
Keyla mematikan pendingin ruangan yang ada di kamarnya kemudian membuka jendela. Hampir pukul satu malam dan dia sama sekali belum bisa memejamkan mata. Padahal, Keyla yang paling getol menyuruh Awan dan Bintang tidur tepat jam sembilan malam agar tubuh mereka terbiasa dengan jam setempat.
Perempuan itu menyandarkan tubuhnya di kursi yang terletak di balkon. Pemandangan kota Paris yang diimpi-impikan banyak perempuan untuk didatangi bersama kekasihnya, tak mampu menggoyahkan hati Keyla.
Hati wanita itu diliputi rasa sepi dan rindu dengan sesosok pria yang biasa diajaknya bicara dalam hal serius maupun hal remeh yang sama sekali tidak penting. Hatinya diisi penyesalan. Seandainya saja ia mampu memberikan cintanya kepada James sebelum pria itu meninggal, barangkali tak sampai begini rasa sakit yang ditinggalkan. Ia jadi ingat perbincangan mereka beberapa hari sebelum James pergi ke hutan Afrika untuk pemotretan.
"*Kenapa belum tidur, sayang?" tanya James saat melihat istrinya yang tengah hamil tua masih terjaga.
"Aku masih ingin membaca buku. Kamu tidurlah dulu, James," balasnya tanpa melihat suami yang duduk di sebelahnya. Ia masih melihat buku yang ada di depannya kemudian membalikkan ke halaman berikutnya. Jika orang lain yang melihat, mereka pasti mengira Keyla sedang membaca buku. Tapi, tidak dengan James. Ia tahu betul Keyla. Buku hanya sebagai alasan saja agar ia bisa mengusir kesedihannya. Buku hanya sebagai pelampiasan betapa hatinya terpukul atas kecelakaan yang merenggut nyawa Antonius, mantan suami dan juga satu-satunya lelaki yang hingga detik ini mengisi seluruh hatinya dan mendapatkan cintanya.
"Jangan sampai terlalu larut, sayang. Kamu harus menjaga kesehatanmu dan bayi kita." James mengecup kening istrinya kemudian juga perut Keyla yang tengah mengandung buah hati mereka dan memasuki bulan ke delapan.
"Hmmm. Kamu tidurlah dulu, James."
Tanpa berkata lagi, pria itu melorotkan tubuhnya di kasur dan menutup tubuhnya menggunakan selimut. Meskipun matanya terpejam, namun tidak dengan pikirannya. Ia masih berandai-andai.
Jika saja menikahi Keyla berarti mendapatkan hatinya secara utuh, pastilah dia akan menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia. Akan tetapi, James harus puas hanya dengan menikahi dan dicintai sebagai suami. Bukan dicintai sebagai pemilik hati. Dia tidak menyalahkan Keyla, juga tidak menyalahkan Antonius, ia hanya menyalahkan dirinya sendiri. Barangkali, dia tak cukup pantas menerima hati Keyla seutuhnya.
-🗼Keesokan harinya🗼-
"Jagalah kesehatanmu, James. Aku harap kamu bisa pulang sebelum anak kita lahir," ujar Keyla memeluk James sebelum pria itu pergi ke bandara.
"Jangan tidur sampai larut malam. Makan teratur, jangan terlalu stress. Mengerti?" James mendaratkan sebuah kecupan yang hangat di dahi istrinya.
"Jagoan! Selama Papa tidak ada di rumah, kamu harus menjaga mama dan adikmu. Oke?"
__ADS_1
"Siap, kapten!" balas Awan dengan gerakan ala polisi yang menerima perintah dari atasannya.
Selesai berpamitan, James pun naik taksi menuju bandar udara international. Keyla tak memiliki firasat apapun. Sikap James juga tidak ada yang aneh. Ia juga tak henti-hentinya berdoa tiap kali James bepergian ke luar negeri. Meskipun rasa sayangnya tak sebesar yang ia berikan kepada Antonius, bukan berarti Keyla tidak mencintai James sama sekali.
Ia mencintai James sebagai suaminya. Sebagai papa dari anak-anaknya dan juga temannya yang ia percayai dan mempercayainya. Dan hanya James lah yang pantas menjadi suaminya. Keyla tak akan pernah lupa bagaimana lelaki itu memperlakukannya selama ia tinggal di Quebec dan melindunginya dari Anna.
Beberapa hari setelah kepergian James, ada sebuah telepon masuk dari kedutaan besar Indonesia yang ada di Afrika memberitahukan bahwa James mengalami kecelakaan. Mobil yang ia tumpangi masuk ke dalam jurang lalu terbakar. Mayatnya pun tak bisa lagi dikenali.
"Siapa yang nelpon, Key?" tanya mama Keyla yang sedang menyiapkan makan malam.
"James kecelakaan, Ma," balas Keyla terkulai lemas dan menjatuhkan gagang telepon. Perlahan air matanya jatuh membasahi pipi dan mulai terisak.
"Bagaimana kamu bisa meninggalkanku dengan cara seperti ini James? Kamu sudah berjanji akan pulang sebelum anak kita lahir ...."
"Sayang ... tenanglah, Keyla." Mama memeluk Keyla yang berteriak histeris. Papa dan Awan yang sedang duduk di halaman belakang, buru-buru masuk ke dalam rumah saat mendengar teriakan anaknya.
"Pa! Lihat air ketuban Keyla pecah!" Mama mulai terlihat panik.
"Astaga! Sebenarnya apa yang terjadi?! Cepat panggil taksi! Awan, telepon kakekmu dan bilang kalau mamamu akan melahirkan!"
"Keyla! Keyla! Bangun sayang ... ini Papa. Keyla!" teriak papa sambil menepuk pipi anaknya yang sudah tak sadarkan diri.
______🗼🗼🗼🗼🗼______
"Bagaimana keadaan anak kami dan bayinya, Dok?" tanya papa begitu seorang dokter keluar dari ruang operasi.
__ADS_1
"Operasinya berjalan dengan lancar. Setelah pasien sadar, kami akan memindahkan ibu Keyla ke ruang perawatan. Untuk bayinya, masih dalam perawatan intensif. Mari kita banyak berdoa."
"Pah ...," kata mama sesaat sebelum tubuhnya terhuyung.
"Tenanglah, Ma. Keyla dan cucu kita pasti baik-baik saja." Papa memeluk mama yang sedang menangis. Sementara Awan masih duduk di kursi panjang yang terletak di depan ruang operasi dengan roti di tangannya. Ia tak begitu mengerti dengan apa yang terjadi, namun di hatinya anak itu berdoa agar mama dan adiknya diberi keselamatan.
🗼🗼🗼Beberapa hari kemudian ....🗼🗼🗼
"Bagaimana keadaanmu Keyla?" tanya ayah James begitu sampai di rumah sakit. Ia terbang dari Papua setelah pekerjaannya selesai. Meskipun sebenarnya ingin cepat-cepat datang begitu menerima telepon dari Awan bahwa menantunya akan melahirkan.
"Kakek!" teriak Awan berlari ke arah kakeknya lalu memeluk pria itu.
"Cucu kakek. Apa kau merindukanku?"
"Sudah pasti. Mainan apa yang kakek bawa?"
"Hahahaha. Kakek tidak membawa mainan kali ini. Bagaimana kalau kita beli saat makan siang?"
"Ide bagus! Hahaha."
"Keyla baik, Pa. Papa bagaimana?" Keyla menjawab dengan wajahnya yang masih pucat dan terlihat masih terpukul dengan kematian suaminya.
"Jangan khawatirkan Papamu yang sudah tua ini, anakku. Selama kau dan cucu Papa baik-baik saja, Papa juga akan selalu sehat."
Mendengar suara mertuanya berbicara dengan nada yang begitu lembut, air mata Keyla jatuh dan makin menderas saat pria berkulit hitam itu memeluknya dengan kasih sayang yang terasa sangat jelas.
__ADS_1
"Menangislah, anakku. Menangislah sepuasmu ... setelah itu tersenyum dan berbahagialah karena kau memiliki dua tanggung jawab sekarang. Mereka membutuhkanmu. Kau harus kuat! Kau harus tegar! Jika tidak, siapa yang akan membesarkan dua cucuku? Hanya kau yang bisa. Kami, orang tuamu, hanya bisa membantu. Kau lah yang harus berjuang*."