
"Jangan takut, Sela! Siapa tau dia itu adalah jodoh yang sedang Tuhan kirim untukmu?" ucap Cika sembari tersenyum dan mencubit pipi sahabatnya itu.
"Sudahlah Cika, jangan menggodaku lagi! Aku mau mandi dulu, gerah!" sahut Sela sembari melangkah kearah kamar mandi.
Melihat Sela yang seperti itu, Cika pun mulai penasaran dengan sosok laki-laki yang dibicarakan oleh sahabatnya itu.
Cika keluar dari kamar Sela dan melangkah kembali ke lantai bawah. Wanita yang tengah hamil muda itupun, mulai senyum-senyum sendiri yang membuat semua orang yang berada di ruang keluarga kebingungan melihatnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aldo yang penasaran melihat raut wajah istrinya.
"Tidak ada apa-apa, Aldo!" sahut Cika dengan santainya.
Cika melewati suaminya begitu saja dan duduk di sebelah Mila yang sedang memangku Mikaila. Wanita cantik itu kemudian mengambil Mikaila dari tangan kakak sepupunya dan menidurkan gadis kecil itu di pangkuannya.
"Pa, bagaimana dengan rencana perjodohan Sela? Apa Papa sudah membicarakannya dengan Om Lukman?" tanya Ilham yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Hans.
"Sudah Nak, tadi siang Om Lukman dan Hans datang ke kantor Papa. Tapi sayangnya, Hans ternyata sudah memiliki pilihannya sendiri." ucap Alvin dengan raut wajah sedikit kecewa.
"Sombong sekali laki-laki itu, berani-beraninya menolak Sela!" ketus Aldo yang tidak terima mendengar ucapan papanya.
"Bukan begitu Aldo, dia bahkan belum melihat Sela." ucap Alvin yang membuat Aldo langsung terdiam.
"Ya sudah, mungkin mereka tidak berjodoh." tambah Ara mencairkan suasana.
Tidak lama, Sela turun dari lantai atas dengan tampilan yang membuat semua mata tertuju pada gadis cantik itu.
"Sela, kamu cantik sekali sayang. Kamu mau kemana?" tanya Ara yang terkejut melihat kecantikan keponakannya itu.
"Tante, Om, Sela izin keluar sebentar ya! Sela ada janji sama teman." ucap Sela meminta izin.
"Teman yang mana?" tanya Aldo mendahului kedua orang tuanya.
"Ada teman aku, kamu tidak kenal!" sahut Sela yang mulai gugup.
"Ya sudah, pergilah sayang! Tapi jangan pulang terlalu larut ya!" ucap Alvin dan Ara secara bersamaan.
"Iya Om, Tante, Kak. Sela pergi dulu ya!"
Sela melangkah meninggalkan rumah dan melajukan mobilnya menuju kafe mawar yang ditunjuk oleh laki-laki asing yang belum Sela ketahui namanya itu.
"Sayang, kamu tau gak Sela janjian sama siapa?" tanya Aldo kepada istrinya.
"Tau, memangnya kenapa?" jawab Cika dengan santainya.
__ADS_1
"Siapa sayang?" tanya Aldo yang mulai kepo dengan sepupunya itu.
"Kamu tidak perlu tau, Aldo! Biarkan Sela menikmati kebebasannya, jangan dikekang terus!" sahut Cika dengan tatapan menakutkan kearah suaminya.
"Aish,,, percuma saja bertanya padamu! Kalian pasti sudah bersekongkol untuk melawanku!" gumam Aldo dengan raut wajah kesal.
"Sudahlah, Aldo. Sela itu sudah besar, kenapa kamu selalu memperlakukan dia seperti anak kecil?" tambah Ilham yang juga tidak suka dengan cara adiknya itu.
"Iya, iya, terserah kalian saja!" sahut Aldo yang tidak sanggup melawan semua orang yang mendukung Sela.
Aldo bangkit dari tempat duduknya, matanya mulai memerah menahan kekesalan yang membelenggu hatinya. Suami Cika itupun melangkah meninggalkan ruang keluarga dan naik menuju lantai atas.
Cika yang melihat ekspresi suaminya, juga ikut menyusul ke kamar mereka.
Sesampainya didalam kamar, Aldo langsung masuk ke kamar mandi. Panas di hatinya langsung mendingin setelah berdiri dibawah guyuran air.
Ditempat lain, Hans tengah gelisah menunggu gadis yang sudah membuat hatinya berdebar-debar itu. Hans sempat berpikir kalau Sela tidak akan datang menemuinya.
Namun tidak lama, pandangan Hans langsung teralihkan melihat gadis cantik yang tengah melangkah kearah mejanya.
"Hei, akhirnya kamu datang juga." sapa Hans sembari menarik kursi untuk Sela.
"Terimakasih!" ucap Sela dengan datarnya.
"Kamu cantik sekali." puji Hans yang tak bisa berkedip menatap gadis cantik itu.
"Tidak perlu memuji berlebihan seperti itu! Tujuan kita kesini mau makan malam kan? Ayo, pesan makanannya!" ucap Sela yang tidak ingin berlama-lama di tempat itu.
"Kenapa terburu-buru? Aku masih ingin berbincang-bincang denganmu!" ucap Hans yang masih terpesona melihat kecantikan Sela.
"Aku tidak biasa berduaan seperti ini dengan orang asing. Kalau tidak ada yang penting, sebaiknya aku pulang!" ucap Sela sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Tolong, jangan pergi! Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, tidak ada maksud lain!" ucap Hans sembari menahan tangan Sela.
"Lepaskan tanganku!" ketus Sela yang kembali duduk di kursinya.
Melihat raut wajah Sela yang sudah berubah, Hans pun memilih untuk mengalah agar Sela tidak pergi meninggalkannya sendirian.
"Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan!" tanya Hans sembari melihat menu makanan yang tersedia di kafe itu.
"Terserah kamu saja!" sahut Sela dengan raut wajah begitu dingin.
Merasa tidak di acuhkan oleh Sela, Hans pun mengurungkan niatnya untuk memesan makanan dan menarik tangan Sela keluar dari kafe.
__ADS_1
"Hei, apa yang kau lakukan? Kemana kau akan membawaku?" ketus Sela yang terkejut dengan sikap Hans.
"Diamlah, masuklah kedalam mobilku! Atau aku akan mencium mu dihadapan semua orang!" ancam Hans yang membuat Sela langsung terpaku.
Gadis polos yang sudah ketakutan itupun terpaksa menuruti kemauan laki-laki aneh itu. Tentu saja Sela tidak mau dicium oleh laki-laki asing yang selalu membuatnya kesal itu.
Setelah berada didalam mobil, Hans langsung menyalakan mesin mobilnya dan membawa Sela ketempat lain yang ternyata adalah kediamannya sendiri.
"Rumah siapa ini? Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Sela yang sudah gemetar ketakutan.
"Jangan takut, ini adalah rumahku!" ucap Hans yang membuat Sela mengernyitkan keningnya.
"Jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tidak pernah ku lakukan! Aku mohon, biarkan aku pergi! Aku bukanlah gadis murahan seperti yang kamu pikirkan!" bentak Sela sembari memohon kepada Hans.
"Apa maksudmu? Siapa yang akan melakukan apa?" tanya Hans yang kebingungan mendengar ucapan Sela.
"Kamu butuh wanita kan, cari saja wanita lain! Aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu! Tolong bawa aku kembali ke tempat tadi! Hiks... Hiks..." ucap Sela yang mulai menangis ketakutan.
"Dasar wanita aneh!" gerutu Hans.
Hans turun dari mobilnya dan menggenggam tangan Sela dengan erat. Hans mulai melangkah masuk kedalam rumahnya beriringan dengan Sela yang tak bisa melepaskan genggaman tangan Hans yang begitu kuat.
"Hans, kamu sudah pulang Nak?" tanya Lukman yang sedang duduk di sofa sembari membaca koran.
"Sudah Pa, kenalkan ini gadis yang Hans bilang sama Papa tadi!" ucap Hans mengenalkan Sela kepada papanya.
"Apa maksudnya ini?" bisik Sela tepat di telinga Hans.
"Cantik sekali calon menantu Papa. Siapa namamu Nak?" tanya Lukman yang begitu senang melihat kedatangan calon menantunya.
"Maaf Om, aku bukan..."
"Iya Pa, ini calon menantu Papa!" ucap Hans memotong perkataan Sela.
Mendengar ucapan Hans, Sela langsung mencubit pinggang laki-laki yang sudah terlalu lancang itu. Sela benar-benar kesal dengan kelakuan laki-laki yang berdiri di sampingnya itu.
"Siapa namamu Nak?" tanya Lukman lagi yang belum mendapatkan jawaban dari Sela.
"Kenalkan, nama aku Sela Om. Aku bukan siapa-siapanya anak Om. Kami tidak ada hubungan apa-apa!" ucap Sela menjelaskan semuanya pada Lukman.
__ADS_1