Happy Ending

Happy Ending
Wedding Day


__ADS_3

Akhirnya aku sampai di rumah ini lagi dan aku melihat sepasang baju pengantin di tengah-tengah ruangan yang sudah seperti aula.


Aku berjalan ke arahnya dan betapa indahnya gaun pengantin itu. Tuxedo warna hitam dan gaun warna putih yang sederhana namun terlihat elegan.


Aku bisa membayangkan ketika memakainya. Kain yang melekat pas sesuai bentuk tubuhku, dada belahan rendah berbentuk V, bahu yang terbuka, serta bagian belakang yang memperlihatkan punggungku serta gaun itu memiliki ekor yang cukup panjang. Aku berharap tidak menginjaknya ketika ketika berjalan. 


"Kau menyukainya?" tanya Antonius melingkarkan kedua tangannya di perutku.


"Tentu saja. Ini indah sekali. Bukankah ini seperti kain sutra asli?"


"Mama yang membuatnya."


Wow. Aku terkejut mendengarnya. "Apakah tante Sabrina seorang perancang busana?"


"Ya." Antonius menjawab dengan singkat.


 Pantas saja tante Sabrina begitu stylish dan baju-baju yang ada di lemariku pun terlihat sangat berkelas dan mahal. Aku tidak yakin apakah uangku cukup untuk membeli semua baju-baju itu?

__ADS_1


"Kalian begitu mengejutkanku. Adakah hal lain yang tidak kuketahui?"


"Kau akan tahu jika kita sudah menikah nanti," balas Antonius datar dan tak ada maksud di dalamnya. Lagipula, memang ada keluarga yang tidak memiliki rahasia? Ya, kurasa setiap orang memiliki hal tersembunyi dalam diri mereka masing-masing.


**** 


Semua tamu sedang sibuk berbincang-bincang dengan gelas di tangan mereka. Pernikahanku dengan Antonius berjalan dengan lancar dan hanya dihadiri keluarga maupun teman dekat. 


"Key, Steve, cepet-cepet kasih Mama cucu, ya?" ujar tante Sabrina yang kini jadi mama mertuaku. 


"Kalau bisa kasih double!" imbuh mama dan akhirnya kedua sahabat baik itu pun tertawa kegirangan sebelum akhirnya aku dan Antonius meninggalkan perayaan itu. 


"Apa biasanya aku jelek?" Aku menjawab sambil melihat pantulan bayangan Antonius yang sedang berdiri di belakangku melalui cermin meja rias.


"Biasanya kamu terlihat menyebalkan," balasnya lagi sambil senyum menyungging di bibirnya.


"Bukankah sebaliknya? Kamu selalu mengabaikanku."

__ADS_1


"Baiklah. Mulai sekarang aku tidak akan mengabaikanmu lagi." Antonius menimpali sembari mengangkat tubuhku.


"Tunggu! Aku ingin mandi dulu!" Aku meronta agar Antonius menurunkanku. Tubuhku berkeringat karena seharian berdiri dan menyambut tamu yang datang. Aku ingin mandi dan berganti baju dengan pakaian sexy agar lebih menarik.


Awww! Antonius menjatuhkan tubuhku dengan kasar. 


"Sssssttt! Jangan berteriak. Masih banyak orang di bawah."


Jari telunjuknya menempel di bibirku dan tanpa aba-aba Antonius mulai melancarkan serangannya yang sangat ganas. Ia kini tak perlu lagi menahannya karena sepenuhnya aku adalah miliknya yang bisa ia cumbu kapanpun ia ingin tanpa harus melanggar norma.


Dulu, aku hampir tak percaya ada seorang pria yang tidak menginginkan sex dari pasangannya sebelum menikah. Tapi kini Antonius membuktikannya padaku. Seberapa besar pun keinginannya, ia tidak ingin memakan apa yang bukan miliknya. Dan tanpa kusadari tetes air mataku luruh. Antonius yang menyadarinya pun langsung berhenti. 


"Key, are you okay?" Ia menghapus air mataku menggunakan jemarinya dengan sangat hati-hati seolah sedang memegang sesuatu yang rapuh. Aku tahu ia memandangiku dari atas, tapi aku tak sanggup melihat langsung ke dalam matanya. 


Aku menggeleng. Tanda aku tidak baik-baik saja. "Apa kau masih memikirkannya?" 


Tentu saja aku masih memikirkannya. Meski Antonius tidak pernah mempersalahkan kegadisanku, tapi aku merasa bersalah padanya. Seharusnya aku bisa menjaga diriku dan tidak membiarkan laki-laki yang bukan suamiku mengambil apa yang bukan haknya.

__ADS_1


Antonius menjatuhkan tubuhnya di sampingku. Ia meraih selimut untuk menutupi tubuhku. "Tidurlah ... kau pasti lelah," ucapnya dengan lembut dan mengelus rambutku dan tangisku semakin pecah. Kusembunyikan wajahku di dadanya dan menumpahkan semua air mata di sana. Maafkan aku ....


__ADS_2