Hati Berdarah

Hati Berdarah
Kekonyolan Lukman


__ADS_3

Hans kembali ke dalam kamarnya sembari mengendap-endap seperti maling. Perasaannya mulai lega saat melihat tubuh papanya yang masih terbungkus di dalam selimut.


"Huff, untung Papa belum bangun." batin Hans sembari menarik nafasnya dan membuangnya dengan pelan.


"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" ucap Lukman yang tiba-tiba saja muncul dari pintu kamar mandi.


Mendengar suara papanya, Hans langsung terperanjat kaget dengan jantung yang berdetak begitu kencang. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah papanya dengan tatapan kebingungan.


"Jawab pertanyaan Papa, kamu dari mana saja?" bentak Lukman dengan tatapan yang tidak biasa.


"Hans tidur di ruang tamu Pa. Papa di sini, lalu yang tidur di sana siapa?" tanya Hans dengan ekspresi wajah bingungnya.


"Mama barumu, memangnya kenapa?" sahut Lukman sembari tersenyum.


"Apa Papa sudah gila, kenapa Papa melakukan ini?" tanya Hans dengan suara meninggi.


"Mau gimana lagi, kamu tidak kunjung memberikan cucu buat Papa. Terpaksa Papa membuatkan adik untukmu." sahut Lukman dengan santainya.


"Bagaimana caranya memberikan cucu buat Papa? Hans saja belum menikah, apa Hans harus menghamili anak orang dulu biar Papa senang!" sahut Hans yang sudah emosi melihat tingkah papanya yang menurutnya tidak tau malu itu.


"Kalau cara itu bisa dilakukan, kenapa tidak?" ucap Lukman yang masih saja tersenyum melihat ekspresi putranya itu.


"Tau gitu mending Hans makan saja Sela tadi malam, untuk apa di tahan-tahan lagi!" sahut Hans yang keceplosan karena sudah tak sanggup menahan kekesalannya.


"Tuh kan, ngaku juga kamu kan?" ucap Lukman sembari melangkah ke arah tempat tidur.


Melihat papanya yang sudah semakin dekat dengan ranjang, Hans pun bergegas menghadang langkah kaki papanya itu.


"Papa mau ngapain?" tanya Hans dengan tatapan menakutkan.


"Ya mau berbaringlah, mau ngapain lagi?" sahut Lukman dengan santainya.


"Tidak boleh, suruh wanita itu pergi dari sini. Hans tidak mau punya Mama tiri!" ucap Hans yang masih marah pada papanya itu.


"Wanita yang mana, tidak ada siapa-siapa di sini!" sahut Lukman sembari mendorong tubuh Hans dari hadapannya.


Lukman kembali naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut yang sedang menutupi bantal guling yang menyerupai tubuh manusia itu.

__ADS_1


Mata Hans langsung membulat dan tercengang saat mengetahui kalau yang ada di dalam selimut itu ternyata hanyalah sebuah guling semata.


"Kenapa, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Lukman tersenyum puas.


"Papa mengerjai Hans?" sahut Hans sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Hahahaha... Siapa suruh kamu membodohi Papa, kamu pikir Papa tidak tau kalau kamu semalaman tidur di kamar Sela?" ucap Lukman dengan tawanya yang memenuhi seisi kamar.


"Astaga, kenapa aku bisa mempunyai Papa seperti ini?" gumam Hans sembari menggaruk kepalanya.


"Apa kalian sudah melakukannya?" tanya Lukman yang mulai kepo terhadap putranya itu.


"Melakukan apa, Papa pikir Hans ini laki-laki apaan?" sahut Hans penuh kekesalan.


"Dasar anak bodoh. Semalaman tidur bersama Sela, tapi tidak berani melakukan apa-apa. Coba kalau Papa yang ada di posisi kamu, sudah Papa sikat habis tuh si Sela!" ucap Lukman memanas-manasi Hans.


"Jangan gila Pa. Ingat umur, sudah tua masih saja berpikiran jorok!" ketus Hans yang tidak mengerti dengan jalan pikiran papanya itu.


Hans melangkah meninggalkan papanya yang sudah berbaring di atas tempat tidur. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan mulai melucuti satu persatu pakaiannya hingga menyisakan segitiga nya saja.


Sebelah tangannya mulai meraih kran shower dan memutarnya searah jarum jam. Percikan air pun mulai berjatuhan membasahi tubuh kekar itu.


"Ya Tuhan, kenapa aku jadi agresif begitu kepada Hans. Bagaimana cara menghadapinya kalau sudah begini?" batin Sela yang merasa malu dengan kelakuannya sendiri.


Tidak lama, tiba-tiba terdengar suara kecohan pintu. Bunyi telapak kaki pun mulai terdengar jelas di telinga Sela yang membuatnya langsung menoleh ke arah sumber suara.


Sela terdiam seperti patung saat menatap Hans yang sudah terlihat sangat rapi di depan matanya. Kegagahan Hans pagi itu membuat Sela seperti terhipnotis sembari menopang dagunya.


Hans kemudian mengernyitkan keningnya saat mendapati Sela yang sudah terpaku dengan tatapan yang tidak biasa itu.


Laki-laki itu semakin mendekat dan menghampiri wajah Sela yang masih terpana melihat dirinya.


Tanpa menunda-nunda lagi, Hans langsung mengecup bibir tipis Sela yang sudah dipoles dengan lipstik berwarna merah jambu itu.


Sela langsung terperanjat kaget saat menyadari ada benda kenyal yang sedang menyentuh bibirnya.


"Hans, apa yang kamu lakukan?" ucap Sela sembari mendorong kepala Hans menjauh dari wajahnya.

__ADS_1


"Hahahaha... Salah sendiri, kenapa bengong saat melihat kedatanganku? Apa ketampanan ku sudah membuatmu tergoda?" sahut Hans sembari tersenyum licik.


"Jangan kegeeran kamu, siapa juga yang tergoda?" ketus Sela sembari memalingkan pandangannya.


"Jangan bohong, aku bisa melihatnya dari tatapan matamu itu!" sahut Hans sembari mengacak-acak rambut Sela hingga berantakan.


"Cukup Hans, kenapa membuat rambutku berantakan lagi?" ketus Sela sembari menahan tangan Hans yang masih bermain di atas kepalanya.


Hans membungkukkan tubuhnya dan mengecup pipi Sela dengan lembut. Dia kemudian meraih sisir yang ada di atas meja rias dan membantu merapikan rambut Sela kembali.


Suasana di kamar itu sejenak terasa begitu hening saat Sela kembali terdiam. Sentuhan tangan Hans di kepalanya, membuat gadis cantik itu merasa begitu nyaman.


Sela menatap lurus ke arah cermin yang ada di depannya. Dia terus saja memandangi wajah Hans yang tengah asyik menyisir rambutnya itu.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Hans yang ikut memandangi wajah Sela dari cermin.


"Terima kasih," ucap Sela dengan senyuman yang mulai mengambang di wajahnya.


"Untuk apa berterima kasih, aku tidak melakukan apa-apa untukmu?" sahut Hans sembari terus menyisir rambut Sela.


Sela bangkit dari tempat duduknya. Dia kemudian berbalik hingga mereka berdua saling berhadapan satu sama lain.


Sela mengalungkan tangannya di leher Hans dan menatap wajah tampan itu dengan intens.


"Aku mencintaimu Hans." ucap Sela dengan tatapan penuh perasaan.


Hans melingkarkan tangannya di pinggang Sela. Dia kemudian mengecup bibir tipis gadis itu dan meluma*nya dengan lembut.


Sela yang tidak canggung lagi, langsung membalas luma*an Hans sembari memejamkan matanya.


Mereka berdua mulai terhanyut dalam permainan panas itu sembari terus menikmati hisapan yang mulai berdesis di telinga masing-masing.


Sela melepaskan luma*annya dan tersenyum sembari menatap wajah Hans. Hans pun membalas senyuman itu dan mengecup kening Sela dengan lembut.


"Aku juga mencintaimu Sela, maukah kamu menikah denganku?" ucap Hans dengan tatapan menuntut jawaban.


"Aku mau," sahut Sela sembari menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Hans benar-benar bahagia mendengar jawaban Sela. Dia kemudian mendekap tubuh gadis itu di dalam pelukannya. Begitupun dengan Sela yang ikut melingkarkan tangannya di tubuh Hans dan memeluknya dengan erat.


__ADS_2