
Sore itu suasana hati Sela sedang tidak baik. Dia merasa begitu kesal dengan keputusan yang telah diambil oleh Aldo.
Tok..Tok..Tok(suara ketukan pintu)
Beberapa kali Sela mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar.
Tanpa menunggu lama, Sela mendorong pintu dan melangkah memasuki kamar Aldo.
"Aldo, Aldo!" panggil Sela sambil mencari Aldo ke setiap sudut kamar.
"Kemana dia?" batin Sela yang masih mencari keberadaan Aldo.
Sela melangkah menuju balkon, dia yakin kalau Aldo pasti berada di sana.
"Di cariin dari tadi, tau-tau nya kamu di sini." ucap Sela dengan nada sedikit kesal.
"Eh, kamu Sela, kok ada di sini?" tanya Aldo.
"Lagi nyariin kamu lah, ngapain lagi?" jawab Sela sedikit meninggikan suaranya.
"Ada apa?" tanya Aldo yang terlihat begitu galau.
Sela sangat paham dengan kondisi Aldo saat ini. Terlihat dari pancaran wajah Aldo kalau dia sedang memikirkan sesuatu. Sela pun menarik kursi dan bergegas duduk di hadapan Aldo.
"Apa kamu yakin mau menerima perjodohan ini? bukannya kamu sudah tau siapa Melia?" tanya Sela kesal.
"Iya aku tau, mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk aku saat ini Sela." jawab Aldo.
"Dasar bodoh!" ucap Sela dengan raut wajah sinis kearah Aldo.
"Sudah lah Sela, ini sudah menjadi keputusan ku." tegas Aldo.
"Keputusan yang paling bodoh, itu maksud kamu." ketus Sela.
"Terus aku harus bagaimana?" bentak Aldo.
"Tidak ada yang memaksa kamu buat menerima perjodohan ini!" ucap Sela menatap wajah Aldo.
"Tapi mama,"
"Mama kamu cuma berencana menjodohkan kamu, itupun kalau kamu mau, kalau kamu gak mau juga gak apa-apa. Mama kamu gak pernah maksa, kamu aja yang terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan." jelas Sela kepada Aldo.
"Apa kamu mau hidup dengan orang yang gak kamu cintai sama sekali? bagaimana dengan Cika? apa kamu tidak memikirkan perasaannya?" tambah Sela meyakinkan Aldo.
"Tapi Cika tidak mencintaiku." balas Aldo.
"Apa dia bilang kalau dia tidak mencintai mu?" tambah Sela.
"Tidak, aku tadi telah mengungkapkan perasaan ku padanya, tapi dia menolak ku tanpa alasan yang jelas." ucap Aldo.
__ADS_1
"Tadi dia menangis sampai di apartemen, aku pikir semua itu karena ulah mu." tambah Sela.
"Apa dia baik-baik saja? kenapa kamu meninggalkan nya sendirian di apartemen?" ucap Aldo yang mulai mengkhawatirkan Cika.
"Tadi dia lagi tidur, aku meninggalkan nya karena ingin mendengar penjelasan dari kamu Do." jawab Sela sambil menghela nafas.
Mendengar kata-kata Sela, Aldo merasa sedikit bersalah terhadap Cika. Perasaannya mulai gelisah memikirkan Cika.
"Apa dia nangis gara-gara aku?" batin Aldo mengingat perlakuannya tadi pagi terhadap Cika.
Sela benar-benar ingin mencuci otak Aldo. Dia tidak ingin melihat Aldo masuk ke lubang yang salah. Sebisa mungkin dia harus berusaha untuk membuat Aldo mengubah keputusannya.
"Batalkan saja rencana perjodohan ini, Cika akan sedih jika mengetahui semua ini." tegas Sela.
"Tapi dia telah menolak aku Sela, bagaimana mungkin dia akan sedih dengan perjodohan ini?" ucap Aldo dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu ini laki-laki atau banci sih Aldo, baru di tolak sekali saja sudah menyerah." ketus Sela dengan raut wajah semakin kesal.
"Tapi Sel,"
"Udah gak ada tapi-tapian. Sekarang kamu selesaikan masalah kamu segera. Turunlah kebawah, bicara baik-baik sama mama kamu. Pasti dia bisa mengerti dengan keadaan kamu saat ini.
Aku mau pulang dulu, nanti malam aku kesini lagi." ucap Sela sambil berlalu meninggalkan Aldo sendirian di balkon kamar.
Aldo merasa sedikit lega mendapat dukungan dari Sela. Namun disisi lain dia juga merasa takut mengecewakan kedua orang tuanya.
"Tapi benar juga kata Sela tadi, kenapa juga aku harus menikahi wanita yang sama sekali tidak aku cintai? aku hanya menginginkan Cika." batin Aldo.
Dia pun mulai melangkah meninggalkan kamar dan berjalan menuju lantai bawah untuk menemui mamanya.
"Ma! Apa Aldo boleh bicara sebentar sama mama?" ucap Aldo sambil mendekati mamanya.
"Ada apa sayang?" tanya Ara.
"Aldo telah salah mengambil keputusan ma, Aldo jadi bingung." ucap Aldo sambil memegang kedua tangan Ara.
"Apa maksud kamu sayang? bicara yang jelas!" tanya Ara lagi dengan wajah sedikit kebingungan.
"Aldo ingin membatalkan perjodohan ini ma, Aldo tidak ingin menikah dengan Melia. Tolong Aldo ma! Aldo mencintai orang lain." jelas Aldo dengan kepala tertunduk lesu di hadapan mamanya.
"Apa? bukannya tadi kamu sendiri yang menyetujuinya." ucap Ara yang semakin bingung.
"Iya ma, Aldo salah. Maafkan Aldo! Tadi Aldo terlalu emosi, sehingga terburu-buru mengambil keputusan." ucap Aldo sambil menangis di hadapan mamanya.
"Ya sudah, kalau kamu gak mau dijodohkan gak apa-apa sayang. Mama ngerti, mama gak pernah memaksa kamu menerima semua ini. Lagian mama juga belum pernah membahas soal perjodohan ini dengan keluarga Melia. Kedatangan mereka kesini cuma sekedar silaturrahmi sambil membicarakan proyek kerja sama kalian." ucap mama Ara sambil mengusap kepala putra bungsunya itu.
"Terimakasih ya ma!" ucap Aldo lagi sambil menarik nafas dan membuangnya pelan.
"Oh ya tadi kamu bilang, kamu mencintai orang lain. Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Ara yang sedikit kepo.
__ADS_1
"Gak ada ma, Aldo gak punya pacar. Tapi Aldo memang mencintai seorang wanita." ucap Aldo jujur kepada mamanya.
"Kapan-kapan bawa kesini ya. Kenalin sama mama." ucap Ara sambil tersenyum melihat raut wajah putra bungsunya yang sudah memerah.
"Iya ma, pasti secepatnya akan Aldo bawa kesini bertemu mama." jawab Aldo.
Aldo merasa sangat senang karena mamanya mau menerima keputusan yang sudah dia ambil. Namun, disisi lain Aldo merasa sangat sedih ketika mengingat penolakan dari Cika.
"Tidak, tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku harus memperjuangkan cinta aku ke Cika." gumam Aldo meyakinkan dirinya sendiri.
Aldo melangkah kembali menuju kamar, hati nya sudah mulai merasa tenang. Dia kemudian teringat kembali dengan ucapan Sela. Aldo mengambil ponsel dan segera menghubungi Sela.
Kring..Kring..Kring(bunyi panggilan masuk)
"Halo Do!" jawab Sela dari balik telpon.
"Halo Sela! kamu lagi dimana?" tanya Aldo.
"Aku lagi di apartemen. Ada apa?" tanya Sela.
"Kamu jadi kesini kan?" tanya Aldo.
"Jadi, ini lagi siap-siap." jawab Sela.
"Ajak Cika juga ya Sel, aku tunggu kalian di rumah. Jangan lama-lama." pinta Aldo sembari mematikan sambungan ponselnya.
"Ada apa dengan anak itu?" batin Sela sedikit bingung.
Sela berjalan ke kamar untuk menemui Cika.
"Cika, kamu ikut aku ya? Ayo ganti pakaianmu!" ucap Sela.
"Memangnya kita mau kemana Sel?" tanya Cika bingung.
"Sudah, gak usah banyak tanya. Ayo cepat!" ucap Sela sambil memakai aksesoris di telinganya.
Cika bergegas mengganti pakaiannya. Tidak lupa juga dia sedikit memoles wajahnya dengan makeup seadanya.
"Cantik sekali," puji Sela yang membuat Cika merasa sedikit malu.
"Biasa aja kali Sel, jangan berlebihan." jawab Cika.
Dua gadis cantik itu melangkah meninggalkan apartemen.
Seperti biasa Sela mengemudikan mobil, mereka melaju menuju rumah Aldo.
"Kita mau kemana sih Sela?" tanya Cika yang masih sedikit bingung.
"Gak kemana-mana, cuma mau pergi makan saja." jawab Sela yang sengaja tidak ingin memberi tahu Cika kemana tujuan mereka sebenarnya.
__ADS_1