mencoba beberapa dress yang disarankan. Perempuan itu sudah bertekad, akan mengambil baju yang paling mahal dan akan menjualnya dengan diskon setelah dipakai.


Well, pasti dia akan meraih banyak keuntungan jika dirupiahkan. Secara, banyak wanita di Indonesia yang menyukai barang dengan brand ternama. Jika mereka tak sanggup membeli, maka akan menyewanya hanya demi sebuah pengakuan di kalangannya. Dan sayangnya, Keyla tak termasuk di dalamnya.


Dia memang menyukai barang yang bagus, tapi tak perlu mahal apalagi yang harus merogok kocek puluhan hingga ratusan juta rupiah. Bagi Keyla, tak penting pengakuan dan penilaian dari orang lain. Karena menurutnya, penilaian manusia tak pernah adil karena selalu melibatkan perasaan. Jika kau menyukainya, maka ia baik di matamu. Jika kau tak menyukainya, sebaik apapapun dia di mata orang lain, kau akan menilainya buruk.

__ADS_1


"Sudah selesai?" tanya Darrel yang duduk di ruang tunggu bersama Bintang sambil membacakannya sebuah cerita.


"Yup. Aku memilih dua gaun. Aku harap kamu menyukainya."


"Apapun pilihanmu."


Pria itu lalu menggendong Bintang, menuju kasir untuk membayar gaun malam yang telah dipilih istrinya. Satu berwarna hitam dengan hiasan beberapa manik-manik di bagian pinggang, dan satunya lagi perpaduan antara merah tua dan hitam. Sangat cantik. Elegan dan ya ... kalau bahasanya Keyla orang-orang yang tak mengerti fashion, tidak akan pernah tahu kalau baju yang dipakainya barang mahal. Jadi, percuma.


"Masih padaku?" tanya Darrel begitu mereka kembali ke mobil.


"Tidak. Aku berterima kasih padamu. Aku sangat tersanjung!"


Darrel tak percaya pada yang diucapkan istrinya. Dia tahu Keyla sedang marah. Marah dengan dirinya yang berusaha memberikan yang terbaik untuk istrinya, wanita yang dicintainya. Pria itu mendengus kesal lalu menginjak pedal gas. Ia sama sekali tak tahu di mana letak kesalahannya.


"Kenapa kita berhenti?" tanya Keyla begitu suaminya memarkir mobilnya di sebuah toko yang depannya terjejer berbagai jenis sepeda.


"Bintang ingin belajar naik sepeda. Iya kan, sayang?" Darrel menatap Bintang dan gadis itu mengangguk dengan cepat. "Ayo turun dengan Papa," katanya lagi sembari mengambil Bintang dari pangkuan mamanya. "Kau boleh di sini jika tak ingin ikut," sambung Darrel keluar dari mobil.


"Aku mau ini!" tunjuk Bintang begitu melihat sepeda mini roda empat warna putih dengan gambar snoopy.


"Ya."


Darrel mendudukkan Bintang di sadel berwarna putih. Ia tak kesulitan memutar pedalnya karena tubuh Bintang tergolong cukup tinggi untuk anak seusianya.


"Asik! Papa akan mengajariku naik sepeda!"


"Tentu! Setelah ini mau makan apa?"


"Pizza dan es krim!"


"Baiklah. Papa akan membelikanmu banyak pizza," balasanya menurunkan Bintang dari sadel. "Tolong yang ini masukkan ke bagasi mobil." Pinta Darrel pada petugas toko dan membuka bagasi menggunakan remote control jarak jauh.


_______🗼🗼🗼🗼🗼______


"Papa. I love you!" ucap Bintang saat mereka berdua memasuki mobil lalu bibir mungil itu pun mendaratkan kecupan di pipi Darrel.

__ADS_1


"Papa juga mencintaimu, sayang. Mau belajar menyetir?" tanya Barack.


"Yep!" Bintang menjawab dengan antusias dan selama perjalanan ke rumah, Bintang duduk di pangkuan papanya sambil memegang kemudi. Sesekali dia teriak saat setirnya berputar, sesekali tertawa saat papanya mengerem mendadak di trafic light.


"Mana yang lebih kau cintai, Papa atau Mama?"


Ekor mata Keyla mengawasi papa dan anak itu. Perempuan itu berharap, 'Mama' adalah jawabannya.


"Papa! Papa the best!" Bintang menjawab mengacungkan dua jempolnya. Darrel tertawa senang. Sementara Keyla, wajahnya masam. "Binbin? Sejak kapan kamu lebih mencintai Papa?" tanya Keyla tak terima.


"Pas Papa belikan sepeda Binbin!"


Kali ini, bukan hanya Darrel yang tertawa. Tetapi juga Keyla. Oh tidak, Key. Anakmu sudah menjadi anak yang konsumtif dan mengerti nilai uang!


"Sudah tidak marah?" Tangan Darrel mengusap pundak Keyla.


"Hmmmphh! Aku makin marah padamu. Tak hanya membuatku kesal, kamu juga merebut Bintang."


"Mamamu cemburu!" bisik Darrel pada Bintang dan gadis itu pun tertawa meski tak tahu apa maksud sebenarnya.


"Sayang, jam berapa Awan pulang?"


"Kurasa dia sedangdi perjalanan."


"Bisakah kau memesan pizza untuk anak-anak? Beberapa ayam goreng dan juga es krim."


"Baiklah. Itu ide bagus daripada kita makan di restoran."


"Baiklah Ny. Darrel. Mulai sekarang kau yang memegang kendali keuangan rumah kita."


"Itu harus! Aku tak ingin suamiku menghamburkan uang untuk wanita lain!"


________🗼🗼🗼🗼🗼_________


Terima kasih sudah membaca sampai episode ini. Terima kasih, my lovely readers untuk dukungannya pada Keyla dan Stevan Antonius/Darrel. Tolong dukung juga Dea dan Angga di Novel Jodohku, Tetanggaku. Novel ini diikutkan lomba yang diadakan Mangatoon/Noveltoon (Novel Teenlit/ Remaja anak sekolah). Mohon dukungannya🙏Like, komen, berlangganan dan vote.

__ADS_1


__ADS_2