
"Apa kamu sudah lupa jika ibunya yang mengambil ayah mu dari kita. Karena menyelamatkan nyawa anak sialan itu bersama ibunya juga, daddy mu rela menukar nyawanya sendiri," pungkas Matilda mulai emosional.
"Mom..." ucap Adeline sendu menatap Matilda yang mulai menangis.
"Mommy baik-baik saja sayang," balas Matilda tau jika putrinya mengkhawatirkannya.
"Berjanjilah pada mommy untuk tidak pernah menemuinya lagi. Mommy tidak ingin terjadi sesuatu dengan mu lagi," ucap Matilda menggenggam tangan Adeline.
"Mom, bisa tidak mommy melupakan masa lalu dan menerima kenyataan yang terjadi. Casey tidak salah mom. Dia tidak tau apa pun. Ini semua juga karena daddy yang menerima ajakan teman bisnisnya untuk minum di bar dan di jebak untuk merusak rumah tangga mommy," kata Adeline memeluk Matilda.
"Adel.. mommy tidak bisa. Kamu tau, tiap kali aku melihat wajah anak itu, aku terbayang dengan wajah ibunya yang munafik itu. Ia sengaja tidak mau menggugurkan kandungannya karena berencana ingin mengambil daddy mu dari mommy," ucap Matilda.
Ceklek... pintu terbuka membuat kedua wanita di dalam ruangan itu menoleh ke arah pintu.
"Ma..maaf.." ucap Casey dengan air mata membasahi wajahnya tak sengaja menekan gagang pintu. Casey berlari menjauh dari ruangan itu.
"Casey.." panggil Adeline. Ingin sekali ia turun dari brankar nya namun karena kondisinya ia kesulitan untuk mengejar Casey. Ia yakin Casey pasti sudah mendengar perkataan ibunya.
"Mom.. kejar Casey.." perintah Adeline.
__ADS_1
"Mom, Casey pasti mendengarnya. Aku tidak yakin dia akan baik-baik saja," kata Adeline sedih. Andai ia bisa, ia ingin mengejar Casey dan menenangkan adiknya itu.
"Biarkan saja. Itu lebih baik jika dia tau siapa dirinya sebenarnya. Sejak dulu mommy sudah ingin mengatakannya," ucap Matilda datar.
"Mom.." ucap Adeline marah.
Brakkk.... pintu terbuka dengan keras. Adeline dan Matilda sontak melihat ke arah pintu.
"Sayang.. kamu baik-baik saja," ucap Malvin menghampiri istrinya dengan rasa cemas dan khawatir. Ia baru saja mendapat panggilan dari ibu mertuanya dan mengatakan jika Adeline sedang masuk rumah sakit.
"Aku dan bayi kita baik-baik saja hubby," jawab Adeline mengusap wajah khawatir suaminya.
"Semua ini karena Ca__"
"Aku tidak hati-hati saat berjalan hingga terjatuh," ucap Adeline memotong perkataan ibunya.
"Kamu yakin? kamu tidak berbohong kan?" tanya Malvin meragukan perkataan istrinya.
"Mommy keluar sebentar," kata Matilda lalu pergi.
__ADS_1
"Aku tidak bohong hubby," balas Adeline menatap suaminya seolah meyakinkan pria itu.
"Kamu membuatku takut sayang," ucap Malvin mengecup kening istri yang sangat dicintainya.
"Maafkan aku, lain kali aku akan berhati-hati," tukas Adeline memeluk suaminya.
"Dokter bilang, besok pagi aku sudah bisa pulang," kata Adeline.
"Baiklah, malam ini kita akan menginap di sini," ucap Dariel.
"Hubby, tidak usah katakan kejadian ini pada mum dan dad ya. Aku tidak ingin mereka khawatir. Lagi pula aku baik-baik saja," pungkas Adeline tidak ingin kedua mertuanya yang saat ini berada di Inggris khawatir. Malvin mengangguk.
Sementara itu Casey sudah tiba di rumah. Ia berlari menuju kamarnya lalu menguncinya. Tubuh Casey merosot, bersandar pada pintu.
"Pantas.. pantas saja mommy membenci ku. Aku bukan putrinya," gumam Casey menangis kuat.
"Kenapa harus aku yang mengalami semua ini. Kenapa aku harus dilahirkan dari wanita yang sudah merusak rumah tangga mommy dan ternyata aku yang menyebabkan daddy meninggal. Kenapa tidak aku saja yang meninggal saat itu," kata Casey dengan suara yang kuat.
"Tapi aku juga ingin jadi anak mommy meskipun tidak ada darah mommy mengalir di dalam tubuh ku," ucap Casey sesenggukan. Casey tetap menyayangi Matilda walau sekeras apa pun Matilda menolaknya. Casey tidak bisa membenci wanita itu.
__ADS_1
Bahkan sekarang Casey tidak menyalahkan Matilda, karena ia tau jika ibu kandungnya dan dirinya sendiri penyebab semua yang terjadi pada wanita itu. Mommy nya pantas membencinya.