Happy Ending

Happy Ending
Work Harder, Darling!


__ADS_3

Darrel masih merasakan sakit karena gigitan Keyla. Dia tak menyangka bahwa wanita itu memiliki gigi yang tajam setajam duri-duri bunga mawar yang siap menghujam tangan siapa saja yang mencoba untuk memetiknya.


Ada noda merah yang tertera di dadanya. Darrel menyentuh dan pikirannya pun berkecamuk. Kalau saja perempuan itu tidak lari, di tak akan melepaskannya meski Keyla meronta bahkan jika memohon ampun dan bersujud di kakinya.


Darah Darrel seolah terpompa dengan cepat dan tubuhnya memanas padahal air dari shower membasahi seluruh tubuhnya. Darah pria itu seperti mengalir dengan cepat dan memenuhi copora cavernosa miliknya. Ia bahkan tidak ingat, kapan terakhir kali dia menggunakan senjatanya untuk bertempur di medan perang hingga dia terkulai tak berdaya. Wanita-wanita yang tidur dengannya selama ini hanya mencari kesenangan mereka sendiri. Mereka semua tak ada yang menantang, apalagi yang membuat dirinya bertahan lebih dari satu malam untuk bersama.


Pria itu mengelap tubuhnya yang basah menggunakan handuk lalu mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dan memakai baju yang telah disiapkannya di atas kasur.


_________🗼🗼🗼🗼🗼_________


Keyla sedang memasak di dapur. Sementara Awan dan Bintang menyiapkan piring dan perlengkapan makan di meja.


"Sayang, tolong bawakan ini ke meja." Awan segera mendekat ke arah Keyla dan mengangkat semangkuk sup bayam dengan jagung manis dan kembali lagi ke dapur mengambil ayam panggang dan juga grill salmon. "Kenapa masak banyak sekali, Ma?" tanya Awan penasaran.


"Kamu tidak lupa, kan Mama mengundang tetangga untuk makan bersama," jawabnya santai. Meskipun Darrel bilang tak akan datang, entah kenapa hatinya mengatakan bahwa pria itu akan memenuhi keinginan Keyla.


"Mama! Aku juga ingin membantu!" Bintang mendekati Keyla dengan bibir yang dimonyongkan karena kesal tidak disuruh-suruh seperti kakaknya.


"Kalau Binbin mau membantu, tolong kembalikan ini ke dalam kulkas, ya." Keyla menunjuk sisa cernel corn yang disimpannya di dalam box kedap udara. Dengan semangat Bintang memasukkannya ke dalam kulkas dan setelah selesai, ia kembali ke meja makan dan duduk di kursinya.


"Sayang, tolong bukakan pintu," ucapnya begitu mendengar suara orang mengetuk pintu. "Apakah itu tuan tetangga?" pikir Keyla dalam hati. Tapi, siapapun itu mudah-mudahan bukan gadis yang bernama Fleur. Pikir Keyla risau. Ia tak ingin di hari ulang tahun anaknya ada orang yang tiba-tiba merusak suasana. Meskipun Awan sendiri tak menganggapnya hari penting, bagi Keyla tetap saja hari ini adalah hari bersejarah. Di mana buah hatinya lahir. Di mana ia berjuang tanpa kasih sayang seorang suami di sampingnya. Meskipun saat itu ada James yang menemaninya, tetap saja ia berharap bahwa yang di sana adalah suaminya. Stevan Antonius.


Pintu pun terbuka. Sesosok pria bertubuh tinggi dengan pakaian yang rapi berdiri di depan pintu. "Selamat ulang tahun, Awan," ucapnya sambil memberikan sebuah buku kepada bocah umur sembilan tahun itu.


Mata Awan tak bisa lepas memandangi wajah Darrel. "Papa?" batin Awan seakan tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Lidahnya kelu, dan kakinya tak bisa digerakkan. Mungkinkah yang berdiri di depannya adalah papanya? "Tidak mungkin, Papa. Aku melihat sendiri Papa meninggal saat di rumah sakit. Jika hanya sekadar mirip, kenapa sangat identik? Wajah, tubuh, mata, bahkan suaranya pun sama." Awan tak henti-hentinya bertanya pada dirinya sendiri. Meyakinkan bahwa pria itu bukanlah papa nya. Apalagi hantu. Awan tak percaya dengan hal-hal mistis semacam hantu apalagi reinkarnasi.


"Siapa yang datang, sayang?" teriak Keyla karena masih melihat anaknya berdiri di pintu dan tidak mempersilakan tamu untuk masuk.


Karena penasaran, Bintang turun dari kursi dan menyusul kakaknya. "Om!" teriaknya begitu melihat sosok Darrel.


"Kamu mengenalnya, Bin?" Awan bertanya heran.


"Ya. Dia pernah mengantarku pulang," jawab Bintang lalu menarik tangan Darrel menuju makan.


"Duduk, Om. Mama masak banyak hari ini."


"Terima kasih, cantik," balasnya lalu duduk di samping Bintang. Sementara Awan, masih termenung sambil memegang buku.


"Sayang, ini Om yang mama maksud. Dia adalah tetangga baru kita."


Suara mama membangunkan Awan dan dia pun kembali ke tempat duduknya.


"Terima kasih kadonya," ujar Awan singkat dan menatap lekat-lekat mata pria yang tepat duduk di depannya.


"Sama-sama," balas Darrel dengan senyuman tulus.


"Eh, kok tahu Awan yang ulang tahun, sih? Padahal aku gak bilang dia yang sedang ulang tahun. Hmmmm ... benar-benar mencurigakan. Selain itu, dari mana kamu tahu nama anakku? I never mention it before." Keyla menyahut dengan nada gemas yang dibuat-buat.


"Aku hanya menebaknya."


"Tebakanmu sangat tepat sekali. Apakah kamu seorang peramal? Hahahaha?"


Mendengar kata-kata mama nya, Awan memiliki firasat buruk. Meskipun orang tuanya itu bukan lagi gadis usia dua puluhan, adakalanya dia bertingkah kekanakan dan aneh.


"Mama, peramal itu apa?" sahut Bintang dengan rasa keingin tahuannya.


"Hmmm ... apa, ya?" Keyla kebingungan bagaimana cara menjelaskannya. Ia berusaha mencari kata-kata yang tepat agar Bintang bisa mengerti apa yang dia katakan.


"Peramal adalah orang yang ilmu kebatinannya sangat kuat. Jadi, meskipun ada siluman yang menjelma menjadi sosok orang yang kita kenal, peramal tidak akan terpedaya oleh siluman itu." Keyla menjelaskan dengan penuh semangat sambil melirik ke arah Darrel namun Bintang justru makin bingung. Sementara Awan mendengus dengan kencang. Firasatku tidak pernah meleset!


"Mama. Ayo kita mulai makan," ucap Awan kesal.


"Benar juga. Ayo kita makan," sahut Keyla yang baru saja selesai membuat sapo tahu khusus untuk Darrel.


Saat hendak mengambil sup, Keyla mencegah Darrel. "Tunggu! Karena kamu adalah tamu istimewa kami, aku menyiapkan makanan spesial untukmu." Keyla meletakkan semangkok sapo tahu di depan Darrel. "Silakan makan," lanjutnya lagi dengan senyuman merekah seperti seorang istri yang baru saja mendapat jatah dari suaminya.

__ADS_1


"Sayang, kenapa makanmu sedikit sekali?" tanya Keyla pada Bintang yang hanya memakan sayur bayam.


"Aku sudah kenyang makan kue."


"Oh, ya. Bagaimana rasanya tuan tetangga? Apa kamu menyukai sapo tahu buatanku?" tanya Keyla penasaran. Ia ingin tahu sekali jawaban lelaki itu.


"Enak." Darrel menjawab singkat tanpa melihat Keyla dan fokus pada mangkok di depannya.


Enak? Sampai kapan kamu berpura-pura menjadi orang lain, Antonius? Tidak tahukah kamu berapa banyak garam yang kumasukkan dalam makananmu? Orang normal tak akan bisa memakannya seperti yang kamu lakukan. Yang di mangkokmu bukanlah makanan. Melainkan lautan garam.


"Baguslah kalau begitu. Lanjutkan makanmu." Keyla tersenyum getir. Antara senang, marah dan kecewa.


_______🗼🗼🗼🗼🗼_______


Beberapa saat sebelum Keyla ke rumah Darrel .....


Keyla memencet nomor yang tertera pada kardus kue coklat yang baru saja dikirimkan untuknya. "Halo, saya Keyla Laksamana, baru saja ada yang mengirim kue dan itu dari toko Viola, bolehkah saya tahu siapa pengirimnya? Baiklah, saya akan menunggu sebentar. Darrel Douglas? Baik ... baik. Terima masih."


Selesai menghubungi toko roti, Keyla mengetuk pintu kamar Awan.


"Masuk."


Keyla masuk ke dalam kamar Awan dan langsung duduk di tepi ranjang. Sedangkan Awan tengah asik membaca komik berseri Detective Conan.


"Ada apa, Ma?" tanya Awan tanpa menghentikan aktifitas membacanya.


"Bagaimana kalau papamu masih hidup, sayang?" Keyla menjawab dengan langsung ke pokok permasalahan. Dia sangat tahu bahwa anak lelakinya tak suka pembicaraan yang bertele-tele.


"Papa yang mana?" tanya Awan lagi. Masih fokus pada komik yang ada di tangannya.


"Papa kandungmu."


"That's good. Mama gak akan kesepian lagi."


Huffft. Keyla tidak menyangka bahwa reaksi anaknya akan sesantai itu. Seolah-olah tak masalah jika papa nya yang sudah dinyatakan meninggal tiba-tiba hidup kembali.


"Hmmmm. Awan tidak keberatan jika Mama menikah lagi."


"Heewww. Perkataan apa itu?"


"Tidak apa-apa."


"Huufft. Kamu mirip sekali dengan papa mu. Oh, ya. Kakek dan nenekmu sudah sampai bandara. Setelah dari hotel, mereka akan kemari. Kamu dan Bintang pergilah dengan mereka."


________🗼🗼🗼🗼🗼_______


Ketika mendengar suara orang mengetuk pintu, Keyla beranjak dari kursi. "Kayaknya kakek nenekmu sudah datang, sayang," kata Keyla dengan nada menyindir. Sementara Darrel pura-pura tidak mendengar dan berusaha menenangkan dirinya sendiri karena sedang diawasi oleh sepasang mata di depannya.


"Hai, sayang ....," sapa Sabrina, mantan mertua Keyla.


"Apa kabar, Ma? Ayo masuk. Kami sedang makan siang."


"Baik, sayang." Sabrina memeluk dan mencium pipi Keyla yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


"Apa kabar, Pah?" tanya Keyla memeluk Markus.


"Papa baik, sayang."


"Ayo masuk." Keyla menggandeng keduanya menuju ruang tamu yang berdekatan dengan ruang makan.


"Grandma! Grandpa!" Bintang yang melihat kakek neneknya pun turun dari kursi dan berlari ke arah mereka.


"Cucu kesayangan Grandma! Binbin kangen gak sama Grandma?" Sabrina memeluk cucunya dan menciumi pipinya yang gembul.


"Kangen! Ayo Binbin kenalin sama Om."

__ADS_1


Om? Mata Sabrina langsung tertuju pada sosok Darrel. "Oh, Tuhan! Apa yang dilakukan anak kurangajar itu?!" batin Sabrina gemas.


"Grandma duduk di sofa saja, sayang," balasnya sambil menggendong Bintang. Sedangkan Keyla dan Markus lebih dulu berada di sofa sambil berbisik bisik. Entah apa yang sedang mereka gunjingkan.


"Awan ... kemarilah, sayang." Keyla memanggil putranya yang sudah selesai makan.


"Hai, Grandma. Hai, Grandpa," sapa Awan mencium tangan kakek dan neneknya.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Markus dengan tenang padahal ia geram melihat lelaki yang duduk di ujung sana.


"Mama kalian bilang Grandpa dan Grandma boleh membawa kalian berlibur sebelum Awan masuk sekolah."


Mendengar kata liburan, Bintang kegirangan. Meski bukan cucu kandung, Sabrina dan Markus memperlakukan Bintang sama dengan mereka memperlakukan Awan.


"Oke. Aku akan mengambil tas dulu."


"Tidak perlu membawa baju, sayang. Assisten Grandma sudah menyiapkannya."


"Baik, Grandma."


"Tuan Tetangga. Kemarilah. Akan kukenalkan pada orang tuaku," panggil Keyla yang terdengar seperti ejekan di telinga Darrel.


Darrel berjalan mendekati mereka dan menyalami Sabrina beserta Markus. Meskipun mereka terlihat tenang, namun mata ketiganya memancarkan kegusaran. Sedangkan keyla, hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuka kebenaran.


__________🗼🗼🗼🗼🗼_________


"Anak-anak dan orang tuaku ...." Keyla memulai pembicaraan namun memotongnya di tengah jalan begitu anak-anaknya dan orang tua Antonius meninggalkan apartemennya dan pergi untuk berlibur.


" ... ups, maksudku, orang tua mantan suamiku sudah pergi dan sekarang hanya tinggal kita berdua di rumah ini," lanjut Keyla menyilangkan kaki dan tangannya. Ia duduk seolah-olah sedang berperan menjadi seorang putri raja yang hendak merayu pangeran untuk menjadi calon suaminya.


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" Darrel mengendalikan dirinya agar tidak terprofokasi oleh Keyla.


"Tidak banyak. Aku hanya ingin tahu kenapa kamu mengirimkan kue untuk anakku?" tanya Keyla dengan tatapan menggoda lalu berhenti sejenak untuk mengambil napas. " ... maksudku, anak kita. Darrel Douglas atau Stevan Antonius?" lanjutnya lagi.


Darrel beranjak dari sofa, membalas tatapan Keyla yang seakan ingin menariknya lalu menenggelamkannya ke dasar lautan. "Mana yang lebih kau suka? Darrel Douglas atau mantan suami yang telah banyak mengecewakanmu, Stevan Antonius?" Darrel berkata pelan dan mendekatkan wajahnya pada Keyla.


"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu!"


"Maka aku akan mencari tahu sendiri," ucapnya santai.


Darrel mengulum bibir Keyla dengan lembut dan perempuan itu memang menunggunya masuk ke dalam perangkap.


Keyla merebahkan tubuhnya di atas sofa, "Apakah kamu mulai kepanasan?" Keyla menarik kerah baju pria itu hingga berada di atasnya. Perlahan ia mengulum bibir Darrel yang tangannya bertumpu pada siku agar tidak menindih langsung tubuh wanita yang ada di bawahnya. Sesekali Keyla menggigit bibir bagian bawah Darrel dan mengelus rambutnya dengan pelan. Ciuman yang pelan dan intens itu berlangsung cukup lama, pelan, dan tidak terburu-buru.


"Bawalah aku ke kamar, sayang," bisiknya tepat di depan telinga Darrel dan memutarkan lidahnya di cuping telinga Darrel yang terlihat memerah dan terasa panas.


"Di mana kamarmu?" Darrel mengangkat tubuh Keyla.


"Di lantai atas." Keyla melingkarkan tangannya di leher Darrel dan tidak henti-hentinya menyerang pria itu menggunakan bibirnya yang tebal dan sexy melebihi Angelina Jollie.


Darrel berjalan pelan, menaiki tangga dengan sangat hati-hati seolah dia sedang memegang sesuatu yang rapuh. Sesuatu yang mudah pecah dan sangat berharga.


Sesampainya di kamar, ia meletakkan Keyla di tepi ranjang dan memandangi wajahnya untuk beberapa detik.


"Apa kau sudah puas menciumku?" tanya Darrel dengan tatapn mata yang seolah-olah ingin mengerjai Keyla.


"Aku ingin kamu menyentuhku di sini," jawab Keyla mengarahkan tangan Darrel yng hangat dan telihat berotot ke atas gundukan yang terlihat tidak dibalut dengan benar.


"Apa kau sengaja ingin menggodaku dengan tidak memakai bra?"


"Mana mungkin aku berani menggodamu tuan tetangga? Sepertinya kamu salah paham."


"Kau harus mencari tahu jawaban dari pertanyaanmu lebih keras," bisik Darrel dan menyunggingkan senyum kemenangan karena ia tidak sepenuhnya tergoda dan masuk ke dalam perangkap Keyla. Ia lalu beranjak dari kamar Keyla dan pergi begitu saja meninggalkan perempuan itu yang diliputi kejengkelan.


Arrrgghhh! Lelaki yang menyebalkan!!! Padahal tinggal sebentar lagi. Aku harus membukanya! Ada sesuatu dibalik celanamu yang bisa membuktikan siapa dirimu!!!

__ADS_1


________🗼🗼🗼🗼🗼🗼________


__ADS_2